Kinan tak pernah siap kehilangan, terlebih dalam satu malam yang mengubah seluruh hidupnya. Kecelakaan itu bukan hanya merenggut tunangannya, tetapi juga meninggalkan trauma yang perlahan hinggap dalam dirinya.
Alana hadir sebagai perawat—sekedar menjalankan tugas, tanpa tahu bahwa langkah kecilnya akan membawanya masuk ke dalam kisah yang rumit. Ketulusan yang ia berikan justru membuat keluarga Kinan memintanya bertahan… bahkan menikah.
Hubungan yang seharusnya sederhana itu berubah menjadi pertaruhan perasaan.
Sebab mencintai Kinan berarti bersedia berbagi ruang dengan masa lalu yang belum pergi.
Akankah Alana mampu bertahan, atau justru terluka oleh cinta yang belum selesai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amerta Nayanika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malam Pertama
Kamar hotel yang sebelumnya hanya ditempati oleh satu orang, kini bertambah satu penghuni lagi. Riasan tebal masih melekat erat pada paras ayunya. Bulu matanya bagai ekor merak yang mempesona setiap dia mengedipkan mata.
Ranjang berlapis sprei putih itu cukup luas. Namun, keduanya sama-sama memilih untuk mendudukkan diri pada tepian setiap sisi. Sesekali mata salah satunya mencuri pandang dari pantulan cermin di hadapannya. Namun sayangnya hanya sebuah punggung lebar yang menyambut tatapannya.
"Saya ikut tidur di sini, Pak?" tanya Alana pelan. Suaranya menggema di tengah sunyi.
Kinan yang semula sibuk memandangi cincin perak di jari manisnya itu lantas menoleh ke arah Alana. Tepatnya pada wajah perempuan yang terpantul di permukaan cermin. Hanya sesaat, sebelum akhirnya dia kembali memunggungi Alana.
Pria itu beranjak dari tempatnya. Alana dapat merasakan sisi lain dari kasur ini bergerak pelan. Tubuhnya hampir tenggelam jika tak buru-buru membenahi posisi duduknya.
Dengan posisi masih memunggungi Alana, Kinan menjawab, "Terserah."
Nada suaranya masih tetap sama. Dingin, tak ramah, seolah tak ingin berbicara dengan siapa pun saat ini. Terutama pada Alana yang kini ada bersamanya. Dia bahkan tak sedikit pun menghadap pada lawan bicaranya saat menjawab tadi.
Suasana ini tentu bukanlah yang Alana inginkan. Meski dia tak pernah sekali pun memikirkan perihal pernikahan, Alana tentu memiliki pandangannya sendiri tentang status ini. Ternyata, kehidupan pernikahan yang dia jalani tak semanis itu.
Anehnya Alana tak merasa sedih dengan hal itu. Bahkan saat pria yang kini menyandang status sebagai suaminya ini tak ingin melihat ke arahnya pun Alana tak sedikit pun merasa sakit hati. Seolah dia sudah terbiasa sejak awal.
"Saya tahu, Pak Kinan juga nggak benar-benar menginginkan pernikahan ini dengan saya," ucap Alana kembali memecah keheningan.
Tangan Kinan yang sebelumnya sempat menggenggam gagang pintu, kini melonggar. Kepalanya dengan mudahnya menoleh pada Alana yang masih duduk di ujung ranjang. Matanya tak sengaja bertemu dengan sorot dalam milik Alana dari pantulan cermin.
Alana menelan ludahnya sejenak, sedikit tak nyaman dengan tatapan tajam yang menguncinya di sana. "Maaf, karena saya menarik Pak Kinan ke situasi ini."
"Bukan salah kamu," timpal Kinan. "Saya juga yang bilang kalau saya setuju sama pernikahan ini. Lebih dulu daripada kamu."
Pria itu tak sedikit pun melepaskan tatapan Alana yang berusaha kabur dari pandangannya. Dia biarkan Alana menikmati keringat dingin yang menuruni leher jenjang dengan kalung perak berkilau di sana. "Ada yang mau disampaikan lagi?"
Alana menggeleng. "Nggak ada. Itu aja, Pak."
Kinan menurunkan tangannya dari gagang pintu. "Bukannya saya udah bilang? Jangan panggil saya 'Pak'. Saya nggak setua itu," pinta Kinan tajam.
Mendengar itu, Alana melunturkan senyum tipis yang semula masih bertengger ramah di wajahnya. Lengkungan manis di bawah matanya hilang seketika. Untuk pertama kalinya Alana memperlihatkan wajah itu di depan orang lain.
"Terus mau dipanggil apa? Om?" sahut Alana tak ingin kalah.
