Elena hanya seorang peneliti biasa di kota London, hingga sebuah tawaran rahasia mengubah segalanya. Ia setuju menjadi bagian dari program donor untuk pria yang tak ingin cinta, tak butuh istri, hanya menginginkan pewaris sempurna.
Lima tahun berlalu, Elena hidup dalam bayang-bayang kontrak yang melarangnya membuka jati diri. Tapi saat anak yang ia lahirkan tumbuh jenius melampaui usianya, masa lalu pun mengetuk pintu.
Dan pria itu... kini berdiri di hadapannya, tanpa tahu bahwa bocah itu adalah darah dagingnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rima Andriyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
Alexander menepuk pelan bahu Leon yang masih sibuk mengamati seisi kamar. “Nikmatilah kamarmu, Leon. Jika kau ingin sesuatu, apa pun itu, katakan saja. Akan segera kupenuhi.”
Leon menoleh, tersenyum kecil. “Terima kasih, Papa…”
Namun kemudian matanya mencari Elena. “Mama juga tetap di sini, kan?”
Elena segera melangkah masuk, meraih tangan anaknya. “Tentu saja, Sayang. Mama selalu di sisimu.”
Alexander mengangguk tipis. “Kau tidak perlu cemas, Leon. Mama-mu tidak akan ke mana pun.” Tatapannya tajam melirik Elena sejenak, seolah mengirimkan pesan tersembunyi.
Lalu, ia menoleh ke pelayan di pintu. “Jaga kamar ini. Pastikan Leon aman.”
Setelah itu, Alexander menggenggam pergelangan tangan Elena, menariknya keluar sebelum wanita itu sempat membantah.
“Lepaskan aku, Alexander!” bisik Elena keras, berusaha menahan langkahnya. Namun genggaman pria itu terlalu kuat.
Mereka menyusuri koridor sunyi hingga berhenti di sebuah pintu lain. Alexander membukanya, memperlihatkan sebuah kamar yang tak kalah mewah. Bernuansa lembut krem dan emas, lengkap dengan ranjang empuk, lemari pakaian berisi gaun, meja rias, bahkan kamar mandi pribadi.
Elena berdiri terpaku, wajahnya kaku. “Apa ini…?”
“Kamar milikmu,” jawab Alexander tenang namun dingin. “Mulai sekarang, kau tinggal di sini. Segala kebutuhanmu sudah kusiapkan. Kau tidak perlu membawa barang-barang lamamu. Anggap saja… kehidupan lamamu sudah berakhir.”
Elena menoleh tajam, matanya berkilat marah. “Kau tidak berhak mengatur hidupku sesuka hatimu!”
Alexander mendekat, jarak wajah mereka hanya sejengkal. “Aku tidak hanya berhak, Elena. Aku berkuasa. Kau pikir bisa lari dariku dengan surat pengunduran diri itu?” Ia mengeluarkan selembar kertas dari sakunya, surat yang sama yang pernah Elena berikan pada HRD. Lalu ia merobeknya tepat di depan wajah Elena, potongan kertas jatuh berserakan di lantai marmer.
“Kau tetap sekretarisku. Kau akan tetap bekerja untukku, setiap hari. Tidak ada diskusi.”
Elena menahan napas, dadanya naik-turun karena emosi. “Kau… kau memperbudakku…”
Alexander menyeringai tipis. “Jangan menyebutnya begitu. Aku hanya mengambil kembali apa yang seharusnya tidak pernah kau tinggalkan.”
Ia lalu meraih dagu Elena, memaksanya menatap langsung ke mata kelamnya. “Dan jangan pernah berpikir untuk kabur lagi. Pengawalku berjaga di setiap pintu, di halaman, bahkan di luar gerbang. Jika kau mencoba melarikan diri, bukan hanya kau yang akan menanggung akibatnya.”
Elena membeku, hatinya tercekat. Ia tahu ancaman itu tidak main-main.
Alexander melepaskan dagunya dengan kasar, kemudian menatapnya dalam-dalam. “Untuk kebohonganmu… untuk bertahun-tahun menyembunyikan Leon dariku… dan untuk keberanianmu melarikan diri dariku… aku akan memperhitungkan hukumannya. Jangan lupa, Elena. Aku tidak pernah membiarkan orang menyakitiku tanpa balasan.”
Wajah Elena pucat, tubuhnya gemetar. Namun dalam hati, ia bersumpah, bagaimanapun caranya, ia akan menemukan jalan keluar dari jerat pria itu.
Alexander berdiri tegak, tangannya menyelip di saku celana. “Kau akan tetap menjadi sekretarisku, Elena. Dan kebetulan, besok ada jadwal penting.”
Elena mengangkat wajahnya yang masih pucat. “Apa maksudmu?”
“Bersiaplah. Kita akan menghadiri pertemuan dengan rekan bisnis. Kau tahu tugasmu. Aku tidak akan mentolerir sikap lalai hanya karena kau masih syok dengan keadaan ini.” Nada suaranya dingin, penuh perintah.
