Mandala, pemuda tampan berusia 24 tahun dari kampung di seberang kota, bekerja sebagai sopir pribadi di sebuah perumahan elit. Tanpa diketahui siapa pun, pekerjaannya bukan sekadar mencari nafkah melainkan jalan untuk menemukan jati dirinya.
Mandala menyimpan kebencian mendalam pada ayah kandung yang tak pernah ia kenal, pria yang ia yakini telah menghancurkan hidup ibunya hingga mengalami gangguan jiwa. Ketika ia ditugaskan mengantar Keyla, putri cantik seorang konglomerat, Mandala yakin takdir sedang memihak dendamnya. Keyla adalah anak dari pria yang ia sebut Ayah.
Cinta pun ia jadikan senjata. Mandala berniat membalas luka masa lalu dengan membuat Keyla jatuh cinta padanya. Namun seiring waktu, perasaan yang tumbuh tak lagi bisa dikendalikan, dan rencana balas dendam perlahan runtuh.
Saat Mandala hampir menuntut pertanggungjawaban, Kenyataan mengejutkan terungkap.
Bagaimana kebenaran tentang Mandala dan bagaimana kisah cintanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dina Sen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
pembalasan perlahan
Keyla menatap layar ponselnya, mendengarkan suara Erga yang semakin berisik di ujung telepon. Ia tahu persis apa yang akan dia katakan. Sesuatu yang biasa perintah, larangan, atau bahkan pembelaan yang terdengar kosong. Semua sudah sering diulang.
"Keyla!" suara Erga menggelegar, "Kenapa kamu nggak jawab pesanku? Kenapa kamu pergi sama Mandala? Kamu tahu kan itu nggak baik buat hubungan kita?"
Keyla memutar bola matanya, sedikit menahan tawa pahit yang ingin keluar. Suara Erga terdengar seperti seorang pria yang merasa dilukai, tapi Keyla tahu itu hanya topeng. Topeng yang selama ini dipakai setiap kali ada sesuatu yang tak sesuai dengan keinginannya. Entah itu Keyla, atau orang lain. Semua harus berjalan sesuai keinginan Erga.
"Kenapa kamu nggak bilang kalau ada masalah?" lanjut Erga dengan nada memaksa. "Aku nggak suka kalau kamu jadi terlalu dekat sama Mandala, itu bisa merusak segalanya. Jangan lupakan siapa kamu! Kita nggak bisa hidup tanpa nama besar, tanpa posisi yang jelas, tanpa…"
Keyla memotong dengan suara tenang, yang terasa lebih tenang dari yang ia rasakan dalam dirinya, "Erga, aku capek."
"Jangan berbicara seperti itu, Keyla!" Erga hampir berteriak, "Ini demi kita! Demi masa depan kita!"
Keyla menghela napas, meletakkan ponsel di meja dengan suara pelan, tanpa menjawab lebih lanjut. Suara Erga yang melanjutkan ocehannya masih terdengar samar, namun ia tidak peduli lagi. Semua yang baru saja ia dengar terasa seolah angin lewat begitu saja.
Kemudian, dia tersenyum miring, sedikit geli dengan dirinya sendiri. Beberapa menit lalu, ia sudah memutuskan. Keputusan yang datang dari hati, bukan dari nama, status, atau janji orang lain. Keputusan yang datang dari kenyamanan yang hanya ditemukan dengan orang yang tidak pernah meminta apa-apa dari dirinya selain menjadi dirinya sendiri. Mandala.
Setelah beberapa detik mendengar suara Erga yang terus berlanjut tanpa arti, Keyla akhirnya menutup telepon dengan cepat, mengabaikan pesan terakhir yang masih terus masuk. Keyla menatap layar telepon sejenak, lalu bangkit dari kursi.
Ia menuju jendela, membuka sedikit tirainya, dan menatap ke luar. Malam itu sunyi. Hanya suara angin yang menggerakkan daun-daun di pohon, tapi di hatinya, ada banyak hal yang mengalir. Seperti sungai yang tak terhentikan.
Erga bukan lagi pilihan. Keyla sudah memutuskan. Ia tak lagi ingin berada dalam bayang-bayang yang diciptakan oleh nama besar, oleh status yang tak lebih dari sekedar simbol. Baginya, kenyamanan, ketulusan, dan kedamaian dalam dirinya lebih penting daripada segala hal yang selama ini dikorbankan untuk mempertahankan hubungan yang ternyata lebih banyak memberi luka daripada kebahagiaan.
