NovelToon NovelToon
Darah Di Atas Putih

Darah Di Atas Putih

Status: tamat
Genre:Sistem / Romansa Fantasi / Action / Tamat
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: iinayah

Arkan Pemimpin organisasi mafia "The Void". Dingin, efisien, dan tidak mempercayai cinta karena masa lalunya yang kelam. Baginya, wanita adalah kelemahan yang tidak perlu ada di dunianya.
​Liana Seorang gadis dari keluarga sederhana yang hangat. Hidupnya hancur saat keluarganya tewas dalam sebuah insiden berdarah. Ia lembut namun memiliki tekad baja untuk membalas dendam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon iinayah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Abu yang Tak Berhenti Membara

​Malam itu, langit seolah runtuh di atas kepala Liana. Hujan turun begitu deras, namun tak mampu memadamkan kobaran api yang melahap satu-satunya tempat yang ia sebut rumah. Bau bensin yang menyengat bercampur dengan aroma daging terbakar—sebuah aroma yang akan menghantui mimpi buruknya seumur hidup.

​Liana bersimpuh di atas tanah berlumpur. Gaun putih yang tadi pagi ia kenakan untuk merayakan ulang tahun adiknya kini berubah kelabu, penuh noda jelaga dan darah. Jemarinya yang gemetar mencengkeram erat sebuah kalung perak dengan liontin kecil—satu-satunya benda milik ibunya yang sempat ia selamatkan sebelum atap rumah ambruk.

​"Ayah... Ibu... Dino..." bisiknya parau. Suaranya hilang ditelan suara gemuruh petir.

​Di tengah kekacauan itu, sebuah siluet muncul dari balik kabut asap. Sebuah mobil sedan hitam panjang berhenti tepat di depan gerbang rumah yang sudah hancur. Dari jendela yang terbuka sedikit, Liana melihat sebuah lambang yang tercetak di pintu mobil: Serigala Perak yang melilit pedang.

Itu adalah lambang The Void. Organisasi bawah tanah yang menguasai nadi kota ini. Dan di balik kaca gelap itu, Liana menangkap sekilas tatapan mata yang dingin. Sepasang mata elang milik seorang pria yang duduk tenang di kursi belakang, seolah pemandangan rumah terbakar dan mayat di dalamnya hanyalah hiburan malam yang membosankan.

​Pria itu adalah Arkan. Sang penguasa tanpa mahkota yang rumornya tidak memiliki darah di nadinya, melainkan es cair.

​Mobil itu melaju pergi, meninggalkan cipratan air lumpur yang mengenai wajah Liana. Di detik itu, kesedihan Liana mati. Yang tersisa hanyalah ruang hampa yang kemudian terisi oleh satu hal: Dendam.

​"Dia tidak punya keluarga, Liana. Arkan adalah pria yang lahir dari kegelapan dan dia membenci apa pun yang berbau kelembutan. Terutama wanita."

Suara berat itu memecah lamunan Liana. Ia kini berdiri di sebuah ruangan remang-remang, tiga bulan setelah malam jahanam itu. Di depannya berdiri seorang pria tua bernama Pak Hendra, mantan informan kepolisian yang memiliki dendam pribadi pada ayah Arkan di masa lalu.

​Liana menatap pantulan dirinya di cermin. Rambut panjangnya yang dulu terurai indah kini dipotong pendek, tajam, dan diwarnai hitam pekat. Tatapan matanya yang dulu hangat kini sedingin es di kutub utara.

​"Aku tidak butuh dia mencintaiku, Pak Hendra," jawab Liana datar. "Aku hanya butuh dia lengah. Aku ingin dia merasakan bagaimana rasanya melihat dunianya terbakar, tepat di depan matanya sendiri."

​"Masuk ke lingkaran Arkan sama saja dengan masuk ke mulut singa. Kau harus menjadi seseorang yang berbanding terbalik dengannya. Seseorang yang tampak polos, ceria, dan rapuh. Karena bagi pria seperti Arkan, kerentanan adalah hal yang paling tidak dia curigai," nasihat Hendra.

Liana mengangguk. Ia sudah mempelajari semuanya. Arkan baru saja memecat pelayan pribadinya karena kesalahan kecil—sebuah alasan klasik bagi pria yang menderita misogyny akut dan paranoia tingkat tinggi. Arkan lebih suka dikelilingi oleh pria-pria bersenjata daripada seorang wanita. Namun, rumah besarnya butuh keteraturan yang hanya bisa dilakukan oleh tangan seorang wanita.

