Meski tidak di awali dengan baik, bahkan sangat jauh dari pernikahan impian nya. sejak kalimat akad di lantunkan, saat itu ia bersumpah untuk mencintai suami nya, bahkan dalam keadaan terburuk sekalipun.
Tanpa Arina tau kalau detik itu juga ia dengan sadar membakar hidup nya, dunia nya bahkan cinta nya dengan perihnya api neraka pernikahan .
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vanillastrawberry, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
secercah harapan
Plakk!!
suara tamparan setelah pukulan serta tendangan yang dilayangkan pada hampir di setiap sudut tubuh pria paruh baya itu kembali mengudara.
Meski rasanya remuk redam, tapi pria itu justru tertawa lebar, rasa asin oleh darah dari sudut bibirnya yang terluka tak menyurutkan tawanya.
Suara korek api yang tengah di nyalakan menjadi pusat tatapan meremehkan pria itu, Fabio tengah membakar cerutu dalam selipan jarinya. Menyesap nya dalam kemudian mendongak untuk menghembuskan asapnya ke udara.
Wajah nya datar, tak menampilkan ekspresi apapun, pun saat tatapan mereka terletak pada satu garis lurus, yang ada justru pria setengah baya itu yang menyeringai meski tubuhnya akan ambruk ke lantai, namun kedua rantai yang membelit kedua tangannya menahan tubuhnya.
" hei anak muda! Perbuatan mu ini sia-sia. Aku tidak akan pernah mengatakan apapun yang kamu inginkan meskipun kau membunuh ku saat ini juga!" pria itu terkekeh, lalu meludahkan darahnya kelantai sebagai bentuk perlawanan walau nyawanya sedang di ujung tanduk.
Fabio tersenyum miring. " menarik! " dia menatap sekilas pada salah satu anak buahnya yang berdiri menghadap pada sebuah laptop yang terbuka dengan proyektor di sebelahnya, memberikan perintah melalui sorot matanya.
" bagaimana kalau kita bermain-main sebentar!" pria itu sempat terkejut begitu dinding menampilkan sebuah video yang menunjukkan seorang gadis yang tengah di sekap juga, sama seperti dirinya. Lalu tersenyum lebar pada Fabio.
" jalang itu? Aku sudah bosan padanya, pun meskipun dia akan memberikan suatu bukti pada mu, sama sekali tidak ada pengaruh nya untuk ku."
Pria itu benar, dia saja tak takut mati apalagi hanya di penjara. Namun, seringai yang bertahan pada sudut bibir Fabio membuat nya cukup gelisah.
" oh benarkah? Jadi tidak apa-apa jika wanita itu sedikit berbagi kehangatan dengan anak buah ku." Fabio kembali mendongak untuk menghembuskan asap cerutu nya ke udara.
" tidak masalah! dia memang jalang, sekali-kali sedekah gratis seperti nya tidak apa-apa."
" bagaimana kalau ini" video wanita pada layar berganti menjadi slide foto yang menunjukkan beberapa gambar dari setiap sudut rumah sakit.
Fabio terkekeh begitu melihat wajah pria itu berubah mengeras, raut menantang nya tadi sudah tidak ada berubah menjadi tatapan murka yang dilayangkan padanya.
" jangan macam-macam!" wajah pria itu memerah, giginya bergemeletuk menahan sakit pada wajah dan tubuhnya serta amarah pada saat yang bersamaan.
putaran slide berhenti pada foto salah satu kamar rawat inap yang ada di rumah sakit itu. " jadi tuan Ghani, sekarang bisakah kita bekerja sama?"
...******...
Arina kembali menangkap boneka panda, benda kesekian yang melayang hampir mengenai wajah nya, di depannya tepat di samping tempat tidur, Tania menatap nya dengan dada naik turun, wajah nya memerah dengan sorot mata penuh kebencian.
Arina tersenyum tipis, sebelum mendekati gadis itu ia lebih dulu merapikan barang-barang yang sengaja di lemparkan kepadanya pada tempat nya.
" aku sudah bilang pada mu jangan pernah menemui ku lagi sialan!" teriakan Tania berpotensi mendatangkan orang-orang yang di tugaskan untuk menjaganya oleh Alvian, tapi beruntung Arina sudah mengurus nya lebih dulu.
Arina tersenyum tipis, sorot matanya menatap teduh pada gadis di atas kursi roda itu, tatapannya berpindah pada nampan di atas nakas, isinya masih belum di sentuh sedikitpun.
