NovelToon NovelToon
BLIND HEIRESS: Akting Buta Sang Istri Konglomerat

BLIND HEIRESS: Akting Buta Sang Istri Konglomerat

Status: sedang berlangsung
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: Wahidah88

"Di depanmu aku tetap buta, tapi di belakangmu aku sedang menggali kuburanmu!"
Gwen, sang pewaris kaya, terbangun dari kebutaannya. Namun, hal pertama yang ia lihat justru suaminya sedang bercumbu dengan sahabatnya sendiri—tepat di samping ranjangnya!
Bukannya melabrak, Gwen memilih tetap berakting buta. Ia menyusun rencana balas dendam yang rapi di bawah hidung mereka.
Keadaan makin panas saat ia menyewa Elang, bodyguard dingin yang menyimpan dendam pada keluarga Gwen. Diam-diam, Elang tahu Gwen hanya berpura-pura.
"Nona, aktingmu hebat. Tapi di depanku, matamu tidak bisa berbohong," bisik Elang.
Bisakah Gwen menghancurkan para pengkhianat itu sebelum rahasianya dibongkar oleh sang bodyguard misterius?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 21: RESTU DARI SANG RAJA TUA

​Helikopter penyelamat itu mendarat di sebuah landasan pribadi di pulau tersembunyi milik keluarga Adiguna yang tidak diketahui oleh kakeknya. Angin laut yang kencang menyambut kepulangan mereka. Arthur Adiguna segera dilarikan ke ruang perawatan intensif yang sudah disiapkan Hendra, sementara Gwen dan Elang berdiri di tepi dermaga, menatap cakrawala yang perlahan mulai terang oleh fajar.

​Gwen merasa tubuhnya seperti kehilangan tulang. Ketegangan selama dua puluh bab terakhir akhirnya meledak. Ia jatuh terduduk di atas pasir putih, air matanya tumpah tanpa bisa dibendung lagi.

​Elang segera berlutut di sampingnya. Tanpa kata-kata, ia menarik Gwen ke dalam pelukan yang sangat erat. "Sudah berakhir, Gwen. Setidaknya untuk malam ini."

​"Ayahku hidup, Elang... Dia benar-benar hidup," isak Gwen di dada pria itu. "Tapi kenapa hatiku terasa begitu takut? Kakek tidak akan melepaskan kita. The Hive tidak akan berhenti."

​Elang mengusap punggung Gwen dengan lembut. Luka di pinggangnya berdenyut nyeri, namun rasa sakit itu tidak sebanding dengan rasa lega karena berhasil membawa Gwen keluar dari neraka lepas pantai itu. "Mereka mungkin punya kekuasaan, tapi kita punya kartu as. Data Proyek Gerhana yang asli ada padamu. Selama itu milikmu, mereka tidak bisa menyentuh sistem keuangan dunia."

​Dua hari kemudian, kondisi Arthur mulai stabil. Meskipun lumpuh dan penuh luka bakar, sorot matanya yang cerdas telah kembali. Gwen masuk ke dalam ruang perawatan ayahnya, membawa segelas air putih. Di ambang pintu, Elang berdiri tegak seperti patung, menjalankan tugasnya sebagai pengawal.

​Arthur menatap Gwen, lalu beralih ke arah Elang. "Gwen, bisa kau tinggalkan kami berdua sebentar? Ayah ingin bicara dengan pengawalmu."

​Gwen sempat ragu, namun Elang memberikan anggukan kecil yang menenangkan. Gwen pun keluar, menutup pintu kayu ek itu dengan rapat.

​Di dalam ruangan, suasana menjadi sangat tegang. Arthur Adiguna, pria yang pernah memimpin imperium bisnis terbesar di Asia, menatap Elang dengan pandangan yang menyelidik.

​"Duduklah, Elang," suara Arthur serak namun berwibawa.

​Elang tetap berdiri. "Saya lebih nyaman berdiri, Tuan."

​"Dulu, ayahmu adalah pria yang paling kupercayai di dunia ini. Dia menyelamatkan nyawaku berkali-kali," Arthur menghela napas panjang. "Dan sekarang, anaknya menyelamatkan nyawa putriku. Aku berhutang besar padamu."

​"Saya hanya melakukan tugas saya, Tuan," jawab Elang datar.

​"Tugas?" Arthur tertawa kecil, yang berakhir dengan batuk kering. "Tugas tidak membuat seorang pria melompat ke gedung lantai 50 atau mengabaikan operasi jantung demi seorang wanita. Kau mencintai putriku, bukan?"

​Elang terdiam. Di dalam dunianya yang gelap, mengakui cinta adalah sebuah kelemahan. Namun di depan Arthur, ia tahu kebohongan tidak akan berguna. "Ya. Saya mencintainya lebih dari nyawa saya sendiri."

​Arthur menatap Elang dengan tajam. "Gwen adalah permata keluarga Adiguna. Dia sekarang adalah target utama The Hive. Jika kau bersamanya, kau bukan hanya akan menjadi pengawalnya, tapi kau akan menjadi tameng hidupnya selamanya. Kau tidak akan pernah punya kehidupan yang tenang. Apa kau siap?"

​"Saya sudah mati sejak sepuluh tahun lalu, Tuan. Hidup saya saat ini hanyalah untuk melindunginya," balas Elang tanpa ragu.

​Arthur terdiam cukup lama, lalu perlahan ia mengulurkan tangannya yang gemetar. Elang menyambut tangan itu. "Jaga dia. Jika kau menyakitinya, bahkan dengan kursi roda ini pun, aku akan menemukan cara untuk menghancurkanmu."

​Itulah restu yang paling berat yang pernah diterima Elang.

​Malam harinya, di balkon villa.

