Kejutan yang Freya siapkan untuk William berubah menjadi mimpi buruk saat ia memergoki pria itu berselingkuh. Tanpa niat melabrak, Freya justru merekam pengkhianatan tersebut dan bersumpah akan membalasnya.
Namun, sebelum rencananya selesai, Freya diculik dan dipaksa menerima perjodohan dengan Steven, pria dingin dan berkuasa.
Menolak tunduk, Freya kabur dan menghancurkan karier William dengan menyebarkan video perselingkuhannya.
Tapi, masalah tidak berhenti di sana. Steven murka karena Freya melarikan diri. Ia mengerahkan anak buah untuk menangkap gadis itu, tanpa menyadari bahwa mereka akan bertemu dengan cara yang tak terduga, yang mana Freya menyamar sebagai laki-laki, dan menjadi bodyguard barunya dengan nama Boy.
Kedekatan mereka memicu konflik yang lebih berbahaya, saat Steven mulai merasakan perasaan terlarang pada sosok yang ia yakini sebagai seorang pria.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutzaquarius, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
Mereka duduk bersebelahan di tepi ranjang, dengan jarak yang terlalu dekat untuk disebut biasa, namun terlalu canggung untuk disebut nyaman.
Steven menunduk, jemarinya saling bertaut gelisah. Untuk pertama kalinya, pria itu merasa begitu bodoh dan takut. Takut jika Boy akan membencinya atas tindakannya yang impulsif.
Sementara Freya duduk kaku, pipinya memanas. Jantungnya masih berdetak terlalu cepat, dan pikirannya kosong, tidak tahu harus bersikap bagaimana setelah semua yang terjadi.
"Ehm... Boy." Steven berdeham pelan. "Aku minta maaf. Tidak seharusnya aku... menciummu." Suara Steven terdengar rendah, nyaris seperti pengakuan dosa.
"T-tidak apa-apa, Tuan. Aku—" Freya tersentak saat tiba-tiba tangan Steven menggenggam tangannya.
"Tidak apa-apa?" ulang Steven cepat. "Maksudmu... kau tidak keberatan?"
Freya terdiam sesaat, lalu tersenyum kecil dan menggeleng pelan. "Tidak!" Sedetik kemudian ia tersadar, wajahnya semakin merah. "Eh... Iya. Eh, bukan begitu maksudku," ujarnya gugup.
Steven, pria yang biasanya dingin dan sulit ditebak, justru tersenyum lebar. Perlahan, ia menarik Freya ke dalam pelukannya.
"Aku menyukaimu, Boy," bisiknya.
Freya tertegun. Dadanya terasa hangat, napasnya tertahan sesaat, lalu tangannya terangkat membalas pelukan itu.
"Aku juga menyukaimu, Tuan."
Steven membeku. Matanya melebar, seolah tidak yakin dengan apa yang baru saja ia dengar. Ia melepaskan pelukan itu, menahan bahu Freya agar mereka saling bertatapan.
"Benarkah?" tanyanya pelan. "Kau juga... menyukaiku?"
Freya menunduk malu, lalu mengangguk kecil.
Senyum Steven merekah tanpa bisa disembunyikan. Ia kembali menarik Freya ke dalam pelukannya, kali ini lebih erat.
"Terima kasih, Boy. Aku pikir... kau akan menolak ku."
Freya tersenyum kecil, membalas pelukan itu sama eratnya. Namun, beberapa detik kemudian, Steven melonggarkan dekapannya. Bahunya turun, sorot matanya meredup.
"Tapi... "
Freya menatapnya cemas. "Tapi apa, Tuan?"
"Kita harus menyembunyikan hubungan ini," ucap Steven lirih.
Senyum Freya memudar seketika. Dadanya terasa dingin, lalu menunduk, salah paham. "Aku mengerti, Tuan. Kau pengusaha kaya, terpandang, dan tampan, sedangkan aku hanya—"
"Tidak!" Steven langsung memotong ucapannya cepat. Ia menggenggam kedua tangan Freya dengan kuat.
"Bukan itu. Siapa pun dirimu, aku tidak peduli. Tapi... " Steven menahan nafas sesaat, sebelum melanjutkan. "Kita hidup di negara hukum. Jika publik tahu kita menjalin hubungan seperti ini, bukan hanya hinaan yang akan kita terima."
Freya mengernyit bingung. "Hah? Maksudnya?"
"Kita bisa diusir dari negara ini, Boy."
"Apa?" pekik Freya dengan mata membesar. "Kenapa begitu?"
Steven menghela napas berat. "Karena di negara ini... hubungan sesama jenis dilarang keras."
