Rio terpaksa menyetujui menikah dengan Rayi demi warisan supaya tak jatuh pada Rayi yang merupakan cucu dari teman sejati Kakek Brata.
Mereka kuliah di satu kampus dengan jurusan berbeda. Rayi terpaksa menerima syarat dari Rio bahwa di kampus mereka pura-pura tak kenal.
Namun mulai timbul masalah saat Didit teman satu kampus Rayi naksir gadis itu, dan Lala mantan Didit yang ingin mencelakai Rayi, serta Aruna teman sekolah naksir Rio kembali disaat hati Rio mulai bimbang untuk melepaskan Rayi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rosida0161, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mencari Kesempatan Rujuk
Didit mendudukkan Lala di kursi sementara Rayi memberitahu karyawan yang bertugas kalau ada yang terjatuh dari kuda.
Asisten pelatih segera mendekat dan memeriksa anggota badan Lala yang cidera. Siswoaji sang pelatih sedang keluar mengikuti ketentuan event yang sudah akan.diselenggarakan seminggu lagi. Sedangkan petugas bagian kuda mengamankan kuda milik Lala yang tadi telah berlari diluar kendali pemiliknya.
Ternyata pergelangan kaki gadis itu memerah dan saat disentuh menjerit kesakitan.
"Ini terkilir biar saya olesi minyak, ya," ujar asisten pelatih.
Lala mengangguk.
"Apanya lagi yang dirasa?"
"Nyilu di situ ajah,"
"Untuk beberapa hari nggak usah berkuda dulu sampai kakinya nyaman,"
"Ya," angguk Lala.
"Ada persediaan minyak olesnya untuk dibawa pulang, kan, Mas?" Rayi menatap asisten pelatih.
"Ada Mbak," ujar asisten pelatih.
"Kakaknya biar dikasih untuk dibawa pulang,:"ujar Rayi.
"Ya, Mbak Rayi,"
"Huh ngapain, sih pake sok ikut sibuk dari tadi," kesel Lala dalam hati akan perhatian Rayi.
"Nggak usah biar aku nanti beli ajah di apotik," ujar Lala pada asisten pelatih.
"Nggak apa, Mbak, di sini memang selalu sediah minyak untuk mengobati terkilir, campuran dari akar-akaran InsyaAllah manjur mengobati kaki atau tangan terkilir, dan gratis," ujar si asisten pelatih.
"Ya, La, bawa ajah minyak oles yang udah diracik khusus menyembuhkan kaki terkilir," ujar Didit nimbrung.
"Oh begitu," akhirnya Lala mau menerima satu botol ukuran 25 mili minyak oles untuk pergelangan kakinya yang terkilir.
"Yang rajin ngolesnya, ya," ujar asisten pelatih.
"Ya, Mas,"
"Tadi kenapa kudanya ngambek apa bagaimana, oh ya Mbak ini yang minggu lalu membeli kuda berbulu merah itu kan?" Rupanya asisten pelatih ingat pada Lala.
"Ya, Mas,"
"Kudanya mungkin masih belum terbiasa sama Mbak atau bagaimana, ya," pertanyaan asisten pelatih penuh perhatian.
"Mungkin saya nggak sengaja kasar waktu minta si Merah lari,"
"Boleh jadi begitu, Merah kan masih belum terlalu familiar dengan non barunya, jadi kira-kira memang kurang luwes kerjasamanya, tapi nanti juga lama-lama Merah sudah terbiasa dengan Mbak," ujar asisten pelatih, "Kuda itu memang harus betul kenal dengan pemiliknya, lakukan pendekatan, Mbak misalnya mengelus kepalanya, ya intinya dia harus kenal betul-betul pemiliknya supaya tidak mis pengertian untuk kuda itu sendiri apa yang dimaui non jokinya ..."
"Ya Mas ..." Lala merutuk dalam hati kalau bukan karena sosok Rayi mana mungkin dirinya bisa lepas emosi dan melampiaskan pada kudanya tanpa disadarinya.
Rayi mengambilkan satu gelas air mineral yang masih disegel lengkap dengan sedotannya.
"Minum dulu, Kakak,"
Sebenarnya Lala malas menerima air dari Rayi yang dianggapnya sok akrab itu, tapi karena di sana Didit memberi isyarat supaya menerimanya, dia pun memgambil air itu dari tangan Rayi.
Kemudian Rayi mengambil satu gelas lagi lengkap dengan sedotannya dan diberikan pada Didit.
Didit menerima gelas berisi air dengan senyum di wajahnya, hal itu tak lepas dari perhatian Lala, hingga timbul rasa cemburu dan dia yang sedang menyedot air jadi batuk-batuk.
Rayi mendekatkan kotak tissue pada Lala.
"Oh ya Kakak namanya siapa, ya?" Rayi menatap Lala yang mengambil tissue dan mengelap bibirnya.
Ih ngapain sih cewek genitnya Didit ini sok mau kenal sama aku. Nggak sudi aku temenan sama kamu walau pun dari tadi terus ajah pura-pura perduli, kan, karena kamu cari perhatian sama Didit, kan?
Lala kok dari tadi kayaknya nggak bagus deh sikapnya pada Rayi. Bukankah mereka nggak saling kenal sebelumnya, tapi kenapa ya kok Lala kayak nggak ada ramahnya pada Rayi yang sejak tadi berusaha membantunya.
"Oh kalau nggak salah namanya Lala, ya ..." rupanya asisten pelatih ingat saat dia mendaftar jadi anggota club.
"Oh Lala Agustin kalah nggak salah, ya ..." sambung Rayi baru ingat laporan dari bagian administrasi tentang anggota baru di clubnya.
