Bagi publik, Arka Dirgantara adalah pengusaha sukses berselimut gosip miring, mulai dari disfungsi ereksi hingga rumor menyukai sesama jenis. Tak ada yang tahu rahasia terbesarnya, ditinggal kabur mantan istri di malam pengantin membuatnya trauma dan masih perjaka.
Terdesak ancaman dicoret dari warisan dan runtuhnya investasi, Arka nekat mengajak Naya Kirana, gadis ceria yang butuh uang pengobatan ibunya, untuk menjalani pernikahan kontrak satu tahun. Aturannya tegas, pura-pura mesra di depan media, tapi dilarang saling sentuh di rumah.
Namun, hidup seatap dengan Naya yang blak-blakan perlahan meruntuhkan dinding kaku Arka. Ketika sang mantan istri kembali untuk membongkar rahasia kelamnya, akankah sandiwara konyol ini hancur, atau justru berubah jadi cinta sejati yang menyembuhkan trauma masa lalu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fhatt Trah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
4. Topeng dan Perangkap
Langkah kaki Naya terasa makin berat setiap kali mendekati ruang makan privat di lantai teratas Hotel Dirgantara Palace. Udara di lorong ini terasa begitu dingin, berbau harum bunga lili segar dan kayu cendana mahal. Di sampingnya, Arka berjalan dengan langkah tegap, memancarkan aura ketenangan yang sepenuhnya buatan.
“Inget naskahnya?” suara Arka memecah hening, amat pelan hingga hanya Naya yang bisa mendengar.
“Iya, Mas. Lulusan manajemen seni, pernah tinggal di Yogyakarta, bertemu Mas Arka saat pameran lukisan tahun lalu,” jawab Naya, mengulang hafalan yang terus ia sebut dalam hati sepanjang perjalanan.
Arka tak membalas. Tanpa peringatan, ia merengkuh jemari Naya, menyatukan jemarinya di antara jemari perempuan itu.
Naya tersentak kecil, refleks ingin menarik tangan, namun cengkeraman Arka mengencang, cukup kuat untuk memberi peringatan dan cukup lembut untuk terlihat mesra dari luar.
Pintu ganda berbahan jati ukir di hadapan mereka dibuka oleh dua pelayan berseragam.
Ruangan di dalamnya luar biasa megah. Di ujung meja makan panjang berbahan marmer, tiga orang sudah duduk menanti. Seorang pria paruh baya berwajah tegas yang mirip dengan Arka, seorang wanita anggun bergaun brokat dengan tatapan menelisik, dan seorang wanita tua bersanggul rapi yang duduk di kursi roda berukir emas.
Nenek Dirgantara. Oma Soraya.
“Selamat siang, Papi, Mami... Oma,” sapa Arka hangat. Suaranya berubah seketika. Rendah, ramah, dan penuh penghormatan. Sangat berbeda dari nada dingin yang ia gunakan beberapa menit lalu.
Oma Soraya tidak langsung menjawab. Mata senjanya yang tajam menatap lurus ke arah Naya, menyapu dari tatanan rambut, gaun sutra krem, hingga jemari mereka yang saling bertautan.
“Jadi ini wanita yang membuatmu menyembunyikannya selama setahun, Arka?” suara Oma Soraya terdengar serak namun berwibawa.
“Iya, Oma. Ini Naya,” Arka menarik Naya sedikit maju, lalu mengecup pelipis Naya dengan sangat alami.
Naya menahan napas, menahan kejut yang menjalar hingga ke ujung kaki.
“Naya sengaja tidak ingin terekspos media sebelum hubungan kami benar-benar siap ke jenjang pernikahan,” imbuh Arka.
Ibu Arka, Ibu Marisa, menyesap tehnya sebelum meletakkan cangkir porselen itu dengan dentang halus. “Manajemen seni? Tapi Mami tidak pernah mendengar namamu di kalangan galeri Jakarta, Naya.”
