𝘛𝘳𝘢𝘨𝘦𝘥𝘪 𝘱𝘦𝘮𝘣𝘦𝘳𝘴𝘪𝘩𝘢𝘯 𝙈𝙤𝙧𝙣𝙞𝙣𝙜 𝙂𝙡𝙤𝙧𝙮—𝘖𝘳𝘨𝘢𝘯𝘪𝘴𝘢𝘴𝘪 𝘱𝘳𝘢𝘫𝘶𝘳𝘪𝘵 𝘣𝘢𝘺𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘴𝘢𝘳𝘬𝘢𝘯 𝘞𝘢𝘯𝘨 𝘚𝘩𝘪𝘯 𝘴𝘦𝘣𝘢𝘨𝘢𝘪 𝘮𝘢𝘴𝘵𝘦𝘳 𝘦𝘭𝘪𝘵𝘦 𝘱𝘳𝘢𝘫𝘶𝘳𝘪𝘵, 𝘮𝘦𝘯𝘦𝘸𝘢𝘴𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘣𝘦𝘳𝘢𝘱𝘢 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘳𝘦𝘬𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢, 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘶𝘢𝘵 𝘵𝘦𝘳𝘱𝘶𝘳𝘶𝘬 𝘴𝘢𝘢𝘵 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢 𝘥𝘪𝘢𝘯𝘨𝘨𝘢𝘱 𝘴𝘦𝘭𝘦𝘴𝘢𝘪 𝘣𝘦𝘨𝘪𝘵𝘶 𝘴𝘢𝘫𝘢.
𝘚𝘩𝘪𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘭𝘢𝘯𝘪 𝘬𝘦𝘩𝘪𝘥𝘶𝘱𝘢𝘯 𝘳𝘢𝘯𝘥𝘰𝘮 𝘴𝘦𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘪𝘵𝘶— 𝘵𝘦𝘳𝘮𝘢𝘴𝘶𝘬 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘴𝘶𝘢𝘮𝘪 𝘴𝘦𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘸𝘢𝘯𝘪𝘵𝘢 𝘵𝘶𝘢.
𝘕𝘢𝘮𝘶𝘯 𝘥𝘪 𝘣𝘢𝘭𝘪𝘬 𝘪𝘵𝘶 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢, 𝘥𝘪𝘢 𝘵𝘦𝘯𝘨𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘢𝘯𝘨𝘶𝘯 𝘬𝘦𝘬𝘶𝘢𝘵𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘴𝘢𝘳 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘱𝘦𝘮𝘣𝘢𝘭𝘢𝘴𝘢𝘯 𝘥𝘦𝘯𝘥𝘢𝘮.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eka Magisna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
왕신 ー 21
...왕신...
...•...
...•...
ˢᵉˡᵃᵐᵃᵗ ᵐᵉᵐᵇᵃᶜᵃ!
••
“Aku tidak takut akan celaka atau bahkan mati, aku juga tidak takut kehilangan semua harta. Hanya saja ... sampai saat itu tiba, aku ingin ... orang yang telah membunuh adikku, sudah mendapat ganjaran dari perbuatannya. Dengan begitu aku akan tenang meninggalkan semua tanpa menyesali apa pun.”
Sambil mengamati Lim Suyu yang sedang rapat di kejauhan, kata-kata wanita itu di akhir obrolan saat di mobil, terus berputar di kepala Shin.
“Dari kerumitan masalahnya, sepertinya aku akan tertahan di sisinya sedikit lebih lama. Banyak yang harus dipecahkan. Sementara dia tidak punya satu pun orang yang bisa dipercayainya, selain pengacara sombong yang bahkan geraknya sangat terbatas.”ーMaksudnya Han Taeja.
Di posisi Lim Suyu.
Ketegangan terasa di dalam rapat. Tentang peluncuran produk makanan baru berupa kimchi kemasan yang akan dipasarkan sampai ke mancanegara. Ide dari Kwon Minhoーadik tiri Lim Suyu sendiri.
Diwakili bawahan Kwon Minho yang seorang wanita berkacamata, ide itu sedang dipresentasikan. Layar besar asal dari proyektor mendukung setiap halaman yang diusulkan.
Nyaris semua pandangan segan, tersenyum dan penuh dukungan seakan ide itu menggamit gelar brilian.
“Kami yakin Good Kimchi ini akan diminati banyak kalangan. Dari maewoon gochugaru* pilihan, akan menghasilkan rasa segar. Ditambah kemasan merah unik yang mencuci mata, pasti akan sangat menarik perhatian,” tukas wanita kacamata itu, puas dengan senyumnya.
