NovelToon NovelToon
Cinta Posesif Arlan

Cinta Posesif Arlan

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Dark Romance / Posesif
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: Voyager

"Jangan pernah berpikir untuk melangkah keluar dari bayanganku, Mika. Karena sedetik saja kamu menghilang, aku akan pastikan dunia ini mencarimu dengan cara yang tidak akan pernah kamu lupakan."

Mikaela siswi SMA cantik dari keluarga yang biasa. Suatu malam mengubah segalanya. Menyaksikan dan bertemu dengan Arlan Gavriel—pria berkuasa di Kota Glazy, menghabisi nyawa seseorang dan membuatnya menjadi tawanan yang harus dimiliki Arlan sepenuhnya. Terjebak dalam keadaan yang tidak menguntungkan, perlahan ada rasa tumbuh di benak Mika setelah mengetahui sisi lain dari Arlan. Arlan adalah monster berdarah dingin, tapi juga penyelamat bagi Mika.

Ada apa dengan Mika dan Arlan? Kenapa Arlan membuatnya sebagai Tawanan? Apakah hanya karena melihat kejadian malam itu? Atau ada sesuatu yang harus Mika bayar?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Voyager, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Skatmat

“Mengganggu milikku itu juga masuk ke daftar hitam.”

Pemimpin perusahaan itu mengangkat alisnya heran. Ia tidak mengerti maksud Arlan.

“Sebentar lagi kamu juga bakal tau maksudku,” kata Arlan dingin.

Ia berdiri dari kursinya lalu, menambahkan ancaman terakhir. “Selama aku masih lihat kamu duduk di sini ... lihat aja apa yang bakal aku lakukan.”

Setelah itu Arlan pergi begitu saja.

Sementara itu, Mika yang sudah sampai di sekolah langsung menjadi bahan pembicaraan. Di papan mading sekolah, beberapa foto dirinya terpajang. Foto yang sangat tidak senonoh.

Mika membeku. Jantungnya berdetak keras. Tanpa pikir panjang, ia langsung merobek semua foto itu. Perasaannya campur aduk—malu, panik, dan takut. 

Ia segera berlari menuju kelas. Namun, saat masuk, suasana terasa aneh. Teman-teman sekelasnya mulai berbisik-bisik. Beberapa bahkan menatapnya dengan ekspresi jijik.

Mika duduk di kursinya sambil menutup wajah dengan kedua tangan. Tiba-tiba seseorang menyolek bahunya.

“Wow, semalam berapa? Mau dong dibantu!” kata seorang siswa sambil tertawa.

“Is, apaan sih?!” Mika menepis tangan itu. Perasaannya semakin kacau. Malu, sedih, marah, dan kesal. Semua bercampur jadi satu.

“Ayolah, Mika. Kita juga butuh bantuan, nih!” kata siswa lain sambil menyeringai.

Beberapa siswa mulai bertindak semakin kurang ajar. Ada yang memegang rambut Mika. Ada yang mengelus tangannya. Bahkan ada yang hampir membuka kancing seragamnya.

Plak!

Mika menampar tangan itu keras. “Jangan kurang ajar, ya! Apa begini cara kalian memperlakukan perempuan?!” bentaknya.

Rahang siswa itu langsung mengeras. Ia tiba-tiba mencengkeram mulut Mika dengan kasar.

“Kalau buat perempuan lain mungkin kita bisa hormat,” katanya sinis. “Tapi … nggak buat kamu, Mik.” Ia mendekatkan wajahnya.

“Udahlah, jangan jual mahal. Kamu ‘kan habis dapat seratus juta.”

Mika menggeleng ketakutan. Sikap siswa itu membuatnya teringat pada aura menekan milik Arlan. Tak lama kemudian, wali kelas masuk.

“Hei! Ada apa ini?” tegurnya.

Siswa itu langsung melepas Mika. Wali kelas menampar kepala beberapa siswa tersebut.

“Kalian ini mau jadi sok jagoan, ya?”

“Pak! Anak ini udah mencemarkan nama baik sekolah!” lapor salah satu siswa.

Mika hanya bisa menggeleng dengan mata berkaca-kaca.

