NovelToon NovelToon
Ning Abigail

Ning Abigail

Status: sedang berlangsung
Genre:Duniahiburan / Diam-Diam Cinta / Cinta pada Pandangan Pertama / Cinta Seiring Waktu / Cintapertama
Popularitas:101
Nilai: 5
Nama Author: blue_era

Di pesantren Queen Al-Falah, Abigail, seorang Ning yang dingin dan penuh talenta, lebih memilih kopi dan kesibukan pondok daripada cinta. Ia adalah permata yang tersembunyi di balik sikap judes dan penampilannya yang sederhana. Namun, takdir berkata lain ketika sang kakek menjodohkannya dengan seorang Gus Abdi Ndalem, partnernya dalam tim multimedia dan hadroh. Di antara jadwal padat, sholawat, dan misteri masa lalu, Abigail harus membuka hatinya untuk cinta yang tak pernah ia duga. Mampukah ia menemukan kehangatan di balik dinginnya ndalem dan kerasnya hatinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blue_era, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Malam yang Khusyuk, Pagi yang Misterius, dan Koper di Ndalem Tengah

[Setelah semuanya selesai, Bijel juga Gus Arya kembali ke ndalem barat. Ning Bijel masak untuk makan malam karena ini sudah sore jam 4. Setelah selesai masak, Gus Arya ke masjid putra menjadi imam di sana, sedangkan Ning Bijel sholat di rumah. Lalu setelah sholat Isya, Gus Arya mengajar Diniyah di ndalemnya, ndalem barat. Gus Arya mengajar khusus kitab yang lanjut isi seperti 18 tahun ke atas, sebelum 18 tahun ke atas tidak diperbolehkan mempelajari kitab itu.]

[Keesokan harinya, pagi sekali setelah sholat Shubuh, Gus Arya dan Ning Abigail menuju ke ndalem tengah. Sampai di ndalem tengah, para santri putra, keluarga ndalem lainnya seperti Abah Yai, Nyai, Abi Rasya, Umi Nida, Gus Atha, dan Faiq dari kejauhan melihat Gus Arya dan Bijel di ndalem tengah, entah mau apa. Mereka lihat Arya juga Bijel membawa 1 koper besar, juga Bijel membawa tas ransel yang ada di punggungnya. Mereka yang melihat dari kejauhan langsung menuju Gus Arya dan Bijel, mereka ingin tahu 2 orang itu mau kemana, karena bawa koper, mereka semua penasaran emang mau kemana dan ada apa.]

(Di Ndalem Tengah)

(Para santri dan keluarga ndalem berkumpul di sekitar Arya dan Bijel dengan rasa penasaran.)

Abah Yai: "Arya, Bijel, mau kemana pagi-pagi begini bawa koper segala?"

Nyai: "Iya, mau ada acara apa kok kayaknya penting banget?"

Gus Atha: "Mau liburan ya? Kok nggak ngajak-ngajak sih?"

Umi Nida: "Atau mau ada kunjungan ke mana gitu?"

Faiq: "Mau oleh-oleh ya dari mana?"

(Semua orang tertawa mendengar pertanyaan Faiq yang polos.)

Gus Arya: (tersenyum) "Sabar, sabar. Nanti juga tahu kok. Ini mau ada urusan sedikit."

[Gus Arya meminta kunci mobil istrinya ke Kang Resya. Ia ditanya mau kemana dan tujuannya kenapa. Arya menjawab mengantar istrinya ke bandara, mau ada urusan pekerjaan. Para santri juga keluarga ndalem yang mendekat mendengar pembicaraan itu, dan apa yang dibicarakan Arya, kalau Bijel mau ke luar negeri ada urusan pekerjaan, Bijel sendirian atau bagaimana.]

(Saat Meminta Kunci Mobil)

Gus Arya: "Kang Resya, kunci mobilnya Bijel ada di kamu kan?"

Kang Resya: "Ada, Gus. Mau dipakai kemana, Gus?"

Gus Arya: "Mau anter Bijel ke bandara. Dia ada urusan pekerjaan di luar kota."

Kang Resya: "Oh, gitu. Sendirian Ning Bijel ke sana, Gus?"

Gus Arya: "Iya, Kang. Dia ada meeting penting sama klien dari luar negeri."

(Para santri dan keluarga ndalem yang mendengar percakapan itu semakin penasaran.)

Abi Rasya: "Luar negeri? Bijel mau ke luar negeri? Ada urusan apa?"

