NovelToon NovelToon
Obsesi Rahasia Pak Dosen

Obsesi Rahasia Pak Dosen

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Dosen / Pengganti / Diam-Diam Cinta / Cintapertama
Popularitas:7.5k
Nilai: 5
Nama Author: shadirazahran23

Lima tahun lalu, Zora hanyalah mahasiswi biasa di mata Dimas. Kini, ia adalah obsesi yang tak bisa ia lepaskan.

Dimas adalah dosen Ekonomi yang kaku dan dingin. Baginya, segala sesuatu harus terukur secara matematis. Namun, rumusnya berantakan saat sang ibu memboyong Zora,mantan mahasiswi yang kini sukses menjadi juragan kain untuk tinggal di rumah mereka setelah sebuah kecelakaan hebat.

Niat awal Dimas hanya ingin membalas budi karena Zora telah mempertaruhkan nyawa demi ibunya. Namun, melihat kedewasaan dan ketangguhan Zora setiap hari mulai merusak kontrol diri Dimas. Ia tidak lagi melihat Zora sebagai mahasiswi yang duduk di bangku kelasnya, melainkan seorang wanita yang ingin ia miliki seutuhnya.

Zora mengira Dimas masih dosen yang sama dingin dan formal. Ia tidak tahu, di balik sikap tenang itu, Dimas sedang merencanakan cara agar Zora tidak pernah keluar dari rumahnya.

"Kau satu-satunya yang tak bisa kulogikakan,Zora!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon shadirazahran23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5 Perisan Yang Tak Terlihat

Di dalam kamar, Zora masih mematung. Jemarinya gemetar saat ia menarik perlahan ujung celananya untuk menutupi paha yang tadi terekspos. Kulitnya masih terasa panas di bagian yang sempat bersentuhan dengan ujung jari Dimas. Wajahnya yang semula pucat karena luka, kini merona hebat hingga ke telinga.

"Apa yang baru saja terjadi?" bisiknya pada keheningan kamar. Zora membenamkan wajahnya ke bantal, mencoba menghalau bayangan rahang tegas Dimas yang mengeras saat menahan diri tadi.

Sementara itu, di balik pintu yang tertutup rapat, Dimas berdiri diam di koridor yang remang. Napasnya masih menderu pendek. Ia menatap telapak tangannya sendiri,tangan yang biasanya hanya memegang pena atau mikroskop, kini seolah masih menyimpan jejak kelembutan kulit mantan mahasiswinya.

"Sial," umpatnya rendah. Suaranya serak, memenuhi lorong rumah yang sepi.

Dimas adalah pria yang logis. Baginya, segala sesuatu memiliki rumus dan penjelasan. Namun, getaran di dadanya saat melihat gurat merah di atas kulit putih Zora tadi tidak memiliki variabel yang masuk akal. Ia merasa seperti seorang pencuri yang tertangkap basah, padahal ia hanya sedang menjalankan kewajiban medisnya.

Keesokan paginya, suasana canggung itu tidak menguap, malah mengental.

Dimas muncul di depan pintu kamar Zora saat fajar baru saja menyingsing, membawa nampan berisi bubur gandum dan segelas susu hangat. Ia sudah berpakaian rapi dengan kemeja slim-fit abu-abu yang disetrika sempurna,citra dosen muda yang sangat disiplin.

"Makanlah," ucap Dimas tanpa menatap mata Zora. Ia meletakkan nampan itu di meja nakas dengan gerakan yang terlalu kaku.

Zora yang sedang mencoba duduk tegak, mendongak ragu. "Terima kasih, Pak. Bapak... tidak berangkat pagi ini?"

"Nanti." Dimas menarik kursi, duduk di samping ranjang. Keheningan menyergap. "Mengenai semalam..."

Jantung Zora berdegup kencang. Ia meremas pinggiran sprei. "Semalam... saya minta maaf, Pak. Saya tidak bermaksud... maksud saya, luka itu memang di sana dan..."

"Lupakan," potong Dimas cepat, akhirnya ia menatap mata Zora. Tatapannya dalam, gelap, dan sulit diartikan. "Jangan dibahas lagi. Anggap saja itu bagian dari perawatan profesional."

Zora menunduk, ada sedikit rasa sesak yang aneh saat mendengar kata 'profesional'. "Baik, Pak."

