Bian menjalani kehidupan remajanya dengan sempurna. Ia cewek cantik dan bergaul dengan anak-anak paling populer di sekolah. Belum lagi Theo, cowok paling ganteng dan tajir itu kini berstatus sebagai pacarnya dengan kebucinan tingkat dewa.
Namun tiba-tiba kesempurnaan masa remajanya itu runtuh porak poranda setelah kedua orang tuanya memutuskan untuk bercerai dan bertukar pasangan dengan sepasang suami istri dengan satu anak laki-laki yang juga muncul sebagai guru baru di sekolahnya bernama Saga, cowok cassanova tampan dengan tubuh tinggi kekar idaman para wanita.
Di tengah masalahnya dengan Saga yang obsesif, hubungannya dengan Theo terus merenggang. Alasannya karena Theo selalu mengatakan hal yang sama, 'harus nemenin mama.'
Semakin hari Bian semakin curiga. Hingga ia mengetahui bahwa Theo...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lalalati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13: Dilema
Mendengar nama sang pacar disebut, Theo berbalik dan menatap tak percaya pada Julia. Kini ia benar-benar tak mengenal wanita yang ada di hadapannya itu. Wanita yang selalu ia anggap sebagai ibunya kini sudah tidak ada. Sikapnya berubah total.
Theo begitu bahagia saat dirinya yang dulu tinggal dengan keluarga pamannya yang miskin, tiba-tiba berubah menjadi putra semata wayang seorang CEO wanita kaya raya generasi ketiga. Julia langsung jatuh hati melihat Theo yang saat itu berusia 10 tahun.
Awalnya Julia hanya merasa iba dan terpana pada wajah tampan Theo yang tertutup kotor dan peluh. Entah bagaimana hingga ia memutuskan untuk mengadopsi Theo. Dan Julia tidak salah, Theo semakin hari tumbuh semakin tampan, baik hati, dan juga pintar.
Hanya dua tahun Julia merasakan naluri seorang ibu berada di hatinya. Setelah Theo mulai tumbuh menjadi seorang remaja, pertumbuhan fisiknya pesat, suaranya berubah berat, entah bagaimana Julia mulai memandang Theo dengan cara yang berbeda.
Ia tahu perasaannya salah, maka ia sembunyikan rapat-rapat perasaan yang tidak semestinya itu. Bagaimana pun Theo saat itu masih di bawah umur. Hingga saat usia Theo memasuki angka 17 tahun, saat Theo dianggap sudah cukup dewasa, Julia memutuskan untuk menyampaikan perasaannya.
Penolakan Theo sangat bisa Julia pahami. Setidaknya logikanya begitu. Tapi perasaannya mulai serakah. Ia mulai terobsesi. Kesabarannya selama 5 tahun menunggu, sudah mencapai batasnya. Bagi Julia, ia sudah cukup menderita. Berpura-pura menjadi seorang ibu bagi seseorang yang ia cintai dengan cara yang lain, hanya Julia yang tahu seperti apa rasa tersiksanya.
Hingga ia merasa bahwa sekarang sudah saatnya ia mendapatkan kebahagiaan itu. Kebahagiaan yang hanya bisa ia dapatkan dengan cara Theo menyambut perasaannya, atau lebih tepatnya membiarkan Julia 'menyalurkan perasaannya'.
"Apa maksud Mama bawa-bawa Bian?" tanya Theo dengan tidak terima.
"Selama ini aku udah cukup bersabar untuk hanya bisa menganggap kamu sebagai anak. Aku udah kasih apa pun yang kamu mau dan kamu butuhkan. Aku bahkan gak melarang kamu berpacaran sama temen kamu itu. Tapi kalau setelah semua yang aku lakuin kamu malah mau pergi? Aku gak akan tinggal diam, Theo. Aku akan lakukan apa pun supaya kamu tetap ada di sini bareng aku. Kamu adalah milik aku!"
Theo semakin syok. Cara bicara Julia yang dulu selalu menampakkan bahwa ia adalah ibu baginya, sekarang ikut berubah. Julia memang sangat berjasa bagi Theo. Ia sangat berterimakasih karena kehidupan terbaik yang Julia berikan padanya, tapi apa harus ia membalasnya dengan cara seperti ini?
"Bahkan di mata orang lain, kamu tetap anak aku. Aku berhak atas kamu. Dan di rumah ini, kamu bukan lagi anak aku. Kamu adalah laki-laki yang aku cintai. Aku yang kasih kamu segalanya. Jadi aku berhak atas kamu, seutuhnya. Setelah semua yang kamu miliki, apa kamu akan menjadi begitu gak berterimakasih padaku, Theo?" tegas Julia, ia berjalan menaiki tangga mendekat pada Theo.
"Dan anak bernama Bian itu..." Julia menarik tengkuk Theo sehingga wajah mereka hanya berjarak beberapa senti saja. "Kamu boleh bermain-main sama dia. Main sama dia sampai kamu puas. Tapi selamanya, kamu adalah milik aku."
...***...
"Jadi Mommy dan Daddy akan menikah di hari yang sama, di tempat yang sama, minggu depan?" ulang Bian.
Baru saja ia dan juga kedua orang tuanya makan malam di ruang makan rumah mereka.
"Iya, Baby. Setelah itu kami akan berbulan madu. Mungkin sekitar satu bulan," terang Diana.
