Di mata orang banyak, Arini dan Adrian adalah sepasang potret yang sempurna dalam bingkai emas. Adrian dengan wibawanya, dan Arini dengan keanggunan yang tak pernah luntur oleh waktu. Namun, rumah mereka sesungguhnya dibangun di atas tanah yang mulai bergetar.
Kehadiran sebuah surat usang yang tiba-tiba, perlahan mengikis cat indah yang membungkus rahasia masa lalu. Arini mulai sadar bahwa selama ini ia tidak sedang memeluk seorang suami, melainkan sebuah rencana besar yang disembunyikan di balik senyum yang paling manis.
Baginya, air mata adalah sia-sia. Di balik keanggunannya yang tetap terjaga, Arini mulai menggeser bidak-bidak catur dengan jemari yang tenang. Kini, ia bukan lagi seorang istri yang dikhianati, melainkan sutradara dari akhir kisah suaminya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dya Veel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
keputusan Arini
Setelah keduanya berhasil kabur dari para wartawan itu, Gio pun mengantar Arini menuju kamarnya di lantas atas.
Wanita itu terlihat masih takut, terkadang ia melirik ke belakang melihat sekitar untuk memastikan apakah masih ada wartawan yang mengikuti mereka hingga lantai ini.
"Arini, tenang. Ngga ada wartawan itu, mereka di bawah. Keep calm, okay?" bisik Gio pelan sambil menggandeng erat tangan wanita itu.
Arini menghela napas, ia mencoba untuk tenang mengikuti kata Gio. Ia lalu melirik perlahan
Ia lalu melirik perlahan ke arah genggaman tangan Gio. Ada rasa hangat yang sedikit menenangkan, namun hal itu tetap saja tidak mengubah rasa khawatir di dadanya. Begitu mereka sampai di depan pintu unit apartemen, Arini merogoh tasnya dengan tangan gemetar, mencari kartu akses yang sulit di temukan diantara barang-barangnya didalam tas itu.
"Sini, biar gue aja," ucap Gio lembut. Dia mengambil alih tas Arini, menemukan kartu itu dengan cepat, dan menempelkan ke sensor hingga pintu terbuka dengan bunyi klik yang halus.
Begitu pintu tertutup rapat di belakang mereka, Arini seolah kehilangan semua tenaganya. Dia bersandar di daun pintu, badannya merosot pelan sampai terduduk di lantai. Napasnya masih pendek-pendek, terasa sesak saat teringat kembali bayangan kilatan lampu kamera dan pertanyaan-pertanyaan tajam dari para wartawan itu menyerbunya saat ia hendak masuk.
"Minum dulu, Rin. Tenangin diri lo," Gio berlutut di depannya, menyondorkan botol air mineral yang dia ambil dari meja.
Arini menerima botol itu, namun tangannya masih gemetar sampai airnya sedikit tumpah.
"Gi... apa gue keterlaluan?" bisiknya parau.
Gio menatap lembut wanita itu. Ia merasa kasihan melihat Arini yang kondisinya seperti ini. Ia menggengam tangan mungil wanita itu, mencoba meyakinkannya.
"Apa yang lo lakuin adalah keputusan yang benar, Arini."
"Adrian berhak dapat perlakuan ini, apalagi setelah yang dia lakukan ke lo sebelumnya."
"Arini, lo sudah ambil langkah yang tepat. So, sekarang jangan memikirkan apa kata orang-orang diluar sana, entah itu kata masyarakat, atau wartawan dan entah siapapun itu,"
"Lo ngga sendiri, lo masih punya tante Grace, Yuna, Vino, Ryan, dan gue. Gue akan ada di samping lo, pasti." ucap Gio.
Arini mengangkat wajahnya, tampak kedua matanya berkaca-kaca. Ia tak kuat menahan air matanya, perlahan air matanya turun, semakain lama semakin deras membasahi pipinya.
Arini menyandarkan kepalanya pada pundak pria itu. Ia menumpahkan air matanya, ia mencengkram erat tangan Gio.
Gio menepuk pelan pundak wanita itu. Sejujurnya ia tak tahu bagaimana cara menenangkan orang yang sedang menangis, apalagi wanita. Hanya ini yang bisa ia lakukan.
"Keluarin aja, Arini. Lo bisa nangis sepuasnya, ngga usah lo tahan." ucap Gio.
...****************...
Keesokan paginya, suasana apartemen terasa jauh lebih tenang dibandingkan kegaduhan semalam.
Cahaya matahari pagi mulai merayap masuk melalui celah gorden, menyentuh lantai kayu dengan warna keemasan yang lembut.
