NovelToon NovelToon
Mantan Calon Istri Yang Kamu Buang Kini Jadi Jutawan

Mantan Calon Istri Yang Kamu Buang Kini Jadi Jutawan

Status: tamat
Genre:Romantis / Bepergian untuk menjadi kaya / Bullying dan Balas Dendam / Balas dendam pengganti / Balas Dendam / Tamat
Popularitas:85.1k
Nilai: 5
Nama Author: Savana Liora

​Satu surat pemecatan. Satu undangan pernikahan mantan. Dan satu warung makan yang hampir mati.

​Hidup Maya di Jakarta hancur dalam semalam. Jabatan manajer yang ia kejar mati-matian hilang begitu saja, tepat saat ia memergoki tunangannya berselingkuh dengan teman lama sekaligus rekan sekantornya. Tidak ada pilihan lain selain pulang ke kampung halaman—sebuah langkah yang dianggap "kekalahan total" oleh orang-orang di kampungnya.

​Di kampung, ia tidak disambut pelukan hangat, melainkan tumpukan utang dan warung makan ibunya yang sepi pelanggan. Maya diremehkan, dianggap sebagai "produk gagal" yang hanya bisa menghabiskan nasi.

​Namun, Maya tidak pulang untuk menyerah.

​Berbekal pisau dapur dan insting bisnisnya, Maya memutuskan untuk mengubah warung kumuh itu menjadi katering kelas atas.

​​Hingga suatu hari, sebuah pesanan besar datang. Pesanan katering untuk acara pernikahan paling megah di kota itu. Pernikahan mantan tunangannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

​Bab 21: Kekacauan di Atas Pelaminan

​"Bisa dijelaskan ini dokumen apa, Ibu Siska? Dan kenapa nama Anda tercatat sebagai penanggung jawab aliran dana darurat yang tidak semestinya ini?"

​Suara bariton petugas kepolisian itu memecah kebisingan musik gamelan yang mendadak mati. 

Ballroom Hotel Cipta Pesona yang tadinya penuh dengan tawa palsu dan denting gelas kristal, seketika berubah sesunyi kuburan. Semua mata tertuju pada pelaminan mewah yang kini terasa seperti panggung eksekusi.

​Siska gemetar hebat. Buket bunga lili putih di tangannya jatuh, hancur terinjak gaunnya sendiri. "Pak, ini salah paham! Perempuan ini... koki kampung ini cuma mau memfitnah saya karena dia cemburu! Dia mantan tunangan suami saya! Dia sengaja bikin kacau!"

​"Fitnah?" Maya melangkah maju satu tindak, matanya menatap lurus ke dalam manik mata Siska yang mulai liar ketakutan. "Data audit digital tidak pernah cemburu, Siska. Angka-angka itu tidak punya perasaan. Kamu pikir dengan menghapus file di komputermu di Jakarta, jejakmu hilang? 

​Adit di samping Siska hanya bisa mematung. Wajahnya pucat pasi, lebih putih dari kemeja pengantinnya. 

Dia menatap Maya dengan tatapan yang kosong, penuh penyesalan yang terlambat. "May... kamu beneran ngelakuin ini?"

​"Aku hanya mengembalikan apa yang seharusnya, Dit," sahut Maya dingin. "Kamu diam saja saat aku diusir seperti pencuri, padahal kamu tahu siapa yang sebenarnya bermain api. Sekarang, nikmati apinya."

​"Cukup!" Siska berteriak histeris, suaranya melengking menyakitkan telinga. Dia menoleh pada Adit dan mendorong bahu pria itu dengan kasar. "Ini semua gara-gara kamu! Kalau kamu nggak ajak aku nikah di kabupaten ini, kalau kamu nggak maksa pakai katering murahan dia, kita nggak bakal begini! Ini ide Adit, Pak Polisi! Dia yang butuh uang buat bayar utang-utang keluarganya di kampung!"

​Adit terhuyung, nyaris jatuh dari panggung pelaminan. Dia menatap Siska dengan tidak percaya. "Siska? Kamu bilang apa? Kamu yang maksa aku bantu kamu cairkan dana itu! Kamu yang bilang kita butuh pesta megah buat pamer ke temen-temen sosialitamu tanpa bergantung sepenuhnya ke keluarga!"

​"Bohong! Kamu yang manipulasi aku!" Siska terus berteriak, air matanya merusak riasan wajahnya yang mahal, membuatnya tampak seperti badut yang menyeramkan.

​Tamu-tamu VIP mulai berbisik-bisik riuh. Wartawan yang tadi diundang Siska untuk meliput "kedermawanannya" kini justru sibuk membidikkan kamera ke arah keributan tersebut. Lampu kilat menyambar-nyambar, mengabadikan kehancuran sang ratu sehari.

​Maya hanya berdiri di sana, menyaksikan drama itu dengan wajah datar. Tidak ada rasa puas yang meledak-ledak, hanya rasa lega yang luar biasa. Beban di pundaknya selama berbulan-bulan seolah luruh bersama setiap teriakan histeris Siska.