Dimas memperhatikan jemari Zora yang memainkan pinggiran nampan. Tiba-tiba, ia mengulurkan tangan, meraih dagu Zora dan memaksanya untuk mendongak. Sentuhan itu mendadak, membuat napas Zora tercekat.

"Tapi Zora," suara Dimas merendah, berat dan penuh penekanan ala pria dominan dalam drama. "Jangan pernah menunjukkan bagian tubuhmu seperti itu pada pria lain. Siapa pun itu. Paham?"

Zora terpaku. Sorot mata Dimas saat ini bukan lagi milik seorang dosen yang sedang memberi kuliah. Ada kilat posesif yang terselip di sana, tajam dan berbahaya.

"Kenapa, Pak?" tanya Zora dengan keberanian yang tiba-tiba muncul.

Dimas tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya menatap bibir Zora sejenak sebelum melepaskan dagu gadis itu dengan gerakan perlahan. Ia berdiri, merapikan kemejanya yang sebenarnya sudah sangat rapi.

"Karena tidak semua pria punya pertahanan diri sepertiku," jawab Dimas dingin, sebelum berbalik dan melangkah keluar dengan langkah lebar yang angkuh.

Di ambang pintu, ia berhenti sejenak tanpa menoleh. "Habiskan susumu. Aku akan menjemputmu untuk kontrol ke dokter siang nanti. Jangan coba-coba berjalan sendiri jika kamu tidak ingin aku menggendongmu di depan seluruh pasien rumah sakit."

***

Rumah sakit siang itu cukup padat, namun Dimas memastikan Zora mendapatkan pelayanan terbaik. Sesuai ancamannya, ia tidak membiarkan kaki Zora menyentuh lantai sedikit pun saat turun dari mobil. Dimas menggendongnya ala bridal style masuk ke lobi, mengabaikan tatapan penasaran para perawat dan pasien.

Di dalam ruang pemeriksaan, seorang dokter muda dengan stelan putih yang rapi menyambut mereka dengan senyum yang terlalu ramah di mata Dimas.

"Dokter Adrian," sapa pria itu sambil membaca papan data. "Dan ini pasien istimewa kita, Zora? Nama yang cantik."

Dimas yang berdiri di samping ranjang periksa langsung melipat tangan di dada. Matanya menyipit tajam, memperhatikan cara Adrian menatap Zora.

"Langsung saja ke pemeriksaannya, Dok. Saya tidak punya banyak waktu," potong Dimas dingin. Suaranya terdengar seperti bongkahan es yang beradu.

Adrian terkekeh pelan, ia seolah bisa mencium bau kecemburuan berasal dari teman lamanya itu."Sabar, Pak. Kita harus memeriksa lukanya dengan teliti."

Saat Adrian mulai menyentuh perban di paha Zora untuk membukanya, tangan Dimas bergerak lebih cepat. Ia menahan pergelangan tangan sang dokter sebelum kulit pria itu bersentuhan dengan Zora.

"Gunakan sarung tangan medis yang baru. Dan pastikan gerakanmu tidak kasar," titah Dimas dengan nada memerintah yang kaku.

Zora menunduk, wajahnya sudah memanas. "Pak Dimas... Dokter Adrian hanya menjalankan tugasnya."

"Diamlah, Zora," balas Dimas tanpa menoleh. Tatapannya masih terkunci pada Adrian.

Adrian justru sengaja menggoda. Sambil mengganti perban, ia sesekali mengajak Zora bercanda. "Wah, kulitmu sensitif sekali ya, Zora? Pasti Pak Dimas ini sangat telaten menjagamu di rumah, sampai-sampai saya mau menyentuh saja harus seizin beliau."

Zora hanya bisa tersenyum canggung, sementara Dimas tampak seolah ingin menelan dokter itu hidup-hidup.

"Hati-hati bicaramu, Adrian. Fokus saja pada lukanya," desis Dimas.

"Kenapa? Kamu takut aku terpesona?" Adrian menyeringai, lalu sengaja mendekatkan wajahnya pada Zora untuk memeriksa denyut nadi. "Zora, kalau pria ini terlalu galak, kamu bisa simpan nomor teleponku di kartu nama ini. Konsultasi medis bisa kapan saja, termasuk konsultasi hati."

Tak!

Dimas merebut kartu nama yang baru saja disodorkan Adrian sebelum Zora sempat menyentuhnya. Ia memasukkan kartu itu ke saku kemejanya dengan gerakan yang sangat arogan.

