Chunxia tak pernah merasakan kehangatan keluarga sejak kecil. Kematian semua anggota keluarga mengubah hidupnya. Kini, ia hidup hanya untuk balas dendam. Ia berlatih dan berlatih hingga dewasa. Chunxia kecil mengubah namanya menjadi Zhen Yi, bahkan, ia rela bekerja di rumah bordir demi memuluskan rencananya.
Hingga saat ia menjadi Selir seorang Raja yang dikenal kejam dan tak punya rasa belas kasih. Ia harus berpura-pura menjadi wanita yang lemah lembut dan penurut, namun yang tak mereka sadari Zhen Yi memiliki rencana yang besar. Demi sebuah ambisi yang besar ia rela memanipulasi orang-orang yang begitu tulus padanya.
Putra Mahkota yang terpikat dengan kecantikannya bahkan sampai rela merebutnya dari sang Kaisar. Akhirnya perlahan kokohnya kerajaan goyah.
Mampukah Zhen Yi melancarkan aksi balas dendamnya? Atau justru, ia akan terjebak dalam permainan balas dendamnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uswatun Kh@, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21. AMSALIR
Kaisar berdiri tegak, tangannya masih menggenggam jemari Zhen Yi dengan posesif.
"Titahku sudah bulat!" suara Kaisar menggema. "Zhen Yi telah membuktikan bahwa para Dewa merestuinya. Pernikahan ini bukan lagi sekadar keinginan, melainkan takdir yang harus dipenuhi. Siapa pun yang berani mempertanyakan kesuciannya atau menyebut keajaiban ini sebagai ilmu hitam, akan dianggap menghina kehendak langit!"
Mata Kaisar menyapu ruangan, menantang setiap pasang mata yang meragu. Permaisuri Zi-Wei hanya bisa menunduk dalam. Wang Zihan, yang berdiri di sudut ruangan, hanya bisa mematung. Dadanya sesak, menyaksikan pemandangan yang itu.
"Siapkan tandu emas!" perintah Kaisar kepada pengawal pribadinya. "Kita kembali ke ibu kota sekarang juga. Aku ingin seluruh rakyat menyambut calon Selir baru mereka!"
Iring-iringan kereta kuda kekaisaran membelah jalanan menuju Ibu Kota. Di tengah barisan, sebuah tandu tertutup yang dijaga ketat oleh prajurit elit membawa Zhen Yi.
Di dalam tandu, Zhen Yi bersandar pada bantalan sutra. Wajahnya yang semula tampak lemas kini berubah menjadi dingin. 'Bersabarlah Dali, hanya tinggal selangkah lagi. Aku akan mengeluarkanmu dan membalas mereka semua."
Sementara itu, di barisan belakang, Pangeran Wang Zihan memacu kudanya dengan perlahan. Matanya terus tertuju pada tandu Zhen Yi. Pikirannya kalut harus melihat wanita itu menuju pelaminan bersama ayahnya sendiri.
Kesibukan di Dalam Tembok Istana
Sesampainya di istana, suasana langsung berubah menjadi hiruk-pikuk. Kaisar memerintahkan Departemen Rumah Tangga Kerajaan untuk bekerja siang dan malam.
Di sisi lain istana. Di kediaman Permaisuri, terdengar suara keramik pecah. Zi-Wei melempar cangkir tehnya ke lantai dengan penuh amarah.
"Pengantin?" desis Permaisuri. "Kaisar sudah gila. Dia ingin mengangkat seorang gadis dari antah-berantah menjadi pendampingnya hanya karena sebuah kebetulan di dalam kuil?"
"Yang Mulia, kita tidak bisa membiarkan ini terjadi," Xia Yue menimpali. "Jika dia menjadi selir agung atau bahkan permaisuri kedua, posisi Yang Mulia akan terancam. Dia memiliki pengaruh besar pada Kaisar sekarang."
Permaisuri Zi-Wei menyeringai tipis. "Biarkan mereka mempersiapkan pesta itu. Semakin tinggi mereka membangun panggungnya, semakin keras bunyi jatuhnya nanti. Aku akan memastikan gaun merah pengantinnya berubah menjadi kain kafan untuknya."
