Setelah kecelakaan tragis empat tahun lalu, Lyodra Taylor terbangun dari koma panjang di Chicago dalam keadaan amnesia total. Keluarganya, yang menyimpan dendam dan mengira kecelakaan itu adalah sabotase bisnis, memilih memalsukan kematian Lyodra dan menghapus seluruh masa lalunya—termasuk rahasia bahwa ia sempat hamil dan keguguran saat kecelakaan terjadi.
Di sisi lain, Archello Dominic, sang kekasih yang hancur karena mengira Lyodra telah tiada, berubah menjadi pria yang dingin dan menutup diri. Di bawah tekanan ibunya, Archello terpaksa bertunangan dengan Oliver Bernardo, seorang gadis baik hati yang tidak tahu apa-apa tentang konspirasi besar di balik perjodohan mereka.
Tanpa mereka sadari, kecelakaan itu sebenarnya adalah skenario manipulatif kakek Oliver demi ambisi bisnis keluarga. Di tengah bayang-bayang masa lalu yang membeku dan kebohongan yang rapi tersusun, Archello mulai berjuang antara kesetiaannya pada memori Lyodra atau membuka hati bagi ketulusan Oliver.
🦋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#6
Malam itu, New York bersinar lebih terang dari biasanya. Hotel The Grand Astoria disulap menjadi istana kristal untuk merayakan pertunangan mewah antara dua dinasti besar: Dominic dan Bernardo.
Karpet merah membentang panjang, menyambut tamu-tamu kelas atas yang datang dengan gaun sutra dan setelan jas seharga ribuan dolar. Di tengah keramaian itu, Archello Dominic berdiri dengan tegak, wajahnya setajam pahatan marmer, namun matanya tetap sedingin es.
Ia menatap pantulan dirinya di cermin ruang ganti. Jas hitam custom-made membalut tubuhnya dengan sempurna. Hari ini, ia telah mengambil keputusan besar. Bukan untuk melupakan Lyodra—karena melupakan wanita itu adalah hal yang mustahil baginya, tetapi untuk melepaskannya. Ia sadar, terjebak dalam duka selama empat tahun tidak akan menghidupkan kembali jantung yang telah berhenti berdetak. Ia harus belajar bernapas lagi, meski udara yang ia hirup terasa hampa tanpa aroma parfum bunga lili milik Lyodra.
"Aku akan mencoba, Ly," bisik Archello pada kesunyian. "Aku akan mencoba berjalan lagi, meski tanpamu."
Di saat yang sama, berjarak ratusan mil di sebuah rumah bergaya klasik di Chicago, Lyodra Taylor duduk bersandar di sofa ruang tengah. Ia baru saja diizinkan pulang dari rumah sakit beberapa hari yang lalu. Tubuhnya masih terasa lemah, namun pikirannya jauh lebih jernih, meski tetap kosong dari memori masa lalu.
Televisi di depannya sedang menyiarkan berita hiburan eksklusif: Pertunangan Megah Sang Pewaris Dominic Group.
Kamera menyorot wajah Archello yang sedang berdiri di podium, berdampingan dengan seorang gadis cantik bergaun emas yang tersenyum tulus—Oliver Bernardo. Lyodra menatap wajah pria itu di layar kaca. Ia melihat garis rahang yang tegas, mata yang dalam, dan aura dominan yang terpancar kuat.
Anehnya, tidak ada getaran apa pun di dadanya. Tidak ada rasa sesak, tidak ada kilasan memori yang memicu sakit kepala. Baginya, pria di televisi itu hanyalah orang asing yang tampan dari kalangan jetset.
"Pria itu terlihat sangat sedih, ya, Mom?" ucap Lyodra pelan, matanya tetap terpaku pada layar.
Ibunya, yang sedang membawakan sepiring buah, hampir menjatuhkan pisaunya. Ia menatap layar TV dengan jantung berdebar kencang, lalu beralih menatap putrinya yang tampak tenang. "Mungkin itu hanya pembawaannya, sayang. Orang kaya seringkali terlihat seperti itu."
"Mungkin," jawab Lyodra acuh tak acuh. Ia lalu mengganti saluran televisi ke acara memasak, seolah pertunangan Archello Dominic tidak lebih menarik daripada resep kue bolu. Sang ibu menghela napas lega; benteng kebohongan yang mereka bangun masih berdiri kokoh.
***
Bagi Archello, melihat Oliver yang begitu perhatian di sampingnya malam ini membawanya kembali pada kenangan malam terkutuk empat tahun lalu. Kenangan yang selalu ia coba kubur, namun selalu muncul ke permukaan seperti hantu.