Setelah kalimat itu, terdengar desisan kesal dari bibir Kinan. Pria itu bahkan mengepalkan tangannya di balik saku jas pengantin yang masih melekat rapi di tubuhnya.
Alana dapat melihat kepalan tangan itu semakin keras dengan jelas di baik kain yang tak dapat berdusta. Entah mengapa Alana merasa puas begitu melihat Kinan kesal seperti itu. Sepertinya, Alana akan menambahkan hal ini ke dalam jajaran rutinitas hariannya.
Perempuan itu lantas membalikkan tubuhnya hingga menghadap Kinan. Mata mereka tak lagi hanya bertatapan dari pantulan kaca. Kini Alana dapat melihat langsung mata kecokelatan yang menatap tajam ke arahnya itu.
"Gimana, Om?" lanjut Alana, tak gentar mengusik Kinan.
Namun, di sinilah Kinan baru menemukan lawannya yang sepadan. Alana ternyata tak semudah yang dia bayangkan. Sosok Alana yang sabar dan penuh keramah tamahan itu menghilang seketika malam ini.
Kinan lantas meninggalkan daun pintu yang semula hendak dia buka. Gagang pintu yang menghangat akibat tangannya yang bertengger di sana dalam beberapa saat terakhir juga dia tanggalkan begitu saja. Kinan mulai mengikis jarak di antaranya dengan Alana.
Pria itu berjongkok di depan Alana. Matanya masih enggan beralih dari sepasang mata legam milik Alana yang tampak lebih bersinar hari ini. Mungkin karena perona mata yang membingkai di sekitarnya.
Saking dekatnya jarak di antara mereka, Kinan mendapati kedua pupil itu bergerak ke kanan dan ke kiri, menatap kedua matanya bergantian. "Apa saya kelihatan setua itu di mata kamu?" tanyanya.
Alana terdiam. Dia sempat terpana dengan jernihnya sepasang mata milik Kinan. Alana hampir terhanyut dibuatnya. Bagai magnet yang berusaha menariknya untuk ikut masuk ke dalam sana, mengenal Kinan lebih jauh dan membawanya jauh ke dalam kehidupan rumit pria di depannya ini.
Namun di detik selanjutnya, Alana mengerjapkan matanya dengan sungguh-sungguh. Lalu menarik dirinya dari Kinan.
Mendapati itu, Kinan tersenyum kecil. Senyum yang hanya menarik salah satu sisi bibirnya. Begitu juga dengan alisnya yang terangkat begitu saja. "Kenapa?" tanyanya.
Alana menggeleng. "Seperti perjanjian yang kita bicarakan di rumah saya kemarin, besok saya masih tinggal di rumah bareng Ibu," katanya sambil beranjak dari kasur.
Melihat itu, Kinan ikut berdiri. "Terserah kamu saja," jawab Kinan seadanya.
Tanpa sepatu hak tinggi seperti saat ini, Alana harus merelakan lehernya mendongak cukup lama untuk menatap Kinan. Maklum saja, tingginya setara dengan seekor sapi dewasa yang siap disembelih, berbeda dengan Kinan yang sudah menjulang karena faktor gen dan gizi baik.
Pria ini terlalu dingin untuknya. Alana juga tak yakin akan bertahan hingga lebih dari satu tahun jika harus berhadapan dengan sosok Kinan yang seperti ini setiap harinya.
"Bisa nggak sih, kamu ramah sedikit ke aku? Aku nih istri kamu loh, Mas." Kalimat yang keluar dari bibir Alana itu membuat seisi ruangan kaku seketika. Termasuk Kinan dan Alana yang masih saling berhadapan saat ini.
Tampak leher Alana bergerak pelan, menelan ludah dengan kasar. Mencoba menelan kembali kata-kata yang sudah terlanjur dia muntahkan barusan. Namun, otaknya seolah tak bisa bekerja sama. Satu kalimat kembali meluncur dengan mulus dari bibirnya yang masih merah merona.
"Aku ini istri kamu, terhitung sejak malam ini, Mas Kinan."
Alana kira, Kinan akan memarahinya dengan berbagai kalimat yang kasar. Alana kira, sorot mata itu akan jauh lebih dingin dan tajam daripada sebelumnya. Alana kira, Kinan akan dengan tega mengatainya 'gila' lalu meninggalkannya begitu saja.
Namun yang terjadi sangat berbanding terbalik. Kinan tampak mengangguk sekali. "Saya usahakan," ucapnya.
Setelah berkata seperti itu, barulah Kinan benarbenar menekan gagang pintu kamar dan keluar begitu saja. Menyisakan Alana seorang diri yang kini merutuki dirinya sendiri.
"Aku-kamu?!" gerutunya sambil mengetuk kepalanya sendiri menggunakan kepalan tangannya. "Dia aja masih pakai sebutan 'saya', Alana!!"