"Di ruang sidang aku memenangkan keadilan, tapi di stasiun kereta, aku nyaris kalah oleh rindu."
Afisa Anjani bukanlah lagi gadis rapuh yang menangis karena diabaikan. Tahun 2021 menjadi saksi transformasinya menjadi associate hukum tangguh di Jakarta. Di sisinya, ada Bintang—dokter muda yang kehangatannya perlahan menyembuhkan trauma masa lalu Afisa.
Namun, saat janji suci diucapkan di tahun 2022, semesta justru memberi ujian baru. Afisa dipindahtugaskan ke Semarang untuk menangani kasus-kasus besar yang menguji integritasnya. Jakarta dan Semarang kini bukan sekadar nama kota, melainkan jarak yang menguji Ekuilibrium (keseimbangan) antara karier dan hati.
Di Semarang, Afisa berhadapan dengan dinginnya ruang sidang dan gedung Lawang Sewu, sementara di Jakarta, Bintang bergelut dengan detak jantung pasien di rumah sakit. Keraguan lama Afisa kembali muncul: Apakah Bintang akan bosan? Apakah cinta sanggup bertahan saat komunikasi hanya lewat layar ponsel ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
Lampu belakang mobil Afisa perlahan menjauh, membelah keremangan sore Kota Semarang yang mulai diselimuti lampu jalanan. Guntur masih berdiri di tempatnya, mematung di samping pilar beton lobi kantor yang dingin. Ia menarik napas panjang, namun udara yang masuk ke paru-parunya terasa sesak oleh gumpalan memori yang tiba-tiba menyerbu tanpa izin.
sembilan tahun.
Ingatannya meluncur kembali ke masa itu. Masa di mana ia adalah bintang lapangan hijau yang dipuja, dan Afisa... hanyalah seorang gadis remaja dengan seragam putih-abu yang selalu menunggunya di pinggir lapangan atau di halte depan sekolah.
Guntur memejamkan mata. Ia masih ingat betul wajah Afisa kecil yang sering menatapnya dengan binar penuh harapan, membawa botol air minum yang sering ia abaikan. Ia ingat betapa dinginnya ia saat itu—meninggalkan gadis berseragam SMA itu begitu saja tanpa penjelasan, karena jika Afisa terus berdiri di sampingnya dulu Afisa akan melihat kehancuran Guntur dan runtuhnya dunianya.
"Kamu sudah banyak berubah, Fis," bisik Guntur pada kesunyian area parkir.
Dulu, Afisa adalah gadis yang gemetar setiap kali ia menaikkan nada bicara. Sekarang, Afisa adalah Senior Associate yang tatapannya bisa membuat pengacara lawan gemetar. Dulu, ia yang memegang kendali atas perasaan Afisa. Sekarang, Afisa bahkan tidak sudi menjabat tangannya, mengunci rapat pintu masa lalu dengan sebuah cincin emas di jari manisnya.
Ada rasa perih yang menjalar di dada Guntur, namun anehnya, perasaan itu kalah oleh sebuah desiran kebanggaan.
Ia melihat Afisa yang sekarang—wanita yang mandiri, cerdas, dan begitu kokoh. Wanita yang bahkan tetap menyelamatkan karier Guntur saat ia terpuruk dalam masalah hukum agensi, meski Afisa punya seribu alasan untuk membiarkannya hancur.
"Ternyata aku benar-benar melepaskan berlian aku senang kamu nggak ikut hancur bareng aku fis ," batin Guntur pahit.
Namun, Guntur tidak ingin menjadi pengecut lagi. Jika sembilan tahun lalu ia pergi meninggalkan luka, maka sekarang ia harus menerima bahwa luka itu telah sembuh dan membentuk Afisa menjadi bangunan yang lebih indah dari yang pernah ia bayangkan.
Melihat Afisa yang kini bahagia dengan pria bernama Bintang, Guntur merasa bebannya sedikit terangkat. Setidaknya, doanya yang dulu sering ia ucapkan diam-diam di tengah malam yang dingin telah terkabul: Afisa telah menemukan seseorang yang tidak sedingin dirinya. Seseorang yang memberikan kehangatan yang tak akan pernah bertepi.
Guntur berbalik, melangkah masuk kembali ke dalam gedung kantor yang mulai sepi. Ia tahu, mulai besok ia akan bekerja di bawah perintah Afisa. Dan bagi Guntur, itu adalah hukuman sekaligus anugerah terindah yang bisa ia dapatkan—untuk setidaknya bisa menyaksikan dari kejauhan betapa indahnya gadis berseragam SMA itu saat ia telah menjadi ratu di wilayahnya sendiri.
