Arumi Dessfira, selalu merasa aneh dengan tatapan dan juga tingkah laku Bumantara kepada dirinya. Dia sudah dengan berbagai upaya untuk menghindar, dari gangguan dan godaan Bumantara yang terlalu mempesona itu.
Namun, seperti nya Arumi gagal. Dia mulai merasakan getaran didalam hati nya saat bersama dengan Bumantara, jantung yang berdetak berlebihan, pipinya bahkan selalu merona karena salah tingkah.
Bumantara Bwoel, tertarik kepada perempuan yang baru pertama kali ia lihat, ia menyukai semua yang ada didalam diri Arumi. Dan... Masalah umur hanyalah angka untuk Bumantara, ia akan tetap mengejar Arumi sampai ke ujung dunia sekalipun.
Bagaimana cara Arumi menyikapi rasa yang mulai tumbuh kepada muridnya?
Harus kah ia pergi menjauh dari kejaran pesona Bumantara?
Atau justru ia menyambut rasa itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sky00libra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DB—07
Bumantara mengikuti langkah kaki Arumi yang menyusuri jalan setapak kearah parkiran motor. Keramahan yang dilakukan Arumi kepada orang-orang yang dia lewati, membuat Bumantara sampai melipatkan bibirnya, ia sedang menahan senyum nya, supaya para perempuan yang sedang memperhatikan nya tidak berteriak. Karena ia saat ini sedang bekerja sebagai penguntit.
"Bos, ayo nongkrong ke markas! Anak yang lainnya sudah pada datang," seru Axel, yang berjalan dibelakang Bumantara bersama dengan Kenzo.
"Hm, tapi gue ada kerjaan," sahut Bumantara, sambil melihat Arumi yang sudah duduk di atas motornya. Axel dan Kenzo yang paham langsung menoleh kearah tatapan Bumantara.
"Bos Buma, seperti nya motor, Bu Arumi kesulitan keluar," celetuk Kenzo, menunjukkan arah Arumi yang sedang mencoba memindahkan motor di depannya.
"Tolongin, enggak, bos?" tanya Axel, mengerutkan kening.
Bumantara mengangguk. "Hm, biar gue yang keluarkan motor Arumi," jawab Bumantara.
Seakan paham. Axel dan Kenzo bergerak dengan cepat mendekat kearah Arumi yang masih berusaha memindahkan motor di sebelah nya. "Bu Arumi, biar kami berdua yang bantu. Ibu Arumi tinggal menunggu beresnya aja," ucap Axel, tersenyum.
Arumi yang dikejutkan dengan kehadiran kedua pria itu tersenyum senang. "Terimakasih, Axel dan Kenzo," kata Arumi. "Saya rasa, saya enggak salah nama kan?" Arumi terkekeh.
"Tentu benar, Bu guru," sahut Axel, tertawa.
Arumi hendak berbalik kembali kearah motornya. Namun, dia dikejutkan dengan keberadaan Bumantara yang sudah ada di atas motornya. "Bumantara," panggil Arumi, tersenyum, mendekati Bumantara.
"kamu mau bantu ibu, buat keluar kan motornya?" Arumi menunjukkan arah motornya.
"Iya Arumi," jawab Bumantara, menatap manik hitam itu yang terbelalak.
"Bantuan kedua saya, Arumi." Bumantara suka melihat ekspresi itu yang berubah tidak suka, namun tetep berusaha tersenyum, meski di balut dengan ketidaksukaan.
"Saya rasa kamu harus memanggil saya dengan sedikit lebih sopan, Bumantara," kata Arumi, menatap manik abu-abu Bumantara yang terlihat banyak hal yang tersimpan didalam nya.
Bumantara menelengkan kepala nya, sambil membasahi bibirnya. "Ah ... Seperti apa itu? Apakah seperti ... Sayangku, atau ... Baby," sahut Bumantara dengan nada parau nya, menyeringai seakan-akan puas saat melihat wajah cantik itu yang memerah.
"Jangan bercanda, Bumantara." Arumi berdecak kesal. Bumantara tidak mengindahkan padangan nya yang selalu mengarah kearah manik hitam gelap itu, namun menyimpan sejuta pesona.
Hening.
"Oke bos Buma, semua nya sudah beres! Motor ibu Arumi bisa keluar dengan nyaman, tanpa bergesekan dengan motor yang lainnya."
Hingga seruan dari Axel, menyadarkan Bumantara, lalu melihat kedepan nya yang bersih dari motor, kembali melirik Arumi yang menunduk. "Biar saya, yang bantu lewat kan motornya. Dan ... Arumi, apakah boleh saya lewat?"
Arumi yang tersadar karena menghalangi jalan motornya, dengan tergesa-gesa menyingkir. "Ohhh ...." Arumi meringis ketika sikut nya terkena plat motor milik orang lain.
"pelan-pelan, Arumi," tegur Bumantara dengan nada khawatir, ia bahkan sudah ingin turun dari atas motor matic itu. Namun terhenti karena gerakan tangan Arumi yang terangkat.
