Sepuluh tahun pernikahan, tujuh tahun penantian panjang yang diwarnai doa dan air mata, hingga akhirnya Aira lahir sebagai keajaiban pertama bagi pasangan Nala (30 tahun) dan Arka (33 tahun).
Arka, seorang Lead Structural Engineer yang tegas, kaku, dan biasa menaklukkan proyek-proyek raksasa di lautan lepas, harus merelakan seluruh gengsinya runtuh tanpa sisa saat melangkah pulang. Kepulangannya ke rumah justru disambut kepolosan Aira (3 tahun) yang cadel dan dengan polosnya memanggil sang ayah "Om asing yang keluar dari HP".
Di saat Arka sibuk meluluhkan hati putri kecilnya dan memanjakan Nala setelah bertahun-tahun terpisah jarak, kebahagiaan mereka kembali diuji dengan kejutan indah: kehadiran calon bayi kedua mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon odee_eeeee15, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
2
,
Aroma parfum dan jejak debu perjalanan jauh masih menempel jelas di jaket tebal yang dikenakan Arka.
Namun, rasa hangat dari pelukan Nala dan lingkar lengan mungil Aira di lehernya seolah meluruhkan seluruh lelah yang menumpuk di pundaknya selama puluhan jam penerbangan.
Setelah beberapa saat saling melepas rindu di depan pintu utama, Nala perlahan melepaskan pelukannya. Ia menatap wajah suaminya yang tampak kelesuan, dengan lingkaran hitam tipis di bawah matanya.
"Mas Arka mandi dan ganti baju dulu, ya. Biar badannya segar," ujar Nala lembut sembari mengelus lengan kokoh suaminya. "Setelah itu langsung turun makan, aku sama Aira tunggu di meja makan."
Arka mengusap wajahnya, lalu mengangguk pelan. Pria berusia 33 tahun itu menatap istrinya dengan tatapan lembut yang jarang ia perlihatkan pada orang lain. "Terima kasih, Nala."
Ia melangkah menuju kamar tidur utama di lantai atas, membawa kopernya. Langkah kaki Arka terasa sedikit berat.
Sebagai seorang Lead Structural Engineer di proyek fasilitas minyak dan gas lepas pantai—offshore platform—kehidupannya selama bertahun-tahun diisi oleh kaku dan dinginnya dinding besi kontainer mes pekerja.
Pekerjaannya menuntut tanggung jawab besar atas keselamatan ribuan nyawa di tengah Samudra Hindia. Tak heran jika ia sangat jarang bisa pulang, bahkan saat Aira lahir tiga tahun lalu.
Usai membersihkan diri di kamar mandi dan mengenakan kaos rumahan santai, Arka turun menuju area ruang makan.
Di sana, Nala sudah menata semangkuk sup ayam hangat, nasi, dan lauk pauk. Di atas kursi makan khusus balita, Aira sudah duduk manis dengan apron kain bergambar kelinci melingkar di lehernya. Tangannya memegang sendok plastik kecil sembari menggoyangkan kakinya yang tak sampai ke lantai.
"Omg Gepeng udah mandi!" seru Aira polos begitu melihat Arka berjalan mendekat.
Arka menarik napas panjang, lalu terkekeh rendah. Pria tegap itu duduk di kursi tepat di samping Aira. "Paa-paa, (Aira). Panggil Papa, Sayang. Jangan dipanggil Om lagi."
Aira memiringkan kepalanya, menatap Arka dengan mata bulatnya yang berkedip-kedip. "Papa udah ndak bau seling (sering) kena angin laut?"
Nala yang sedang menuangkan air putih untuk Arka langsung tertawa kecil. "Aira ingat aja dongeng Mama tentang Papa yang kerja di laut lepas."
Arka tersenyum tipis, matanya berkaca-kaca menatap putri kecilnya. Tangannya yang besar bergerak pelan mengusap lembut kepala Aira. "Iya, Papa sudah mandi bersih. Sekarang Papa mau makan sup sama (Aira)."
Mereka bertiga menyantap makan malam dalam suasana yang begitu hangat. Bagi Arka, yang bertahun-tahun terbiasa dengan makanan katering mes proyek yang hambar dan kaku, masakan Nala serta celotehan polos Aira di meja makan adalah kebahagiaan tiada tanding.
Nala sendiri tersenyum haru memperhatikan suaminya. Di luar sana, Nala tahu Arka adalah bos kaku yang membawahi ratusan pekerja proyek, tapi di meja makan ini, Arka hanyalah seorang ayah yang sabar menyuapi putrinya.
