Angin Siang Itu Berhembus Cukup Kencang, Memainkan Helai Rambut Panjang Milik Jelita Yang Sedang Duduk Santai Di Selasar Universitas. Bagi Jelita, Dunia Hanya Sebatas Apa Yang Bisa Dilihat Oleh Mata Dan Logika. Baginya, Cerita Hantu Hanyalah Dongeng Pengantar Tidur Untuk Orang-Orang Penakut."Hari Ini Kita Gak Ada Kelas! Gimana Kalau Kita Ke Gedung Kosong Sebelah," Ajak Salah Satu Teman Jelita Yang Bernama Dinda. Matanya Berkilat Penuh Rencana Tersembunyi.Jelita Mengangkat Alisnya Sebelah, Menatap Dinda Dengan Tatapan Remeh. "Buat Apa Kita Kesana? Kamu Mau Ngajak Mojok Ya?" Selidik Jelita Sambil Tersenyum Tipis."Kamu Kan Gak Pernah Takut Dan Gak Pernah Percaya Hal Kaya Gitu. Kita Mau Tantang Kamu Kesana Untuk Uji Nyali," Kata Dinda Tegas."Bener Juga! Lumayan Hiburan Di Saat Lagi Kelas Kosong," Sambung Ira Yang Tiba-Tiba Bergabung, Memberikan Dorongan Ekstra Agar Jelita Terpojok.Jelita Tertawa Kecil, Sebuah Tawa Yang Mengandung Kesombongan. "Oke, Siapa Takut? Ayok Kita Kesana."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jing_Jing22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3
Tiba-tiba pintu kamar mandi terbuka, dan seorang mahasiswi lain masuk. Dalam sekejap, sosok Arjuna menghilang, meninggalkan hawa dingin yang masih tertinggal di kulit Jelita.
Jelita keluar dari kamar mandi dengan langkah gontai. Ia kini sadar bahwa ia tidak bisa lagi melarikan diri. Arjuna bukan sekadar hantu yang menempati gedung tua; pria itu kini telah menjadi bayangan yang terikat pada dirinya.
Saat ia berjalan kembali ke kelas, seorang mahasiswa tampan bernama Rendy menghampirinya. "Jelita! Boleh pinjam catatan minggu lalu?"
Belum sempat Jelita menjawab, tiba-tiba buku yang dipegang Rendy terlepas dari tangannya. Jelita tertegun melihat buku catatan Rendy yang terhempas ke lantai dengan suara "brukk" yang cukup keras. Ia bisa melihat bagaimana bahu Rendy sedikit berguncang karena hawa dingin yang tiba-tiba mengepung mereka.
"Kenapa perasaanku tidak enak ya," bisik Rendy pada dirinya sendiri sambil mengusap lengan yang terasa merinding.
"Kamu tidak apa-apa, Rendy?" tanya Jelita cemas, meski dalam hatinya ia tahu persis siapa pelakunya.
Rendy tergagap, wajahnya sedikit pucat. "Ee-hh... tidak apa-apa kok, Jel! Mungkin aku cuma kurang tidur saja. Aneh banget, tiba-tiba rasanya kayak masuk ke dalam freezer."
Saat Rendy hendak membungkuk untuk mengambil bukunya, Jelita melihat sebuah kejadian yang membuat jantungnya nyaris berhenti. Sebuah sepatu pantofel hitam yang tampak mewah namun samar terlihat menginjak buku itu, menahannya agar Rendy tidak bisa mengambilnya. Tentu saja, Rendy tidak bisa melihatnya, pria itu hanya kebingungan mengapa bukunya terasa begitu berat dan tertahan.
"Jangan berikan catatanmu pada lelaki lemah ini, Jelita," bisik sebuah suara bariton yang sangat dekat di belakang kepala Jelita.
Jelita memilih mengabaikan bisikan itu dan segera membantu Rendy mengambil bukunya. Setelah Rendy pergi dengan terburu-buru karena merasa ketakutan, Jelita melangkah masuk ke dalam kelas dengan amarah yang terpendam.
Dosen Sejarah Kebudayaan, Pak Broto, sudah mulai menjelaskan materi di depan kelas. Jelita duduk di bangku barisan tengah, berusaha fokus pada papan tulis. Namun, keadaan menjadi kacau saat kursi kosong di sebelahnya tiba-tiba bergeser sendiri tanpa ada yang menyentuh.
