Sepuluh tahun yang lalu, sebuah ledakan di tepi Sungai Adige menghancurkan kejayaan keluarga Moretti dan meninggalkan Elena Moretti sebagai satu-satunya pewaris yang menanggung noda pengkhianatan. Kini, Elena kembali ke Verona bukan untuk menuntut warisan, melainkan untuk mengubur masa lalunya selamanya.
Namun, Verona tidak pernah melupakan.
Langkah Elena terhenti oleh Matteo Valenti, pria yang kini merajai langit Verona. Matteo bukan lagi pemuda yang dulu pernah memberikan mawar di balkon rumahnya; ia telah berubah menjadi sosok berdarah dingin yang memimpin bisnis gelap di balik kemegahan kota kuno itu. Bagi Matteo, kembalinya Elena adalah kesempatan untuk menuntaskan dendam keluarganya.
Elena dipaksa masuk ke dalam kehidupan Matteo—sebuah dunia yang penuh dengan aturan tanpa ampun, pertemuan rahasia di gedung opera, dan darah yang tumpah di atas batu jalanan yang licin. Namun, saat "gema" dari masa lalu mulai mengungkap kebenaran yang berbeda tentang kematian orang tua mereka,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SHEENA My, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perjamuan Para Pengkhianat 2
Aula utama Poveglia itu kini mencekam. Lampu halogen berkedip-kedip akibat korsleting listrik dari lampu gantung yang dijatuhkan Elena. Di tengah kegelapan yang diselingi kilatan cahaya merah dari sistem darurat, koper perak di atas meja kayu ek itu terus mengeluarkan bunyi bip yang teratur—sebuah detak jantung digital yang menandakan kehancuran.
Isabella Valenti berdiri terpaku, wajahnya yang biasanya kaku seperti porselen kini retak oleh kepanikan. Ia menatap layar koper yang seharusnya menampilkan "Akses Diterima," namun justru menampilkan baris kode merah yang bergerak cepat: System Wipe in Progress – Entropy Protocol Active.
"Apa yang kau lakukan, Elena?!" teriak Isabella, suaranya melengking di atas deru alarm.
Elena, yang masih berlindung di balik pilar marmer bersama Matteo, menatap pria di sampingnya dengan napas memburu. "Matteo... apa yang sebenarnya terjadi?"
Matteo menekan luka di perutnya, senyum tipis yang pahit muncul di bibirnya yang pucat. "Ingat semalam di brankas bawah air? Maksud dari liontin kuncimu bukan hanya untuk membuka pintu, Elena. Liontin itu mengandung seed—kode awal. Saat aku meminjamnya sebentar darimu untuk 'memeriksa sistem', aku menanamkan sebuah Trojan pada jejak biometrikmu."
Elena tertegun. "Jadi kau sudah tahu mereka akan menggunakan sidik jariku?"
"Isabella adalah seorang perfeksionis," Matteo menjelaskan dengan suara parau sambil mengisi ulang magasin senjatanya. "Dia tidak akan puas hanya dengan membunuh kita. Dia butuh akses ke dana simpanan ayahmu di Bank Vatikan dan Roma. Dia butuh pengesahan pewaris untuk mencuci uang Dewan Tujuh. Aku sudah memprediksi bahwa dia akan membiarkanmu menyentuh koper itu sebelum dia menarik pelatuknya."
Maksud dari strategi Matteo sangat brutal: ia menggunakan Elena sebagai umpan digital. Begitu sidik jari Elena menyentuh sensor koper, sistem tersebut memang mengenali Elena sebagai pewaris Moretti, namun virus yang ditanam Matteo ikut teraktivasi. Alih-alih membuka brankas di Roma, virus itu justru menarik seluruh data cadangan dari server Dewan Tujuh ke dalam koper tersebut, lalu menghapusnya secara permanen dari server utama, sebelum akhirnya menghancurkan dirinya sendiri (self-destruct).
"Kau menghancurkan seluruh aset mereka..." bisik Elena, mulai menyadari skala kehancuran yang diciptakan Matteo.
"Aku menghapus eksistensi mereka dari dunia digital, Elena," Matteo menatap ke arah meja di mana para anggota Dewan Tujuh kini berteriak-teriak mencoba mencabut kabel daya koper tersebut. "Tanpa data itu, mereka tidak punya bukti kepemilikan saham, tidak punya jalur komunikasi terenkripsi, dan yang paling penting... mereka tidak punya bukti untuk memeras satu sama lain. Aliansi mereka baru saja mati."
Sergio Donati, sang Menteri Kehakiman, meraung marah. "Kalian tidak tahu apa yang kalian lakukan! Itu adalah data negara!"
"Itu adalah data pengkhianatan," sahut Elena, kini ia berdiri dari balik pilar, mengarahkan senjatanya dengan mantap. "Dan tanpa data itu, kau hanyalah pria tua yang mengenakan cincin emas murahan."
Isabella, yang menyadari bahwa rencananya untuk menjadi penguasa baru Italia telah musnah dalam hitungan detik, kehilangan seluruh ketenangannya. Ia mengarahkan senapan mesinnya ke arah Elena. "Jika aku tidak bisa memilikinya, maka tidak akan ada yang bisa keluar dari pulau ini hidup-hidup!"
Ratatatata!
Rentetan peluru menghujani pilar tempat Elena dan Matteo berlindung. Matteo menarik Elena, memeluknya erat untuk melindungi tubuh wanita itu dengan tubuhnya sendiri.
"Lari ke balkon, Elena! Sekarang!" teriak Matteo.
Mereka berlari menembus hujan peluru dan pecahan kaca kristal. Di belakang mereka, koper perak itu tiba-tiba mengeluarkan asap hitam yang pekat. Entropy Protocol telah selesai. Seluruh data Dewan Tujuh—sejarah kejahatan mereka selama tiga puluh tahun—kini hanya menjadi rongsokan sirkuit yang terbakar.
Saat mereka tiba di tepi balkon yang menghadap ke laguna, Matteo terhuyung. Darah merembes deras dari bahunya yang baru saja tergores peluru Isabella.
"Pegang tanganku," Elena mengunci jemarinya di sela jari-jari Matteo. Ia melihat Isabella berlari mendekat dengan wajah penuh dendam. Elena tidak merasa takut lagi. Plot twist digital Matteo bukan hanya menyelamatkan nyawa mereka, tapi memberikan Elena senjata terbesar: ia baru saja merampas masa depan musuh-musuhnya.
"Satu... dua... tiga!"
Mereka melompat. Bukan sebagai pelarian, tapi sebagai pernyataan bahwa dinasti Moretti dan Valenti yang baru telah lahir—bukan dari darah dan pengkhianatan, tapi dari keberanian untuk menghancurkan sistem yang korup.
Hantaman air dingin Laguna Venesia seolah membersihkan segala dosa masa lalu. Di bawah air yang gelap, Elena melihat Matteo tetap memegang tangannya dengan erat. Mereka telah memenangkan pertempuran data, namun mereka tahu, Isabella Valenti tidak akan berhenti sampai salah satu dari mereka benar-benar terkubur di bawah tanah Verona.