Halo semuanya...
Ini karya novel pertamaku.
Isekai biasanya tertabrak mobil atau truk sedangkan aku cuma ketiduran. Aku Lisa Aspasa harus mengalami isekai. Aku terbangun dalam sebuah novel dimana tubuh inilah tokoh villiannya. Seorang villian dipastikan akan berakhir kematian. Kematian yang mengerikan bagi siapapun yang melihatnya.
Akankah aku bisa menghindari takdir kematian?
Akankah aku mendapatkan kebahagiaan?
Pada pertengahan perjalan jiwa pemilik asli tubuh ini datang.. apa yang ia inginkan? akankah dia mau membantuku atau sebaliknya?
Berlahan tapi pasti sesuatu yang tidak terungkap dalam novel mulai muncul kepermukaan...
Apakah itu?
Penasaran... langsung baca saja
27 Oktober 2020
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sisi Miring Petagon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 21
WARNING TYPO BERTEBARAN
***
Melisa POV
Air yang jernih berubah menjadi keruh. Dedaunan segar berlahan membusuk bersama bunga yang mekar indah menjadi layu. Ranting pohon yang kokoh ambruk dilahap api. Langit yang cerah menjadi mendung dengan petir mengelegar. Setiap jejak yang kutinggalkan akan menjadi kehancuran dalam alam bawah sadar.
“ Lisa hentikan” kata Melisa asli memohon kepadaku.
Mataku menatap Melisa sangat tajam. Aku melihat kehancuran alam bawah sadar akibat amarah yang membara. Aku mendekati Melisa asli “ Hentikan..” kataku memberi jeda “ Makluk es itu telah mengambil frist kissku”.
Udara terasa dingin Melisa asli terlihat sedikit mengigil “ Elgar adalah tunanganmu...” kata Melisa lirih.
Aku meraih dagu Melisa “ Makluk es itu tunangan Melisa bukan Lisa” kataku sambil menjauhkan diri “ Lagipula tunangan hanya status” kataku acuh.
Melisa melihatku dengan bibir terbuka seperti ingin mengatakan sesuatu namun tidak ada suaranya ‘mirip ikan’. Melisa menutup bibirnya untuk beberapa saat “ Lalu sekarang apa yang akan kamu lakukan? Meminta Elgartara mengembalikan frist kissmu? Terus gimana caranya?” tanya Melisa geram kepada sikapku.
Aku menggangkat bahu acuh yang membuat Melisa semakin geram terbukti dengan beberapa tanaman disekitarnya mulai layu. Aku berdehem “ Aku akan membiarkan first kissku diambil Elgartara itu karena
Elgartara tampan”
“ Semudah itu” kata Melisa tidak percaya “ Setelah kau mengamuk dan menghancurkan semuanya... lihatlah alam bawah sadar kacau balau karena ulahmu!” betak Melisa.
“ Lebay” kataku menghina Melisa yang dibalas delikan. Aku menarik nafas kemudian mengelurkannya berlahan. Aku mengeluarkan energi negatif dan menyerap energi positif dengan memikirkan hal-hal yang baik. Berlahan Langit mulai cerah dengan awan putih. Bunga dan daun mulai tumbuh segar dan mekar sempurna. Ranting pepohon mulai menyatu kembali. Air berubah menjadi jernih kembali. Para hewan mulai keluar dari persembunyian membuat alam bawah sadar terasa menjadi hutan asri. Alam bawah sadar kembali menjadi tempat yang damai, nyaman dan indah. Aku memandang Melisa dengan tatapan meremehkan “ mudahkan”.
Melisa asli tidak membalas perkataanku. Melisa terus berjalan yang membuatku melangkahkan kaki untuk mengikutinya. Kami berhenti didepan cermin besar.
“ Mengapa kau membawaku kesini?” tanyaku kepada Melisa asli.
“ Sudah waktunya membuka memori kematianmu” kata Melisa asli mengenggam tanganku “Kupikir ini waktu yang tepat” kata Melisa menatap cermin dengan penuh tekat. Aku melangkah lebih dulu menarik Melisa asli dengan pelan. Berlahan kami masuk kedalam cermin besar yang terletak ditengah sebuah pohon besar.
----
Langit berwarna merah kekuningan mentari mulai tengelam. Tidak menghentikan para anak-anak untuk tetap bermain. Aku berdiri disebuah rumah minimalis yang terdiri satu lantai. Warna putih mendominasi seluruh permukaan rumah. Taman kecil yang indah dan terawat menambah kesan asri.
