Selama 18 tahun, Bai Chen hidup sebagai anak selir yang tidak dianggap di faksi kecil Benua Barat. Ia disiksa, dihina, dan jalur Dao-nya dihancurkan oleh klannya sendiri tanpa ampun, membuatnya dianggap sebagai sampah abadi.
Tepat di hari ulang tahunnya yang ke-18, saat ia terbaring sekarat di ruang bawah tanah yang dingin, sebuah suara mekanik dingin berdering di kepalanya:
[Sistem Penguasa Dao Diaktifkan. Memperbaiki jalur Dao yang hancur. Sinkronisasi dimulai...]
Dalam sekejap, hambatan tubuhnya musnah. Dari titik terendah sebagai manusia fana, ia melompat langsung ke Ranah Void Dao!
Menggabungkan logika sains modern dan kekuatan sistem absolut, Bai Chen menembus batasan dunia kultivasi yang kolot. Ia membumihanguskan para musuh yang merendahkannya, mengguncang 5 Klan Kuno di Benua Tengah, hingga berdiri di puncak pertempuran kosmik yang membelah dunia demi menjadi Kaisar Surgawi mutlak yang tak tertandingi!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon OhMyZy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menginjakkan Kaki di Tanah Suci dan Gerbang Menuju Klan Kuno
Setelah melewati gerbang perbatasan yang dijaga ketat oleh pasukan elit berzirah emas, Bai Chen melanjutkan perjalanannya menyusuri jalur setapak spiritual yang terbuat dari giok putih murni. Jalur panjang itu membelah hutan purba yang dipenuhi oleh pohon-pohon raksasa berumur puluhan ribu tahun. Setiap helaan angin di dataran ini membawa butiran-butiran energi spiritual yang begitu pekat, jauh melampaui tingkat kemurnian di keempat benua luar tempat Bai Chen menempa dirinya selama ini.
Bagi kultivator biasa dari benua pinggiran, berdiri di tanah suci Benua Tengah saja sudah merupakan sebuah berkah besar yang mampu melipatgandakan kecepatan kultivasi mereka dalam hitungan hari. Namun, bagi Bai Chen yang kini telah menginjakkan kaki di Ranah Dao Surgawi, lingkungan tersebut terasa seperti lautan energi yang sangat luas namun tetap berada di bawah kendali telapak tangannya.
[Ding! Peringatan Sistem: Inang telah memasuki wilayah inti teritorial 5 Klan Kuno]
[Misi Eksplorasi Lanjutan Aktif: Menuju ke Kota Pusat Benua Tengah dan mengamankan tempat tinggal sementara menjelang pembukaan Turnamen Antar-Genius.]
Sistem di dalam kepalanya berkedip pelan, menampilkan peta spasial tiga dimensi dari seluruh struktur geografis Benua Tengah. Berdasarkan informasi tersebut, Kota Pusat adalah titik temu utama di mana para jenius dari lima klan agung—Klan Zhang, Klan Lei, Klan Yan, Klan Gu, dan Klan Shi—berkumpul sebelum babak penyisihan turnamen resmi dimulai.
Setelah berjalan beberapa mil menyusuri lembah, pemandangan di hadapannya mulai terbuka lebar. Sebuah kota metropolitan raksasa yang dikelilingi oleh dinding benteng kristal hitam menjulang megah di cakrawala. Arsitektur bangunan di dalam kota tersebut memadukan kemewahan batu mulia dan formasi阵法 (pola susunan formasi) kuno yang memancarkan pendaran cahaya pelindung berwarna-warni di langit.
Itulah Kota Pusat Benua Tengah—jantung peradaban kultivasi tertinggi di seluruh dunia.
Saat Bai Chen melangkah mendekati gerbang utama Kota Pusat, suasana di sekitar gerbang tampak sangat sibuk dan riuh rendah. Ratusan kultivator muda berbakat dari berbagai faksi besar dan faksi cabang tampak berbaris tertib untuk menunjukkan lencana atau undangan mereka kepada para pengawas kota.
