Trauma sang Letnan akan masa lalunya bersama seorang wanita untuk kesekian kalinya, membuatnya tidak ingin lagi berurusan dengan makhluk berjenis wanita.
Rasa sakit di hatinya membuatnya betah 'melajang', bahkan sampai rekan letting dan juniornya banyak yang memiliki momongan.
Namun, cara Tuhan mempertemukan manusia dengan jodohnya memang sangatlah adil. Ia sangat tidak menyukai gadis ini tapi.............
KONFLIK TINGKAT TINGGI. SKIP bagi yang tidak bisa membaca alur cerita berkonflik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bojone_Batman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
2. Si kaku vs si onar.
"Jangan suka buat panik..!!!" Bentak Bang Rinto. Memang selalu seperti itulah Letnan Rinto. Jika sudah marah, tensinya mendadak melonjak tinggi.
Kening Anye berkerut, ia tidak menyukai bentakan dari Letnan Rinto. "Memangnya Om siapa, berani bentak Anye."
Suara keras Anye seketika membuat harga diri Bang Rinto terasa terinjak.
"Perempuan tidak tau aturan, merepotkan..!!!!" Nada suara Bang Rinto pun semakin meninggi.
Anye langsung melompat, puncak kepalanya menghantam wajah Bang Rinto.
duugghhh...
"Aawhh.." Pekik Bang Rinto, hidungnya langsung menetes darah karena Anye.
Para anggota kelabakan melihat Danton mereka 'di serang' secara mendadak. Untuk pertama kalinya mereka melihat Danton utama mereka mendapatkan 'penganiayaan' di depan mata namun mereka tidak bisa berbuat apapun karena Bang Rinto melarangnya.
Sekali lagi Anye melompat tapi Bang Rinto mendekapnya.
"Apa kau ini anak kera????"
"Om menghina ayahku???" Pekik Anye.
"Bukannya kau tidak punya orang tua??? Jangan-jangan kau ini di lepeh dari lambung." Omel Bang Rinto.
Bang Rico menepuk keningnya karena tidak bisa menghentikan perdebatan mereka sampai akhirnya seorang pria setengah baya datang menghampiri.
"Selamat malam, Kadis." Sapa Bang Rico.
Bang Rinto menoleh tapi segera mengusap hidungnya yang masih tertinggal bekas sisa darah.
"Selamat malam, Kadis..!!" Bang Rinto pun akhirnya ikut menyapa.
Kemudian Pak Herliz menarik tangan Anye. "Bisa-bisanya kamu terlibat tawuran, ikut Ayah..!!!"
Sungguh Bang Rinto syok bukan main, ia masih memastikan pendengarannya dengan sebaik mungkin.
"Anye nggak tawuran, yah." Protes Anye dengan nada tinggi.
"Jangan teriak..!!!!!" Ucap Pak Herliz mengingatkan putrinya.
Arah mata Pak Herliz langsung tertuju pada Bang Rinto. "Kenapa tidak kau suruh Anye hitung biji beras????"
"Oohh.. Si_ap..!!" Bang Rinto menoleh pada ajudannya. "Siapkan lima puluh gram biji beras." Perintahnya.
...
Pak Herliz memelototi putrinya hingga kemudian memilih duduk, menyulut rokoknya dan sesekali menyeruput kopi hitamnya.
Tak jauh disana, Anye sesenggukan sampai ingusnya nyaris meleleh dari kedua lubang hidung.
"Nggak usah nangis...!!!! Bukannya ini yang kamu mau??????" Bengak Pak Herliz. "Nggak mau punya orang tua seperti Ayah??? Jam pulang bukannya sampai rumah malah ikut tawuran, sejak kapan kamu jadi ketua genk?????"
"A_yah sa_lah pa_haaaamm..!!" Jawabnya sesenggukan.
"Salah paham apanya????? Mudi ayah bilang kamu di tangkap di markas kompi dan menyusahkan om-om disini. Herannya Letnan Rinto tidak menghukum mu seperti yang lain." Protes Pak Herliz.
Bang Rinto mendengarnya tapi jelas tak bisa banyak berkomentar.
"Udah ya, Ayah. Anye nggak sanggup lagi, biji berasnya terlalu ba_nyaakk.." Rengek Anye.
"Masih untung biji berasnya dapat diskon dari Letnan Rinto. Bagaimana kalau kau di minta menghitung satu kilo biji beras??????"
Melihat ayahnya sangat marah, semakin pecah tangis Anye dan hal itu ikut membuat semua anggota panik. Bagaimana pun juga Anye adalah putri perwira tinggi yang menjabat sebagai Kepala dinas utama di markas besar.
"Anye mau pulang, capeeekk..!!!!" Anye kembali merengek tapi wajahnya memang sudah terlihat lelah.
"Sudah. Sekarang sebutkan sampai hitungan keberapa kamu bisa selesaikan hitungannya." Tanya Bang Rinto tanpa berdebat, tapi wajah itu masih tetap datar.
"Dua ribu lima ratus butir." Jawab Anye malas.
"Yang benar tiga ribu seratus dua puluh satu butir." Kata Bang Rinto. "Ya sudah, kamu boleh pulang."
Anye menghapus air matanya lalu beranjak pergi.
"Anye mau ke rumah teman, yah. Mau lihat brosur kampus."
"Lewat pesan singkat kan, bisa." Pak Herliz mulai menaikan nada suara saat hari sudah malam tapi Anye ingin menemui temannya.
"Nggak bisa, Yah. Soal kampus harus di bicarakan dengan benar, apalagi perkara jurusan yang mau Anye ambil."
"Biar di antar kawal. Ini sudah malam." Perintah Pak Herliz.
"Ya jangan donk, Yah. Yang penting Anye sudah bilang mau pergi ke tempat Bintang. Boleh ya Ayah.. Please..!!" Pinta Anye dengan mata berkedip-kedip, ia tau ayahnya akan sulit menolak permintaannya tersebut.
Benar saja, hati Pak Herliz melunak, beliau mengangguk tanda setuju, mengijinkan putrinya pergi tanpa pengawalan.
...
Terjadilah obrolan singkat di ruang Danki. Bang Ronald pun sudah ikut berkumpul, sikap. Bang Rinto memang tenang tapi Bang Ronald paham bahwa sahabatnya itu sedang gelisah.
"Ijin, Kadis. Apa selama ini Anye sering menemui Bintang?" Tanya Bang Ronald seolah mewakili isi hati sahabatnya.
"Sering, Bintang anak yang baik. Hanya dia yang saya percaya. Tapi hari ini saya juga heran, tidak seperti biasanya Anye pergi sendiri, tanpa Bintang." Jawab Pak Herliz.
Mulut Bang Rinto mungkin diam, tapi jemarinya mengepal dalam keresahan.
"Ngomong-ngomong, saya masih ada pekerjaan. Saya pamit dulu ya..!!" Pak Herliz berdiri dan diikuti dengan para perwira disana.
"Siap, kami antar.. Kadis..!!" Bang Rico mengiringi langkah perwira tinggi tersebut kemudian Bang Ronald dan Bang Rinto menyusul di belakangnya.
:
"Kau mau kemana, Rin??" Tanya Bang Ronald saat sahabatnya itu menyambar jaket dan kunci motornya.
"Beli rokok." Jawabnya singkat, seperti biasanya.
"Kebiasaan, ngomong hanya sepotong." Protes Bang Ronald.
"Alah t*i. Ribet amat macam perempuan, lu." Celetuk Bang Rinto.
.
.
.
.
memang rumit, percayakan kisah sesuai alur yang diinginkan othornya
semangat Thor.....sukses selalu