"Konsultasi medis lewat saya. Saya walinya," ucap Dimas dengan suara rendah yang berbahaya. Ia kemudian membungkuk, menarik kembali celana panjang Zora untuk menutupi pahanya bahkan sebelum Adrian selesai membereskan peralatannya.

Adrian tertawa lepas. "Posesif sekali. Aku baru tahu seorang dosen dingin sepertimu bisa berubah menjadi harimau hanya karena seorang mantan mahasiswi."

Dimas tidak membalas tapi melotot tajam,ia langsung mengangkat Zora kembali ke dalam dekapannya. "Sudah selesai? Kita pulang."

"Pak, obatnya belum diambil!" seru Zora dalam gendongan.

"Biar nanti aku suruh yang mengambilnya. Kita pergi sekarang," jawab Dimas mutlak. Ia melangkah keluar dengan langkah lebar, membiarkan Adrian tertawa di balik meja periksanya.

"Rupanya si es batu itu sudah menemukan tambatan hatinya.Sykurlah."Ucap Adrian lirih.

Di koridor rumah sakit, Zora memberanikan diri berbisik di dekat telinga Dimas. "Bapak kenapa?"

Langkah Dimas terhenti sejenak. Ia menatap Zora dengan tatapan yang mampu mengunci napas gadis itu. "Aku hanya tidak suka melihat orang lain menyentuh apa yang seharusnya menjadi tanggung jawabku. Jangan banyak bertanya, atau aku akan menciummu di sini agar dokter itu tahu siapa pemilikmu."

Zora bungkam seketika, jantungnya berdegup gila. Dimas yang ini jauh lebih menakutkan,dan jauh lebih mendebarkan.

Wah...wah pak Dimas bener-bener ya...mungkin dia lupa saat mengejar Kananya dulu tidak sampai seperti itu. Bagaiamana kelanjutan ceritanya? Tunggu bab selanjutnya ya

1
Marini Suhendar
teka_teki silang ah thor😄
Ila Aisyah
kawinnnnn,,, ehhh,,, nikahhh ijab kabul😘🫰💪
Ila Aisyah
weleh,,, welehhh,,,, persiapan kondangan man temannnn,,, 🤣
Eva Karmita
lanjut otor semangat 🔥💪🥰
Sastri Dalila
👍👍👍👍
Eva Karmita
ya ampun pak dosen lihat sikon dong. kasihan Nurul yg polos ternodai matanya 🤣🤣🤣🤣
shadirazahran23: Maklum pak Dosen sudah lama menjomblo,jadi dia lagi kejar setoran
total 1 replies
suryani duriah
good job zora👍👍👍
shadirazahran23: Insya Allah sahabat Kanaya ini gak menye menye 😭
total 1 replies
suryani duriah
jgn petcaca tipuan pelakor lha pelakor zaman sekarang urat malunya udah putus lawaaan kita bantuin dah🤭😁😁👍
Acih Sukarsih
kamu perempuan berpendidikan jadi tahu mana yg asli/palsu
Eva Karmita
pasti ini si sepupu laknat yg kegatelan yg udah birahi 😤😏
shadirazahran23: OMG 😱😱😱
total 1 replies
Eva Karmita
ya ampun gagal lagi 😩😩😂😂😂
Eva Karmita
sabar tahan pak dosen masak unboxing nya di dalam mobil .... jangan atuh cari suasana yang romantis dong 🤣🤣🤣
Eva Karmita
makanya jangan encum otaknya pak dosen 🤣🤣🤣🤣
Eva Karmita
semangat upnya ya..❤️🥰
Eva Karmita
maaf otor aku Ndak tau itu di Garut mana karena aku asli orang Kalimantan 🤭😁
Wiwi Sukaesih
mira ulat bulu...
Wiwi Sukaesih: y Thor ksian amt pnganten baru bnyk halangan ny
dtmbh d ulet bulu mereka Lela
total 2 replies
Wiwi Sukaesih
haaaa
gagal maning 🤣🤣
shadirazahran23: tidak semudah itu furgoso🤭
total 1 replies
suryani duriah
siapa yg ngerusak moment yg ditunggu2🤣🤣
Wiwi Sukaesih
haaa
sabar pak dosen
mampir lh k hotel klw g Tahn 🤭
Wiwi Sukaesih: othor tega BKIN kepala dosen pening gara" g ad ritual mlm pengantin 🤣
total 2 replies
suryani duriah
ceritanya baguuus👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!