"Hah?!" pekik Bian. "Satu bulan, Mom?"
"Itu Diana dan Kaisar, Nak. Daddy dan Soraya hanya akan pergi selama seminggu," ucap Radit.
Bian menatap sang ayah dengan penuh rasa terima kasih. Ia tak mau berlama-lama ditinggal karena itu artinya Saga semakin bebas bersamanya.
"Beneran, Dad?" tanya Bian memastikan.
"Iya, Nak. Daddy khawatir kamu ditinggal sendiri. Terus modeling kamu, pemotretan kamu, nanti siapa yang ngurusin kalau Daddy pergi lama-lama."
"Makasih Daddy." Bian sangat berterimakasih.
"Maaf ya Mommy perginya lebih lama dari Daddy," ujar Diana merasa bersalah.
"Gak apa-apa, Mom. Yang penting Daddy gak terlalu lama perginya. Jadi aku ada temen. Emang Mommy mau honeymoon ke mana?"
"Keliling Eropa, Sayang. Kaisar yang minta kita pergi jadi selama sebulan. Maaf ya, Baby."
"Iya, Mommy gak usah minta maaf. Have fun ya Mommy nanti honeymoonnya," ucap Bian tulus. "Kalau Daddy mau honeymoon ke mana sama Tante Soraya?"
"Daddy gak akan jauh-jauh. Kita cuma bakal ke Jepang. Dulu kami sempet liburan ke sana, jadi kita pengen ke sana lagi setelah resmi jadi suami istri."
Bian mengangguk paham. Ia senang melihat raut bahagia pada wajah Diana atau pun Radit. Tapi tetap saja ia tak bisa membohongi perasaannya. Wajah Bian berubah sedih. "Mommy dan Daddy beneran bakal nikah lagi? Kalian gak akan berubah pikiran?"
Diana dan Radit saling pandang. "Ada apa, Nak? Kamu masih merasa keberatan dengan pernikahan ini?" tanya Radit khawatir.
"Baby, kita bakal tetap tinggal di satu rumah. Mansionnya Kaisar dan Soraya punya dua paviliun. Rumah utamanya akan jadi tempat kita ngumpul bareng. Paviliunnya, akan jadi rumah pribadi Mommy dan Kaisar, juga Radit dan Soraya. Kita jadi punya keluarga besar, Sayang. Belum lagi kamu jadi punya saudara. Bukannya selama ini kamu selalu ngeluh sepi kalau di rumah? Apalagi Saga orangnya seru. Kita bakal lebih bahagia. Mommy yakin kamu juga akan seneng tinggal sama mereka. Ya?"
Bian malah semakin lesu. Justru Saga yang menjadi alasan terbesar ia merasa keberatan dengan pernikahan kedua orang tuanya.
"Kenapa, Nak? Cerita aja apa yang kamu rasain. Daddy pasti denger."
Bian malah meneteskan air mata. Ia teringat pada apa yang sudah dirinya dan Theo lakukan. Jika Radit tahu, pasti ia akan sangat kecewa karena Bian melanggar janjinya. Belum lagi dirinya yang terjebak dalam permainan Saga. Bian sungguh dilema, ia ingin mengatakan tentang Saga kepada kedua orang tuanya, tapi itu akan merusak kebahagiaan kedua pasangan itu. Ia harus apa sekarang?
"Maafkan keegoisan Daddy dan Mommy, ya?" ucap Radit. Hanya itu yang ia ungkapkan karena ia sendiri tak bisa bohong, kembaki bersama dengan Soraya seperti mimpi indah yang menjadi nyata.
Kemudian satu minggu pun berlalu. Pernikahan keduanya berlangsung secara sederhana dan intim, dihadiri hanya oleh orang terdekat. Setelah makan siang, mereka bertolak ke tempat honeymoon masing-masing. Sedangkan Bian terpaksa pulang ke rumah barunya, mansion milik keluarga Mahameru karena rumah lamanya sudah dikosongkan.
Mansion itu begitu mewah dan besar. Halamannya luas, pelayannya ada banyak, setiap benda yang ada di sana harganya pasti mahal. Bian tak menyangka ternyata keluarga barunya benar-benar dari kalangan konglomerat. Lalu pelayan mengantar Bian ke kamarnya yang ada di rumah utama.
"Kamar saya gak di paviliun?" tanya Bian saat pelayan mengantarnya ke lantai dua.
"Kamar kamu di rumah utama." Terdengar suara dari belakang Bian. Ia pun menoleh dan melihat Saga mendekat padanya. "Paviliun adalah tempat privat keempat orang tua kita. Mereka pengantin baru, jadi butuh privasi."
Saga memberikan kode tatapan pada pelayan agar meninggalkannya berdua saja dengan Bian. Perempuan itu pun pergi sesuai arahan.
"Ayo, Kakak antar ke kamar kamu."
Bian pun menurut saja. Ia mengikuti Saga yang berjalan di depannya. Kemudian mereka berhenti di sebuah lorong yang terdapat pintu yang saling berhadapan.
"Yang sebelah kiri kamar kamu, sebelah kanan, kamar Kakak."
"Kenapa kamar gue harus seberangan sama kamar lo?"
"Supaya gampang kalau Kakak kangen sama kamu."