"Hah?!" Freya benar-benar terkejut. Wajahnya pucat, alisnya bertaut bingung. "T-tapi... "
Steven mengusap rambut Freya lembut. "Kau tenang saja. Aku akan mencari jalan keluar. Tapi, untuk sementara, kita harus merahasiakan hubungan kita."
Steven tersenyum tipis, lalu melanjutkan, "aku sudah mengambil keputusan. Aku akan segera menghubungi Paman Jacob untuk membatalkan perjodohan itu."
Steven menunduk dan mengecup bibir Freya singkat. Dan, sebelum Freya sempat mengatakan apa pun, ia berbalik dan keluar dari kamar dengan langkah cepat.
Freya terpaku di tempatnya. Tangannya terangkat menyentuh bibirnya sendiri, lalu keningnya berkerut dalam.
"Penyuka sesama jenis?" gumamnya pelan. "Apa maksudnya?"
Ia mengulang kata-kata Steven di kepalanya. Lalu, seperti kilat yang menyambar di langit cerah, Freya menegang, matanya membulat sempurna.
"Tunggu!" Ia menunduk, menatap dadanya sendiri, menyentuh rambut palsu yang selalu ia pakai. Lalu, berdiri di depan cermin, menatap kemeja putih longgar, celana panjang, gaya yang sejak awal sengaja ia pilih agar terlihat seperti pria.
Jantungnya seolah berhenti sedetik. "Ja-jangan bilang... Oh tidak." Freya mengacak rambutnya frustasi. "Tidak!! Dia tidak tahu jika aku wanita. Dia mengenalku sebagai laki-laki."
Freya menutup wajahnya dengan kedua tangan. "Ya Tuhan!"
Ia berjalan mondar-mandir di kamar dengan panik. "Jadi, itu tadi ... pengakuan cinta? Ciuman itu... dan semua ini yang terjadi... " Ia berhenti di tengah kamar. Matanya melebar ngeri.
"Steven jatuh cinta pada Boy, karena dia pikir Boy itu pria." Kakinya mendadak melemas. Ia duduk kembali di tepi ranjang. "Ini bencana," gumamnya.
Freya menelan ludah. Haruskah ia langsung mengejar Steven dan menjelaskan sekarang juga? Tapi, bagaimana jika Steven marah? Bagaimana jika dia merasa ditipu? Bagaimana jika perasaan tadi langsung membuatnya jijik?
"Tapi kalau aku diam saja... " Ia memeluk lututnya. "ini akan menjadi lebih parah." .
"Aduh... Kenapa aku bodoh sekali?" Ia mengusap wajahnya kasar.
"Tidak!" Freya bangkit dengan napas memburu, matanya penuh tekad. "Aku harus menjelaskan pada Steven kalau aku wanita."
Tanpa ragu, ia melangkah keluar dari kamar, lalu berhenti tepat di depan pintu kamar Steven. Tangannya terangkat, siap mengetuk. Namun, suara dari dalam kamar membuatnya membeku.
"Paman, maaf mengganggu malam-malam begini. Tapi, ada hal penting yang ingin aku katakan."
Freya mengernyit. "Paman?" gumamnya pelan. "Dia bicara dengan siapa?" Rasa penasaran mengalahkan etika. Freya menempelkan telinganya perlahan ke daun pintu.
"Aku ingin membatalkan perjodohan ini, karena aku menyukai seseorang."
Freya tertegun. Dadanya seperti dihantam sesuatu yang hangat sekaligus menyesakkan. "Dia serius?"
"Aku tahu ini tidak sopan, Paman. Aku akan mengatur waktu untuk membahasnya lebih baik. Tapi, aku tidak ingin menipumu."
Freya mundur selangkah dari pintu. Matanya melebar, lalu perlahan berkaca-kaca.
"Dia benar-benar membatalkan perjodohannya... Demi diriku?" Tangannya terangkat menutupi mulut, lalu berpindah ke pipinya yang terasa panas. "Aku tidak menyangka, dia akan bertindak sejauh ini..."
Hatinya bergetar hebat. Namun, tepat saat perasaan itu memuncak, Freya membeku. Kata-kata Steven tadi kembali terputar di kepalanya.
"Tunggu!" Ia menatap ke arah pintu kamar Steven. "Tadi, dia bilang... Paman Jacob, kan? Aku... Tidak mungkin salah dengar."
Freya menelan ludah Tiba-tiba, jantungnya kembali berdetak tidak karuan saat wajah ayahnya terlintas jelas di benaknya.
"Paman Jacob? Kenapa nama itu sama dengan nama Papa?"