​Tiba-tiba, sebuah tangan yang hangat dan kokoh melingkar di bahu Maya. Aroma kayu cendana yang familiar menyeruak, memberikan ketenangan instan. Arlan sudah berdiri di sampingnya.

​"Sudah cukup, Maya. Biarkan hukum yang bekerja sekarang," bisik Arlan lembut di telinganya.

​"Tapi dia masih mencoba menyalahkan orang lain, Arlan," sahut Maya pelan.

​"Biarkan saja. Semakin banyak dia bicara, semakin banyak lubang yang dia gali untuk dirinya sendiri," Arlan menoleh ke arah petugas polisi. "Pak, sepertinya bukti yang kami serahkan sudah cukup jelas. Silahkan dilanjutkan di kantor."

​Petugas itu mengangguk tegas. "Ibu Siska, Bapak Adit, mohon ikut kami untuk memberikan keterangan lebih lanjut. Sekarang."

​"Nggak mau! Lepasin! Kalian tahu siapa ayah saya?!" Siska terus memberontak saat petugas mulai menuntunnya turun dari pelaminan. Gaun pengantinnya yang panjang dan berat justru menyusahkan langkahnya, membuatnya berkali-kali tersandung.

​Maya menatap Adit yang berjalan tertunduk lesu di belakang Siska. Sebelum turun, Adit sempat berhenti sejenak, menatap Maya dengan mata yang berkaca-kaca. "Maafin aku, May. Aku beneran laki-laki pengecut."

​Maya tidak menjawab. Dia hanya memalingkan wajahnya. Permintaan maaf di tengah kehancuran tidak akan mengubah fakta bahwa pria itu pernah membiarkannya hancur sendirian.

​Keriuhan semakin menjadi-jadi saat wartawan mulai merangsek maju, mencoba mendapatkan pernyataan dari Maya. "Mbak Maya! Bagaimana perasaan Anda membongkar kasus ini di hari pernikahan mantan?" "Mbak, apa benar Anda menjalin hubungan dengan CEO Dirgantara Utama Group?"

​Arlan tidak membiarkan satu pun wartawan menyentuh Maya. Dia segera melepas jas hitamnya dan menyampirkannya ke pundak Maya, menutupi seragam kokinya yang kini terlihat kontras di tengah kemewahan yang runtuh.

​"Minggir! Tidak ada komentar untuk saat ini!" suara Arlan menggelegar, membuat barisan wartawan itu sedikit mundur karena wibawanya yang mengancam.

​Arlan merangkul Maya lebih erat, melindunginya dengan tubuhnya yang tegap, dan menuntunnya keluar dari pintu darurat menuju area parkir belakang. Maya merasa seolah dunia di sekelilingnya bergerak dalam gerak lambat. Suara riuh di dalam ballroom perlahan memudar, digantikan oleh heningnya udara malam di parkiran hotel.

​Mobil Luxus hitam Arlan sudah menunggu dengan pintu terbuka. Arlan membantu Maya masuk, memastikan perempuan itu duduk dengan nyaman sebelum dia sendiri memutari mobil dan duduk di kursi kemudi.

​Setelah mobil melaju menjauh dari keramaian Hotel Cipta Pesona, Maya akhirnya bisa menghembuskan napas panjang. Dia menyandarkan kepalanya di sandaran kursi yang empuk.

​"Kamu oke?" tanya Arlan tanpa mengalihkan pandangan dari jalanan.

​"Aku... aku cuma merasa aneh. Semuanya berakhir begitu cepat," Maya menatap tangannya yang masih sedikit gemetar. "Terima kasih, Arlan. Kalau nggak ada kamu dan tim hukummu, aku nggak tahu gimana caranya memulihkan nama baikku.

​Arlan tersenyum tipis, sebuah senyum yang jarang dia perlihatkan tapi sangat tulus. "Kamu yang memulai semuanya dengan keberanianmu di pasar itu, Maya. Saya cuma membantu merapikan jalannya."

​Keheningan yang nyaman menyelimuti mereka selama beberapa menit. Maya menatap ke luar jendela, melihat lampu-lampu kota yang berkelindan. Dia merasa seolah baru saja terbangun dari mimpi buruk yang sangat panjang.

​"Oh, ada satu hal lagi," Arlan memecah keheningan. Dia merogoh laci dashboard dan mengeluarkan sebuah amplop putih bersih dengan logo timbul berwarna emas dari kantor pusat perusahaan lama Maya. "Ini baru sampai lewat kurir ekspres sore tadi."

​Maya menerima amplop itu dengan dahi berkerut. "Apa ini?"

​"Buka saja," sahut Arlan singkat.

​Dengan tangan gemetar, Maya merobek segel amplop tersebut. Dia mengeluarkan selembar kertas tebal di dalamnya. Matanya menyapu baris demi baris tulisan formal tersebut.