Sebagian besar dari para pemuda itu mengenakan jubah mewah berlambang klan masing-masing. Aura yang mereka pancarkan berada di kisaran ranah Nascent Dao hingga Void Dao tingkat menengah. Dengan pencapaian semacam itu di usia muda, mereka tentu saja memelihara rasa percaya diri yang tinggi, bahkan cenderung arogan ketika memandang rendah orang-orang di sekitar mereka.
Ketika Bai Chen berjalan melewati antrean dengan mengenakan jubah putih sederhana tanpa lambang faksi dari benua luar, kehadirannya langsung menarik perhatian beberapa pemuda sombong dari klan cabang.
"Hei, lihat pemuda itu," bisik seorang kultivator muda berjubah ungu dari faksi cabang Klan Lei kepada rekan-rekannya dengan nada mengejek. "Pakaiannya begitu polos tanpa lencana faksi besar. Dari mana asal sampah pinggiran ini? Apakah dia tidak tahu bahwa gerbang Kota Pusat bukanlah tempat bagi pengembara miskin untuk mencari perhatian?"
"Hmph, mungkin dia hanya seorang kultivator rendahan dari benua luar yang bermimpi bisa masuk ke dalam stadion turnamen hanya untuk melihat kemegahan para leluhur kita dari kejauhan," timpal pemuda berambut merah dari faksi cabang Klan Yan sambil tersenyum sinis.
Bisikan-bisikan meremehkan itu sengaja dikeraskan agar terdengar oleh Bai Chen. Di dalam dunia kultivasi klan kuno, diskriminasi terhadap orang-orang dari luar Benua Tengah sudah menjadi hal yang mendarah daging selama ribuan tahun. Mereka menganggap diri mereka sebagai keturunan darah suci, sementara orang di luar wilayah tengah hanyalah makhluk kelas dua.
Namun, Bai Chen bahkan tidak menoleh sedikit pun ke arah mereka. Ia berjalan dengan langkah yang sangat tenang, mengabaikan ocehan murahan tersebut seolah-olah ia sedang mendengarkan angin lalu yang lewat di telinganya. Ketidakpedulian mutlak itu justru membuat para pemuda klan cabang merasa tersinggung.
"Bocah sialan! Kau tuli atau bisu saat orang mulia berbicara kepadamu?!" bentak pemuda Klan Lei tadi sambil melangkah maju, menghalangi jalur jalan Bai Chen. Ia mengulurkan tangan kanannya untuk mencengkeram bahu jubah Bai Chen dengan aliran energi petir tingkat Void Dao yang berderak liar.
Para penonton di sekitar gerbang langsung menghentikan langkah mereka, menoleh untuk menyaksikan pertunjukan amatir tersebut dengan senyuman penuh antisipasi.
Namun, sebelum jari pemuda Klan Lei itu menyentuh sehelai pun kain jubah Bai Chen, sebuah gelombang tekanan tak kasat mata dari ranah Dao Surgawi terpancar secara otomatis dari tubuh Bai Chen.
Bum!
Tekanan spasial itu tidak memunculkan ledakan besar, tetapi efeknya bagaikan hantaman gunung batu raksasa. Pemuda Klan Lei yang tadinya berdiri dengan dada membusung seketika merasakan lututnya lemas.
Brug!
Ia berlutut keras di atas lantai batu gerbang Kota Pusat, memuntahkan setetes darah segar dari mulutnya, sementara seluruh aliran energi petir di tubuhnya padam seketika tanpa sisa. Matanya membelalak lebar menatap tanah dengan rasa teror yang luar biasa, tidak mampu mengucapkan sepatah kata pun untuk menjelaskan apa yang baru saja menimpanya.
Rekan-rekannya yang tadinya tertawa sinis langsung tertegun kaku. Bulu kuduk mereka berdiri tegak, menyadari bahwa pemuda berwajah tenang di hadapan mereka bukanlah orang sembarangan, melainkan sosok monster yang jauh melampaui tingkat pemahaman mereka.
Bai Chen melangkah melewati pemuda yang berlutut itu dengan sangat ringan, melintasi gerbang utama, dan resmi menjejakkan kaki di dalam Kota Pusat Benua Tengah untuk bersiap menyongsong badai besar turnamen yang akan segera dimulai!