Aku tersenyum senang melihat rumah yang telah membesarkanku. Disinilah seluruh kenangan suka duka aku tumbuh kembang bersama keluargaku. Bunyi montor butut yang familir. Aku melihat diriku memasukki rumah dengan montor butut yang berjuang bersamaku hingga aku bisa mengenyam pendidikan S2. Berlahan aku mengusap montor berwarna hijau ‘Aku merindukanmu sobat’.
Aku melihat diriku masuk kedalam rumah yang segera disambut ibu dan adikku serta ayahku yang selalu duduk kursinya bersama koran dan secangkir kopi ‘Aku rindu kalian’. Namaku Lisa Aspasya anak sulung dari dua saudara yaitu Bagus dan Bagas. Mereka berdua kembar selalu bermain bersama, bertengkar dan menangis bersama. Kadang mereka membuatku sangat kesal dengan tingkah sikembar ‘Aku sangat rindu si kembar’ pikirku bersamaan dengan air mata yang jatuh. Aku menyekanya berlahan. Aku melihat ibu yang kembali kedapur untuk menyiapkan makan malam. Sedangkan Lisa kekamar untuk melakukan ritual kebersihan diri.
Aku sangat merindukan saat-saat seperti ini selama aku menjadi Melisa tidak pernah aku mendapatkan hal ini. ‘Hah...’ Aku menghelan nafas kasar. Aku melihat Melisa asli yang menikmati momen ini sama sepertiku.
Waktu makan malam telah tiba sudah saatnya seluruh anggota berkumpul. Semua anggota keluarga akan makan bersama yang diselingi cerita hingga sebuah telepon masuk keponsel ayah. Ayah mengangkat telepon sambil menjauh dari kami. Makan malam sudah selesai dengan sangat berantakan akibat ulah sikembar yang tidak bisa dijelaskan melalui kata-kata.
Aku melihat ayah datang “ Kita harus kerumah nenek” kata ayah panik. Kami semua segera bersiap berangkat
kerumah nenek
“ Gak bisa ditunda aja sekarang aku harus pergi” kata Lisa bernada tinggi. Waktu itu aku terlihat sangat kesal akibat telepon Kio yang memintaku membuat porposal pentas seni yang harus dimintai tanda tangan dekan besok ‘sangat mendadak’.
Ibu mengusap punggungku berlahan “ Ada apa sayang?” tanya ibu lembut. Aku melihat Lisa diam membisu ” kalau memang ada tugas yang tidak bisa ditunda sebaiknya kamu tetap disini” kata ibu lembut yang akan diriku bantah. Sayangnya sorot mata ibu menunjukkan tanpa bantahan. Akhirnya keluargaku kecuali aku pergi kerumah nenek yang berada di Bandung.
Aku melihat Lisa masuk kedalam kamar untuk mengerjakan porposan hingga larut malam hingga diriku tertidur diatas meja. Aku sebagai penonton menikmati momen ini dengan melihat dan menginggat hal yang sudah kulalui sesekali menceritakan kisahku kepada Melisa.
Sampai Lisa bangun yang kami ikuti. Lisa kedapur untuk menyeduh air panas sayangnya despensernya rusak akhirnya mengunakan cara lama. Lisa menyalakan kompor yang diatasnya sepanci air dingin.
Sekejap lampu mati ‘apakah ayah lupa bayar listrik’ yang disertai suara pecahan kaca. Aku kaget sekaligus takut tanpa sadar meremas tangan Melisa. Melisa membalas mengenggamku ‘Aku merasa lebih baik’. Aku melihat Lisa yang sama sepertiku berlahan melangkah menuju bunyi pecahan kaya dengan bekal pisau dapur.
Aku membekap mulutku saat melihat dua orang berpakaian serba hitam berada kedalam rumah. Mereka memiliki gerak gerik mencurigakan ‘pencuri’. Aku melihat Lisa yang bersembunyi mencari ponsel untuk menelfon polisi. Akhirnya Lisa dapat menghubungi polisi itu membuatku lega. Polisi meminta Lisa tetap bersembunyi sampai polisi datang.
PRANGG bunyi benda jatuh yang ternyata itu vas bunga. Salah satu pencuri memarahi rekannya “ Apa yang kau lakukan kalau kita ketahuan bagaimana?”
Sedangkan rekannya yang tampak santai “ Tenang saja pemilik rumah ini sudah mati. Aku sudah mensapotase kendaraannya hingga mereka mengalami kecelakaan” Katanya sambil memutar vidio detik-detik kecelakaan yang menewaskan seluruh anggota keluargaku.
