Sinopsis:
Liang Chen adalah pengembara yang memilih hidup sederhana dan menjauh dari dunia persilatan. Ia tidak mengejar kekuatan, nama besar, atau kekuasaan—hanya ingin hidup tanpa meninggalkan jejak. Namun sebuah pertemuan dengan seorang pria sekarat menyeretnya pada sebuah warisan berbahaya: sebuah kitab beladiri yang tidak mengajarkan kemenangan, melainkan cara mengakhiri konflik secepat mungkin.
Sejak itu, hidup Liang Chen berubah. Orang-orang mulai memperhatikannya, mengujinya, dan menyebarkan cerita tentangnya. Ia tidak lagi dinilai sebagai orang biasa, melainkan sebagai gangguan terhadap keseimbangan. Setiap keputusan kecil memicu reaksi berantai, setiap pertarungan melahirkan musuh baru yang tidak selalu datang dengan pedang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Restu Agung Nirwana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ORANG YANG TIDAK PUNYA WAKTU
Pagi di kota itu datang tanpa suara keras.
Tidak ada lonceng besar. Tidak ada teriakan penjaga. Hanya bunyi roda gerobak, langkah kaki di jalan batu, dan aroma makanan yang mulai keluar dari warung-warung kecil.
Liang Chen sudah bangun sebelum cahaya masuk dari celah jendela. Ia tidak benar-benar tidur. Hanya memejamkan mata, menunggu tubuhnya cukup istirahat untuk bergerak lagi.
Ia duduk di tepi ranjang, memeriksa bahu dan lengannya. Luka-luka kecil dari perjalanan beberapa hari terakhir sudah mengering. Tidak ada infeksi. Tidak ada bengkak. Tubuhnya masih bisa dipercaya.
Itu sudah cukup.
Ia tidak membuka kitab pagi itu. Ia hanya menggulung kembali kain pembungkusnya, memasukkannya ke dasar ransel, lalu berdiri.
Hari ini, ia harus bergerak.
Bukan karena takut. Melainkan karena ia tidak punya waktu untuk menunggu kota ini berubah sikap.
Di lantai bawah, warung penginapan sudah buka. Beberapa orang duduk makan bubur pagi. Liang Chen memesan semangkuk, duduk di tempat yang sama seperti semalam.
Wanita pemilik penginapan meliriknya. “Kau masih di sini.”
“Baru semalam,” jawab Liang Chen.
“Orang seperti kau biasanya tidak menginap dua malam.”
Liang Chen tidak menjawab. Ia hanya makan.
Beberapa saat kemudian, pintu terbuka. Seorang pria masuk. Bukan Han Rui. Pria ini lebih muda, wajahnya keras, langkahnya cepat. Ia melihat sekeliling, lalu langsung menuju meja kasir.
“Dia di sini?” tanyanya pelan.
Wanita itu tidak menjawab. Ia hanya melirik ke arah Liang Chen.
Itu sudah cukup.
Pria itu berbalik. Mata mereka bertemu.
“Liang Chen?” tanyanya.
Liang Chen tidak mengiyakan, tidak menyangkal. Ia hanya meletakkan sendoknya.
“Ada urusan?” tanyanya.
Pria itu duduk di kursi seberang tanpa diminta. “Namaku Qiao Jun. Aku datang dari utara.”
“Banyak orang dari utara.”
“Tidak semua membawa kabar,” jawab Qiao Jun. “Aku membawa kabar buruk.”
Liang Chen menunggu.
“Dua kelompok orang sedang menuju kota ini,” lanjut Qiao Jun. “Yang satu dari jalan hutan. Yang satu dari jalur sungai.”
“Untuk apa?”
“Mencari seseorang.” Qiao Jun menatapnya. “Atau sesuatu.”
Liang Chen tidak bereaksi.
“Mereka belum tahu pasti kau di sini,” kata Qiao Jun. “Tapi mereka akan tahu. Kota ini terlalu kecil untuk menyembunyikan cerita.”
“Kenapa kau memberitahuku?” tanya Liang Chen.
Qiao Jun tersenyum tipis. “Karena aku tidak suka menunggu keributan datang ke tempatku bekerja.”
“Kau bekerja di kota ini?”
“Semacam itu.”
Liang Chen menatapnya beberapa detik. “Kau mau aku pergi.”
“Lebih cepat, lebih baik,” jawab Qiao Jun. “Sebelum orang-orang itu tiba dan mulai bertanya dengan cara yang lebih kasar.”
Liang Chen mengangguk pelan. “Kapan mereka sampai?”
“Satu hari. Mungkin dua.”
Itu berarti waktunya tidak banyak.
Liang Chen berdiri, meletakkan beberapa koin di meja, lalu mengangkat ranselnya.
“Terima kasih atas kabarnya,” katanya.
Qiao Jun mengangguk. “Ada satu hal lagi.”
Liang Chen berhenti.
“Kalau kau pergi, jangan lewat gerbang utama. Ada orang yang sudah mulai memperhatikan.”
“Jalur lain?”
“Ada pintu kecil di sisi barat. Dipakai pemburu dan petani. Tidak dijaga ketat.”