“Iya, Pak! Benar!” sahut siswa lain.

“Udah, diam semuanya!” kata wali kelas tegas.

Ia menoleh pada Mika. “Mika, kamu ikut ke ruang kepala sekolah sekarang.”

Para siswa langsung bersorak. “Woo! Mampus!”

“Keluarkan aja!”

Wali kelas mengangkat tangan. “Udah! Jangan ribut!” Ia lalu berjalan mengikuti Mika.

Tanpa Mika sadari, bukan hanya foto yang tersebar. Video dari kejadian di klub malam juga sudah beredar.

Di ruang kepala sekolah, Mika langsung diinterogasi oleh beberapa guru.

“Kamu ini gimana, Mika?” kata kepala sekolah.

“Kamu anak pintar dan berprestasi. Kenapa hal seperti ini bisa terjadi?”

Air mata Mika mulai jatuh. “Maaf, Pak ... saya dijebak.”

“Nggak mungkin dijebak, Pak,” sela guru biologi. “Saya dengar anak-anak yang ke sana juga bilang dia butuh uang.” Lanjutnya memperkeruh situasi.

Mika menggeleng keras. Tatapannya sangat pilu. Air matanya semakin deras.

“Udah, diam!” kata kepala sekolah. Ia menarik napas berat.

“Mika, bapak tahu kamu anak baik,” pujinya. “Tapi bukti yang ada sangat jelas.”

Ia menunduk sebentar. “Maafkan bapak ... bapak terpaksa memberhentikanmu dari sekolah.”

Mika langsung lemas. Kakinya gemetar. Ia jatuh berlutut.

“Pak, tolong kasih saya kesempatan!” pintanya sambil bersujud. “Semua ini nggak benar!” tangisnya.

“Saya memang datang ke sana karena butuh uang, tapi bukan itu yang saya lakukan, Pak!” jelas Mika.

Namun, keputusan sudah dibuat. Tidak bisa diubah. Dengan mata sembab, Mika keluar dari ruangan. Beberapa langkah kemudian rahangnya mengeras. Tangannya mengepal. Langkahnya semakin cepat.

Di koridor sekolah, ia bertemu Angel. Siswi yang mengajaknya ke klub malam itu. Tanpa pikir panjang, Mika langsung menjambak rambut Angel.

“Kamu yang buat aku begini!”

Angel meringis kesakitan. “Aduh!”

Namun, bukannya meminta maaf, Angel justru berteriak keras.

“Mika! Kalau kamu udah murahan, ya bilang aja murahan!”

Semua siswa langsung menoleh.

“Hei, semuanya!” teriak Angel. “Kalian tau nggak?! Mika ini dijual sama keluarganya sendiri!” katanya semakin mempermalukan Mika.

“Kalian tau buat apa?” teriaknya semakin kencang. “Buat bayar utang bapaknya yang jumlahnya dua triliun!”

Deg!

Mika membeku. Bagaimana Angel tahu tentang itu? Padahal mereka tidak dekat. 

Bisik-bisik sinis langsung terdengar di mana-mana. Ada yang heran, jijik bahkan tertawa. Rahang Mika yang tadi mengeras kini melemah.

“Aaaa ... diam! Diam!” Ia menutup telinganya. “Hentikan!” Lalu, berlari pergi sambil membawa tasnya.

Tak beberapa lama, bel sekolah berbunyi. Para siswa masuk kelas. Namun, di tengah pelajaran, seseorang datang.

Tok! Tok!

Suara sepatu mahal menggema di koridor sekolah. Puluhan pengawal mengikuti di belakangnya. Itu adalah Arlan. Satpam sekolah langsung mempersilakan mereka masuk. Arlan berjalan menuju ruang kepala sekolah.

“Tuan Arlan! Ada apa kemari?” kata kepala sekolah gugup. “Silakan duduk!”

Tak lama kemudian, seluruh guru dipanggil berkumpul. Tatapan dingin Arlan membuat ruangan terasa mencekam.

“Tuan Arlan ada keperluan apa?” tanya kepala sekolah lagi.

“Panggil siswi bernama Angel.” Perintahnya singkat.

Seorang guru langsung pergi memanggilnya.

