"Rin mau kemana? kenapa diam-diam membawa koper begitu?" Tanya Aga merasa curiga pada istrinya, mendadak istrinya pamit pergi, padahal dia baru saja pulang dari pasar. Arin diam saja dan tetap memasukkan kopernya ke dalam bagasi mobil. "Rin aku nanya sama kamu? Kalau mau pergi, aku antar" "Tidak perlu mas, di dalam masih ada tamu" "Tamu Istimewa" Imbuh Arin dalam hati. Arin menyerah. Sejak kecil dia sudah mengabdi di keluarga suaminya karena mereka telah di jodohkan sejak kecil. Arin kira pengorbanan dan kesabarannya akan membuat suaminya luluh, namun dia salah. Suaminya bahkan membawa wanita idamannya ke dalam rumah. Arin sudah tidak tahu apa yang ingin dia pertahankan di rumah ini, bahkan setelah satu tahun menikah, tak sekalipun dia di sentuh. "Tunggu aku sebentar, keluarkan kopermu. Masukkan ke mobil ku, aku akan mengantarmu" Pinta Aga, namun Arin sudah mati rasa, dia langsung meminta supir melajukan mobilnya.Arin tak memperdulikan Aga yang berteriak sambil berlari mengejarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ibah Ibah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
11
"Mbak Arin kenapa?"
Sita salah satu karyawan toko yang dekat dengan ku mendekat saat aku nampak lemah hari ini.
"Hanya kurang tidur saja Sita"
"Mau jalan-jalan? Sejak mbak menikah dengan Mas Aga, mbak tidak pernah keluar sama sekali, mbak terlihat selalu murung. Kita jalan-jalan ya? Biar mbak Arin lebih ceria"
Aku senang karena ada yang peduli dengan keadaan ku saat ini, Sita memang sudah menjadi karyawan ku semenjak tiga tahun yang lalu, beberapa bulan ini setelah aku menikah dengan Mas Aga, aku memang lebih terlihat murung. Dia sangat perhatian sekali, mungkin karena aku juga selalu memperhatikan dirinya.
"Ayo mbak, biar nana yang nunggu tokonya, hari ini toko tidak begitu banyak pesanan"
"Baiklah, aku izin ibu dulu"
Aku mengirim pesan ke Ibu jika aku akan ke luar sebentar. Tak lupa aku mengingatkan dia agar tidak lupa makan, Ibu punya riwayat asam lambung, jadi dia harus makan dengan teratur.
Setelah ibu membalas, aku langsung pergi dengan Sita, dia mengajakku ke Dufan.
"Ayo mbak, kita naik ke semua Wahana yang ada di sini" Teriak Sita.
Aku awalnya tidak begitu bersemangat, kejadian semalam masih menghantuiku, namun setelah Sita mengajakku naik Rollercoaster halilintar, aku berteriak sekencang mungkin, aku luapkan segala amarah ku di sini. Luka,lara dan nelangsa ku seakan hilang. Aku mulai menikmati wahaha-wahana yang ada di sini.
Hingga kami lupa waktu, Aku juga melupakan sesuatu, sejak tadi yang membeli tiket untuk masuk ke semua wahana adalah Sita. Aku terlalu senang dan bersemangat, hingga lupa jika mana mungkin Sita ada Uang untuk mengajak ku naik ke semua area yang ada di sini. Dia bahkan mentraktir ku berbagai jenis makanan kesukaan ku.
"Kamu berkirim pesan dengan siapa?" Tanya ku pada Sita. Dia gelagapan. Aku mengajaknya duduk di sebuah kursi.
"Dengan teman mbak"
"Boleh aku bertanya Sita?"
"Boleh"
"Kamu dapat uang dari mana? Bukankah ayah kamu sakit? Kamu selalu memakai uang gaji kamu untuk keluarga. Maaf aku lupa akan ini, besok akan aku transfer uang hari ini ke kamu"
Sita nampak kebingungan dan merasa canggung sekarang, ada ya aneh dari gelagatnya.
"Tidak perlu mbak, sebenarnya....."
Aku mendengarkan semua yang di ceritakan Sita, mulai dari toko yang sepi sampai dari mana dia dapat uang untuk mentraktir ku, dia juga bilang kalau ada seseorang yang memberikan pengobatan gratis untuk ayahnya hingga sembuh.Ternyata ada seorang lelaki yang menyuruhnya mengajak ku ke luar, Lelaki itu memberi tahu Sita apa saja makanan ke sukaan ku. Dia bahkan yang meminta kami ke sini.
Aku terpaku saat mendengar semua cerita Sita, aku menunduk. Mungkin aku sudah salah sangka dengan dia, Sita bahkan mengatakan padaku kalau dia harus merahasiakan semua ini dari ku.
"Apa kamu tahu dia sekarang di mana?"
"Tidak mbak, dia hanya mengirimi Sita pesan, Lelaki itu kayaknya sangat suka dengan mbak Arin"
"Aku juga tidak tahu Sita, tapi aku ingin menemuinya"
Aku menjadi lemah karena perhatian Dewa, kenapa dia melakukan semua ini? Ini membuat ku ingin sekali pergi dari neraka rumah tangga ku. Aku mendadak menangis, Sita memelukku, aku menumpahkan semua keluh kesah ku padanya.
