NovelToon NovelToon
Takdirku Yang Tak Terduga

Takdirku Yang Tak Terduga

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Romansa Fantasi / Iblis
Popularitas:558
Nilai: 5
Nama Author: Veela_

Aku hanya menginginkan kehidupan yang normal. Aku pikir saat aku berpindah tempat bersama ayah dan meninggalkan teman-teman lamaku, itu akan menjadi kesempatanku untuk merasakan kehidupan yang sesuai dengan apa yang aku harapkan. Namun kenyataannya, kemanapun aku pergi dan kemanapun kakiku melangkah, hal-hal "itu" akan selalu mengikutiku. Dan saat aku bertemu dengan mereka, kehidupanku mulai berubah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Veela_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bagian 21

Sayap putih nan megah terbentang di balik tubuh cantik yang bercahaya putih. Sosok pria jangkung bertubuhkan api dengan tanduk di kepalanya berdiri di hadapan wanita itu. Tangan hitam pria bertanduk itu menggenggam erat tangan putih wanita bersayap di depannya.

"Aku mencintaimu, Dewiku."

"Kita tidak bisa melakukan ini, Lucifer."

"Aku akan memohon kepada Dewa Agung untuk kita berdua."

"Hal yang kita lakukan sudah salah. Dewa Agung tidak akan memaafkan kita."

"Aku membutuhkanmu, Dewiku."

"Tapi umat Dewa Agung lebih membutuhkanku Lucifer."

"Bisakah untuk sekali ini saja engkau memilihku Dewiku?"

Sosok pria bersayap yang tak kalah megahnya dari sang Dewi turun dari langit. Wajahnya tampak tak asing bagiku.

"Lifia, mari pulang bersamaku. Perbatasan surga dan neraka ini tidak cocok untuk kita."

"Natan..."

Aku melihat sosok yang di sebut 'Lucifer' itu begitu marah ketika Dewa itu memanggil nama Dewinya.

Kepalaku mulai sakit.

"Mila! Mila!"

Aku mendengar seseorang memanggil namaku. Seberkas cahaya menyilaukan mengenaiku. Sontak tanganku berusaha menutupinya. Mataku mulai kabur lagi.

"Mila! Mila!"

"Mark! Kita tidak boleh ribut di klinik!"

"Tapi dia tidak kunjung bangun Yuga!!"

"Bisakah kamu tenang sedikit? Ini efek obat penenang saja. Dia tidak mati."

Perlahan aku membuka mataku. Sakit kepalaku masih terasa. Mark yang sedari tadi di sampingku sigap membantuku duduk.

"Ini... Sudah jam berapa?"

Seorang pria datang dari arah pintu masuk berlari ke arahku.

"Mila!"

"A-ayah? Kenapa ayah kemari."

Ayahku menepis tangan Mark yang memegang tanganku. Ayah tiba-tiba saja memelukku dengan erat. Jantung ayah berdetak tidak biasanya.

"A-ayah?"

Tanpa aba-aba ayahku langsung menggendongku dari ranjang itu. Tuan Josep yang baru saja sampai melihatku yang sudah di gendong tampak khawatir.

"Terimakasih karena sudah menghubungiku Josep."

Ayahku pergi begitu saja dengan ekspresi wajah yang sama. Ini kedua kalinya aku melihat ekspresi ayah yang seperti itu.

...----------------...

Keesokan harinya aku kembali bersekolah. Setelah ayah menjemputku ayah tidak mengatakan apapun padaku. Ia diam seribu bahasa. Namun kekhawatiran yang tergambar di wajahnya masih sama seperti kemarin. Aku pun tidak berani berkata apapun di depannya. Rasanya aneh melihat ekspresi ayah yang seperti ini. Hari ini ayah mengantarku ke sekolah.

"Ayah. Aku baik-baik saja. Ayah tidak perlu khawatir. Ayah pergilah bekerja dengan tenang seperti biasa. Aku benar-benar tidak apa-apa ayah."

Aku mencoba membuat kalimat menenangkan agar ayah tidak khawatir lagi padaku. Aku benar-benar tidak ingin mengganggu pikiran ayah.

"Kalau ada apa-apa langsung hubungi ayah."

"Iya ayah. Bye-bye ayah."

Ayah pun akhirnya pergi walau kekhawatirannya belum bisa menghilang. Aku berharap tidak ada kejadian aneh hari ini.

Saat aku memasuki gerbang sekolah, dari arah berlawanan Gerald berlari kearahku lalu menarik tangan kananku dan membawaku pergi ke arah parkiran sekolah.

"Apa yang kau lakukan?! Lepaskan tanganku!"

Gerald akhirnya berhenti berlari saat sampai di gerbang parkiran sekolah. Suasana belum begitu ramai. Namun beberapa siswa yang ada di parkiran melihat kearahku. Aku menghempaskan tangan Gerald yang sedari tadi melingkar di pergelangan tanganku. Aku memegangi tanganku yang memerah akibat genggaman Gerald. Gerald mulai memojokkanku ke dinding gerbang parkiran sekolah itu. Murid yang melihat tingkah Gerald padaku langsung pergi menjauh.

"Apa yang kau lakukan?!"

