Daripada penasaran, yuk mampir ><
[Update Tergantung Mood]
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BiMO33, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16: Prototype
Pagi itu, area parkir fakultas desain di Oxford University yang biasanya hanya diisi oleh jajaran mobil mewah sedan dan SUV, mendadak riuh oleh deru mesin yang rendah namun bertenaga. Siluet merah menyala dari LaFerrari milik Gaby membelah kabut tipis musim semi, menarik perhatian hampir setiap mahasiswa yang sedang melintas.
Emilia dan Sabrina sedang berdiri di dekat tangga batu kapur, menyesap kopi mereka sambil asyik berbincang, ketika mobil itu berhenti tepat di depan mereka. Pintu butterfly yang terangkat ke atas dengan dramatis membuat Sabrina hampir menjatuhkan gelas kopinya.
"Wait... is that..." gumam Sabrina, matanya membelalak lebar.
Begitu Gaby melompat keluar dengan senyum lebar dan kacamata hitam yang bertengger manis di wajahnya, Emilia langsung memekik.
"GABY! Oh my God!" Emilia berlari menghampiri, tangannya langsung meraba bodi mobil yang mulus dan mengkilap itu. "Kau membawa monster ini ke kampus? Sendiri? Tanpa pengawal?"
Sabrina menyusul dengan langkah cepat, mulutnya masih terbuka tidak percaya. Ia memutari mobil itu seolah sedang melihat karya seni di galeri. "Blimey, Gaby! Ini bukan sekadar mobil, ini pernyataan perang terhadap kemiskinan! Jadi, kakakmu benar-benar melepaskan kekangannya?"
Gaby tertawa renyah, menunjukkan ponsel di tangannya dan kunci mobil yang berkilau. "Dia mengembalikan semuanya pagi ini. Ponsel, kebebasan, dan... ini." (mobilnya).
Sabrina langsung memeluk Gaby dengan gemas. "That’s my girl! Lihatlah dirimu, kembali menjadi ' The Golden Girl of Oxford '. Tidak ada lagi muka pucat dan baju tweed yang membosankan itu!"
"Tapi tunggu," Emilia menyela sembari melongok ke dalam interior mobil yang didominasi warna merah dan hitam. "Apa ini artinya kita bisa pergi jalan-jalan sore ini? Aku ingin semua orang di London tahu kalau sahabatku sudah kembali!"
Gaby mengangguk mantap, matanya berbinar penuh semangat yang sudah lama hilang. "Kak Emrys mengizinkannya. Kita akan berkeliling London setelah kelas berakhir. No bodyguards, no drama. Just us."
Sabrina menyeringai nakal, ia melirik ke arah gedung fakultas tempat Melvin biasanya muncul. "I can’t wait to see Melvin’s face when he sees you driving this beast. Dia pikir dia yang paling edgy di sini? Dia belum melihat apa-apa."
Suasana studio desain yang biasanya diisi oleh diskusi serius mendadak hening saat Gaby melangkah masuk dengan kunci Ferrari yang bergemerincing halus di jemarinya. Melvin, yang sedang berdiri di depan papan moodboard besar sambil memegang pensil sketsa, perlahan memutar tubuhnya.
Matanya yang tajam sempat melirik ke arah jendela besar studio yang menghadap langsung ke area parkir, di mana warna merah menyala dari mobil baru Gaby tampak kontras dengan aspal abu-abu Oxford.
Melvin meletakkan pensilnya, lalu menyilangkan tangan di depan dada. Sebuah senyuman miring yang provokatif namun penuh kekaguman muncul di wajahnya.
"Well, well... the bird didn't just escape the cage, she stole the dragon's hoard," (Wah, wah... burung itu tidak hanya melarikan diri dari sangkar, dia mencuri harta naga) sindir Melvin dengan nada berat yang menggoda. Ia berjalan mendekati meja Gaby, mengabaikan tatapan penasaran mahasiswa lain.
Gaby meletakkan tasnya dengan percaya diri, tidak lagi menunduk atau tampak gelisah seperti minggu-minggu sebelumnya. "Aku tidak mencurinya, Melvin. Dia memberikannya padaku."
Melvin tertawa rendah, suara tawa yang terdengar sangat edgy. Ia mencondongkan tubuhnya ke meja Gaby, menatap kunci mobil berlogo kuda jingkrak itu. "Interesting. Emrys Aetherion Kaito giving you a machine that can go 200 miles per hour? That’s not just a gift, Gaby. That’s a test of how fast you can run away from him."
(Menarik. Emrys Aetherion Kaito memberimu mesin yang bisa melaju 200 mil per jam? Itu bukan hanya sekadar hadiah, Gaby. Itu ujian seberapa cepat kamu bisa lari darinya.)
"Atau mungkin," balas Gaby sambil menatap mata Melvin dengan berani, "itu adalah tanda bahwa dia akhirnya percaya aku bisa mengendalikan hidupku sendiri."