Elena mengepalkan tangan. “Aku… tidak mau ikut.”
Alexander menoleh perlahan, menatapnya tajam. “Kau tidak punya pilihan, Elena.” Ia mendekat, menurunkan suaranya hingga terdengar nyaris seperti bisikan mengancam. “Jika kau mencoba menolak tugasku… aku tidak segan menempatkan Leon di sisiku sepanjang waktu. Aku tidak akan membiarkanmu bertemu dengannya.”
Mata Elena membesar, darahnya seolah berhenti mengalir. “Jangan libatkan Leon…”
Alexander menegakkan tubuhnya kembali, senyum tipis muncul di bibirnya. “Maka ikuti saja perintahku.”
---
Keesokan harinya, Elena terpaksa mengenakan setelan kerja yang sudah disiapkan di lemari kamarnya. Gaun pensil berwarna hitam elegan dipadu dengan blazer abu-abu. Ia berdiri di depan cermin, wajahnya kaku, hanya sedikit riasan untuk menutupi sembab matanya.
Suara ketukan pintu terdengar. Seorang pelayan membungkuk sopan. “Nyonya, Tuan Thorne sudah menunggu di mobil.”
Elena menarik napas panjang, lalu melangkah keluar.
Di halaman depan mansion, sebuah mobil hitam mewah dengan sopir pribadi sudah menunggu. Alexander berdiri di sampingnya, mengenakan setelan jas gelap dengan dasi merah marun, aura otoritas memancar kuat dari dirinya.
Tatapannya singkat menilai penampilan Elena. “Setidaknya kau tahu bagaimana menyesuaikan diri.” Ia membuka pintu mobil untuknya. “Masuk.”
Elena menggenggam tas kerjanya erat-erat, lalu duduk di kursi belakang. Mobil segera meluncur menembus jalanan kota London.
“Ke mana kita akan pergi?” Elena akhirnya bertanya dengan suara pelan.
Alexander meliriknya. “Sebuah bar di pusat kota. Rekan bisnisku lebih suka suasana santai daripada ruang rapat formal. Kami akan membicarakan proyek baru yang melibatkan ekspansi besar. Aku membutuhkan sekretarisku di sisiku, mencatat hal penting, sekaligus… mengingatkan mereka siapa yang mengatur permainan.”
Elena menoleh cepat. “Bar? Itu bukan tempat yang pantas untuk urusan bisnis.”
Alexander tersenyum tipis, matanya lurus ke depan. “London punya aturannya sendiri, Elena. Tidak semua kesepakatan besar terjadi di ruang rapat. Kadang, keputusan paling menguntungkan diambil di meja penuh minuman keras.”
Elena terdiam, menunduk, merasa dirinya semakin terjebak dalam dunia Alexander yang penuh bayangan dan kekuasaan.
---
Mobil berhenti di depan sebuah bangunan klasik dengan papan nama bercahaya: The King’s Den, salah satu bar eksklusif di jantung kota London. Suasana malam sudah ramai, lampu neon dan suara musik jazz modern terdengar samar dari dalam.
Alexander turun lebih dulu, lalu mengulurkan tangannya pada Elena. “Jangan membuat wajah itu, Elena. Ingat, kau sekretarisku. Jaga sikapmu.”
Dengan terpaksa, Elena menerima uluran tangan itu, membiarkan dirinya dituntun masuk ke dalam.
Begitu melewati pintu, aroma alkohol bercampur parfum mahal menyambut mereka. Para tamu berkelas dengan jas dan gaun elegan duduk di sofa kulit, sementara pelayan berlalu-lalang membawa gelas koktail.
Di sebuah sudut ruangan, seorang pria paruh baya dengan rambut perak dan jas biru tua melambaikan tangan. “Alexander!” serunya dengan aksen Inggris kental.
Alexander tersenyum tipis, lalu menuntun Elena mendekat. “Elena, perkenalkan. Ini Richard Coleman, salah satu investor utama proyek baru kita.”
Richard berdiri, menyalami Alexander dengan hangat, lalu mengalihkan pandangannya pada Elena. Senyum ramah namun penuh penilaian muncul di wajahnya. “Dan ini pasti sekretarismu. Luar biasa, Alexander, kau memiliki sekretaris yang sangat cantik.”
Elena tersenyum kaku, menahan diri. “Senang bertemu dengan Anda, Tuan Coleman.”
Alexander menepuk punggung tangan Elena pelan, lalu menatap Richard. “Dia akan mencatat semua poin penting malam ini. Jadi, mari kita mulai… sebelum alkohol membuatmu terlalu ramah.”
Richard tertawa lebar, mempersilakan mereka duduk.
bukannya setting Belgia?🤭🤭 aku yg lompat atau bagaimana kok setelah saya urut lagi bacanya memang Belgia surat lamarannya dan Thorne juga datang ke Belgia gimana ya