NovelToon NovelToon
CINTA KEDUA DI RUMAH MEWAH

CINTA KEDUA DI RUMAH MEWAH

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / CEO / Romantis / Cinta setelah menikah / Pengasuh
Popularitas:27.8k
Nilai: 5
Nama Author: Cumi kecil

Di balik dinding rumah mewah yang megah dan sunyi, seorang pelayan perempuan menjalani hari-harinya dengan setia dan penuh kesederhanaan. Ia tak pernah menyangka, kehadirannya yang hangat justru menjadi pelipur lara bagi sang majikan. seorang pria mapan yang terjebak dalam kesepian pernikahan.

Sang majikan memiliki istri cantik dan sukses, seorang model terkenal yang lebih banyak menghabiskan waktu di luar negeri demi karier gemilangnya. Rumah megah itu pun berubah menjadi tempat yang dingin, tanpa cinta dan kehangatan.

Dari percakapan singkat hingga perhatian kecil yang tulus, benih-benih perasaan terlarang tumbuh tanpa disadari. Di antara kesepian, status, dan batasan moral, cinta kedua itu hadir menguji kesetiaan, nurani, dan pilihan hidup yang tak lagi sederhana.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cumi kecil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 14 KEMARAHAN AMMAR.

Lampu-lampu jalan berderet rapi di luar jendela, memantulkan cahaya ke kaca mobil yang melaju tenang di tengah malam. Queen tertidur pulas di pangkuan Sari, wajah kecilnya damai, napasnya teratur. Sari mengusap kepala Queen pelan, jemarinya menyusuri rambut halus itu dengan penuh kehati-hatian, seolah takut membangunkannya.

Pandangan Sari sesekali tertuju ke luar jendela.

Hatinya lelah.

Bukan lelah fisik, melainkan lelah perasaan. Peristiwa di restoran masih berputar-putar di kepalanya ucapan polos Queen, keheningan yang mencekam, dan tatapan tegas Ammar yang hingga kini masih terbayang.

Di kursi depan, Ammar menyetir dengan satu tangan. Wajahnya kaku, matanya menatap lurus ke depan. Namun sesekali, ia melirik ke kaca spion ke arah pantulan Sari dan Queen.

Melihat Queen tertidur di pangkuan Sari… entah mengapa dadanya kembali terasa sesak.

Mobil terus melaju hingga Ammar akhirnya membuka suara. “Maafkan perkataan putriku,” ucapnya pelan, namun jelas.

Sari tersentak kecil, lalu menoleh. “Tidak apa-apa, Tuan,” jawabnya lembut. “Nona Queen masih kecil. Ia belum mengerti hal seperti itu.”

Ammar mengangguk pelan. “Tetap saja… itu tidak pantas kamu dengar.”

Sari tersenyum tipis. “Saya mengerti posisi saya, Tuan.” Jawaban itu sederhana.

Namun justru itulah yang membuat Ammar semakin tidak nyaman. Ia menghela napas panjang. “Terima kasih atas pengertianmu.”

Sari hanya mengangguk. Tak ada kata tambahan. Tak ada senyum lebar. Ia kembali menunduk, fokus pada Queen.

Keheningan kembali menyelimuti mobil. Namun kali ini, keheningan itu terasa berat. Sesampainya di rumah, mobil berhenti di halaman. Sari membuka pintu perlahan agar Queen tidak terbangun. Ia menggendong tubuh kecil itu dengan hati-hati, menyesuaikan langkahnya agar tetap seimbang.

Ammar berdiri di dekat pintu, menatap mereka sesaat.

“Biar aku...” ucapnya refleks.

“Tidak apa-apa, Tuan,” potong Sari pelan. “Saya bisa.”

Ammar mengangguk, lalu berbalik.

Sari melangkah menuju kamar Queen. Ia menidurkan anak itu dengan lembut, menyelimuti tubuh kecilnya, lalu mengusap keningnya sekali lagi.

“Tidur yang nyenyak, Non,” bisiknya.

Queen bergumam kecil, lalu kembali terlelap.