" kamu belum makan kan? Bagaimana kalau kakak suapi?" Arina mengambil bubur itu, lalu duduk di atas tempat tidur, mengabaikan tatapan bengis dari gadis belasan tahun itu.
Arina mengangkat tangan nya yang berisikan mangkok bubur tinggi-tinggi begitu Tania mengayunkan tangannya untuk menumpahkan bubur itu seperti waktu itu.
" Tania jangan seperti itu! kalau mama mu tau kamu tidak menghargai makanan dan bersikap buruk pada orang lain dia pasti akan sedih, kamu mau kedua orang tuamu sedih di atas sana."
" Aku mau makan sama tante Lidya saja!"
Pekik Tania tertahan, wajahnya memerah menahan tangis, kelemahan gadis itu ada pada mendiang orang tuanya, selama ini dia adalah anak yang sangat penurut, ia tidak pernah mau membangkang orang tuanya karena tidak mau mereka bersedih.
Anak itu memiliki hati yang sangat lembut, seperti mendiang mamanya tapi kecelakaan itu sedikit membuat nya berubah. Rasa kecewa dengan apa yang menimpa nya membuatnya menjadi seperti saat ini.
" honey, maafkan tante! Tante harus pergi sebentar karena ada kerjaan tante yang tidak bisa di tinggal, jadi sekarang kamu makan sama kak Arina ya."
" suster Wulan sedang ada kepentingan, mbak Desi sedang belanja kepasar, saat ini hanya ada kak Arina yang akan membantumu." potong Lidya cepat begitu Tania membuka mulut akan mengatakan sesuatu.
Tania bungkam seketika, bibirnya mengerucut karena kesal, Arina tersenyum tipis begitu melihat tidak ada perlawanan dari anak itu, dadanya membuncah begitu Tania tidak menolak suapan dari nya. Sejak saat itu, hari ini adalah pertama kalinya Arina berhasil mendekati gadis itu setelah hampir setiap hari dia mencoba nya.
Ia menoleh pada Lidya dan menemukan wanita itu mengangguk padanya, sebelum pamit pada nya dan juga Tania lalu menghilangkan di balik pintu.
" Tania, kamu pernah denger kisah nya nabi Ayyub As nggak?"
Tania mendengus kesal, tapi bagus nya gadis itu tidak menolak suapan yang ia berikan." aku bukan nabi, jadi wajar kalau aku benci kamu!"
Arina tersenyum kecut." Tania aku tau apa yang menimpa kamu sekarang nggak mudah, tapi aku nggak mau kamu terus terpuruk kayak gini, menerima semua yang terjadi akan membuat mu jauh lebih tenang, Tan. Kamu sudah kehilangan kaki kamu jangan sampai kamu kehilangan masa depan dan kebahagiaan kamu, banyak orang yang mengalami hal serupa kayak kamu, banyak pula yang menjadi orang sukses dengan keterbatasan mereka, kamu tidak akan menjadi orang tidak berguna hanya karena ini, Tan."
Tania tersenyum miris. " kata orang mengatakan lebih mudah dari mengalami. "
Arina menggenggam tangan Tania mengusap nya lembut dengan ibu jarinya untuk menyalurkan kekuatan. " tapi kakak yakin kamu bisa, Tan. Kamu adalah nona Dharma, orang hebat yang terlahir dari keluarga yang hebat, kamu tidak ingat betapa hebat nya ayah kamu, betapa kuat dan lembut nya ibu mu?"
Tania menatap Arina dengan bersimbah air mata. " kamu mengenal papa dan mama? Mereka sudah tiada dari lama."
Arina mengangguk cepat. " tidak ada orang yang tidak mengenal Farhan Dharma Jayanto dan Evelyn Jayanto, satu keluarga yang menjadi motivator orang-orang sukses di sekitarnya."
Arina mengusap air mata Tania dengan ibu jarinya. " Tania mau jadi seperti papa dan mama?" senyum manis terbit di bibir Arina tatkala Tania mengangguk cepat tanpa ragu.
" tapi aku sudah cacat, tidak bisa sekolah."
" tidak ada masalah tanpa jalan keluar, kalau Tania mau, Tania masih bisa sekolah." mata Tania berbinar seketika.
" kamu serius?"
Arina mengangguk yakin, dan anak itu langsung bersorak kegirangan. Meski di selingi tangis tapi Arina berani menjamin tangis kali ini adalah tangis kebahagiaan" mau jalan-jalan ke taman?"