​Gwen sedang menatap ponselnya, melihat laporan dari Hendra bahwa beberapa antek Paman Pratama di Jakarta mulai "dibersihkan" secara hukum. Namanya telah bersih, dan sahamnya mulai stabil kembali.

​Tiba-tiba, sepasang lengan kekar melingkar di pinggangnya dari belakang. Aroma maskulin yang sangat ia kenali memenuhi indra penciumannya.

​"Ayah bilang apa padamu tadi?" tanya Gwen sambil menyandarkan kepalanya di bahu Elang.

​"Dia bilang... aku harus segera melamarmu sebelum kakekmu mengirimkan monster yang lebih besar lagi," canda Elang, meski suaranya tetap rendah.

​Gwen tertawa pelan, membalikkan tubuhnya agar bisa menatap wajah Elang. Di bawah sinar bulan, wajah pria itu tampak begitu tampan meskipun ada bekas luka baru di pelipisnya.

​"Elang, aku ingin melakukan 'pembersihan besar-besaran'. Aku tidak ingin hanya bertahan. Aku ingin menyerang The Hive dari akarnya. Aku ingin mereka tahu bahwa ratu mereka telah bangkit," ucap Gwen dengan nada yang penuh tekad.

​"Apa rencanamu?"

​"Aku akan mengadakan pesta ulang tahunku yang tertunda. Di Menara Adiguna. Aku akan mengundang seluruh rekan bisnis, media, dan... aku akan memancing kakek keluar," Gwen tersenyum licik. "Aku akan mengumumkan bahwa aku memiliki kunci untuk menghancurkan seluruh sistem The Hive jika mereka tidak membiarkan keluargaku tenang."

​Elang menatap Gwen dengan kagum. "Itu sangat berbahaya. Kamu menjadikan dirimu umpan."

​"Aku tidak sendirian, kan? Aku punya pengawal paling hebat di dunia," Gwen mengalungkan tangannya di leher Elang.

​Jarak di antara mereka menghilang. Elang menundukkan kepalanya, mencium Gwen dengan lembut namun penuh gairah. Ciuman kali ini tidak terasa putus asa seperti di gudang atau di mansion. Ciuman ini terasa seperti janji—bahwa apa pun yang terjadi di masa depan, mereka akan menghadapinya bersama.

​Keesokan Harinya: Persiapan Operasi "Black Rose"

​Gwen berdiri di depan cermin besar, mengenakan gaun merah menyala yang sangat provokatif namun elegan. Di sampingnya, Hendra menyodorkan beberapa profil target yang harus disingkirkan sebelum pesta dimulai.

​"Ini adalah lima petinggi The Hive yang bersembunyi di balik jabatan menteri dan pengusaha di Jakarta, Nona," lapor Hendra.

​"Bagus. Kirimkan 'hadiah' kepada mereka malam ini. Pastikan mereka tahu bahwa hadiah itu datang dariku," perintah Gwen.

​Pembersihan dimulai. Satu per satu sekutu Maximilian di Jakarta jatuh. Ada yang tertangkap karena kasus korupsi yang tiba-tiba mencuat, ada yang skandal perselingkuhannya dibongkar ke publik, dan ada yang tiba-tiba mengundurkan diri karena ketakutan.

​Gwen tidak lagi menggunakan peluru. Ia menggunakan kekuasaan, informasi, dan uang—senjata yang jauh lebih mematikan bagi orang-orang di level atas.

​Namun, di tengah kemenangannya, sebuah paket misterius tiba di meja rias Gwen. Paket itu berisi sebuah mawar hitam yang sudah layu dan sebuah foto.

​Foto itu memperlihatkan Elang yang sedang berjalan di taman villa tadi pagi, namun di foto itu terdapat tanda silang merah tepat di dadanya—di lokasi chip itu berada.

​Di balik foto tertulis: "Restu dari ayah adalah satu hal. Tapi bertahan hidup dari 'Sang Eksekutor' adalah hal lain. Sampai jumpa di pesta, Diana Muda."

​Gwen meremas foto itu. Ia tahu, Maximilian telah mengirimkan pembunuh bayaran terbaiknya—seseorang yang bahkan mungkin lebih hebat dari Sarah.

​"Elang!" panggil Gwen dengan suara gemetar.

​Elang muncul di pintu dalam sekejap. "Ada apa?"

​Gwen menunjukkan foto itu. Elang melihatnya dan rahangnya mengeras. "Dia sudah datang."

​"Siapa?"

​"Sang Eksekutor The Hive. Pria yang membunuh keluargaku sepuluh tahun lalu. Dia adalah bayangan dari Maximilian sendiri. Namanya... Viper."

​Gwen merasakan hawa dingin merayapi punggungnya. Perang yang sesungguhnya baru saja akan dimulai di lantai dansa Menara Adiguna.

1
Anonymous
Semakin seru dan misterius
Anonymous
Semakin komplek dan misterius
Anonymous
Paman ?Memang harta lebih agung dan sangat berharga apalagi hanya sekedar ponak'an
Anonymous
Reno "I B L I S "
Anonymous
Reno kurang bersyukur dengan kehadiran Gwen dalam hidupnya seorang istri yang csntik punya harkat martabat dan derajat
masih saja dikhianati atau mungkin sejak awal tujuan Reno memang bukan membentuk keluarga yang bahagia
Anonymous
Mulai membaca dan larut di dalamnya
Anonymous
Tegar dan percaya diri Gwen tidak mudah terbawa perasaan
Anonymous
Masih misterius semua
Anonymous
Sip.....aku suka karakter Gwenn👍
Leebit
siap!! makasih ya udah berkunjung ke karyaku😊
vania larasati
lanjut kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!