*ᴳᵒᶜʰᵘᵍᵃʳᵘ ⁼ ᴮᵘᵇᵘᵏ ᶜᵃᵇᵃⁱ ᴷᵒʳᵉᵃ. ᶜᵃᵐᵖᵘʳᵃⁿ ᶜᵃᵇᵃⁱ ᵐᵉʳᵃʰ ᵈᵃⁿ ᵖᵃᵖʳⁱᵏᵃ ᵐᵉʳᵃʰ ᵏᵉʳⁱⁿᵍ ʸᵃⁿᵍ ᵈⁱᵍⁱˡⁱⁿᵍ. ᵁⁿᵗᵘᵏ ʳᵃˢᵃ, ᵃᵈᵃ ʸᵃⁿᵍ ᵖᵉᵈᵃˢ ⁽ᵐᵃᵉʷᵒᵒⁿ ᵍᵒᶜʰᵘᵍᵃʳᵘ⁾, ˢᵉᵖᵉʳᵗⁱ ʸᵃⁿᵍ ᵈⁱˢᵉᵇᵘᵗᵏᵃⁿ ᵈᵃˡᵃᵐ ᵈⁱᵃˡᵒᵍ ᵈⁱ ᵃᵗᵃˢ, ᵈᵃⁿ ᵃᵈᵃ ʸᵃⁿᵍ ᵗⁱᵈᵃᵏ ᵇᵉᵍⁱᵗᵘ ᵖᵉᵈᵃˢ ⁽ᵈᵉᵒˡᵐᵃᵉʷᵒᵒⁿ ᴳᵒᶜʰᵘᵍᵃʳᵘ⁾.
“Terlalu pedas!” Lim Suyu justru menyanggah dengan kesan berbalik. “Penggunaan bubuk cabai yang berlebihan, apakah itu cocok di lidah orang Eropa dan Amerika?”
Semua melengak, wajah wanita itu ditatap serempak oleh mereka. Kwon Minho sampai menegangkan otot rahangnya.
“Jika makanan ini ditargetkan sampai ke luar negeri, terutama ke arah barat, itu hanya akan membuat semua menjadi sampah. Kecuali negara-negara Asia seperti kita, Eropa dan Amerika, mereka tidak akan sanggup. Jangankan untuk menghabiskan satu kaleng penuh, satu suapan saja sudah membuat mereka menangis. Tolong perbaiki, minta bagian peneliti untuk membagi level, sesuaikan standar, pastikan akan dikirim kemana makanan ini. Jangan satu varian itu kalian sebar ke tempat yang 'tak menerima.”
"Tapi, Pimpinan Lim, ini sudahー
“Jika kalian ingin ide itu dipakai, buat lebih baik dari produk yang dikembangkan seorang junior yang bahkan belum genap setahun bekerja. Keripik sayuran yang dia buat, berhasil mencetak penjualan besar. Belajarlah darinya jika ini terlalu menyulitkan kalian!”
Matanya lalu mengkode Wang Shin yang berdiri di sudut ruangan. Tanpa peduli adik tiri laki-lakinya yang tak tahan ingin melepaskan jurus makian level seratus, dia berdiri lalu beranjak.
Shin mengangguk tipis tanda mengiyakan. Bergerak di belakang Lim Suyu untuk kemudian mengawal keluar dari ruangan.
Semua orang diam, hanya memainkan pandangan untuk saling memberi kesan. Antara Lim Suyu dan Kwon Minho, sebagian menganggap itu ketegangan antar kakak beradik tiri yang sepanjang mereka tahu, tidak pernah bisa dekat, nama marga mereka bahkan 'tak pernah menjadi sama. Lainnya membenarkan Lim Suyu dengan mengangguk-angguk, ide mereka tentang ini memang terlalu gegabah.
Seorang manager umum pria dengan rambut klimis angkat bicara, “Mohon maaf ... saya setuju dengan apa yang dikatakan Pimpinan. Meskipun kimchi memang khas dengan citarasa demikian dan banyak yang menyukainya, tapi untuk wilayah-wilayah tertentu, ini bisa menjadi cacat kerugian besar. Sebaiknya Anda evaluasi lagi ide itu sebelum terlanjur gagal. Saya turut permisi.”
Kwon Minho mencuatkan mata, menggertakkan gigi, lalu merunduk menatap lebar berkas ide yang baru saja dipersentasekan bawahannya di depan semua orang. Kepala dan seisi dada sudah terbakar. “Lim Suyu!”
**
Kwon Minho dan Kwon Mina, keduanya kakak beradikーsaudara tiri Lim Suyu.
Ayah Suyu, Lim Heesung dan ibu Kwon bersaudaraーCha Eun-a, menikah saat Suyu masih berstatus mahasiswi semester tua. Dan dua bersaudara itu masing-masing sekolah menengah atas dan menengah pertama.
Persaingan antar saudara tiri dimulai ketika ayah Suyu meninggal dunia sepuluh tahun lalu.