Abah Yai: "Kok nggak bilang-bilang mau ke luar negeri?"

Nyai: "Sendirian Bijel ke sana? Nggak bahaya ta?"

(Gus Arya tersenyum dan mencoba menenangkan semua orang.)

Gus Arya: "Tenang, tenang. Bijel nggak sendirian kok. Dia ada temennya di sana. Urusannya juga penting banget buat bisnisnya."

Ning Bijel: (tersenyum) "Iya, umma, Abah,Abi. Jangan khawatir. Aku baik-baik aja kok. Doakan aja semoga urusanku lancar ya."

[Setelah Ning Bijel meminta doa restu, suasana di ndalem tengah semakin terasa haru. Abah Yai dan Nyai memberikan wejangan dan nasihat kepada Ning Bijel agar selalu berhati-hati dan menjaga diri selama berada di luar negeri.]

(Nasihat Abah Yai dan Nyai)

Abah Yai: "Bijel, yang penting kamu hati-hati di sana. Jaga diri baik-baik. Jangan lupa sholat dan selalu ingat Allah SWT."

Nyai: "Iya, Bijel. Jangan lupa makan yang teratur dan istirahat yang cukup. Kalau ada apa-apa, segera hubungi Arya atau keluarga di sini."

Ning Bijel: "Iya, Abah, Nyai. Insya Allah aku akan selalu ingat pesan Abah dan Nyai."

(Ning Bijel memeluk Abah Yai dan Nyai dengan erat. Air mata mulai mengalir di pipinya.)

Gus Arya: (dengan nada menenangkan) "Sudah sayang, jangan nangis. Nanti make up-nya luntur."

(Semua orang tertawa mendengar ucapan Gus Arya. Suasana haru sedikit mencair.)

[Setelah berpamitan kepada semua orang, Gus Arya dan Ning Bijel berjalan menuju mobil yang sudah disiapkan oleh Kang Resya. Para santri dan keluarga ndalem mengantar mereka sampai ke depan pintu gerbang ndalem tengah.]

(Saat Berangkat ke Bandara)

Gus Atha: "Dadah Bijel! Jangan lupa oleh-oleh ya!"

Umi Nida: "Semoga sukses ya urusannya!"

Faiq: "Hati-hati di jalan!"

(Ning Bijel melambaikan tangan kepada semua orang sambil tersenyum. Gus Arya menyalakan mesin mobil dan mulai meninggalkan ndalem tengah.)

[Di dalam mobil, suasana terasa hening. Gus Arya fokus menyetir, sedangkan Ning Bijel melihat ke luar jendela dengan tatapan kosong. Entah apa yang sedang dipikirkannya.]

(Di Dalam Mobil)

(Setelah beberapa saat hening, Gus Arya memecah keheningan.)

Gus Arya: "Sayang, kamu nggak apa-apa? Kok diem aja dari tadi?"

Ning Bijel: (tersenyum tipis) "Nggak apa-apa, Mas. Aku cuma lagi mikir aja."

Gus Arya: "Mikirin apa? Mikirin urusan di luar negeri nanti?"

Ning Bijel: "Iya, Mas. Aku agak deg-degan nih. Soalnya ini pertama kalinya aku ke luar negeri sendirian."

Gus Arya: "Nggak usah khawatir. Kamu pasti bisa kok. Aku yakin kamu akan sukses di sana."

Ning Bijel: "Makasih ya, Mas. Kamu selalu support aku."

(Ning Bijel menyandarkan kepalanya di bahu Gus Arya. Gus Arya mengusap rambut Ning Bijel dengan lembut.)

Gus Arya: "Aku akan selalu ada buat kamu, sayang. Kamu jangan pernah ngerasa sendirian. Aku akan selalu mendoakan kamu dari sini."

Ning Bijel: "Aku juga akan selalu berdoa buat kamu, Mas. Semoga kamu selalu sehat dan dilindungi oleh Allah SWT."

(Gus Arya dan Ning Bijel saling berpegangan tangan dengan erat. Mereka merasa saling menguatkan dan menyayangi satu sama lain.)

[Selama perjalanan menuju bandara, Gus Arya dan Ning Bijel terus bercerita dan saling memberikan semangat. Mereka berusaha untuk menghilangkan rasa khawatir dan cemas yang ada di hati mereka. Mereka yakin bahwa dengan doa dan dukungan dari orang-orang terdekat, mereka akan mampu menghadapi segala rintangan yang ada.]

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!