Aku memegang tangan Melisa erat untuk menompang berat badanku. Aku menarik nafas kasar berusaha mengendalikan emosiku ‘Aku harus tahu semuanya’ itulah kata yang berputar diotakku. Aku memejamkan mata untuk memikirkan hal-hal baik agar tetap tenang.
Entah bagaimana caranya Lisa berani melawan dua pencuri itu membabi buta. Pisau yang digunakan oleh Lisa berhasil menusuk salah satu pencuri sebut saja pencuri A. Sedangkan pencuri B memukul kepala Lisa hingga terjatuh kelantai. Kepala Lisa terbentur meja kemudian lantai hingga darah keluar dari kepala Lisa. Pencuri B berusaha untuk mengambil pisau dari tangan Lisa. Lisa mengarahkan pisau ke pencuri yang dekat dengannya untuk melukai kakinya. Akhirnya pencuri B terkena sayatan dipergelangan kakinya. Lisa berusaha bangkit dengan keadaan sempoyongan.
Terjadi pergulatan sengit diantara mereka bertiga. Hingga kedua pencuri mengeluarkan pisau. Terjadi adu pisau hingga pisau Lisa terlempar dari gengaman. Untung saja Lisa dapat menendang pencuri A tepat diluka tusuk mengakibatkan ketidakseimbangan tubuhnya. Aku melihat Lisa tidak meyia-yiakan kesempatan. Tangan Lisa mengambil vas yang berada dimeja. Memukul kepala pencuri A dengan keras hingga darah mengalir kebawah.
“ AWAS” Teriakku melihat pencuri B yang menusuk Lisa membabi buta hingga Lisa tumbang. Pencuri B merasa bahwa Lisa mati meninggalkan Lisa dan pencuri A tergeletak dilantai bersimbah darah. Pencuri B mencari tempat keluar karena mendengar sirine polisi bersamaan bau asap. Aku menoleh kebelakang terdapat asap membumbung tinggi bersamaan dengan api yang merambat kemari ‘pasti berasal dari kompor menyala’.
“ Lihatlah” kata Melisa memintaku untuk melihat keadaan Lisa. Aku menoleh mengamati kondisi Lisa yang mengenaskan. Aku melihat Lisa bangkit dengan tertatih sambil mengambil pisau dilantai. Tangan kanannya membawa pisau dengan erat. Jejak kakinya meninggalkan bercak darah dilantai marmer putih. Pencuri B masih sibuk mencari jalan keluar lewat pintu belakang. Lisa melakukan ancang-acang untuk menusuk kepala pencuri B hingga meninggal.
Lisa berjalan kekamarnya dalam keadaan tidak sadarkan diri. Tubuhnya penuh dengan luka tusukan diberbagai bagian. Selain itu, ada darah yang mengalir segar dibagian kepala. Tangan dan kaki Lisa penuh luka dengan jalan tertatih.
Lisa masuk kekamar mengambil novel Olivia Harbors Myheart. Lisa berbaring sambil membaca bagian akhir cerita novel itu. “ Aku lelah...” kata Lisa lirih berlahan memejamkan mata.
Aku terdiam dengan air mata mengalir deras “ Itulah proses kematian Lisa atau kematianmu” kata Melisa tenang. Saat ini perasaanku campur aduk hanya air mata yang bisa membalas perkataan Melisa.
Tak lama api melahap rumahku. Aku ditarik Melisa untuk keluar dari rumah. Pemadam kebakaran turun tangan memadamkan api dan mencari korban jiwa. Polisi dan ambulan berada dilokasi bersama dengan reporter dan warga yang menyaksikan.
Setelah 45 menit akhirnya api bisa dipadamkan dengan korban yang dilarikan kerumah sakit. Seluruh korban kebakaran dinyatakan meninggal. Mereka dilakukan autopsi untuk mengetahui identitas korban yaitu Rudi/30 tahun, Johan/32 tahun dan Lisa /23 tahun. Kasus diduga pencurian yang menyebabkan kebakaran rumah. Makam Lisa berada disamping makan ayah dan ibu berserta adik kembarnya.
Aku menabur bunga sama seperti peziarah lainnya. Saat semua peziarah meninggalkan pemakaman. Aku berdiri tepat dimakam ayah dan ibu “ Ayah dan ibu aku sangat mencintai kalian. Terimakasih sudah membesarkan diriku. Memberikanku cinta dan kasih sayang tanpa batas untukku. Maaf selama ini aku mengabaikan kalian, membuat kalian marah, kesal, sedih atas semua tingkah lakuku. Maaf... aku belum bisa mewujudkan cita-cita kalian, belum membuat kalian bangga padaku, belum bisa membuat kalian bahagia dimasa tua... hiks... hiks... hiks...” kataku berlinang air mata. Aku jatuh didepan makam orang tuaku menangis keras meraung-raung dengan hati yang patah.