Sari keluar dari kamar itu dengan langkah pelan, menutup pintu tanpa suara. Di waktu yang sama,

Ammar telah masuk ke kamarnya sendiri. Begitu pintu tertutup, ketenangannya runtuh. Ia melepaskan jasnya dan melemparkannya ke sembarang arah. Kancing kemeja dibukanya kasar. Ia berjalan mondar-mandir, rahangnya mengeras, dadanya naik turun.

Marah.

Bukan marah biasa. Melainkan marah yang menumpuk bertahun-tahun lamanya.

“Anakku sampai meminta adik… pada orang lain,” Gumam ammar geram. “Apa kamu tahu artinya itu, Sabrina?” Ia meraih ponsel di meja, menekan nama istrinya.

Nada sambung terdengar.

Satu kali.

Dua kali.

Tiga kali.

Tak diangkat.

Ia mencoba lagi. Dan lagi.

Akhirnya, panggilan tersambung namun bukan suara yang ia tunggu.

“Halo?” suara Melinda terdengar tajam dari seberang.

Ammar langsung menegang. “Saya mau bicara dengan Sabrina.”

“Nanti,” jawab Melinda singkat. “Sabrina sedang take iklan. Jangan ganggu.”

Ammar mengepalkan tangan. “Saya suaminya. Ini penting.”

“Penting menurutmu,” sahut Melinda ketus. “Tapi karier Sabrina lebih penting. Kamu tidak tahu betapa mahalnya waktu di lokasi.”

Ammar menahan napas. “Anakmu punya anak,” katanya dingin. “Dan anak itu butuh ibunya.”

Melinda tertawa kecil tanpa humor. “Jangan dramatis. Queen baik-baik saja. Ada kamu, ada pelayan.”

Pelayan.

Kata itu membuat amarah Ammar meledak. “Justru itu masalahnya!” bentaknya. “Anakku lebih dekat dengan pelayan daripada ibunya sendiri!”

“Kalau kamu tidak sanggup mengurus anak, jangan salahkan karier Sabrina,” balas Melinda tajam. “Kamu yang menyetujui ini sejak awal.”

Ammar terdiam sesaat.

Namun diamnya bukan tanda kalah melainkan tanda batas yang telah dilewati.

“Aku suaminya,” katanya rendah, berbahaya. “Dan aku ayah Queen. Jangan pernah halangi aku bicara dengan istriku.”

“Jangan ganggu Sabrina lagi,” sahut Melinda. “Atau...”

Klik.

Sambungan terputus. Ammar menatap layar ponsel itu beberapa detik lalu melemparkannya ke dinding.

Brak!

Ponsel itu jatuh ke lantai dengan suara keras. “Neneknya sendiri menghalangi aku,” gumam Ammar penuh amarah. “Sabrina… kalau kamu terus begini...” Ia mengusap wajahnya kasar.

“Jangan salahkan aku kalau aku membatasi aktivitasmu.”

Kata-kata itu keluar bukan karena kejam melainkan karena lelah.

Ia duduk di tepi ranjang, lalu meraih ponsel cadangan. Tangannya bergerak cepat, menekan nomor yang sangat ia kenal.

“Betrand,” ucapnya begitu sambungan tersambung.

“Ya, Tuan.”

“Batalkan sebagian kerja sama Sabrina dengan pihak luar,” katanya tanpa basa-basi. “Yang tidak krusial.

Yang membuatnya terlalu sering di luar negeri.” Di seberang sana, Betrand terdiam sejenak. “Tuan yakin?”

“Aku yakin,” jawab Ammar tegas. “Semua kontrak itu ada atas namaku. Aku tidak mencabut semuanya hanya sebagian.”

“Baik, Tuan.” Sambungan terputus.

Ammar menyandarkan tubuh ke kepala ranjang.

Dadanya masih naik turun.

Bukan karena lega. Melainkan karena sadar keputusan barusan akan memicu badai. Namun ia sudah terlalu muak. Muak pada jadwal yang selalu lebih penting dari keluarga.

Muak pada ibu mertua yang menjadi tembok penghalang. Muak pada pernikahan yang hanya tersisa nama.