"Saya baik-baik aja," lirih Arumi, mengusap sikut nya dengan pelan, dia tidak ingin Bumantara mengetahui nya, jika dia sedikit terluka.
Bumantara menatap tangan putih itu, ia tahu jika perempuan itu terluka, namun ia menahan dirinya. Bumantara menyalakan mesin motor Arumi, lalu menjalankan nya, mengeluarkan dari area parkiran. "Terimakasih, Bumantara," kata Arumi, sembari dengan cepat mengambil motor dari tangan Bumantara, setelah dia benar-benar berhasil menduduki jok motornya.
Arumi menengadah menatap Bumantara, mengangguk kecil, lalu menjalankan motornya, tanpa kembali menoleh kearah belakang lagi. Sedangkan Axel dan Kenzo yang melihat kejadian itu, menjadi saling lirik, seakan-akan sedang mengirim telepati apa yang mereka dua pikirkan, lalu terkekeh tanpa suara.
Bumantara melirik kedua laki-laki itu, yang sudah ia tahu pasti sedang mengejeknya, menatap kedua teman nya dengan tajam. "Saya rasa akhir-akhir ini pekerjaan kalian sedang longgar ya," ucap Bumantara dengan nada datarnya.
Axel dan Kenzo yang menyadari cara panggilan Bumantara yang berubah langsung menegang, seakan-akan sudah tidak ada hari yang damai untuk mereka berdua.
Axel berdeham. "Bos, seperti nya kami berdua harus pergi terlebih dahulu. karena Amoy sedang merindukan kami," ujar Axel dengan cepat, lalu bergegas pergi, sambil menarik tangan Kenzo.
"Kenzo ... Cepat! Amoy seperti nya sedang kelaparan!"
Bumantara yang melihat kepergian kedua teman nya, hanya bisa mendengus. "Arumi, kamu milik saya." Bumantara sudah mengklaim perempuan itu — alias Arumi yang sudah menarik perhatian nya, karena ia tidak pernah tertarik kepada perempuan mana pun, dan baru kali ini ia bisa merasakan debaran yang berbeda di dadanya.
Arumi yang cantik. Mata hitam nya yang menarik, bahkan dengan tatapan teduh itu selalu menarik Bumantara yang sudah ia anggap seperti magnet berjalan. Tubuh mungil namun terlihat berisi dimana-mana, juga menjadi daya tarik untuk perempuan itu bisa mengambil perhatian Bumantara.
*****
Di markas. Bumantara sedang menikmati rokok dan kopi pait nya, sembari menatap Axel dan Kenzo yang sedang berenang di kolam renang. Di bawah sana ia bisa melihatnya dari lantai dua, dari kaca-kaca besar yang berada di kamarnya.
Bumantara mengambil ponselnya diatas meja kaca, ia ingin memberikan tugas untuk teman nya yang seorang hacker, ia ingin teman nya mencari data Arumi dan bila perlu menguntit kemana pun setiap pergerakan Arumi berada.
"Bahkan sekali pun kamu mempunyai suami, saya akan tetap merebut kan mu darinya, dan membiarkan kamu meninggal pria yang dekat dengan kamu, Arumi."
Bumantara menghembuskan asap rokok nya ke atas. Suara ketukan di pintu kamar, menyadarkan Bumantara dari lamunannya tentang Arumi. "Masuk!" seru Bumantara dengan nada dalamnya.
"Bos Buma, pak tua itu berhasil kami temukan." Bumantara mengangguk.
"Kerjakan seperti biasa, Rio," perintah Bumantara, mengambil gelas kopinya, lalu kembali meletakan nya ke meja setelah dia menyesap kan nya.
"Baik bos!" seru Rio, yang menunduk kepala nya sebentar, lalu berbalik keluar dari kamar.
"Apa pak tua tukang korupsi itu udah ketemu bos?" tanya Axel, yang juga masuk, sambil menunjukkan arah asisten Rio yang berpapasan dengan nya.
"hm, bagaimana dengan tugas lo, Axel?"
Axel berdecak, lalu menjatuhkan bokongnya ke sofa. "Belum jelas bos. Target masih dalam pantauan," jawab Axel, sembari mengusap rambutnya yang basah dengan handuk.
"Bos Buma, lo ingat enggak, cewek yang bernama, Ratu Keisha? Sekarang dia makin cantik, semenjak menjual diri dengan om-om tua." tanya Axel, tersenyum lebar, seakan-akan memberikan kabar yang terdahsyat untuk Bumantara.
"Lo pikir Bumantara akan perduli gitu sama kabar enggak penting lo itu," sambar Kenzo, yang juga masuk ke kamar Bumantara, berjalan mendekati Axel yang berdecak sebal.
"Setidak nya gue sedang memberi kabar tentang perempuan itu yang pernah bos Buma tolak," kata Axel, mendengus.
Bumantara menyadarkan tubuhnya ke sofa, memejam, ia tidak perduli dengan perdebatan kedua temannya, karena yang hanya ia pikiran adalah tentang Arumi. Hanya Arumi Dessfira.
Bersambung....