Malam itu, Zhen Yi berdiri di balkon Paviliun, menatap bulan sabit yang menggantung di langit malam. Di bawah sana, para pelayan hilir mudik membawa nampan berisi hiasan pesta.
Tiba-tiba, sebuah kerikil kecil jatuh di dekat kakinya. Zhen Yi tertegun, lalu menoleh ke arah kegelapan di bawah balkon. Sebuah bayangan yang sangat ia kenali berdiri di sana, tersembunyi di balik rimbunnya pohon bambu.
Itu adalah Wang Zihan.
Mata mereka bertemu dalam diam. Tak ada kata-kata, namun tatapan itu menyampaikan segalanya.
------------------------------
Pagi itu, Zhen Yi duduk tegak di depan cermin. Beberapa dayang sibuk menyisir rambutnya yang hitam legam, menyematkan tusuk konde emas berbentuk burung phoenix yang sayapnya bertabur mutiara.
Ia menatap pantulan wajahnya sendiri. Wajah itu tampak cantik, namun tatapannya sedingin es.
'Bersabarlah, Zhen Yi,' bisiknya dalam hati. Hanya tinggal selangkah lagi. 'Menjadi selir kesayangan bukan berarti menyerah, tapi awal kemenangan.'
Ia tahu bahwa hanya dengan posisi kekuasaan tertinggi di samping Kaisar, ia bisa menekan Departemen Kehakiman untuk membebaskan Dali tanpa syarat. Ia harus menjadi wanita yang kata-katanya dianggap sebagai titah kedua oleh sang Kaisar.
"Nona, Anda adalah pengantin paling cantik yang pernah dilihat istana ini," puji salah seorang dayang dengan tulus.
Zhen Yi hanya tersenyum tipis.
"Kecantikan adalah senjata, bukan hiasan," jawabnya singkat, membuat dayang itu tertunduk bingung.
Sementara itu, di dapur kerajaan yang riuh oleh persiapan perjamuan agung, Dayang Xia Yu bergerak dengan sangat hati-hati. Ia memperhatikan sekeliling sebelum menyelinap ke meja tempat peralatan persembahan suci disiapkan.
Di sana, terdapat sebuah guci kecil berisi anggur putih berkualitas tinggi yang akan digunakan untuk ritual persembahan sebelum akad pernikahan dimulai.
Xia Yu mengeluarkan sebuah botol porselen kecil dari balik lengan bajunya. Cairan di dalamnya bening, tak berbau, namun sangat mematikan.
"Ingat, berikan ini saat kau menuangkan anggur ke dalam gelas Zhen Yi. Kau harus berhati-hati," ucapnya pada dayang suruhan.
"Hanya beberapa tetes," gumam Xia Yu. "Kau tidak akan mati, Zhen Yi. Tapi kau akan kehilangan kewarasanmu di depan Kaisar dan seluruh rakyat. Kau akan meracau seperti orang gila, dan saat itulah ramalan buruk itu akan terbukti benar."
Racun itu dirancang khusus oleh tabib gelap suruhan Permaisuri. Efeknya tidak instan, namun akan mengikis kesadaran secara perlahan. Permaisuri ingin Zhen Yi hidup, namun hidup dalam kehinaan sebagai wanita gila yang membawa sial bagi kerajaan.
Xia Yu segera pergi agar tak meninggalkan jejak. Ia tersenyum sinis melihat pekerjaannya yang sempurna.
Di sisi lain koridor, ia bertemu dengan Permaisuri Zi-Wei yang tengah berjalan dengan anggun. Tanpa perlu kata-kata, Xia Yu memberikan anggukan kecil.
Permaisuri Zi-Wei menghela napas lega, jemarinya yang mengenakan kuku palsu panjang dari emas mengelus kain bajunya.
"Besok akan menjadi hari yang sangat panjang bagi pengantin baru kita," bisiknya dengan nada penuh kepuasan.
takutnya kacau nnti
mancing sesuatu yaaa
gass aja balas dendam nya💪💪💪
sorry ya keskip bab 3, karna iklan nya tuh😭 maaf aja dah lama ga baca di novel 🙂↕️🙏