Alyssa hidup dalam pernikahan yang hancur bersama Junior, pria yang dulu sangat mencintainya, kini menolaknya dengan kebencian. Puncak luka terjadi ketika Junior secara terang-terangan menolak Niko, putra mereka, dan bersikeras bahwa anak itu bukan darah dagingnya. Di bawah satu atap, Alyssa dan Niko dipaksa berbagi ruang dengan Maureen, wanita yang dicintai Junior dan ibu dari Kairo, satu-satunya anak yang diakui Junior.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Melon Milk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21
"Ma, tolong jangan dulu bilang ke Junior soal Cecil," pinta Alyssa pelan namun tegas, menahan suaranya agar Cecil tidak mendengar dan bertanya-tanya soal nama Junior yang beberapa kali ia dengar.
Pandangan Alyssa tak lepas dari anak kecil itu yang berlarian riang di ruang tamu, tertawa lepas bersama kakaknya Niko dan Edgar, tanpa tahu apa pun.
Syukurlah Edgar tetap tinggal. Ia tidak meninggalkannya sendirian.
Di meja makan, kedua orang tua Alyssa duduk berhadapan dengannya. Ruangan hening, hanya diisi tawa anak-anak di kejauhan.
Alyssa akhirnya melihat senyum Niko kembali. Setidaknya, kehadiran orang tuanya sedikit mengembalikan keceriaan putranya itu.
Ia merindukan Niko yang selalu tertawa.
Yang kurang selama ini hanyalah waktu, perhatian, dan ikatan, terutama dengan kakek-neneknya dan ayahnya.
"Apa maksudmu, Alyssa?" tanya ibunya, mengangkat cangkir kopi namun tak jadi meneguk. Wajahnya jelas terkejut.
"Kalau kamu bilang dua-duanya anak Junior, dia pasti membatalkan pernikahannya dengan Maureen. Bisa jadi dia memilihmu. Kamu kembali tinggal di rumahnya. Junior kembali padamu, dan semua warisan keluarga Brixton jatuh ke Niko. Kamu tidak mau itu?"
Alyssa berdiri mendadak, tangannya gemetar mencengkeram tepi meja.
Masih soal harta? Itu pula yang jadi alasan ia diusir dulu.
"Ma! Itu bukan intinya!" suaranya meninggi, amarah dan takut bercampur.
"Dia tidak pantas tahu kalau dia punya satu anak lagi dariku. Seperti kalian dulu, dia tidak percaya padaku. Dia memandangku kotor dan mempercayai Maureen itu!"
Nada Alyssa bergetar takut kehilangan putri kecilnya.
"Maaf… aku seharusnya tidak bertanya seperti itu," ibunya menyesal.
"Ma, bagaimana kalau dia merebut Niko dan Cecil?" Alyssa menggeleng kuat.
"Bagaimana kalau Maureen menyakiti mereka? Aku lebih baik disakiti daripada anak-anakku. Mereka segalanya bagiku. Lebih baik ayah mereka tidak tahu daripada mereka kembali diabaikan Junior. Cukup Niko yang sudah terluka. Aku tidak sanggup melihat putriku mengalami hal yang sama. Jadi tolong, jangan sebut Cecil ke Junior. Aku tahu kalian punya koneksi dengannya."
Edgar menoleh saat Alyssa bicara.
Cecil mendekat sambil membawa boneka, bibirnya cemberut.
"Mommy? Aku dengar Mommy teriak," katanya polos.
Alyssa langsung berlutut, memeluk anaknya sambil memaksa tersenyum.
"Tidak apa-apa, sayang. Mommy cuma bicara dengan Nenek."
"Kalau begitu kenapa Mommy nangis?" tanya Niko sedih, menghapus air mata ibunya.
"Mommy sering menangis. Aku mau lihat Mommy senyum."
Alyssa tersenyum untuk mereka. Edgar hanya menghela napas.
"Mommy cantik kalau bahagia."
***
"Papa… aku mau menginap di rumah kakek-nenek malam ini. Antar ya?" kata Kairo, suaranya manja, bibirnya mengerucut.
Anak papa sekali.
Junior menghela napas berat, menghentikan laptop di pangkuannya dan duduk di tepi ranjang.
"Tidak," katanya tegas. "Mama kamu sendirian."
Dari depan meja rias, Maureen berhenti menyisir rambut. Ia menoleh perlahan, mata menyipit.
"Kenapa?" tanyanya tajam. "Kamu mau pergi lagi? Kamu seperti tidak punya keluarga! Seperti single! Kamu punya calon Istri! Punya anak! Kebutuhanku saja tidak kamu pedulikan! Jangan-jangan kamu punya perempuan lain!"
Junior menegang. Ia memejamkan mata, menjepit pangkal hidungnya.
"Tolong," gumamnya dingin, "aku tidak ingin mendengar suaramu sebentar."
Maureen menatapnya tak percaya. Itu saja? Dadanya sesak.
"Kamu keterlaluan," suaranya bergetar. "Aku tidak berarti apa-apa buatmu? Kamu masih mencintai Alyssa, kan?!"
Junior mendesis kesal.
Air mata Kairo menggenang. Ia mundur perlahan. Lagi. Pertengkaran lagi.
Ia menggenggam tangannya sendiri, menahan tangis.
"Kamu sudah tidak mencintaiku lagi?" teriak Maureen.
"Diam!" bentak Junior. "Berisik!"
"Aku benci kamu!" Maureen berteriak balik.
"Kalau begitu jangan menikah denganku!" Junior menggeram sebelum keluar dan membanting pintu.
Di dalam, Maureen terjatuh ke ranjang. Kairo memeluk ibunya.
"Tidak apa-apa, Mama."
"Pergi!" Maureen membentaknya sambil terisak.
Kairo hanya duduk diam di sampingnya.
***
Junior melangkah cepat di lorong, rahangnya mengeras.
"Sulit sekali bicara denganmu, Maureen," gumamnya.
Namun ia tersadar, kakinya sudah membawanya ke depan apartemen Alyssa.
Lampu gedung memantul di kaca mobilnya. Tangannya mengetuk setir.
"Brengsek," umpanya. Ia menunduk ke setir.
Bayangan Alyssa memenuhi pikirannya.
Ia mencoba menenangkan diri.
Namun tubuhnya bereaksi tanpa kendali.
"Tidak sekarang," gerutunya. Ia menarik napas dalam-dalam, memaksa pikirannya menjauh.
Saat mengangkat kepala, ia melihat seseorang keluar dari gedung.
Hans.
Kenapa pria itu di sini?
***
"Ziora, apa katanya?" tanya Maureen sambil mondar-mandir di kamarnya.
Di ujung sana, Ziora mengeluh.
"Pacarmu kayak orang gila."
Maureen mendengus.
"Tapi… ganteng," Ziora terkikik. "Boleh buat aku?"
"Dasar genit," dengus Maureen. "Terus?"
Ziora menjadi serius "Katanya Alyssa bareng orang tuanya. Terus ada dua anak, laki-laki dan perempuan dipanggil Mommy."
Maureen membeku.
Anak perempuan?
"Suruh Hans cari tahu tentang anak perempuan itu," perintahnya dingin.
"Aku tidak mau ada kejutan di hari pernikahanku."
Ia menutup telepon.
***
Di sisi lain, Hans duduk di mobilnya, mesin menyala.
Ia selalu menuruti perintah Maureen.
Namun ia menginginkan balasan.
Dua malam.
Dan ia punya satu senjata
rahasia Maureen.
Jika Maureen mengabaikannya,
dia akan hancur.