Apa jadinya jika seorang Scientist Gila mendapatkan Sistem Pertanian?
Elena adalah seorang ilmuwan kimia gila yang mati dalam ledakan laboratorium dan terbangun di tubuh gadis desa yang tertindas. Berbekal "Sistem Petani Legendaris", ia tidak lagi bermain dengan cairan asam, melainkan dengan cangkul dan benih ajaib. Di tangan seorang jenius gila, ladang pertanian bukan sekadar tempat menanam padi, melainkan laboratorium maut yang bisa mengguncang kekaisaran!
Ingin mencuri hasil panennya? Bersiaplah menghadapi tanaman karnivora dan ledakan reaksi kimia di ladangnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kegelapan malam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32 (telung puluh loro)
Cahaya biru pudar perlahan di tengah ladang, menyisakan Han Jia dan Feng Shura yang berdiri dengan napas tertahan. Uang ribuan tael masih aman di dalam saku dimensi, tapi rasa aman di hati mereka telah hilang.
"Kita aman?" tanya Shura, matanya menyapu sekeliling benteng tembok batu yang sunyi. Ayam-ayam sudah tidur, dan Padi Baja bersinar redup.
"Untuk sementara," jawab Han Jia singkat. Ia tidak tersenyum. Ia langsung mengangkat pergelangan tangannya.
"Hera, lakukan pemindaian atmosferik lokal. Cari anomali energi."
Sebuah jaring hologram merah menyelimuti area tempat mereka mendarat.
"Peringatan," suara Hera terdengar serius, tanpa nada jenaka seperti biasanya. "Terdeteksi residu fluktuasi spasial tingkat tinggi. Jejak teleportasi kita meninggalkan 'luka' di udara yang bisa dilihat oleh siapa saja yang memiliki kepekaan energi di atas Level 5."
Wajah Han Jia mengeras. "Pria tua mata ular itu..." gumamnya. "Dia pasti bisa melacaknya. Dia tahu koordinat pendaratan kita."
Han Jia menatap Shura. "Mamat... ah, maksudku Shura. Lupakan soal pesta daging malam ini. Kita dalam kondisi Siaga Satu."
"Mereka akan datang ke sini?" tanya Shura, tangannya mencengkeram gagang pedang di pinggangnya. Aura membunuhnya mulai bocor keluar, membuat udara di sekitar mereka terasa dingin.
"Mereka pasti datang. Bukan untuk berdagang, tapi untuk mengambil semua yang kita punya. Benih, teknologi, dan mungkin kepala kita," Han Jia berjalan cepat menuju Laboratorium. "Ikut aku. Kita harus membelanjakan uang kita sebelum musuh datang."
Di dalam Laboratorium, Han Jia bergerak seperti orang kesurupan. Ia melempar karung uang ke atas meja stainless steel.
"Hera! Buka Toko Sistem Pertahanan! Filter: Biologis dan Kimiawi. Abaikan harga murah, aku butuh efektivitas mematikan!"
Layar hologram menampilkan deretan item mengerikan yang biasanya dilarang di pertanian normal.
Spora Kelumpuhan Syaraf (Paralysis Spores) - 2.000 Poin.
Akar Pengikat Baja (Steel-Binding Roots) - 1.500 Poin.
Kabut Halusinogenik (Mist of Madness) - 3.000 Poin.
"Beli semuanya!" perintah Han Jia dingin. "Pasang Spora di perimeter dinding bagian dalam. Tanam Akar Pengikat di depan gerbang utama. Dan sebarkan Kabut di area hutan belakang."
[Konfirmasi Transaksi: 6.500 Poin.]
[Sistem Pertahanan Aktif dalam 10 Menit.]
Han Jia berbalik menatap Shura. Ia mengambil sebuah botol kaca berisi cairan ungu pekat dan melemparkannya pada pria itu.
"Apa ini?" Shura menangkapnya.
"Antidot," kata Han Jia. "Minum sekarang. Mulai malam ini, udara di dalam tembok ini akan mengandung racun neurotoksin ringan bagi siapa saja yang tidak punya antibodi. Aku tidak mau kau pingsan saat sedang berjaga."
Shura menatap cairan itu, lalu meminumnya dalam sekali teguk tanpa ragu. Rasanya pahit, seperti empedu ular.
"Kau percaya padaku?" tanya Han Jia pelan, melihat Shura tidak bertanya apa isinya.
"Kau adalah komandanku sekarang, Han Jia," jawab Shura datar. Ia melepaskan jenggot palsunya yang gatal, menampilkan kembali wajah tegas Sang Jenderal. "Lagipula, jika mereka datang, pedangku butuh darah. Sudah terlalu lama aku hanya memotong sayur."
Han Jia mengangguk. "Bagus. Kau jaga gerbang depan. Jangan biarkan apa pun yang bernapas masuk tanpa izin. Aku akan memantau dari Control Room di bawah tanah."
Malam semakin larut. Bulan tertutup awan hitam tebal, seolah alam pun tahu akan ada hal buruk yang terjadi.
Di luar tembok benteng Han Jia, suasana hutan terasa mati. Tidak ada suara jangkrik. Tidak ada suara burung hantu. Keheningan yang tidak wajar.
Di atas dahan pohon tinggi, sekitar seratus meter dari gerbang benteng, tiga sosok berpakaian serba hitam berjongkok tanpa suara. Mereka bukan preman pasar serikat dagang. Mereka adalah Unit Bayangan (Shadow Unit), pembunuh elit yang disewa untuk pekerjaan "bersih-bersih".
Salah satu dari mereka, sang pemimpin, menatap dinding batu setinggi tiga meter itu dengan mata yang bersinar hijau dalam kegelapan teknik penglihatan malam kultivator.
"Target dikonfirmasi," bisiknya nyaris tanpa suara. "Jejak spasial berakhir di dalam benteng ini. Orang tua itu benar. Ada pengguna sihir kuno di sini."
"Perintahnya, Kapten?" tanya bayangan di sebelahnya.
"Masuk. Amankan subjek wanita. Bunuh subjek pria. Bakar ladangnya. Jangan tinggalkan saksi."
"Temboknya tinggi. Perlukah kita mendaki?"
Pemimpin itu tersenyum sinis di balik maskernya. "Tembok hanyalah batu. Gunakan Teknik Penembus Bayangan. Kita akan masuk lewat celah bayangan di bawah gerbang."
Ketiga sosok itu melompat turun dari pohon, mendarat tanpa suara di tanah yang lembut. Mereka bergerak merayap seperti asap hitam, mendekati gerbang utama benteng Han Jia.
Mereka mengira ini akan mudah. Mereka mengira ini hanya pertanian biasa yang dijaga petani bodoh.
Mereka tidak tahu bahwa di balik tembok itu, Han Jia sedang duduk di kursi putar laboratoriumnya, menatap layar monitor yang menampilkan titik-titik panas pergerakan mereka.
"Tiga tamu tak diundang," gumam Han Jia dingin. Jarinya melayang di atas tombol merah besar di meja kontrol.
"Selamat datang di Zona Karantina Biologis."
Di gerbang depan, Shura duduk bersila di tengah kegelapan, mata terpejam, pedang tergeletak di pangkuannya. Tiba-tiba, telinganya menangkap suara desis halus.
Bukan suara ular. Tapi suara akar tanaman yang mulai bergerak di bawah tanah, lapar akan mangsa.
"Mereka datang," bisik Shura, membuka matanya. Kilatan emas memancar di pupilnya.
Malam ini, Benteng Sains Han Jia akan memakan korban pertamanya.