Hari itu, Archello sedang menunggu Lyodra di apartemennya. Ia sudah menyiapkan makan malam kecil untuk merayakan hari jadi mereka. Namun, sebuah telepon dari teman kampusnya mengubah segalanya.
"Ello! Cepat ke persimpangan dekat apartemenmu! Ada kecelakaan hebat... mobilnya... mirip sekali dengan mobil Lyodra!"
Archello berlari seperti orang kesurupan. Ia bahkan tidak memedulikan alas kakinya. Saat sampai di lokasi, dunianya runtuh seketika. Mobil sedan perak milik Lyodra telah ringsek, terhimpit di antara pembatas jalan dan truk besar. Tidak ada api yang membara, yang ada hanyalah keheningan yang mencekam dan bau anyir darah yang menyengat.
Ia melihat darah berceceran di aspal, merah pekat dan mengerikan. Namun, Lyodra tidak ada di sana. Petugas medis sudah membawanya pergi. Seorang pria di lokasi kejadian, yang menjadi saksi mata, menggeleng lemah saat Archello bertanya dengan histeris.
"Gadis itu... dia sudah mati di tempat, anak muda. Terbentur sangat keras," ucap pria itu dengan wajah pucat.
Archello tidak percaya. Ia menyusul ke rumah sakit terdekat seperti orang gila.
Di depan ruang IGD, ia menarik kerah baju seorang perawat dengan napas tersengal. "Korban kecelakaan barusan... wanita... Lyodra Taylor... di mana dia?!"
Perawat itu menatapnya dengan tatapan iba yang paling dibenci Archello. "Kami mohon maaf, Tuan. Pasien atas nama tersebut sudah meninggal dunia saat tiba di sini. Jenazahnya sudah dipindahkan untuk diurus pihak keluarga."
Dunianya ambruk. Oksigen seolah lenyap dari bumi. Archello jatuh berlutut, lalu semuanya menjadi gelap. Ia pingsan selama dua hari karena syok berat.
Dan saat ia terbangun dalam keadaan linglung, berita sudah menyebar luas: Putri kedua keluarga Taylor telah dimakamkan secara tertutup.
Keluarga Taylor menutup akses bagi siapa pun, terutama keluarga Dominic. Mereka menyalahkan Archello. Archello mencoba mencari makamnya, namun keluarga Taylor telah memindahkan pusat kehidupan mereka dan menyembunyikan lokasi peristirahatan terakhir Lyodra.
Sejak saat itu, Archello Dominic mati secara emosional. Ia hidup sebagai raga yang hanya bergerak untuk ambisi bisnis, hingga Oliver datang membawa sedikit cahaya.
Kembali ke malam pertunangan, musik klasik mengalun lembut. Oliver mendekati Archello dan menyentuh lengannya dengan sangat hati-hati.
"Archello, kau melamun lagi," bisik Oliver lembut.
Archello mengerjapkan mata, kembali ke realita. Ia melihat Oliver yang tampak sangat cantik malam ini. Ia teringat betapa tulusnya gadis ini mencarinya di perpustakaan, bagaimana ia membuatkan teh saat Archello sedang terpuruk dalam kenangan.
"Maaf, Oliver. Aku hanya sedikit lelah," jawab Archello, kali ini dengan nada yang sedikit lebih lembut dari biasanya.
Ia menatap Oliver, mencoba menanamkan sebuah janji di hatinya. Ia akan mencoba menerima Oliver. Bukan sebagai pengganti Lyodra, karena Lyodra memiliki tempat tersendiri yang suci di hatinya. Namun, sebagai bentuk penghormatan pada hidup yang masih harus ia jalani. Ia akan mencoba melepaskan bayangan kekasihnya, demi gadis yang kini nyata berdiri di hadapannya.
"Terima kasih sudah bertahan denganku, Oliver," ucap Archello tiba-tiba.
Mata Oliver berbinar. Itu adalah kalimat paling hangat yang pernah ia dengar dari Archello selama berbulan-bulan. "Aku tidak akan ke mana-mana, Archello. Aku di sini."
Di Chicago, Lyodra mematikan televisinya dan beranjak tidur, sama sekali tidak menyadari bahwa di New York, seorang pria baru saja mengambil napas panjang untuk pertama kalinya dalam empat tahun, mencoba melepaskan cinta sejatinya demi memulai kehidupan dengan wanita lain.
Kesalahpahaman itu masih bertahta dengan megah. Archello mengira ia telah kehilangan cintanya di liang lahat, sementara Lyodra mengira ia tidak pernah mencintai siapa pun di dunia ini.
🌷🌷🌷🌷
Happy reading dear 🥰