"Bagaimana rasanya mengintip orang yang tengah bercumbu di sebelahmu?"

"Tolong... Tolong."

Ditengah pertanyaan Gerald yang tidak penting itu, samar-samar aku mendengar suara seseorang yang meminta tolong. Aku mencari asal suara itu.

"Hei! Aku sedang berbicara padamu."

Tiba-tiba langit berubah gelap. Aku bahkan tidak bisa mendengar suara Gerald lagi.

"Tolong... Tolong aku."

Suara itu semakin keras terdengar olehku. Sosok wanita yang ku lihat kemarin terlihat merangkak cepat ke arah kami dari arah belakang Gerald. Aku mengepal tanganku. Kepalanya... Kepalanya patah kebawah.

"Mila?! Mila?!"

Panggilan Gerald membuatku tersadar. Sosok yang merangkak cepat itu menghilang. Langit yang tadi berubah gelap kini normal kembali. Atau... Hanya aku yang merasakan suasana gelap yang mencekam tadi? Apakah aku sudah gila sekarang?

"Mila?! Kau kenapa?!"

Aura hitam keluar dari tubuh Gerald.

"Aura yang keluar dari tubuhnya berbeda dari yang kemarin."

"Kenapa kau diam? Dan kenapa kau menatapku seperti itu? Kau jatuh cinta padaku yah?"

Aku hanya terdiam saat Gerald melontarkan rayuan murahan miliknya. Aku mencoba pergi darinya.

"Kau mau kemana?"

Gerald menggenggam tanganku lagi untuk menahanku. Aku mulai kesal. Aku pun mengeluarkan pukulanku. Namun pria itu dapat menangkis seranganku. Beberapa kali aku mencoba memukulnya namun tinjuanku berakhir di tangannya. Ia mengunci tubuhku dan kini menempatkan wajahku di tembok yang kotor itu.

"Lepaskan aku!"

"Kau jago bela diri juga rupanya. Tapi kau tidak tahu bukan kalau aku juga bisa bela diri."

"Apa maumu?!"

"Aku ingin bersenang-senang denganmu."

"Pria sialan!"

"Haha ini pertama kalinya ada seorang wanita yang menolakku. Bahkan ini pertama kalinya aku meminta pada seorang wanita. Kau tahu? Banyak wanita diluar sana mengantri untuk tidur denganku."

"Yasudah, minta saja dengan wanita lain itu! Aku tidak mau! Dan kenapa kau selalu mengikutiku?!"

Gerald melepaskan tubuhku. Kini aku menghadap ke arahnya. Gerald memojokkanku kembali ketembok. Perlahan wajahnya mendekat kewajahku. Reflek aku meletakkan telapak tanganku ke wajahnya yang hendak menciumku.

"Bisakah kau lepaskan aku. Aku sangat lelah. Kau tahu betul apa yang terjadi kemarin bukan? Setidaknya kasiani aku untuk hari ini."

"Memohon lah padaku dengan lembut. Aku akan melepaskanmu."

Aku terdiam sejenak.

"Kenapa? Tidak mau di lepaskan?"

"Dasar brengsek!"

Selama aku hidup, aku tidak pernah memohon pada pria manapun bahkan ayahku sendiri. Aku menyatukan kedua telapak tanganku.

"Senior Gerald. Aku mohon. Lepaskan aku."

Ucapku berusaha bersikap manis padanya.

Gerald tampak terkejut dengan apa yang aku lakukan barusan. Wajah tengilnya kini berubah. Telinganya memerah. Tiba-tiba sosok wanita yang merangkak tadi muncul di belakang Gerald. Namun kepalanya kini normal. Tapi bekas luka di lehernya masih ada. Aura tubuh Gerald melemah. Namun aura hitam kini sudah tidak nampak lagi. Dan aku tidak merasakan energi negatif pada roh itu. Dibalik rambut yang menutupi wajahnya aku melihat bibirnya tersenyum. Sepertinya senyum itu terarah padaku.

Ku lihat sosok wanita itu mengenakan baju sekolah yang berbeda dengan yang aku kenakan. Aku tidak tahu dari mana sosok itu berasal. Namun aku mulai menerka alasan mengapa sosok itu selalu mengeluarkan energi negatif dan aura negatif yang ada pada tubuh Gerald sebelumnya.

"Senior Gerald, apa sebelumnya kau sering bermain dengan banyak wanita?"

Tanyaku tiba-tiba padanya.

Ekspresi tengilnya itu kembali muncul karena mendengar pertanyaaku. Aura yang dikeluarkan tubuhnya pun seketika berubah menghitam lagi.

"Kenapa kau tiba-tiba bertanya seperti itu? Apa kau berubah pikiran dan mau melakukannya juga denganku?"

"Hentikan itu sekarang juga."

"Mengapa? Kamu cemburu ya?!"

Aku mendorongnya menjauh.

"Aku sudah memperingatimu Senior. Jika kamu tidak segera berhenti, akan sulit untuk menolongmu nantinya."

"Menolong?"

Aku pergi meninggalkannya yang dalam keadaan bingung.

"Sosok itu... Sebenernya apa yang dia mau?"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!