NovelToon NovelToon
Nyonya Dibalik Tahta Alexander

Nyonya Dibalik Tahta Alexander

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Action / Dark Romance / Nikah Kontrak
Popularitas:134
Nilai: 5
Nama Author: Rizky Handayani Sr.

Lucane Kyle Alexander CEO muda yang membangun kerajaan bisnis raksasa dan memiliki pengaruh mengerikan di dunia bawah. Dingin, tak tersentuh, dan membuat banyak orang berlutut hanya dengan satu perintah.

Tidak ada yang berani menentangnya.

Di sisi lain, ada Jema Elodie Moreau mantan pembunuh bayaran elit yang telah meninggalkan dunia senjata.
Cantik, barbar, elegan, dan berbahaya.

Keduanya hidup di dunia berbeda, hingga sebuah rahasia masa lalu menghantam mereka:

kedua orang tua mereka pernah menandatangani perjanjian pernikahan ketika Lucane dan Jema masih kecil. Perjanjian yang tak bisa dibatalkan tanpa menghancurkan reputasi dan nyawa banyak pihak.

Tanpa pilihan lain, mereka terjerat dalam ikatan yang tidak mereka inginkan.

Namun pernikahan itu memaksa mereka menghadapi lebih dari sekadar ego dan luka masa lalu.
Dalam ikatan tanpa cinta ini, hanya ada dua jalan, bersatu melawan dunia... atau saling menghancurkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rizky Handayani Sr., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14

Di sisi lain kota, lampu neon berpendar lembut di luar sebuah bar berkelas dengan nuansa gelap dan elegan. Musik jazz mengalun kuat, mengisi udara dengan ritme yang membuat siapa pun ingin melupakan dunia untuk sesaat.

Di salah satu meja VIP, Jema, Eve, dan Anne sudah tenggelam dalam suasana.

Ketiganya duduk dengan pose percaya diri khas wanita muda yang tidak takut hidup atau mabuk.

Jema mengangkat gelas kristal berisi whiskey, cahaya lampu memantul di permukaannya seperti sorotan panggung.

“Guys, mari berpestaaaa!” teriak Jema lantang, menarik perhatian beberapa pria di sekitar yang langsung ciut nyali begitu melihat tatapannya yang tajam.

“Cheers!” sahut Eve dan Anne, mengangkat gelas masing-masing.

Mereka bertiga saling menyentuhkan gelas, suara cling terdengar nyaring, seperti penanda dimulainya malam gila itu.

Eve meneguk minumannya, wajahnya merah, dan suaranya naik satu oktaf.

“Jema! Lupakan aja pernikahan sial itu! Kau terlalu keren untuk hidup seperti drama murahan!”

Anne mengangkat tangan setuju. “Betul! Kita dukung kau kabur kalau perlu!”

Jema tertawa keras tawa khasnya, liar tapi elegan.

“YA! Lupakan dulu pria tua dan membosankan itu!” teriaknya sambil memutar gelasnya. “Besok aku pikirkan… malam ini aku minum!”

Ketiga wanita itu tertawa bersamaan, suara mereka tenggelam dalam dentingan piano jazz dan obrolan ramai.

Ritme musik semakin naik, lampu berubah warna, dan bar mulai dipenuhi suara gelas dan tawa.

Jema menggelengkan kepala sambil tersenyum kecil, rambutnya berayun mengikuti tubuhnya yang ikut bergoyang tipis.

* * * *

Lucane tidak datang untuk bermain petak umpet.

Dia datang untuk membantai.

Begitu pesawatnya menyentuh tanah Monaco, ia tidak berbicara pada siapa pun.

Ia hanya mengeluarkan satu kalimat:

“Orion Vale mati malam ini.”

Dan semua orang tahu itu bukan ancama itu vonis eksekusi.

* * * *

Orion sedang memimpin lelang gelap ketika pintu kasino ditendang terbuka keras.

Lampu kristal bergetar.

Seluruh ruangan membeku.