​Surat Pernyataan Pemulihan Nama Baik dan Permohonan Maaf Resmi.

​Di sana tertulis jelas bahwa setelah dilakukan audit investigasi menyeluruh, PT. Swakarsa Jakarta mengakui adanya kesalahan prosedur dan fitnah yang dilakukan oleh pihak tertentu terhadap Maya. Perusahaan menyatakan Maya bersih dari segala tuduhan penggelapan dana dan mengundang Maya untuk kembali bergabung dengan posisi yang lebih tinggi, lengkap dengan kompensasi kerugian moral yang jumlahnya sangat fantastis.

​Maya menutup mulutnya dengan tangan. Air mata yang sejak tadi dia tahan, akhirnya tumpah juga. Kali ini bukan air mata kemarahan, tapi air mata kemenangan yang hakiki.

​"Arlan..." suara Maya tercekat.

​Arlan meliriknya sekilas, lalu kembali fokus ke jalan raya menuju kampung mereka. "Kamu bukan lagi pencuri di mata siapapun, Maya. Kamu adalah korban yang sudah berjuang, dan sekarang kamu adalah pemenang yang sudah menang dengan cara yang paling terhormat."

​Maya mendekap surat itu di dadanya, merasakan kertas itu sebagai bukti nyata bahwa harga dirinya telah kembali. Dia melihat ke arah Arlan, pria yang selama ini bertindak seperti dinding pelindung yang tak tergoyahkan.

​"Jadi... ini artinya aku benar-benar sudah bebas?" tanya Maya lirih.

​Arlan mengangguk pasti, lalu dia melambatkan laju mobilnya saat mulai memasuki jalanan desa yang sepi. Dia menepikan mobil dibawah deretan pohon mahoni yang rindang, lalu menoleh sepenuhnya ke arah Maya.

​"Bukan cuma bebas, Maya. Ini awal yang baru," Arlan mengulurkan tangannya, mengusap air mata di pipi Maya dengan jempolnya. "Tapi ingat, surat itu juga berisi tawaran untuk kembali ke Jakarta. Besok, seluruh dunia akan tahu siapa kamu sebenarnya. Dan sekarang, pilihannya ada di tanganmu."

​Maya menatap amplop di tangannya, lalu menatap wajah Arlan yang diterangi lampu dashboard mobil. Di dalam amplop itu ada surat pemulihan nama baik, namun di depannya ada pria yang telah memberinya lebih dari sekadar bantuan hukum.

1
Mr T
👍
Gintania nia
keren pakai banget
Rismawati Damhoeri
mau di apain daging sepasar?, restonya aja udah nggak ada, pakai logika dong ..
Rismawati Damhoeri
sayur sekabupaten di beli sendiri, buat apaan?, bikin pasar..biar aja may, 4 hari bangkrut tuh..
Rismawati Damhoeri
emang boleh sefitnah itu..?
Dewi
Arlan sanagat cerdas
Dewi
Heran kli sm siska ini trllu ngrusin hidup maya gk si pdhal dia jg sudh rebut tunangan trus fitnah maya soal kerjaan nya jg trus mau apa lgi coba
Dewi
blok ja no nya uda kan tiap siska tlfn pke no bru lgsg mtikan biar ksel sndria si siska itu
Setyo Budi Ningsih
knp novelmu baru lewat berandaku thooor aku baca satu persatu novelmu ini novel ke 3 yg aku bacar dari cerita perdokteran. sukses selalu ya thooor. selamat menjalankan ibadah puasa bulan Ramadhan
Savana Liora: makasi ya kak 🙏🙏
total 1 replies
Engkar Sukarsih
mampir kak author yang syantik 🥰🥰🥰🥰
Muft Smoker
best story
Muft Smoker
wah kak cerita ny bnr2 best ,,
disetial cerita kk aq lihat banyak Ratu dg gelar baru ,,
Ratu bisnis , Ratu forensik , Ratu bedah skrang Ratu dapur ,,
yg lgi otw Ratu bar2 🤭🤭🤣🤣 ,,
tp semua memberikan edukasi sesuai bidang masing2 mereka ,,
terutama dg campur tgn kk ,,
semangat trus kak Savana ,,
sehat selalu biar bisa bkin cerita baru yg lebih best☺️☺️☺️
Muft Smoker: ayoo kak d tggu ratu2 selanjut ny yg paling best
total 2 replies
This Is Me
Another wonderful novel. Great job. 😍😍
This Is Me
Cepat hentikan pengiriman makanan
This Is Me
Duh....sudah tau ada warning tentang Doni, kok ada orang gak dikenal langsung dikasih masuk
This Is Me
Pendemo malah jadi pelanggan baru
This Is Me
Promosi terselubung sekalian meluruh lantakkan lawan
This Is Me
Gitu dong. Pastikan si ulet keket kalah
This Is Me
Burhan salah pilih lawan
This Is Me
Keberhasilan yg datang berturut².
Selamattt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!