sebuah kehancuran adalah sebuah derita bagiku, seperti kutukan akan kelakuan berat masa laluku. nyatanya itu hanyalah sebatas prasangka. _Ailavati Keysa Maharani.
wajah datar tampak acuh adalah penguat ku, aku terlalu takut untuk dikasihani sebagai alasan pertemanan ku. hidupku telah luluh lantah atas kehancuran.~Alga Mahensa Putra
Di sinilah kisahku dimulai.
Aku Aila Putri cantika yang memiliki trauma akan masalalu, yang di pertemukan dengannya Alga Mahensa Putra.
Pria yang memiliki parasa tampan dan berwajah datar.
Akankah Aku bisa bersamanya?
Apakah ego kita yang akan sama sama menyakiti?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon prasetya_nv, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
merasa tertinggal
Cahaya temaram kini menghiasi malam menemaniku di perjalanan ini. Kelap kelip lampu jalanan adalah saksi perjalananku menuju basecamp bersama Tanala.
Aku duduk di samping kemudi dengan tenang. Aku memandang jalanan yang sangat padat di kota ini. Orang orang terlihat saling mendahului untuk segera sampai. Bising klakson membuat pengendara semakin pusing di buat.
"La, santai. Gue gak mau lo kayak mereka. " Cicit ku dengan rasa takut yang tiba tiba mendera ku. Aku mencoba untuk tetap tenang. Walaupun sesuatu di dalam sana memberontak.
"Oke." Tanala seolah paham dengan apa yang ku rasakan menjawab ku singkat. Dia menepikan mobil kesayangannya. Dia keluar berjalan ke tempat makan lesehan pinggir jalan.
"Bang, nasi goreng dua dan teh anget" Sayup sayup ku mendengar Tanala memesan makanan di sana.
"Kenapa? " Aku bertanya. Dia memandangku lekat dan mengelola nafas.
"Tenangin diri lo. " Hanya kalimat itu yang keluar dari mulutnya. Aku tersentuh dengan sikapnya yang pengertian. Aku mengatur nafas perlahan. Sepanjang perjalanan aku isi dengan jantung yang berdetak kencang.
Perjalanan terasa lebih panjang dari bisanya. Jalan itu masih sama, tapi pikiranku terlalu berkelana.
"Sudah sampai La. " Malam menyadarkanku dari lamunan panjangku. Aku gelagapan, memandang Tanala yang memandangku dengan menaikkan sebelah alisnya.
"Apa? Jangan mikir aneh aneh. " Aku menjawabnya dengan melihatnya kembali.
"Kamu yang seharusnya jangan mikir aneh aneh. " Tanala tersenyum jail melihatku. Pipiku memerah karena ulahnya. Tanpa menjawabnya aku menjauh darinya untuk menutupi rasa maluku. Terlihat di depan sana Aldi dan Gilang menungguku dan Tanala.
Aku menghampirinya sambil melambaikan tanganku pada mereka.
"Sudah lama? " Aku melayangkan pertanyaan saat berhasil duduk di kursi depan mereka.
"Enggak santai dulu. " Gilang menjawabku dengan gaya lembutnya seperti biasa. Hati Gilang begitu lembut berbanding terbalik dari tingkahnya yang petakilan.
"Eh Tan, lo lelet banget sih? " Aldi dengan gayanya khasnya mengejek Tanala yang berjalan menyusulku di belakang sana.
"Teman lo tu yang nyelonong. " Sepertinya dalam diri Tanala ada percikan percikan api yang sebentar lagi menjadi kebakaran.
" Santai Tan, kok ngegas? " Kebiasaan Aldi dan Tanala yang menciptakan celotehan yang tidak jelas. Perdebatan akan sepanjang harapan jika tidak ada yang menjadi jalan tengahnya.
"Udah kita pesen makan dulu! " Aku menengahi dengan menyarankan pendapat.
Kami sekarang berada dalam basecamp seperti biasa kami kumpul dan di depan sana, seberang jalan ada penjual nasi goreng dan bakso yang biasa kita beli.
"Gue bakso aja Lang. Lo yang beli ya! "! Perintah ku pada Gilang karena aku malas mengantri sendiri.
" Gue nasi goreng. Lo al? " Tanala menyahut dengan ikut memesan.
"Gue sama kayak Ila. " Aldi ikut memesan membuat Gilang menggerutu.
" Kalian sama aja. Gue bukan budak kalian." Dengan wajah yang di Teluk Gilang memprotes semuanya.
"Oke gue ikut, gak usah banyak drama." Aku berjalan mendahului Gilang. Aku hari ini ingin tenang dan keputusanku untuk bersama mereka bukan yang tepat. Gilang mengikutiku dengan langkah jenjangnya. Dia bisa dengan cepat. Menyusul langkahku dan berjalan di sampingku.
"Bagaimana kabarmu?" Gilang dengan tiba tiba membuatku menghentikan langkahku.
"Masih sama. Seperti kemarin gue ketemu lo. " Aku dengan tenang menjawabnya tanpa memandangnya. Aku memiliki kekecewaan yang mendalam dari mereka. Tapi, aku hanya diam. Biarkan semua teka teki yang ku dapat bisa ku jawab dengan sendirinya.
"Jangan terlalu memikirkan hal yang membuatmu sakit. Disini masih ada kita semua yang bisa membantumu. " Gilang berkata setenang aliran sungai. Dalam hati aku tertawa mendengarkan itu.