Di dalam kamar mandi, Arini membiarkan tubuhnya tenggelam dalam dekapan air hangat di dalam bathtub. Uap air yang membubung menciptakan suasana hangat pada tubuhnya. Ia memejamkan mata rapat-rapat, mencoba menghalau sisa-sisa suara jepretan kamera dan teriakan pertanyaan wartawan yang masih terngiang di kepalanya. Di bawah permukaan air, ia merasakan beban di pundaknya perlahan-lahan meluruh.
Setelah merasa sedikit lebih tenang, ia bangkit dan meraih handuk putih yang lembut. Arini melangkah kembali ke kamar tidurnya yang rapi. Ia berdiri di depan cermin besar, menatap pantulan dirinya sendiri.
Wajahnya masih sedikit pucat, namun binar di matanya mulai kembali.
Arini menghela napas panjang, lalu tersenyum tipis pada bayangannya.
Aroma lavender dari essential oil yang ia nyalakan tadi malam masih tercium samar. Ia berhenti di depan cermin besar. Arini menatap lurus, melihat pantulan dirinya disana. Jemarinya menyentuh permukaan kaca, menelusuri garis wajahnya sendiri. Ia menarik napas dalam-dalam, dan kemudian tersenyum.
"Lo sudah melakukan yang terbaik, Rin," bisiknya pada bayangan di cermin.
"Hari ini, lo nggak akan sembunyi lagi. Lo punya hak untuk bahagia." Kata-kata positif itu ia ulangi beberapa kali seperti sebuah mantra.
Ia mulai memilih pakaian. Kali ini, ia memilih setelan yang elegan namun tetap terasa nyaman. Arini merias wajahnya dengan polesan makeup yang natural, memberikan rona pada pipinya yang sempat pucat, dan menyapukan lipstik yang membuat senyumnya terlihat lebih tegas. Rambutnya yang biasanya hanya diikat asal, kini ia tata dengan rapi hingga jatuh menjuntai di bahunya. Ia ingin dunia melihat bahwa ia tidak hancur.
Begitu semua selesai, Arini meraih tasnya dan melangkah keluar dari unit apartemen. Ternyata, Gio sudah berdiri di sana, bersandar di dinding koridor sambil memainkan kunci mobilnya.
Pria itu menoleh, menatap Arini yang kini sudah ada dihadapannya. Matanya tak berkedip, untuk beberapa saat ia hanya diam menatap wanita itu.
"Ekhem, oke juga pernampilan lo hari ini," ucap Gio. Sebenarnya ia ingin memuji cantik namun ia tak mau Arini jadi besar kepala.
"Makasih. Udah lama ya nunggu?"
"Enggak juga kok,"
Gio tidak banyak bicara, ia hanya tersenyum tipis dan mengulurkan tangannya di depan Arini. Arini menyambut uluran tangan itu tanpa ragu.
Jemari mereka bertautan, mereka berjalan bersama menyusuri koridor. Langkah kaki mereka yang beradu di lantai marmer hingga keduanya masuk ke dalam lift dan turun ke lantai dasar.
"Lo siap? Gua tadi lihat banyak wartawan yang udah nungguin sejak subuh di lobby," ucap Gio.
Arini mengangguk pelan, "Iya, gue udah siap. Semuanya pasti bakal berjalan baik, iya kan?"
Gio tersenyum. Ia lega melihat wanita itu sudah jauh lebih tenang dari kemarin. Arini sudah memilih langkah yang tepat.
Begitu pintu lift terbuka, suasana terlihat sepi. Hanya beberapa staf yang berlalu-lalang kesana kemari dan juga beberapa pengunjung lainnya.
Namun, setelah mereka melangkah keluar, dari kejauhan tepatnya di lobby. Puluhan wartawan sudah menunggu disana, mereka sudah menyiapkan kamera bahkan buku catatan. Sepertinya mereka sudah siap untuk menunggu Arini keluar dari sana.
Gio yang melihat itu langsung mengarahkan Arini untuk melewati pintu samping. Keduanya berjalan cepat menuju parkiran, saat mereka berpikir semua sudah aman, rupanya ada beberapa wartawan lain yang sudah menunggu disana.
"Itu Arini!"
"Mbak Arini, tolong jawab pertanyaan kami,"
"Bagaimana tanggapan anda terkait isu perselingkuhan suami anda, Adrian?"
"Mbak, Arini! Apakah kini anda sudah resmi bercerai dengan Adrian?"
"Bagaimana hubungan anda dengan Adrian sekarang?"
Pertanyaan itu terdengar dari kejauhan, suara-suara menyebalkan dari wartawan itu membuat telinga Arini merasa panas. Emosinya mulai memuncak, namun ia tetap berusaha tenang.
"Mbak, Arini! Jawab pertanyaan kami,"
"Arini, tolong luangkan waktu untuk menjawab beberapa pertanyaan kami!"
"Mbak Arini, kami butuh jawaban anda!"
Arini melirik kesal wartawan-wartawan itu. "Sial, pertanyaan mereka makin ngga masuk akal!"