Cerita ini adalah fiktif belaka, semua yang terjadi adalah khayalan Author semata, nama pemeran dan lokasi hanyalah sebuah karangan Author.
Utari Candra Kirana bertemu kembali dengan orang yang selama ini dia benci. Selama mereka berpisah tidak pernah lagi mendengar bahkan bertemu dengan laki-laki yang sudah menyakiti hati nya begitu dalam. Disaat hidupnya mulai damai dan bahagia bersama sang putri, tiba-tiba harus berhadapan dengan laki-laki yang sudah menorehkan luka di hati Tari. Sialnya dia harus bertemu sepanjang hari dan berusaha berinteraksi dengan nya walaupun masih ada kebencian yang terpancar dari sorot mata nya.
Reksa Arya Nugraha laki-laki yang sudah menggores luka di hati seorang wanita yang dulu mencintai nya dengan tulus. Karena sebuah ide konyol para sahabatnya, dia melakukan sebuah tindakan yang fatal dan bahkan membuat perempuan itu membencinya.
" Kamu tahu, orang paling aku benci? jawabannya adalah KAMU, REKSA ARYA NUGRAHA !!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puspa Arum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hasil Test DNA
Tari mengeratkan lagi pelukannya di tubuh putrinya. Terlihat sekali seperti orang yang takut kehilangan.
"Bunda jangan nangis, Fia nggak apa-apa kok..om Reksa juga baik sama Fia.." Tari merenggangkan pelukannya dan menatap putrinya.
Tangan bocah itu terlihat menghapus jejak air mata Tari yang mengalir di pipi.
"Bunda cuma takut kalau kamu kenapa-kenapa. Bunda takut kalau kita nggak bisa sama-sama lagi. Bunda tadi jemput Sofia di sekolah tapi Sofia sudah nggak ada, makanya bunda khawatir sama Sofia karena bunda sudah mencari Fia kemana-mana tapi nggak ketemu.."
"Maafin Sofia ya Bun, maaf kalau Sofia nggak ijin bunda dulu mau pergi sama Om Reksa." Tari mengangguk lemah. Dia bahkan teringat akan apa yang dia lakukan pada Reksa di depan banyak pasang mata yang ada di mansion itu.
Tindakan Tari pastinya menimbulkan kesan kasar dan bahkan kurang ajar dan nggak tahu diri tepatnya. Apalagi disana ada kedua orang tua Reksa yang menyaksikan apa yang dia perbuat pada putranya. Tari tahu kalau ini akan menimbulkan banyak pertanyaan untuk kedua orang tua Reksa dan bahkan orang-orang yang melihat kejadian itu. Pastinya orang-orang bertanya-tanya kenapa Tari sampai berani melakukan hal kasar itu pada Reksa yang jelas-jelas tidak seharusnya dia melakukan itu pada majikannya.
Malam semakin larut, tapi Tari belum bisa memejamkan matanya.
Dia teringat obrolan nya dengan putrinya sebelum putrinya itu terlelap.
" Bun, tadi aku pergi sama om Reksa ke Mall. Om Reksa ngajak Sofia main di Timezone. Om Reksa juga ikut main, kata om Reksa dia dulu sering main-main di Timezone sama teman-teman nya. Pokoknya seru main sama om Reksa. Sudah gitu, sebelum pulang kita makan ayam goreng dulu."
"Sofia senang di ajak main sama om Reksa?"
"Seneng banget Bun, coba ayah baiknya sama kayak Om Reksa..pastinya dulu Sofia nggak akan di katakan temen-temen sekolah Sofia."
Ucapan Sofia tentunya membuat hati Tari seperti tergores pisau tajam yang begitu menyakitkan. Anaknya tanpa sadar sudah bersama ayah kandungnya dan anak itu terlihat bahagia. Bahkan saat bercerita soal Reksa ada binar kebahagiaan terpancar dari mata Sofia yang polos itu.
"Maafin bunda ya nak, kamu pasti sangat bahagia jika tahu kalau Om Reksa itu papa kamu. Tapi, kenyataan nya papa kamu nggak pernah menginginkan kamu hiks hiks hiks.." Tari mencium kening putrinya yang masih tertidur pulas di samping nya.
Keesokan harinya, seperti pagi-pagi yang sudah-sudah..Tari tetap mempunyai tugas untuk membuat kopi untuk Reksa. Tapi, berbeda dari hari sebelumnya..Tari hari ini hanya membuat kopi untuk Reksa namun bi Marni yang menyuguhkan pada Reksa.
"Kopinya den.." bi Marni menaruh cangkir kopi yang dia bawa.
"Tari mana bi, kok bibi yang buat?"
"Tari ada di belakang den, dia sedang siapkan keperluan Sofia. Kopinya tetap Tari yang buat, bibi cuma antar saja." Reksa yang mendengar penjelasan bi Marni hanya bisa menghela nafas panjang. Ada rasa kecewa karena pagi ini dia tidak bisa melihat perempuan yang sudah membuat dirinya tak bisa tidur semalaman.