Sementara itu, Arlan menyuruh asistennya membuka laptop. Rekaman CCTV klub malam muncul di layar. Para guru langsung terdiam. Kepala sekolah paling terlihat bersalah. Namun, tak ada yang berani bicara. 

Sementara itu Angel datang dengan penuh percaya diri. “He’em, aku harus terlihat cantik,” batinnya.

Ia mengira orang sebesar Arlan ingin bertemu dengannya.

Cklik!

Pintu ruang kepala sekolah terbuka. Tapi sebelum ia sempat berbicara, bunyi renyah terdengar.

Plak!

Tamparan keras langsung mendarat di pipinya.

“Kenapa aku ditampar?!”

Plak!

Tamparan kedua menyusul. Arlan yang duduk di kursi kepala sekolah memutar kursinya perlahan. Ia memberi isyarat kecil pada asistennya.

Plak!

Tamparan ketiga membuat Angel tersungkur hingga bersujud.

“Apa-apaan ini?!”

Arlan menghisap rokoknya pelan. Asapnya memenuhi ruangan. Suasana semakin mencekam. Lalu, ia berdiri. Dengan kasar ia menarik Angel berdiri. Tangannya mencengkeram mulut Angel kuat.

“Apa yang kamu lakukan sama Mika?” tanyanya dingin.

Angel tersentak. “A—aku nggak berbuat apa-apa!”

Arlan langsung menyeretnya ke depan laptop. Ia mencengkeram tengkuk Angel.

“Lihat itu.”

Angel melotot. Itu rekaman CCTV klub malam. Ia langsung jatuh bersimpuh di kaki Arlan.

“Ma—maafkan aku! Aku cuma bantu dia cari uang!”

Namun, Arlan tahu itu kebohongan. Angel justru ingin memanfaatkan Mika.

“Bawa pergi dia,” kata Arlan dingin. “Biar dia rasakan sendiri apa yang Mika rasakan.”

Pengawal langsung menyeret Angel keluar. Setelah itu Arlan menoleh pada kepala sekolah.

“Di mana Mika?”

Dengan gugup kepala sekolah menjawab. “Dia ... sudah kami keluarkan dari sekolah.” Belum sempat Arlan menjawab, Kepala Sekolah berusaha menjelaskan. "Ta--tapi, saya nggak tau kalau Mika benar, Tuan Arlan!"

Rahang Arlan mengeras. Ia mematikan rokoknya, tepat di telapak tangan kepala sekolah. Pria itu menahan teriakan kesakitan. Sebelum Arlan pergi ia berkata pelan. “Sampai terjadi apa-apa dengan milikku—” Tatapannya menyapu seluruh ruangan. “kalian semua yang akan tanggung akibatnya.”

1
Moon
ak jdi mika langsung ku tonjok itu
Voyager: sabar bro jangan emosi ah, nggak jelas kali kau. ayo serbu yang di sebelah
total 1 replies
Moon
model!????
Moon
entah kenapa Arlan ini aku bingung sama sifatnya. lanjut Thor. apa nanti si Mika ketemu lagi dg Arlan ? soalnya Arlan itu kn sangat berkuasa! eh iya Thor sepertinya belum di Spil perlkerjaab Arlan pngen tau
Moon
hm, knp ya orang kyak Mika gini selalu digituin dlm novel cba Thor karakter Mika jadi tangguh aj gtu biar nggk di tindas orang. sih Kamalia juga cewek lenje 😤😤😤
Moon: haha GG bxa sbr ak. tau NDRI kesabaranku setipis tisu
total 2 replies
cleo lara91
lanjut lg dong kak , seruu😍
Moon
Rekomendasi banget ini cerita. tokoh pria bikin mengubah emosi pembaca, greget, sifatnya bener" bikin geleng kepala. tokoh wanita pun bikin kita iba, apalagi ketika penyakitnya kambuh. oh ya keluarga tokoh wanita ih bikin emosi parah apalagi dengan saudara tiri yang mokondo
Moon
up 5 bab sehari thor
Voyager: busett haha nanti ya. ayo nulis juga
total 1 replies
Voyager
Arlan gila. anak SMA dibuat nggak berkutik
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!