Lucian berjalan masuk seperti bayangan hitam keluar dari neraka.

Tidak pakai masker.

Tidak pakai penutup wajah.

Ia ingin semua orang melihat siapa yang datang.

Dan tanpa memberi peringatan

BRAK! BRAK! BRAK!

Ia langsung menembak tiga penjaga Orion di kepala, satu persatu, cepat dan presisi tanpa mengubah ritme langkah.

Darah terciprat ke meja Baccarat, membuat para miliarder menjerit dan mundur ketakutan.

Orion berdiri dari kursi, shock.

“Lucane tunggu, kita bisa..”

Lucane mengangkat pistolnya.

“Diam. Kau sudah bicara terlalu lama.”

Orion berlari, menendang pintu darurat.

Namun baru dua langkah,

DUARRR!!

Lucian menembak kunci pintu itu dari 30 meter, membuat Orion terpental kembali.

Ia jatuh, memegangi bahu, merintih.

Lucian mendekat… pelan… sama seperti binatang buas yang ingin menikmati ketakutan mangsanya.

“Orion…”

Ia mengokang senjatanya.

“Berhenti membuatku bosan.”

Orion merayap masuk ke lift servis.

Lift tertutup tepat saat Lucane hampir meraih pintu.

Lucane tersenyum kecil.

“Terlambat.”

Ia menembak panel listrik.

Lift mati.

Orion terjebak di dalam.

Dalam gelap.

Sendirian.

Tanpa jalan keluar.

Orion menekan semua tombol. Tidak ada yang bekerja.

Lampu darurat berkedip.

Tiba-tiba

KREEEKKK…

Suara besi ditendang dari luar.

Kemudian cahaya kecil masuk dari celah pintu lift.

Dan mata Orion melebar ketika melihat wajah Lucane mengintip dari celah itu.

“Ketemu.”

Satu kata. Satu neraka.

Lucane memasukkan pistol peredam melalui celah pintu.

Orion menjerit:

“Tunggu! Aku punya informasi! Kazuma..”

STUT STUT STUT STUT!!

Empat tembakan menembus perut dan dada Orion.

Darah memercik ke seluruh dinding lift.

Tubuh Orion jatuh tersungkur. Bergetar.

Mengeluarkan suara cekikan terakhir.

Lucane tidak peduli.

Ia hanya menatapnya dari celah pintu dan mengucapkan

“Phantom tidak pernah mengejar dua kali.”

Ia pergi, membiarkan tubuh Orion membusuk di lift seperti sampah.

Setelah itu Lucane menarik beberapa anggota nya untuk pergi.

"Aku tidak punya waktu banyak, segera urus semuanya dan kembali ke New York"

"Baik tuan" jawab Ariel salah satu anak buah nya

Lucane pun menuju ke Zet pribadi nya untuk kembali. Sementara Liam tetap di New York untuk memantau persiapan pernikahan dan tentu nya menjemput Jema.

* * * *

Sementara Itu untuk urusan dengan Kazuma Ryusei

Lucane tidak turun tangan sendiri.

Ia membiarkan kelompok mafia terbesar Asia Freya Syndicate mengerjakannya.

Kelompok yang sudah lama berada di bawah pengaruhnya.

Kazuma mencoba bersembunyi di sebuah gudang pelabuhan Tokyo.

Satu jam kemudian…

Orang-orang Freya Syndicate menemukannya.

Tidak butuh lama.

Tidak butuh bicara.

Kazuma ditemukan tergantung di gudang, tangan terikat, dada penuh luka bakar elektrik.

Matanya terbuka… kosong… seakan menyesal pernah ada di dunia yang sama dengan Lucane.

Di sakunya, mereka menyelipkan satu catatan untuk ditempatkan di hadapan publik dunia bawah:

“Pengkhianatan berakhir dengan kematian. L.”

* * * *

Liam sudah berada di lobi apartemen Jema sejak 10 malam. Setelan rapi, wajah tenang, tapi mata waspada tanda bahwa ia mendapat tugas yang tidak boleh gagal.