Melvin mengangkat satu alisnya, tampak terkesan dengan keberanian baru Gaby. Ia meraih salah satu sketsa Gaby yang ada di meja. "Control is an illusion, darling. But I must admit, the color suits your defiance. It’s loud, expensive, and impossible to ignore."
(Kontrol adalah ilusi, sayang. Tapi harus kuakui, warna itu cocok dengan pembangkanganmu. Itu keras, mahal, dan mustahil untuk diabaikan.)
Ia kemudian berbisik, cukup pelan agar hanya Gaby yang mendengar, "Don't let the shiny red paint distract you from the fact that he still owns the garage. But for today... you win. Shall we start the project, or are you too busy planning your victory lap around London?"
(Jangan biarkan cat merah mengkilap mengalihkan perhatianmu dari fakta bahwa dia masih memiliki garasi itu. Tapi untuk hari ini... kau menang. Haruskah kita memulai proyeknya, atau kau terlalu sibuk merencanakan putaran kemenanganmu di sekitar London?)
.
.
.
Sore itu, London menjadi saksi bisu kembalinya sang "Golden Girl". Deru mesin V12 dari Ferrari merah itu memecah kesunyian jalanan Kensington yang elegan. Gaby berada di balik kemudi dengan kacamata hitam, sementara Sabrina di kursi penumpang depan sibuk merekam video untuk media sosialnya, dan Emilia di belakang tertawa lepas sambil menikmati angin yang masuk dari jendela.
"This is what life feels like!" teriak Sabrina di tengah dentum musik techno yang menghentak dari speaker mobil.
( Inilah rasanya hidup!)
Mereka memutari Piccadilly Circus, melewati Harrods, dan berakhir dengan tawa renyah saat mobil itu meluncur mulus di sepanjang jembatan Westminster. Gaby merasa benar-benar hidup. Tidak ada SUV hitam yang membuntuti, tidak ada pengawal yang menatap tajam dari spion. Hanya dia, sahabat-sahabatnya, dan kecepatan.
Di sudut lain London, di dalam kantor pusat Kaito Group yang menjulang tinggi, Emrys duduk di kursi kebesarannya. Sebuah notifikasi muncul di layar iPad-nya. Titik merah di peta digital menunjukkan pergerakan Ferrari itu di sekitar London Eye.
Emrys hanya menatap layar itu selama beberapa detik. Ia tahu Gaby sedang merayakan kebebasannya. Ia tahu gadis itu sedang bersama sahabat-sahabatnya, tertawa tanpa beban. Dan untuk pertama kalinya, Emrys tidak meraih ponselnya untuk menelepon atau memerintahkan pengawal untuk mencegatnya. Ia hanya mematikan layar iPad-nya dan kembali fokus pada tumpukan dokumen di depannya. Ia membiarkannya.
Keesokan Harinya: Proyek "Sanctuary"
Suasana studio desain Oxford kembali tenang saat Gaby dan Melvin mulai fokus pada proyek kolaborasi mereka. Studio itu kini terasa seperti ruang kreatif yang sesungguhnya, bukan lagi sangkar pengawasan.
Melvin berdiri di samping meja Gaby, meninjau hasil 3D render yang dikerjakan Gaby. "The structure is perfect, Gaby. Using the 'red' from your car as an accent for the lining was a brilliant move. It represents a bleeding heart within a glass sanctuary," komentar Melvin, matanya menunjukkan rasa hormat yang tulus pada visi artistik Gaby.
(Strukturnya sempurna, Gaby. Menggunakan warna 'merah' dari mobilmu sebagai aksen untuk lapisan dalamnya adalah langkah yang brilian. Itu mewakili hati yang berdarah di dalam suaka kaca.)
Gaby tersenyum, jemarinya lincah menggeser detail pada layar tablet. "Aku ingin menunjukkan bahwa perlindungan tidak harus terasa seperti penjara, Melvin. Itu harus terasa seperti... rumah."
Melvin terdiam sejenak, menatap profil samping Gaby. "You’ve changed. The way you handle the fabric, the way you speak... the dragon did a good job of tempering you, didn't he?"
( Kau sudah berubah. Caramu menangani kain, caramu berbicara... pria itu melakukan pekerjaan yang baik untuk menempamu, bukan?)
Gaby menghentikan gerakannya. "Dia tidak menempaku, Melvin. Dia hanya menyadari bahwa aku bukan miliknya untuk dihancurkan."
Melvin hanya terkekeh rendah, suara yang penuh misteri. "We’ll see about that. For now, let’s finish this masterpiece. I want the final prototype ready by Friday."
(Kita lihat saja nanti. Untuk sekarang, mari selesaikan mahakarya ini. Aku ingin prototipe final siap pada hari Jumat.)