Selain mengurus rumah tangga, Nala sendiri mengelola toko bakery miliknya yang sudah memiliki beberapa karyawan, sehingga kepulangan Arka membuat kehidupan keluarga mereka terasa makin lengkap dan seimbang.
" aila (Aira) mau makan woytel (wortel) yang besay (besar)! Disuapin Papa!" pintanya penuh semangat.
"Iya, ini wortelnya. Buka mulutnya, Aila (Aira)," sahut Arka telaten menyuapkan potongan wortel kecil ke mulut putrinya.
Selesai makan malam dan merapikan meja bersama, Arka menggendong Aira menuju kamar tidur utama di lantai atas, diikuti Nala dari belakang.
Begitu sampai di kamar, Aira langsung merangkak naik ke atas kasur empuk berukuran besar. Balita itu mengambil sebuah buku cerita bergambar tebal dari meja nakas, lalu menyodorkannya pada Arka dengan mata bulatnya yang berbinar.
"Papa bacain dongeng kelinsi (kelinci) terbang biay (biar) Aila (Aira) bisa bubuk (tidur)!" pinta Aira sembari merebahkan tubuh mungilnya di tengah-tengah tempat tidur.
Arka menerima buku cerita bergambar warna-warni itu. Tangannya yang biasa memegang gulungan kertas cetak biru dan kalkulator teknik kini terasa sedikit canggung memegang buku cerita anak-anak.
Pria tegap itu mendaratkan tubuhnya di samping Aira, sementara Nala ikut berbaring di sisi lainnya.
"Ehem... Pada suatu hari, di sebuah hutan yang hijau, ada seekor kelinci kecil bernama Pipi..." Arka mulai membaca dengan suara beratnya yang diusahakan selembut mungkin.
Aira mendengarkan dengan khusyuk, matanya menatap wajah tegas papanya dari samping. "Kelinsinya (Kelincinya) bisa terbang pakai apa, Papa?"
"Pakai sayap ajaib pemberian peri hutan," jawab Arka pelan, mengusap lembut dahi putrinya. "Kelinci Pipi terbang tinggi menyeberangi lautan untuk menemui keluarganya di rumah."
"Sama kaya Papa?" cicit Aira polos. "Papa terbang naik pesawat menyebeyang (menyeberang) laut buat ketemu Aila (Aira) dan Mama?"
Dada Arka berdesir hangat. Ia meletakkan buku dongeng itu di atas kasur, lalu miring menatap Aira. "Iya, Sayang. Sama seperti Papa. Sejauh apa pun Papa pergi, Papa pasti selalu pulang untuk Aila (Aira) dan Mama."
Aira tersenyum manis, menguap pelan karena matanya mulai terasa berat. Lengan mungilnya terulur melingkari lengan kekar Arka, memeluknya erat-erat seolah takut papanya akan menghilang lagi.
Nala tersenyum haru memperhatikan interaksi manis di hadapannya. Sepuluh tahun pernikahan mereka, tujuh tahun masa penantian panjang penuh doa yang melelahkan, dan tiga tahun terpisah jarak, semuanya terbayar lunas malam ini.
Tak butuh waktu lama, napas Aira perlahan mulai teratur dan terlelap lelap dalam dekapan Arka.
"Mas Arka enggak capek?" bisik Nala pelan dari sisi lain tempat tidur, takut membangunkan Aira.
Arka mendongak, menatap istrinya dengan senyuman hangat. Tangannya yang satu lagi terulur melewati tubuh Aira untuk mengusap pipi Nala. "Rasa capeknya hilang semua begitu melihat kamu dan Aira. Maaf ya, Nala... selama sepuluh tahun ini kamu harus banyak bersabar mengurus rumah dan toko sendirian."
Nala menggeleng pelan, menggenggam jemari Arka yang terasa hangat. "Aku bahagia, Mas. Yang penting Mas Arka sudah pulang untuk kita."
Arka mendekati nala lalu mengecup dengan penuh kasih sayang, lalu beralih mengecup puncak kepala Aira yang sudah tertidur lelap. Di kamar yang tenang itu, diiringi hembusan napas teratur sang putri, Arka tahu bahwa sejauh apa pun ia pergi menaklukkan samudra, rumah sebenarnya adalah mendekap kedua malaikat kecilnya ini.
sekarang mama Nala ,juga ikut dramatis
mau di bilang benar tapi nggak benar juga