Satu hal yang Keyla sadari Mandala ada di sana, tidak menghakimi, tidak berusaha mengubah apapun tentang dirinya. Ia hanya ada, menawarkan kenyamanan tanpa pamrih. Tanpa persyaratan. Tanpa permainan.
Dan itu, entah kenapa, terasa lebih berharga.
Dengan langkah pasti, Keyla meraih ponselnya sekali lagi. Ia membuka aplikasi pesan, dan tanpa ragu menulis:
“Erga, aku ingin kita selesai.”
Keyla memandang pesan itu sebentar, lalu menekan tombol kirim.
Ia tahu, setelah ini, tidak akan ada yang sama lagi. Tapi setidaknya, ia merasa bebas. Bebas dari bayang-bayang yang selama ini mengekangnya.
Ia berbalik, menatap ke arah pintu kamar, dan membayangkan Mandala. Tidak ada kata-kata besar, tidak ada janji kosong. Hanya ada kenyamanan, hanya ada rasa aman yang tidak pernah ia temui di tempat lain.
Keyla menghela napas, kali ini lebih lega. Beberapa bagian dari dirinya merasa lebih ringan. Ia sudah memilih.
...
beberapa menit berlalu.
Keyla melangkah pelan ke ruang makan, merasakan berat di dadanya. Meskipun ia telah membuat keputusan besar, perasaan itu masih mengendap di dalam hati, seperti bayangan yang tak bisa dihilangkan. Ia melihat Ayah dan mamahnya sudah duduk di meja makan, makanan yang terhidang tak begitu menggugah selera, dengan hati Keyla yang tengah kacau.
Bayu, ayahnya, melirik dengan senyum hangat, "Keyla, ayo, makan. Kenapa muka kamu kusut begitu?"
Sekar, sang mamah, turut menoleh dengan tatapan lembut, "Iya, Key. Ayok makan. Kamu capek?"
Keyla tersenyum kecil, berusaha menutupi kegelisahannya, "Enggak apa-apa, Ma. Ya cuma sedikit lelah." Ia duduk di kursi, menyendok sedikit nasi, tapi tak begitu berniat untuk makan banyak. Perasaan yang lebih berat dari perut kosong membuatnya sulit untuk menikmati makanan.
Sekar masih memperhatikannya dengan penuh perhatian. "Kamu pasti ada sesuatu, kan, Key?" tanyanya dengan suara lembut. "Kamu nggak biasanya begini. Cerita aja sama Mama kalau ada masalah."
Keyla menelan ludah. Ia hampir saja berkata, tapi seketika itu juga ingat percakapan yang baru saja terjadi, dan betapa sulitnya untuk mengungkapkan perasaan sebenarnya. Bagaimana menjelaskan kepada orangtuanya bahwa hubungan yang selama ini mereka banggakan, ternyata penuh dengan kepalsuan? Bagaimana mengungkapkan bahwa ia baru saja memutuskan untuk berhenti terjebak dalam dunia yang diciptakan oleh nama besar dan ekspektasi?
Keyla menghela napas pelan, menundukkan kepala sejenak. "Enggak, Ma. Cuma… capek aja." Ia memberi senyum tipis, mencoba meyakinkan ibunya bahwa semuanya baik-baik saja meskipun sebenarnya hatinya hancur.
Sekar menatapnya dengan sedikit kecurigaan, tapi ia tidak memaksa. "Kalau kamu butuh waktu, Mama dan Papa selalu ada," katanya dengan lembut.
Bayu juga menimpali dengan nada yang lebih ringan, "Iya, jangan segan-segan buat bilang kalau ada yang mengganggu, Key. Kami ngerti kalau kamu butuh ruang."
Keyla hanya mengangguk pelan, tak sanggup mengungkapkan kata-kata yang terjebak di tenggorokannya. Ia merasa terjebak di antara apa yang orang tuanya harapkan dan kenyataan yang baru ia temui. Bayu dan Sekar tentu saja tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi antara dirinya dan Erga. Mereka hanya melihat gambaran indah dari luar hubungan yang tampaknya sempurna di permukaan, hubungan yang seharusnya bisa mengangkat nama mereka lebih tinggi.
Tapi sekarang, semuanya sudah berubah. Erga bukan lagi bagian dari dunia yang ia inginkan.