Liang Chen mengingat arah yang dimaksud. “Cukup.”
Ia berjalan keluar tanpa menoleh.
Udara pagi terasa dingin, tapi bersih. Kota itu belum tahu apa yang akan datang. Orang-orang masih menawar harga sayur, masih berdebat soal kualitas kain, masih tertawa tanpa beban.
Liang Chen berjalan menyusuri jalan sempit menuju sisi barat kota.
Namun sebelum ia sampai ke pintu kecil itu, sesuatu terasa berbeda.
Dua pria berdiri di ujung jalan. Mereka tidak mengenakan pakaian penjaga kota. Baju mereka sederhana, tapi sikap mereka terlalu tenang untuk orang biasa.
Salah satu dari mereka melirik ransel Liang Chen.
Yang lain tersenyum tipis.
Mereka tidak bergerak menghalangi. Hanya berdiri.
Tapi posisi mereka cukup untuk membuat siapa pun merasa diperhatikan.
Liang Chen berjalan mendekat.
“Pagi,” kata salah satu dari mereka.
“Pagi.”
“Kau baru di kota ini?”
“Semalam.”
Pria itu mengangguk. “Perjalanan jauh?”
“Cukup.”
Hening sejenak.
“Kami dengar ada orang yang membawa masalah,” kata pria kedua. “Orang seperti itu biasanya tidak tinggal lama.”
Liang Chen menatap mereka bergantian. “Kalau begitu, kalian tidak perlu khawatir.”
“Kami tidak khawatir,” jawab pria pertama. “Kami hanya ingin memastikan.”
“Memastikan apa?”
“Bahwa orang yang pergi… benar-benar pergi.”
Liang Chen mengangguk. “Aku memang akan pergi.”
Mereka saling melirik, lalu mengangguk kecil. Salah satu dari mereka melangkah ke samping, memberi jalan.
Tidak ada ancaman. Tidak ada pedang. Tapi pesan mereka jelas.
Kota ini sudah mulai memilih.
Liang Chen melewati mereka tanpa mempercepat langkah.
Beberapa gang kemudian, ia melihat pintu kecil di tembok barat. Hanya berupa gerbang kayu, cukup lebar untuk satu gerobak. Seorang penjaga duduk di kursi, menguap.
Penjaga itu meliriknya sekilas. “Keluar?”
Liang Chen mengangguk.
Penjaga itu membuka pintu tanpa banyak tanya.
“Jalan barat jarang dipakai,” katanya. “Hati-hati. Banyak batu.”
“Terima kasih.”
Liang Chen melangkah keluar kota.
Begitu melewati gerbang, udara terasa berbeda. Tidak ada lagi suara pasar. Tidak ada lagi bau makanan. Hanya angin, rumput liar, dan jalan tanah yang berliku ke arah perbukitan.
Ia tidak langsung mempercepat langkah.
Ia berjalan seperti biasa, seolah hanya pengembara lain yang lewat.
Namun dalam kepalanya, hitungan sudah berjalan.
Satu hari. Mungkin dua.
Dua kelompok orang menuju kota itu. Jika mereka tidak menemukan Liang Chen di sana, mereka akan mencari jejaknya di luar.
Dan jejaknya tidak pernah benar-benar hilang.
Menjelang siang, ia mencapai persimpangan kecil di antara batu-batu besar. Jalan bercabang ke utara dan barat daya.
Liang Chen berhenti.
Ia menutup mata sebentar.
Utara berarti kembali ke jalur pedagang. Banyak orang, banyak cerita, banyak mata.
Barat daya berarti jalur sepi. Pegunungan rendah, hutan tipis, desa-desa kecil yang jarang dikunjungi.
Ia membuka mata.
Ia memilih barat daya.
Langkahnya tetap tenang, tapi pikirannya tidak.
Ia mulai memahami sesuatu yang dulu hanya ia rasakan samar-samar: ia tidak lagi punya waktu untuk hidup seperti sebelumnya.
Setiap kota yang ia masuki akan berubah. Setiap orang yang ia temui akan terlibat, sadar atau tidak.
Kitab di punggungnya bukan sekadar beban. Ia seperti pusat pusaran yang perlahan menarik semua hal di sekitarnya.
Menjelang sore, Liang Chen menemukan tempat istirahat di bawah tebing rendah. Ia duduk, membuka ransel, lalu mengeluarkan kitab itu.
Ia membukanya pada halaman acak.
Tulisan di sana pendek:
Orang yang tidak punya waktu harus membuat orang lain kehilangan waktu lebih dulu.
Liang Chen membaca kalimat itu dua kali, lalu menutup kitab.
Ia tidak suka kalimat itu.
Tapi semakin jauh ia berjalan, semakin sering kalimat seperti itu terasa benar.
Ia bersandar pada batu, menatap langit yang mulai berubah warna.
Jika dua kelompok itu benar-benar datang, maka perjalanan berikutnya tidak akan tenang.
Dan untuk pertama kalinya, Liang Chen menyadari:
Mungkin ia tidak bisa terus berjalan. Mungkin suatu saat, ia harus berhenti… dan membuat orang lain yang datang kepadanya menyesal telah memilih jalan itu.