Bukannya menjawab ucapan Rayi yang setengah menanyakan tentang dirinya, eh, si Lala pura-pura sibuk menunduk memijat-mijat pergelangan kaki kirinya yang merasa hangat karena minyak yang diramu khusus mengobati organ tubuh yang terkilir itu terasa meremas-remas pergelangan kakinya itu.
"Ih ada apa ya Lala sama Rayi kok kayaknya Lala tak suka pada Rayi. Tapi kenapa juga si Rayi ini kok nggak ngerasa kalau sikap Lala itu seperti tak menyukainya." bisik Didit tanpa suara.
Petugas yang ditugaskan untuk mencari kuda merah milik Lala sudah kembali.
"Bagaimana, Mas aman kudanya?" si asisten pelatih ingin tahu nasib kuda yang murka pada joki sekaligus pemiliknya.
"Sudah, Bang lagi ditambat di sebelah, " jawab lelaki yang memiliki tugas khusus menjaga kuda di istal serta merawat kebersihannya itu.
Saat Lala pamit pulang dia berkesempatan minta Didit untuk mengantarkannya pulang. Wah ini namanya sengsara karena terjatuh dari kuda tapi merasa nikmat dan bahagia di hati, bisa berduaan di mobil dengan Didit. Walau pun sejak tadi dia merasakan hawa kurang respon dari mantan kekasih yang akan direbutnya lagi itu.
Rayi mengantarkan Lala sampai di luar kantor karena merasa belum saling kenal dengan Lala tentu saja Rayi tak memiliki kecurigaan tentang sikap jutek gadis itu. Satu dalam pemikirannya Lala sedang panik dan sedang dalam suasana hati yang tak nyaman karen terjatuh dari kuda.
Bahkan dia masih kepikiran pada apa yang terjadi pada Lala, makanya dia kembali memastikan jika memar di pergelangan kaki kiri gadis itu tak akan menimbulkan masalah.
"Kira-kira cidera di pergelangan kakinya parah nggak ya, Mas?"
"Ya setidaknya malam ini dia merasa nyeri berdenyut pada bengkak pergelangan kakinya, tapi dengan sedikit pijatan tadi dan minyak yang dioleskan akan melenturkan otot -otot uang meringkel di seputar pergelangan kakinya. Setidaknya kalau dia rajin mengoles minyak akar-akaran itu ke memar pergelangan kakinya, ya sekitar tiga hari lagi sudah bisa berkuda lagi ..."
Rayi agak lega mendengar keterangan si asisten pelatih tentang memar yang diderita Lala termasuk yang tak parah. Dirinya juga pernah mengalami hal serupah, bahkan lebih parah dari yang di derita Lala. Terjatuh dari kuda, kaki bengkak dan kepala bocor karena menimpa pinggiran lapangan dan karena helm yang melindungi kepalanya terlepas karena tak betul-betul kencang untuk mengikatnya.
"Syukur deh kalau cideranya tak membayakan," ujar Rayi bagaimana pun dia tak mau ada anggota club berkudanya ada yang cidera, dan dia percaya kalau asisten pelatih berkata tak bohong, apalagi dengan latar belakang lelaki yang pernah bekerja sebagai tukang urut bagi atlet daerah, dan nasib membawanya merantau ke ibukota.
"Tenang saja Mbak Rayi namanya belajar menunggang kuda ya harus tahan banting ..." ujar si asisten pelatih kuda sengaja mengajak Rayi bercanda karena bosnya ini sangat memikirkan anggota club yang terjatuh tadi.
"Ya Mas, terima kasih," lalu keluar dari ruangan dan berjalan menuju kudanya yang ditambat di depan sana.
"Kak bagaimana orang yang terjatuh dari kuda tadi?" Airin datang menemui Rayi yang sedang menuntun kuda coklat susunya memasuki kandang untuk istirahat.
"Oh sudah diantar pulang kasihan pergelangan kakinya bengkak mungkin waktu terjatuh dari kuda dia terkilir,"
"Oh aku juga pernah ngalami dulu karena kurang hati-hati," ujar Airin.
"Ya kayaknya dia masih baru semingguan gabung di club kita," cerita Rayi pada Airin, "Muda-mudahan saja dia tak kapok menunggang kuda," lanjutnya sambil mengelus kepala kuda coklat susunya.
Di dalam mobil Didit masih enggan untuk berbicara. Hal itu membuat Lala jadi mengerti jika mantan yang pernah tersakiti oleh dirinya karena sempat berselingkuh dengan Hendi, belum bisa menerimanya kembali, atau sudah tak mau berbaikan lagi.
Pasti karena cewek yang sok kaya ibu peri tadi saat pura-pura mau menolongku. Tetap saja namanya orang sudah cemburu bawaannya jelek terus pada Rayi yang bertujuan tulus itu.
"Maaf ya, Dit jadi merepotkanmu ..." Lala mencoba untuk berbasa-basi.
"Oh ternyata kamu suka berkuda juga," ujar Didit tapi dengan nada basa basi tampaknya, tak ingin sungguh-sungguh ingin tahu.
"Ya iseng ajah untuk hiburan eh nggak tahunya mala celaka ..." sebisa mungkin Lala menutupi jika keinginannya berkuda karena Didit juga berkuda di sana. Gengsi dikit dong kalau tahu membuntuti pemuda yang ingin diraih kembali cintanya itu.
"Oh hanya iseng ..." gumam Didit.
"Mulanya iseng tapi kok aku suka ..." ujar Lala tak mau kehilangan momen yang menjadikannya satu hobby dengan Didit "Eh nggak tahunya ada kamu juga di club itu kebetulan dong nanti aku minta ajarin kamu supaya lebih mahir berkuda,"
"Ada pelatih di sana kan?" Didit tetap tak mau memberi kesempatan kayaknya untuk cewek seperti Lala.
suka banget alurnya