Sita begitu syok saat mendengarkan apa saja yang pernah ku alami dengan Mas Aga.
"Pantas saja mbak berubah setelah menikah"
"Aku tidak tahu harus bagaimana Sita, aku dilema, Ibu sangat baik padaku, tidak mungkin aku mengatakan semua keburukan tentang putranya, tapi aku tidak bisa selamanya begini Ta, aku lelah"
Sita kembali memelukku, dan memintaku untuk tabah, semua pasti berlalu.
Aku merasa lega akhirnya aku bisa menceritakan semua masalah ku ke seseorang. Aku meminta Sita agar tidak bilang semua ini ke Ibu apalagi pada Dewa, aku cukup lega karena bisa membagi semua resah ku ini.
"Sita tidak akan mengatakan apapun mbak, mulai sekarang, jika ada apa-apa cerita saja ke Sita"
Aku mengangguk, ku lihat jam di tangan, hari mulai gelap, kami harus segera pulang. Namun seseorang menghampiri kami.
"Kamu kenapa Rin?"
Aku terkejut melihat Dewa tiba-tiba muncul, apa dia sejak tadi mengikuti kami?
"Aku tidak apa-apa. Kenapa kamu ada di sini?" Tanyaku pura-pura tidak tahu, aku yakin sekali pasti dia dari tadi mengawasi kami.
"Aku....Aku bersama keponakan, tidak sengaja tadi lihat kamu menangis, kamu baik-baik saja?"
Aku mengagguk, andai saja aku bisa, aku ingin sekali berlari ke arahnya, dia seperti pahlawan yang datang di saat aku terluka parah. Namun aku meyakinkan diri kalau kami tidak mungkin bisa bersama. Ada Ibu Tina yang harus aku jaga hatinya.
"Aku baik-baik saja, Aku harus pergi. Sudah sore. Kami duluan ya?"
Aku segera pergi dari sana, aku tidak mau hatiku lemah karena Dewa.
Begitu naik taksi, Sita langsung bertanya padaku.
"Kenapa mbak tidak bercerai saja dengan Mas Aga? Mas Dewa sangat mencintai Mbak Arin"
Aku juga pernah berpikir seperti itu, tapi bagaimana dengan Ibu nanti? Aku tidak mungkin menyakiti hatinya, biarlah aku hadapi semua ini hingga titik terakhir kesabaran Ku.
"Aku tidak bisa menyakiti Ibu ta, dia adalah malaikat penolong ku"
"Tapi mbak berhak bahagia"
"Aku akan berusaha mendapatkan kebahagiaan itu dari Mas Aga"
Aku mengatakan itu dengan tidak yakin, apa aku bisa? Semoga saja.
*****
Tepat setelah adzan Maghrib, kami sampai di toko. Aku dan Sita sholat berjamaah, setelah itu baru aku pulang.
"Assalamualaikum"
"Wa'alaikum salam...Wah ingat pulang juga kamu? Kamu tahu sekarang sudah malam?"
Mas Aga nampak marah, aku menunduk dengan perasaan takut, tubuh ku bergetar mendengar sindirannya.
"Saya sudah izin ibu mas"
Aku tidak mungkin mengatakan kalau aku baru saja dari Dufan, mas Aga bisa makin marah padaku.
"Kamu keluyuran, sedangkan ini kelaparan di sini, Asam lambung ibu sampai kambuh. Aku heran kenapa Ibu sangat suka dengan kamu"
Tahukah dia jika aku melakukan ini juga karena ulahnya? Aku tidak mungkin pergi lama jika dia tidak membuat hatiku terluka Karana penolakan nya.
"Maaf mas"
"Memang maaf bisa membuat ibu sembuh!"
Aku segera masuk ke kamar ibu, Mas Aga mengikuti ku dari belakang. Aku tahu dia kesal dan ingin memarahi ku, tapi keseharian ibu lebih penting.
"Ibu kenapa tidak makan? Bukannya Arin sudah bilang kalau jangan sampai telat makannya?"
Aku mengambil minyak kayu putih dan mengelus perut ibu pelan.
"Masakan kamu habis Rin, tadi siang ada teman ibu bertamu, Ibu sudah minta Nana memesankan makanan, tapi Ibu tidak suka. Ibu, rasanya enggak enak, Ibu suka masakan kamu"
"Kalau begitu Arin masakin sebentar ya Bu, ibu minum air hangat dulu agar perutnya tidak terlalu sakit"
Aku mengambilkan air hangat dari nakas, aku memang selalu menyediakan air hangat di termos ini untuk ibu.
Begitu ibu minum, aku langsung izin ke belakang.
"Jangan marahin Arin nak, dia tidak salah. Ibu saja yang tidak makan masakan selain masakannya"
Ku dengar Ibu mengatakan itu pada Mas Aga saat aku masih di ambang pintu.
Aku tersenyum, ibu selalu membelaku. Segera aku ke dapur, membuatkan bubur untuk ibu dan juga nasi goreng untuk Mas Aga. Meski dia tidak meminta, aku tahu dia juga sangat lapar.
ku kirim ☕☕ biar semangat...
krna slm ini aga brusaha keras untuk mmbuat arin prgi dri hidupnya... krna arin istri yg sangat" dia benci...