Jantung Naya berdegup kencang. Ini pertanyaan jebakan pertama.
Ia mengingat arahan dalam naskah, mengatur napas, lalu memasang senyum setenang mungkin.
“Saya lebih banyak beroperasi di belakang layar untuk pameran independen di daerah, Tante... maaf, Mami. Saya kurang menyukai publikasi besar-besaran.”
“Panggil Mami kalau nanti sudah sah,” potong Ibu Marisa dingin, tampak belum sepenuhnya yakin.
“Marisa, jaga sikapmu,” sapa sang Ayah, Pak Irwan, dengan nada datar namun menyetop skeptisisme istrinya. Ia memandang Naya dengan ekspresi netral.
"Yang penting Arka sudah menentukan pilihan. Lagi pula, kondisi kesehatan Oma membaik setelah mendengar kabar pernikahan ini,” tambahnya.
“Mendekatlah kemari, Nak,” panggil Oma Soraya tiba-tiba, mengabaikan percakapan anak dan menantunya.
Naya melirik Arka sejenak. Arka memberikan anggukan kecil yang hampir tak terlihat. Naya melepaskan genggaman tangan Arka dan melangkah mendekati kursi roda Oma Soraya.
Oma Soraya meraih tangan kanan Naya. Tangan tua itu terasa hangat dan sedikit gemetar, namun genggamannya mantap. Ia mengelus jemari Naya yang terbalut perban kecil, lalu menatap cincin berlian yang melingkar di jari manisnya.
“Tanganmu halus, tapi ada bekas kerja keras di sini,” gumam Oma Soraya pelan, matanya menatap dalam ke mata Naya.
“Mata seorang pembohong biasanya gelisah, tapi matamu... matamu penuh beban.”
Naya membeku. Tenggorokannya terasa tercekat. Apakah penyamarannya terbongkar dalam hitungan menit?
Arka ikut melangkah maju, siap menyela. “Oma—”
“Diam kamu, Arka,” potong Oma Soraya tanpa menoleh. Ia tetap menatap Naya.
“Jawab jujur, Naya. Apakah kamu mencintai cucuku yang kaku dan tidak punya perasaan ini? Atau kamu hanya terpaksa berdiri di sini?”
Atmosfer di ruangan itu mendadak menjadi begitu pekat. Pak Irwan dan Ibu Marisa menghentikan gerakan mereka, menunggu jawaban.
Arka berdiri kaku di samping Naya, rahangnya mengetat tajam.
Naya tahu, satu kata yang salah akan menghancurkan segalanya. Dua miliar untuk operasi ibunya akan melayang, dan perjanjian ini akan batal.
Namun, jika ia terlalu banyak berbohong dengan nada manis yang buatan, Oma Soraya pasti akan menyadarinya.
Naya menarik napas dalam-dalam, membiarkan kejujuran yang pahit menyelip di antara kebohongan yang harus ia tutupi.
“Saya...” Naya menatap Oma Soraya lurus, suaranya bergetar tipis namun terdengar jujur.
“Mas Arka memang dingin dan tegas, Oma. Tapi di saat hidup saya berada di titik tergelap... dia adalah satu-satunya orang yang mengulurkan tangan dan menyelamatkan hal paling berharga dalam hidup saya. Untuk itu, saya bersedia berdiri di sisinya, apa pun risikonya.”
Ruangan itu hening selama beberapa detik yang terasa seperti keabadian.
Oma Soraya mengamati wajah Naya lama sekali. Perlahan, kerutan tegas di wajah tua itu mengendur. Sebuah senyum tipis terukir di bibirnya.
“Jawaban yang bagus,” bisik Oma Soraya. Ia menepuk pelan punggung tangan Naya.
“Kamu tidak menyanjungnya setinggi langit seperti wanita-wanita lain. Kamu melihatnya apa adanya.”