Dan tugas itu sederhana tapi berbahaya:

Menjemput Jema.

Membawanya ke hotel.

Mempersiapkannya untuk pernikahan besok dengan Lucane.

Masalahnya… Jema bukan tipe yang mudah dijemput.

Liam berdiri sambil memeriksa jamnya.

“Kemana perginya nona muda ini…” gumamnya lelah, jari mengetuk tas kerjanya.

Ia mendekati salah satu security.

“Permisi, tuan. Apa Anda melihat Nona Jema keluar?”

Security itu langsung mengangguk.

“Oh, iya. Tadi saya lihat beliau keluar sekitar pukul delapan, terburu-buru.”

Liam menghela napas panjang.

“Ah, Terima kasih.”

Ia berjalan menuju mobilnya di area drop-off, lalu bersandar di pintu mobil sambil menunggu.

Dan menunggu.

Satu jam.

Dua jam.

Tiga jam.

Jema tidak muncul.

Liam mulai berkeliaran di sekitar lobi, langkahnya cepat dan penuh gelisah.

“Apa nona kabur ya…?” gumamnya khawatir.

“Tidak mungkin. Tidak mungkin… kan?”

Ia memeriksa jam tangan lagi.

Sudah pukul dua dini hari.

“Nona Jema… Anda kemana…” suaranya nyaris putus asa.

Ia tahu satu hal

Kalau Lucane tahu calon istrinya hilang malam sebelum pernikahan… itu bukan sekadar masalah. Itu bisa jadi bencana.

Liam menepuk dahinya, benar-benar frustasi.

Saat ia hendak menyerah dan ingin menelepon seseorang taksi kuning berhenti di depan lobi.

Pintunya terbuka pelan.

Dan benar saja…

Jema keluar dalam keadaan setengah mabuk.

Rambut sedikit berantakan, wajah merah, langkah limbung seperti bayi rusa yang baru lahir.

Liam sampai ternganga lega.

“Nona… akhirnya Anda pulang.” katanya buru-buru menghampiri.

Jema mendongak, tatapan agak kabur.

Lalu mengerutkan kening.

“Apa yang kau lakukan di sini?! Kau… kau mata-matai aku ya? Atau… pria dingin itu yang menyuruh?” ocehnya sambil menunjuk-nunjuk entah ke mana.

Liam mencoba tetap formal meski hampir ingin menangis.

“Nona, mohon ikut saya. Saya harus membawa Anda ke hotel yang sudah disiapkan tuan.”

Jema mengibaskan tangan.

“Ck! Kau mau culik aku? Jangan aneh-aneh. Aku mau tidur. Kasurku… kasurku manggil aku…”

Ia memutar badan untuk kabur tapi hampir jatuh. Liam langsung menangkapnya.

Dan akhirnya, mau tak mau, ia mengangkat lengan Jema dan setengah menyeret, setengah membimbingnya masuk ke mobil.

Jema merebahkan kepala ke sandaran jok, mata hampir tertutup.

“Kau… kenapa bawa aku… biarkan aku tidur dulu… kalau tidak, aku teriak…” katanya dengan suara kecil namun galak.

Liam menyetir dengan sangat hati-hati, kadang melirik spion.

Ia menghela napas panjang, hampir pasrah.

“Hhh… kalau Tuan melihat kondisi seperti ini, aku akan kena masalah besar…” gumamnya sambil memijit pelipis.

Jema mengangkat tangan, setengah sadar.

“Pria tua menyebalkan”

Mendengar itu liam terkejut dan melirik singkat, 'Anda cukup berani nona' batin nya sedikit tersenyum dia tau pasti Lucane akan sakit kepala jika setiap hari menghadapi jema.

Perjalanan menuju hotel mewah pusat kota New York terasa seperti perjalanan menuju ruang eksekusi untuk Liam.

Dan malam sebelum pernikahan itu…

Jema mabuk, Liam stres,

dan Lucane… membersihakan pengkhianat.

* * * *

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!