"Lantas jika kalian bisa membantuku mengapa kalian menyembunyikan tentangnya yang menghilang." Dalam batinku menolak semua ucapannya.
" Apakah aku bisa mempercayainya? " Aku mencari kepastian di tengah sorot matanya yang terasa ragu. Bila mata itu tidak tenang. Dan bukan itu jawaban yang aku inginkan.
"Pasti " Gilang memberikanku kepastian yang nyatanya itu hanyalah angan yang jadi abu. Aksara tak akan ku temui jika mereka menjadi sumber informasi itu.
Selebihnya aku melangkah dengan diam tanpa berbicara apapun mendahuluinya.
Malam ini terasa ringan saat bercanda dengan mereka. Rasanya masih sama seperti dahulu saat aku bertemu mereka. Tapi, aku masih merasa kosong. Ada yang hilang tapi aku tidak tau pastinya.
"Apakah ini sudah terlalu dalam? Mengapa rasanya seperti hampa. " Batinku terus bertanya apa yang sebenarnya terjadi dalam diriku ini.
"La, lo pulang gak? Gue gak bisa antar lo. Gilang yang bakalan antar lo." Tanala menyadarkanku dari lamunan. Aku gelagapan tanpa mendengarkannya dengan benar aku mengiyakan. Entah aoa yang di bicarakannya.
"Oke lang Ila setuju. Antar dia dengan benar. " Tanala memperingati Gilang agar mengantarkanku sampai tujuan.
"Santai Na, gue antar sampai rumahnya. " Gilang menyanggupinya dengan gaya Gilang yang mungkin membuat cewek luluh dengannya. Namun, sayang itu bukan aku.
"Ayo Lang, kita berangkat sekarang. " Aku mengajaknya. Aku mendahuluinya jalan ke parkiran. Seperti biasa Gilang dengan motor kesayangannya mengantarkanku sampai tujuan.
Hening, hanya deru motor yang terdengar. Aku dengannya saling diam tanpa mulai percakapan. Hingga tiba tiba Gilang bersuara. "La, kamu kenapa? " Dia bertanya sambil melirikku dari balik spion motornya.
"Lang, gimana rasanya jatuh cinta? " Aku memberi pertanyaan yang terdengar tidak masuk akal. Tapi aku hanya ingin memastikan.
"Kamu tahu nggak La? Jatuh cinta itu indah. " Gilang bukan menjawabku tapi dia hanya berandai. Aku di belakangnya hanya diam tanpa memusingkan teori darinya. Tapi dia melanjutkan kalimat itu.
" Indah, saat jantung kita berdetak dengan ritme yang tak biasa. Indah saat melihat senyumnya. Indah saat ada di dekatnya. Tapi ironisnya bukan aku yang di beri kesempatan. " Gilang memberikan jawaban yang begitu sulit untuk ku pahami. Aku terdiam memikirkan ucapannya.
"Jantung ini selalu berdetak lebih kencang saat aku di dekatnya. Apa ini? " Aku masih bingung menerka nerka. Apakah artinya itu.
Aku sibuk menerka nerka perasaanku sendiri hingga tidak sadar kini motor Gilang berada di halaman rumah.
Aku turun dari motor Gilang dan mempersilahkan dia masuk. Tapi dia menolaknya.
" Gak. Usah La, lain kali aja aku lagi buru buru. Salam buat tante Reta. "
Aku berjalan perlahan ke arah rumah, tapi aku melihat mobil yang tak asing berada di parkiran rumahku.
"Dia kenapa di sini? " Monolog ku sambil melangkah ke dalam rumah. Terlihat di ruang tamu seseorang lagi duduk membelakangiku.
"Apa tujuannya? " Batinku bertanga.
Aku memandangnya terheran mengapa dia ada di sini. Mama berjalan dari arah dapur sambil membawa se cangkir teh melintas di depanku.
"Kenapa diam, Alhamdulillah menunggumu cepat samperin! " Mama menyuruhku agar cepat menghampirinya. Dengan langkahku yang terasa berat aku menghampirinya. Pikiranku kembali tak karuan saat menatapnya. Dengan terbata aku bertanya padanya.
"A al, sedang apa? " Aku menunduk tanpa melihatnya. Aku takut untuk sekedar mendongakkan kepala. Tatapan itu ada bersamanya. Dia seperti bukan Alga.
"Kenapa menghindar? " Dia menatapku dengan tatapan itu membuatku takut.
"Eng gak.. Siap yang menghindar. " Aku berusaha bicara tanpa terbata bata. Aku mulai membiasakan diri dengan tatapan itu. Sisi lain dalam diri Alga kini telah kembali ke permukaan. Aku harus menghadapinya dengan tenang. Dia mudah meledak untuk saat ini.
"Aku balik, besok aku jemput. " Ucapanya sambil bangkit dari duduknya.
"Bukannya kamu harus berangkat dengan Naina. Kasihan dia, aku ada Nala. " Aku berusaha menolaknya tanpa dia tersinggung.
Tanpa menoleh dia meneruskan langkahnya setelah mendengarkan jawabanku. Dia tidak menjawab hanya meninggalkanku. Aku terdiam, entah mengapa apa tujuan dia. Aku menghela nafas dan meninggalkan ruang tamu.