***
Dan malam di sudut lain, di rumah sederhana... Atau bisa di sebut rumah khusus untuk Sopir.
Mandala.
Ia duduk menyandar di ruang tamu, sofa sederhana itu menjadi teman malamnya ketika pak Hermawan tengah tak berada di sana.
"maaf, kalau kamu menjadi target membalas rasa sakitku... Aku bukan ingin menyakiti kamu, tapi ayahmu."
Kata-kata itu muncul dalam benaknya. Mandala menatap kosong pada gelas kopi di meja depannya.
Otaknya berencana. Ia ingin... Semua terbongkar ketika ia puas melihat kehancuran keluarga itu.
***
Sementara malam jauh di kampung seberang kota, Heni menelpon Mandala... Hatinya yang di hantui rasa takut, mencoba membujuk dirinya pulang.
di tunggu updatenya ya Author kesayangan kuuu tetap semangat Sayyy quuu🥰🤗💪
rasain tuh Keyla bela Mandala 😡😡
Erga stresss tuhh dia yg selingkuh dia yg gk Terima Keyla dg Mandala 😡😡
di tunggu updatenya ya Author kesayangan kuuu tetp semangat sayyy quuu🥰🤗💪
di tunggu updatenya ya Author kesayangan kuuuu🥰🤗 tetap semangat Sayyy 💪💪
padahal dia yg salah selingkuh dg sahabat Keyla 😡😡
Bayu bukan ayah mu Mandala 😌😌
duhh Erga yg pura-pura siapa coba? qm yg pura-pura bukan Mandala pakai suruh Mandala jaga jarak dg Keyla, lalu perselingkuhan mu dg sahabat nya Keyla??
greget sama Erga 😌😌😄😄
di tunggu updatenya ya Author kesayangan kuuu tetap semangat Sayyy quuu 🥰🤗💪🐱
kau harus cari tau kebenarannya Mandala 😌😌
waduhhhh Erga cemburu gk tuh Keyla jalan dg Mandala 😆😆
Erga gk tau malu dia yg selingkuh dg Sahabat nya Keyla, dia pula cemburu Keyla dg Mandala 😌😌
penasaran...
di tunggu updatenya ya Author kesayangan kuuuu
tetap semangat Sayyy quu 🥰🤗💪
duhhh jangan² Mandala jatuh cinta dg Keyla tapi blm sadar 😄😄
qm bukan anak nya Bayu Pratama gk pantas qm panggil Ayah 😁😁
seandainya Mandala tau yg sebenarnya pst kecewa sama Alira. tapi jgn dulu tau yaa, nnt cepat tamat pula 😄😄
duhh ternyata Pak Arifal itu tetangga rumah nya sama Bayu Pratama.. ?? kebetulan sekali.
Mandala pun bertemu dg Pak Arifal di bengkel....
duhh akhirnya Mandala tinggal dg Pak Hermawan...
gmn yaa selanjutnya..
di tunggu updatenya ya Author kesayangan kuuu🥰🤗 tetap semangat Sayyy quuu🤗🥰💪
gmn yaa reaksi Bayu nnnt jika tau siapa Mandala 🤔🤔
duhhh jgn² Bengkel yg Pak Arifal maksud sama dg bengkel nya Keyla dongg...
gmn yaa reaksi Pak Arifal jika tau siapa Mandala 🤔🤔
di tunggu updatenya Author kesayangan kuuu tetap semangat Sayyy quuu 🥰🤗💪
akhirnya Mandala di Terima kerja jadi sopir nya Keyla...
duhhh Keyla ada² saja Mandala tinggal sama Pak Hermawan dekat rumah nya.
gmn klo Bayu dan Sekar tau siapa Mandala?
penasaran....
di tunggu updatenya ya Author kesayangan kuuuu
tetap semangat Sayyy quuu🐱🤗🥰💪
duhh dalam perjalanan, Keyla curhat ke Mandala dong 🤗
waduhhh Mandala mau jadi sopir nya Keyla?? duhh gmn nnt jika Mandala ketemu Bayu Pratama🤔🤔
Keyla chat Mandala dan blg Ayahnya mau ketemu dg Mandala dong...
penasaran gmn nnt nya Mandala ketemu dg Bayu 🤔🤔
di tunggu updatenya ya Author kesayangan kuuu🤗 tetap semangat sayyy quuu🐱🥰💪