“Ini bukan soal karier,” gumamnya lirih. “Ini soal anak kita dan soal kita.”

Di lorong, Sari berjalan menuju kamarnya. Ia mendengar suara benturan dari arah kamar Ammar. Langkahnya terhenti sesaat. Ia menunduk. Tak berani menoleh. Tak ingin tahu lebih jauh.

Karena ia sadar semakin ia tahu, semakin berbahaya posisinya.

Di dalam kamar, Ammar memejamkan mata. Di benaknya, wajah Queen muncul. Ucapan polos itu kembali terngiang. Aku tidak mau sendirian.

Ammar membuka mata, menatap langit-langit.

Ia tidak tahu apakah keputusannya benar.

Ia hanya tahu satu hal Ia sudah terlalu lama mengalah.

Dan malam itu, di rumah megah yang kembali sunyi, dua orang dewasa memendam luka masing-masing sementara seorang anak kecil terlelap, tak tahu bahwa keinginannya hari ini telah mengguncang dunia orang tuanya.

1
💗 AR Althafunisa 💗
Kaya-kaya koq bisa dimanfaatkan begitu, kagak ada ketenangan, kagak ada kehangatan. Sepi seakan tak punya istri kalau begitu, kenapa ga cerai aja sih 😬
ollyooliver🍌🥒🍆
saranku sih pangggil mama aja, soalnya kalau anak sari lahir, trus panggil ammar papa dan sari bunda jatohnya kek.. anaknya sari juga anak tiri/anak angkat karna mengikuti panggilan queen.
Yatiek Widhodho
lanjut thorr
𝕸𝖆𝖗𝖞𝖆𝖒🌹🌹💐💐
selamat ya Sari..
Felycia R. Fernandez
jadi ingat nge liwet dengan teman2 kerja🤍
Felycia R. Fernandez
aku laper jadinya 🤤😆😆😆
Felycia R. Fernandez
mas Ammar donk,masa panggil nama aja
Felycia R. Fernandez
Tetiba membuat nya berdua,eeeh yang salah cuma Ammar sendiri 🤣🤣🤣🤣
gak adil ya Mar...
semangat Mar...
Felycia R. Fernandez
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤦‍♀️😭😭😭😭
Reni Anjarwani
makin seru thor
𝕸𝖆𝖗𝖞𝖆𝖒🌹🌹💐💐
Queen kamu akan punya bunda🥰🥰
𝕸𝖆𝖗𝖞𝖆𝖒🌹🌹💐💐
yeaaayyy queen punya bunda🥰🥰
Reni Anjarwani
lanjut thor doubel up
Felycia R. Fernandez
biang kerok,gak bisa nahan nafsu🤬
Felycia R. Fernandez
ikutan 😭😭😭😭😭😭😭
Felycia R. Fernandez
ini datang karena Queen rindu atau sekaligus melamar Sari
𝕸𝖆𝖗𝖞𝖆𝖒🌹🌹💐💐
😥😥😥😥😥😥
𝕸𝖆𝖗𝖞𝖆𝖒🌹🌹💐💐
semoga keluarga Ammar benar² menerima Sari..
𝕸𝖆𝖗𝖞𝖆𝖒🌹🌹💐💐
yang kuat ya Sari...
Sweetie blue
Sejauh ini yang aku baca ada pesan yang di taman dalam cerita ini.

jika sudah memiliki suami sebisa mungkin diam di rumah. ngurus suami, anak dan juga rumah. jangan banyak gaya ingin kerja di luar dan mengabaikan kewajiban seorang istri.

kalo semuanya harmonis maka semuanya akan berakhir bahagia terutama restu orang tua. 😍😍

Mudah-mudahan happy ending ya cerita nya thour.. semangat berkaya💪💪💪😍😍😍
Felycia R. Fernandez: Sebenarnya gak gtu juga kk,
istri bole bekerja,aku juga bekerja.cuma kita juga harus ingat kewajiban kita sebagai istri dan ibu.
Sabrina diijinkan Ammar kerja tapi dia kebablasan,malah mentingin kerjaaan dari suami dan anak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!