​Markas besar The Void adalah sebuah mansion megah yang terletak di puncak bukit, jauh dari hiruk-pikuk kota. Penjagaannya lebih ketat daripada penjara maksimal. Setiap sudut dipasangi sensor suhu dan kamera pengawas.

​Liana berdiri di depan gerbang besi besar itu dengan koper kecil di tangannya. Ia telah memalsukan seluruh identitasnya. Kini ia bukan lagi Liana si gadis penjual bunga, melainkan 'Ana', seorang yatim piatu dari desa terpencil yang butuh pekerjaan untuk menyambung hidup.

​"Siapa kau?" tanya seorang pria berbadan tegap dengan senjata laras panjang di bahunya.

"Saya... saya yang dikirim oleh agen penyalur tenaga kerja. Untuk posisi pelayan rumah tangga," jawab Liana dengan nada suara yang sengaja ia buat bergetar. Ia menundukkan kepala, memainkan peran gadis desa yang ketakutan.

​Penjaga itu menatapnya dari atas ke bawah dengan tatapan meremehkan. "Tuan Arkan membenci wanita yang gemetar sepertimu. Tapi masuklah, kepala pelayan sudah menunggumu. Jangan membuat masalah jika kau masih ingin melihat matahari besok pagi."

​Liana melangkah masuk. Setiap langkahnya di atas lantai marmer hitam itu terasa seperti menginjak bara api. Ia bisa merasakan hawa dingin yang menyelimuti mansion ini. Mansion yang indah namun terasa mati. Persis seperti pemiliknya.

​Di ujung aula besar, langkah Liana terhenti. Di atas balkon lantai dua, seorang pria berdiri membelakangi lampu kristal. Ia mengenakan kemeja hitam yang lengannya digulung hingga siku, memperlihatkan tato rumit yang menjalar di lengannya.

Arkan.

​Pria itu berbalik perlahan. Ketika mata mereka bertemu, Liana merasakan sesak di dadanya. Bukan karena takut, tapi karena kebencian yang mendidih di perutnya. Inilah pria yang menghabisi keluarganya. Inilah pria yang akan ia hancurkan hidupnya.

​"Siapa dia?" suara Arkan rendah, berat, dan penuh otoritas.

​"Pelayan baru, Tuan," jawab kepala pelayan dengan hormat.

​Arkan berjalan menuruni tangga dengan langkah pelan namun mematikan. Ia berhenti tepat di depan Liana, jarak mereka hanya terpaut satu meter. Bau parfum sandalwood dan tembakau mahal menyeruak masuk ke indra penciuman Liana.

​Arkan mengangkat dagu Liana dengan ujung telunjuknya yang dingin. Ia menatap mata Liana dengan tajam, seolah sedang membedah isi kepala gadis itu.

"Di rumah ini, kau tidak punya suara. Kau tidak punya keinginan. Dan yang terpenting, jangan pernah muncul di hadapanku jika tidak kupanggil," ucap Arkan pelan, namun setiap katanya adalah ancaman. "Wanita hanya membawa kekacauan, dan aku tidak punya waktu untuk itu."

​Liana mengepalkan tangannya di balik lipatan roknya, kuku-kukunya menancap di telapak tangan untuk menahan diri agar tidak melayangkan pisau yang ia sembunyikan di balik pahanya.

​"Baik, Tuan," jawab Liana lirih.

​Arkan melepaskan dagunya dengan kasar, lalu berjalan pergi tanpa menoleh lagi. Ia tidak tahu bahwa wanita "rapuh" di hadapannya baru saja memulai hitung mundur

untuk kehancurannya.

​Perang ini baru saja dimulai.

1
SILVA Nur LABIBAH
Masyaallah sungguh bagus cerita novelnya kak
inna Mardiana: membuat saya makin semangat menulis💪
total 2 replies
Dian
lanjutt
SILVA Nur LABIBAH
rahasia sudah terbuka,,,ayo Arkan & liana bangun kembali srmua yg telah hilang.
SILVA Nur LABIBAH
maaf baru bisa koment, bagus kisah novelnya. bisa mengambil hikmah dendam bisa melukai diri kira sendiri
inna Mardiana: makasih banyak yah Kak udah mampir😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!