"Sudahlah lah Sa, kalau kamu mau bicara sama Tari..kamu bisa bicara nanti. Dia pasti masih marah sama kamu. Asal kamu tahu, Sofia itu adalah separuh nyawanya. Dia hanya punya Sofia. Demi Sofia dia bisa melakukan apapun. Jadi mengerti lah...sabar.." Hanum mencoba untuk memberi pengertian pada putranya untuk lebih sabar menghadapi Tari.
Walaupun ada kekecewaan karena belum bisa bicara berdua dengan Tari, tapi Reksa akan selalu berusaha untuk bisa bicara nanti dengan Tari.
...----------------...
Tok tok tok
Pintu ruangan kerja Reksa di ketuk. Reksa pun langsung memberikan instruksi untuk masuk.
Saat pintu terbuka ternyata Reno yang muncul di balik pintu.
"Tuan, ada dokter Pandu ingin bertemu." mendengar nama Pandu dia baru teringat akan apa yang dia lakukan kemarin.
"Ah..iya, suruh dia masuk.." Reno mengangguk dan kemudian membuka pintu ruangan tersebut untuk memberikan akses masuk Pandu.
"Hallo bro! Sepertinya bos besar kita sedang sibuk sampai-sampai nggak ingat kalau ada orang yang sampe frustasi hubungi dia semalaman."
Pandu masuk ke dalam ruangan kerja Reksa dan sembari menyindir Reksa karena sudah membuat dirinya melakukan perintah laki-laki itu tapi, malah di buat menunggu dan bahkan sampai menghubungi Reksa berkali-kali tapi tidak ada jawaban.
"Sorry, kemarin aku benar-benar nggak bisa. Ada kejadian yang benar-benar buat aku nggak ingat soal test itu. Tapi, semuanya sudah beres kan?"
Tanpa mengatakan apapun, Pandu mengambil sebuah amplop putih yang dia bawa dan menyodorkan nya ke arah Reksa.
"Lo bisa lihat hasilnya. Tapi, lo harus siapkan mental lo ." Reksa mengerutkan keningnya dan kemudian menatap amplop yang dia pegang.
Brak...
Suara pintu terbuka dengan kasar membuat Pandu dan juga Reksa menatap ke arah pintu.
Terlihat empat sahabat Reksa yang lain terlihat masuk ke dalam ruangan itu dengan tatapan khawatir. "Kalian ngapain kesini?"
Jack, Adrian, Yudistira,Doni masuk di susul oleh Reno di belakang mereka.
"Tadi Adrian hubungi Reno nanya schedule Lo, Reno bilang ada Pandu datang ke kantor Lo. Pas Adrian nanya ada keperluan apa Pandu datang, dia juga nggak tahu. Adrian hubungi kami dan akhir memutuskan untuk kesini." Dion menjelaskan kenapa mereka bisa ada di kantor Reksa.
"Lo sakit apa sebenarnya Sa, nggak serius kan Du?"
"Kalian tenanglah, Reksa sehat-sehat saja, cuma Reksa minta bantuan gue buat cek sesuatu." Pandu melirik ke arah Reksa sebegai isyarat.
Para sahabat Reksa pun langsung menatap ke arahnya meminta jawaban dari Reksa langsung.
"Gue..gue minta Pandu buat test DNA." mereka saling pandang mendengar jawaban dari Reksa.
"Tes DNA? tes DNA siapa, Lo?"
Reksa mengangguk.
"Iya, gue lakuin test DNA antara gue sama Sofia, anak Tari." jawaban itu jelas membuat para sahabat Reksa terkejut dan sekaligus bingung.
"Setahu gue emang Tari punya anak karena gue pernah ketemu dia walaupun nggak ngobrol lama. Bukannya anak itu anaknya Tari sama mantan suami nya? Kenapa jadi lo yang test DNA sama anaknya Tari?" Reksa menarik nafas panjang.
"Orang suruhan gue bilang kalau pernikahan Tari baru berjalan 5 tahun dan umur anak Tari sudah 10 tahun. Gue sama Tari sudah pernah melakukan nya beberapa kali. Bahkan gue nggak pernah pakai pengaman. Gue cuma takut kalau anak itu anak gue. Di tambah lagi dengan sikap Tari yang menurut gue aneh. Apalagi menyangkut tentang Sofia. Dia seperti menyembunyikan sesuatu. Semalam, dia bahkan tam*ar gue waktu tahu gue bawa Sofia dari sekolahnya. Emang sih, itu salah gue juga karena nggak ijin ke dia. Tapi, dari tatapan dia gue lihat dia dendam banget sama gue."
Semua orang yang ada di ruangan itu pun kembali ngobrol dan dari mereka pun memberi masukan pada Reksa jika memang benar Sofia anaknya.
Ketakutan Reksa kini bertambah karena jika memang benar adanya Sofia anak biologis nya, dia pastinya menyesal karena sudah menelantarkan darah dagingnya selama ini.
Bersambung
semangat terus berkarya...
sampai jumpa di BRYFIA
hari gini wehhh kalau penipuan baru lah