“Hanya karena perusahaan itu mulanya adalah milik ibu mereka, Mina dan Minho tidak terima aku yang mendapat jabatan utama dari Ayah. Padahal kenyataannya, perusahaan yang dibawa Ibu Cha adalah perusahaan yang hampir bangkrut. Ayah meninggalkan pekerjaannya dan mengambil alih kepengurusan. Beliau berusaha keras agar perusahaan jangan sampai benar-benar jatuh.”
“Dalam waktu lima bulan, beliau berhasil menstabilkan semua, dan tahun demi tahun semakin maju hingga menjadi elite global seperti sekarang. Tapi dua Kwon itu terus menuntut. Tidak terima perusahaan ibunya jatuh ke tanganku yang jelas terpilih karena kemampuan, bukan dari pilih kasih Ayah atau bentuk nepotisme lain. Nama LC yang maknanya Lim dan Cha, bentuk keadilan ayah, juga dianggap terkutuk oleh mereka.”
“Tentang marga ... padahal ayah kandung mereka bukan manusia berguna, hanya seorang pria tukang mabuk dan gemar judi juga bermain wanita. Seharusnya mereka terima nama besar Lim dari ayah kami yang mencintai mereka tanpa syarat, lalu hidup berdampingan denganku dan Sah-yeob sebagai saudara utuh. Sayangnya mereka kukuh dengan kekonyolan atas nama cinta terhadap ayah.” Lim Suyu terkekeh konyol mengingat itu.
Lim Sah-yeob adalah adik kandungnya yang tewas terbakar dua tahun lalu di vila pribadinya.
Cerita panjang Lim Suyu itu didengarkan Shin tanpa menyela. Suasana ramai restoran di jam makan siang ini membuat suara mereka tersamar, berbaur dengan riak yang lain.
“Apakah kematian adik Anda ada hubungannya dengan Kwon bersaudara itu?” Shin menanggapi di antara nikmatnya santapan siang berupa bibimbap.
Kelopak mata letih Lim Suyu mencuat ke wajahnya, ada lengkungan tipis di sudut bibir mendengar pertanyaan yang tidak ada sama sekali dalam bayangannya. “Apa kau baru saja mendapat satu kesimpulan dari cerita sederhanaku?”
Shin menyesap sedikit jus jeruknya lebih dulu sebelum kemudian bicara dengan nada yang terlampau santai, “Sebenarnya tidak. Aku hanya senang bermain dengan kemungkinan. Bukankah Anda meyakini adik Anda dibunuh dan bukan mati karena kelalaian di saat mabuk?”
“Hmm ... ya.”
“Jadi bukankah ada kemungkinan mereka yang melakukannya? ... Alasan sudah terbentuk bahkan jika mereka tidak melakukannyaーadik Anda sebagai kandidat penerus yang kuat. Kecurigaan ini sudah berdasar sejak awal.”
Lim Suyu terendam lara, dia sudah mengabaikan sesak di dadanya sejak pertama memutuskan membahas mendiang adiknya dengan Shin, sekarang punーsetelah pertanyaan menjurus itu, dia harus terus menekan diri agar tak goyah dan pecah air matanya.
“Aku tak berharap itu benar. Bagaimana pun, meskipun terhalang ‘tiri’, mereka tetap saudaraku. Tapi anehnya, aku tidak bisa berhenti untuk menyangkal bahwa kecurigaan itu sama kuat dengan ambisi mereka. Kelemahannya hanya karena aku belum bisa menemukan bukti apa pun.”
“Kalau begitu, biarkan aku yang mencarinya."
“Apa?!”
“Ya ... kubilangー”
“Selamat siang, selamat makan, Bu Pimpinan dan ... Pengawal Wang!”
Han Taeja datang seperti hantu, memotong sesuka hati percakapan mereka. Matanya bergulir heran dengan hasil tangkapan yang terasa aneh. Tentu saja saja karena posisi Shin yang duduk berhadapan santai dengan Lim Suyu seolah tidak ada batas antara nyonya dan pengawalnya.
Prasangka, tidak ada yang salah dari itu sebenarnya, hanya cara pandangnya yang terlalu berhati-hati.
Shin mengendurkan sikap. “Selamat siang, Pengacara Han,” balasnya seraya berdiri, memberikan tempat duduknya pada Han Taeja karena kursi yang cuma dua.
Pengacara itu menerimanya dengan gerakan pelan dan tatapan yang tetap merasa sumbang. Baginya mungkin ... seharusnya pengawal tetap berdiri di belakang, siaga menjaga sang nyonya dalam kondisi apa pun.
Dengan Lim Suyu sendiri, Han Taeja paling tahu, wanita itu paling minim bicara dengan pengawal kecuali hanya perintah singkat. Tapi anehnya dengan pria jangkung itu ... apakah Lim Suyu dengan bodoh sudah jatuh cinta padanya? Piciknya seperti itu.
Seharusnya tidak, 'kan?!