Srett...
Seluruh teman sekelas menoleh, namun mereka kembali fokus karena menganggap itu hanya gesekan biasa. Hanya Jelita yang bisa melihat bahwa kini Arjuna sedang duduk santai di sana. Arjuna menyilangkan kakinya, menampilkan postur tubuh yang gagah dan berwibawa. Kemeja putihnya yang terbuka kancing atasnya membuat beberapa helai rambut dadanya terlihat, menambah kesan maskulin dan 'nakal' secara bersamaan.
Arjuna tidak membiarkan Jelita belajar dengan tenang. Ia mengulurkan tangannya yang besar dan pucat, mulai memainkan ujung rambut Jelita. Dengan tatapan intens yang mematikan, ia memperhatikan setiap inci wajah Jelita yang sedang berusaha menahan malu dan marah.
"Dosenmu sangat membosankan. Kenapa kau lebih memilih mendengarkannya daripada menatapku?" tanya Arjuna tanpa rasa berdosa.
Jelita tetap diam, tangannya mencengkeram pulpen hingga buku jarinya memutih. Namun, Arjuna semakin menjadi-jadi. Ia menggerakkan jari-jarinya turun ke lengan Jelita, mengusapnya dengan lembut namun memberikan efek elektrik yang membuat Jelita menggigit bibir bawahnya.
"Hentikan..." bisik Jelita nyaris tak terdengar.
"Hentikan apa? Sentuhan ini?" Arjuna tersenyum nakal. Ia merunduk, mendekatkan wajahnya ke arah Jelita di bawah meja, dan menarik pulpen yang sedang dipegang gadis itu hingga terlepas.
Arjuna kini mencondongkan tubuhnya ke arah Jelita, hingga wajah mereka hanya berjarak beberapa sentimeter. Di depan seluruh kelas dan dosen yang sedang mengajar.
Cup!
Arjuna dengan berani mengecup pipi Jelita dengan sensasi dingin yang memabukkan.
"Kau sangat cantik saat sedang menahan marah seperti ini, Jelita. Apa kau ingin aku melakukannya lebih dari sekadar ciuman di pipi?" goda Arjuna sambil menatap bibir Jelita dengan penuh hasrat.
Jelita sudah tidak tahan lagi. Ia berdiri dengan tiba-tiba hingga kursinya terjengkang ke belakang.
"STOP! JANGAN GANGGU AKU!" teriak Jelita dengan lantang.
Seketika, seluruh ruang kelas menjadi hening. Pak Broto berhenti menjelaskan dan menatap Jelita dengan kacamata yang melorot. Teman-temannya menatapnya dengan wajah melongo.
"Jelita? Kamu bicara sama siapa?" tanya Pak Broto bingung. Suaranya terdengar bergema di ruangan yang kini sunyi senyap.
Jelita tertegun, kesadarannya kembali pulih saat merasakan puluhan pasang mata tertuju padanya. Jantungnya berdegup kencang, dan keringat dingin mulai memasahi telapak tangannya. Ia menoleh ke samping, melihat Arjuna yang masih tertawa tanpa suara, menikmati kekacauan yang ia ciptakan.
"Ma-maaf, Pak," jawab Jelita terbata-bata sambil menundukkan kepala, berusaha menyembunyikan wajahnya yang memerah padam. "Maksud saya... stop menjelaskan terlalu cepat, Pak! Saya... saya sedikit pusing dan kesulitan mencatat."
Pak Broto mengernyitkan dahi, tampak tidak percaya dengan alasan tersebut. "Menjelaskan terlalu cepat? Bapak baru saja menulis satu kalimat di papan tulis, Jelita. Apa kamu benar-benar sehat?"
"Saya hanya... kurang istirahat, Pak. Maafkan interupsi saya. Saya mohon izin ke kamar mandi sebentar," tambah Jelita sambil gemetar.
"Ya sudah, silakan. Tapi jangan berteriak lagi, kamu mengejutkan seluruh isi kelas," ucap Pak Broto sambil geleng-geleng kepala.
Jelita segera menyambar tasnya dan berlari keluar dari ruang kelas tanpa mempedulikan panggilan Dinda dan Ira.