Aku mengusap air mataku saat berpindah ke depan makam adik kembarku “ Bagas dan Bagus adikku yang mengemaskan sekaligus nakal. Kalian disurga nanti jangan menyusahkan ayah dan ibu. Kalian harus menjaga mereka. Tunggu kakak menyusul kesana.... hiks... kakak menyayangi kalian... maaf... belum bisa membelikan kalian mainan baru... hiks... hiks” kataku berlinang air mata mulutku sudah tak sangup lagi untuk menyampaikan seluruh perasaanku.
Aku menarik ingusku bersama mengusap air mataku menatap makam bertulis Lisa Aspasya “ Terimakasih sudah menjadi jasad untukku. Terimakasih sudah berjuang bersama. Terimakasih sudah menjadi pelindung untuk jiwa sepertiku... terimakasih telah menjadi wadah yang sempurna walau kadang aku merasa kurang... kurang cantik.. kurang seksi... dan masih banyak lagi itu semua karena aku kurang bersyukur memiliki jasad sepertimu... hiks... hiks... terimakasih.. hiks...”
Aku memandang pemakaman seluruh anggota keluargaku “ Aku sangat mencintai kalian... hiks...” kataku menarik nafas “ Ayah, ibu, Bagas, Bagus dan jasadku perkenalkan dia Melisa. Tubuhnya menampung jiwa kami berdua. Melisa adalah segalanya untukku begitupula sebaliknya. Ayah, ibu, Bagas, Bagus dan jasadku aku minta restu kalian untuk hidup bersama Melisa selamanya”
Hembusan angin menerpa kami menerbangkan anak rambut. Semilir angin spoi-spoi membuat rasa kenyaman “ kupikir Mereka merestui kita...” kataku lirih kepada Melisa.
“ kau benar... rasanya tenang dan damai” kata Melisa asli sambil memejamkan mata menikmati kedamaian ini.
----
Waktu terus berputar sudah waktunya kami kembali kedunia nyata. Kami sudah keluar dari cermin “ Lisa” kata Melisa asli yang membuatku menoleh “ Aku ingin bertemu dengan ayah” kata Melisa lirih. Aku tersenyum cerah mengangguk dengan pasti.
Melisa asli membuka mata yang menampilkan gudang yang disulap oleh Elgartara. Aku melihat Melisa bukan anak yang sabaran. Seperti saat ini Melisa tanpa pamit keluar dari gudang melewati Elgartara begitu saja. Aku bisa melihat ada guratan keterkejutan dan khawatir dari wajah Elgartara. Melisa berlari kerumah yang dikejar Elgartara ‘seperti film bollywood’.
Melisa masuk kerumah memeluk ayah yang sedang minum kopi ‘untung tidak tumpah’. Aku melihat Melisa menangis keras yang ditenangkan ayah sementara itu Elgartara menunjukan wajah bersalah.
“ Hiks... Ayah... maaf... maaf... Melisa selalu menyusahkan ayah, meminta ini itu, memaksa ayah menuruti semua keinginan Melisa tanpa memikirkan keadaan ayah.... hwaaa..... hiks...” kata Melisa dengan tangis keras ‘seperti anak kecil’.
Aku melihat ayah Melisa tersenyum lembut membelai putrinya “ iya putriku.. ayah juga minta maaf karena terlalu sibuk berkerja” kata Ayah dengan nada Menyesal. Merekapun berpelukan dengan erat menyalurkan seluruh perasaan yang terpendam.
“ Melisa apa kau mau menemani minum kopi ayah” kata ayah membuat acara keluarga dadakan.
“ Tentu saja” kata Melisa antusias
“ Elgar mau ikut?” kata ayah mengajak Elgartara
“ Maaf om saya tidak mau menganggu acara ayah dan anak” kata Elgartara menolak halus ajakan ayah.
“ Ayolah.... kau juga anakku” kata ayah menyeret Elgartara masuk kedalam acara minum kopi ala ayah suho.
Melisa mendatangiku untu berganti yang kutolak. Akhirnya mereka menikmati acara minum kopi ala ayah suho hingga larut malam. Sedangkan aku asik menikmati kehidupan yang damai ditemani beberapa hewan lucu.
***
Halo semuanyaaa....