"Selamat, Fis. Aku kalah telak, tapi aku ikut bahagia melihatmu menang," gumamnya sebelum menghilang di balik lift.
Saat ia melangkah masuk ke ruangannya ponsel di sakunya bergetar nama Bunda tertera di layar ponsel ia segera mengusap layar hijau
" ya Bun, waalaikum salam "
" gimana kerjaan kamu yang baru nak,lancar?''tanta bundanya di seberang telfon
" Alhamdulillah lancar Bun,Bunda di jakarta gimana sehat? sudah minum obat?".
" Bunda sehat,kamu tidak perlu mengkhawatirkan bunda di sini,jaga dirimu di sana dengan baik ya nak,Mbakmu Tari merawat bunda dengan baik disini , terimakasih ya nak sudah bekerja keras untuk bunda dan juga mbak Tari"
Guntur menyandarkan punggungnya pada kursi kerja yang masih terasa kaku. Suara lembut Bundanya di telepon menjadi oase di tengah sesak yang menghimpit dadanya setelah pertemuan dengan Afisa.
"Bunda sehat, Nak. Sudah makan malam?" tanya Bundanya lagi, memecah lamunan Guntur.
"Sudah, Bun. Bunda jangan telat makan ya. Salam buat Mbak Tari," jawab Guntur, berusaha menjaga suaranya tetap stabil agar sang Bunda tidak menangkap getaran emosi di sana.
Setelah sambungan telepon terputus, Guntur terdiam menatap langit-langit ruangan. Pikirannya melayang pada memori kelam delapan tahun lalu. Kejadian Bunda terjatuh di kamar mandi adalah awal dari runtuhnya seluruh dunia Guntur. Di saat ia harus berjuang membiayai pengobatan Bunda yang keluar-masuk ICU, ayahnya justru pergi meninggalkan mereka dalam keterpurukan ekonomi yang paling dalam.
Itulah alasan sebenarnya ia menjadi sedingin es kepada Afisa dulu. Ia tidak ingin Afisa—gadis remaja yang dunianya masih sewarna pelangi—ikut terseret ke dalam lubang hitam kemiskinan dan penderitaan keluarganya. Ia memilih menjadi "penjahat" agar Afisa pergi, tanpa tahu bahwa luka yang ia goreskan nyaris menghancurkan gadis itu.
Keberuntungan baru berpihak padanya enam tahun lalu. Saat ia nyaris kehilangan segalanya karena kasus hukum agensi yang menjeratnya, Afisa muncul sebagai "malaikat pelindung" dalam jubah pengacara. Afisa menyelamatkan kariernya, memberinya kesempatan kedua untuk memperbaiki ekonomi keluarga dan menyelesaikan studinya yang sempat terbengkalai.
"Terima kasih, Fis. Kamu bahkan menyelamatkanku saat aku tidak pantas mendapatkannya," bisik Guntur lirih.
Pindah ke Semarang adalah langkah besar Guntur untuk memulai lembaran baru. Ia bekerja keras, mengumpulkan tiap rupiah demi kesembuhan Bunda dan biaya hidup Mbak Tari. Dan kini, takdir membawanya kembali ke hadapan Afisa—wanita yang dulu ia sepelekan, namun kini menjadi atasannya.
Guntur membuka draf berkas yang ada di mejanya. Di pojok kanan atas, tertera nama: Afisa Anjani, S.H. – Senior Associate.
Ia tersenyum getir. Jika dulu ia adalah bintang yang dikejar Afisa, sekarang ia hanyalah seorang staf yang harus membuktikan dedikasinya di bawah kepemimpinan Afisa. Baginya, ini bukan sekadar pekerjaan. Ini adalah caranya menebus dosa masa lalu, dengan bekerja sebaik mungkin untuk mendukung kejayaan wanita yang pernah ia hancurkan hatinya.
"Aku akan jadi prajuritmu yang paling setia di kantor ini, Fis. Meski aku tahu, aku tidak akan pernah bisa menjadi 'Bintang' di hatimu lagi," batin Guntur mantap.
Ia mulai menyalakan laptopnya, membiarkan cahaya layar menerangi wajahnya yang kini tampak jauh lebih dewasa dan tenang. Di kota Semarang yang asing ini, Guntur siap menjalani hukuman terindahnya: bekerja untuk kebahagiaan wanita yang telah ia lepaskan.