Oma Soraya kemudian menoleh ke arah Arka. “Bawa dia duduk, Arka. Pernikahan kalian akan diadakan minggu depan. Tidak ada penundaan.”
Arka mengembuskan napas pelan yang tak terdengar, lalu merangkul pinggang Naya untuk membimbingnya duduk di kursi sebelah. Saat jemari Arka menyentuh pinggangnya, Naya bisa merasakan ketegangan di tubuh pria itu perlahan memudar.
Di bawah meja makan yang tertutup kain renda putih tebal, Arka menggenggam tangan Naya sekali lagi. Kali ini, cengkeramannya tidak lagi menekannya, melainkan sebuah pengakuan atas kerja samanya yang luar biasa.
Namun, permainan baru saja dimulai. Dari balik kaca ruang makan, Doni tampak berjalan terburu-buru menghampiri mereka dengan wajah pucat, memegang sebuah ponsel yang terus menyala.
Ada masalah baru yang menanti.
Arka sedang memotong daging steaknya ketika Doni melangkah masuk. Gerakan asisten pribadinya itu dibuat sesenyap mungkin, hampir tak bersuara di atas karpet tebal ruangan.
Doni melintas di belakang kursi Arka, miring sedikit, lalu menyodorkan ponsel lipatnya yang menampilkan baris notifikasi terenkripsi.
Doni membungkuk amat rendah, suaranya pelan setengah berbisik tapi nadanya tetap santai.
“Ka, bahaya, nih. Ada yang mau maenin lu,” bisik Doni cepet. “Media gosip gede baru dapet kiriman foto Naya di rumah sakit. Ada yang nyoba ngegoreng isu kalo Naya tuh cewek sewaan yang sengaja lu hire buat cover RUPS minggu depan.”
Jari-jari Arka yang memegang pisau pemotong berhenti seketika. Tekanan pada daging marmer itu meningkat, tapi mukanya tetap lempeng, sama sekali tidak menunjukkan gejolak.
Doni menambahkan bisikannya tanpa mengubah posisi, memastikan Pak Irwan dan Ibu Marisa tidak menangkap gestur mencurigakan.
“Gua udah suruh anak-anak IT nge-hack server mereka biar terbitnya tertahan dua jam. Tapi nih foto bocornya dari internal rumah sakit, Ka. Kayaknya ada yang emang sengaja masang jebakan betmen buat ngerontokin posisi lu.”
Arka menghela napas pelan. Doni bukan sekadar asisten. Dia yang memegang semua rahasia, dari draft kontrak dua miliar Naya sampai tunggakan RS ibunya. Kalau isu ini terungkap di depan keluarga, habis sudah riwayat Arka.
“Beresin. Gak pake ribet,” bisik Arka dingin, hampir tidak menggerakkan bibir.
“Pake jalur belakang. Beli tuh semua hak cipta fotonya, ganti narasinya sebelum up.”
“Aman, udah on process,” bales Doni.
Arka memberikan anggukan tipis, hampir tak terlihat.
Doni langsung menegakkan badan, memasang senyum formal nan sopan ke arah meja makan, lalu mundur perlahan.
“Ada masalah pekerjaan yang mendesak, Arka?” suara tegas Pak Irwan memecah keheningan. Pria paruh baya itu meletakkan garpunya, menatap Arka dan Doni bergantian.
Arka menyapu bibirnya dengan serbet kain sebelum menjawab santai. “Bukan masalah besar, Papi. Cuma urusan kecil di kantor cabang yang udah diberesin Doni.”
Ibu Marisa menyesap anggur merahnya, memandang Naya yang duduk kaku di samping Arka. “Awas saja kalau urusan pekerjaanmu itu sampai mengganggu jadwal fitting baju pengantin minggu ini, Arka. Mami tidak mau ada cela sedikit pun.”
–tbc–
lanjut
buat arka jatuh cinta ke naya ya kak... dan naya makin jaga jarak dan sadar diri dgn pernikahan kontraknya
lanjut kak