"aku janji bakal menghilang dari kehidupan kamu untuk selama-lama nya" ucap Viona dengan nada bergetar
kehidupan Viona benar-benar sangat menyedihkan, selain miskin, gadis itu juga hanya mempunyai seorang ibu yang sudah sangat tua renta
tetapi ia mempunyai cita-cita yang sangat tinggi, hingga akhirnya Viona bertemu dengan laki-laki yang akan merubah seluruh hidup nya
bagaimana kelanjutan ceritanya???
mari kita simak........
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miftah_005, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4
Di dalam rumah sakit, air mata Viona tidak berhenti nya menangis karena mendengar penjelasan sang dokter tentang penyakit yang di derita oleh ibu nya
"aku harus cari uang sebanyak itu dimana ya?" gumam nya sembari menatap secarik kertas dengan wajah sendu
Sedang asik melamun, tiba-tiba datang seorang wanita yang sedih melihat putri nya merenung di depan ruangan sendirian
"nak? kenapa kok sedih?" tanya sang ibu
Viona yang tercengang melihat kehadiran ibu nya pun dengan cepat merubah mimik wajah nya, gadis itu berjalan mendekat dan memeluk sang ibu dengan penuh kasih sayang
"siapa yang sedih? aku gak sedih kok buk" ucap nya dengan memaksa kan sebuah senyuman
"memang nya ibu itu anak kecil yang bisa kamu bohongin? kamu kan udah sama ibu sejak kecil, jadi ibu paham sama apa yang kamu rasain sekarang ini" jelas nya
Viona menarik nafas dalam-dalam dan mengeluarkan nya secara perlahan, gadis itu menuntun ibu nya untuk duduk di bangku yang sebelum nya ia duduki
helaan nafas terdengar melelahkan keluar dari bibir mungil Viona, ibu nya yang mendengar nya pun langsung mengelus pundak putri nya dengan lembut
"ada apa? coba cerita sama ibu?" tanya nya
"gak ada apa-apa kok buk, Viona cuma sedih karena gak masuk eskul basket" bohong Viona seraya menggenggam tangan ibu nya
"loh kok bisa gak masuk? kamu kan waktu SMP pernah mewakili sekolah? terus, alesan apa yang buat kamu gak masuk eskul itu?"
memang sejak SMP Viona mewakili sekolah nya untuk pertandingan bol basket, permaian Viona sangat lah gesit dan juga lincah, bahkan ia pernah di ajak untuk bergabung dalam tim nasional, tapi sayang nya Viona menolak dengan alasan ibu nya sedang sakit, dan tidak bisa jauh-jauh dari diri nya
"ibu kan tau sendiri, sekolah Arsena itu tempat nya orang berduit, jadi ya maklum aja kalo Viona gak bisa masuk" ucap Viona
"ya udah, kamu gak usah sedih, di taman belakang kan masih ada lapangan bola basket, kamu bisa latihan sendiri di sana, biar besok cita-cita kamu yang dulu nya pengen jadi pemain basket go internasional bisa di capai" jelas ibu Viona sembari mengelus rambut putri nya dengan kasih sayang
"aamiin, makasih ya buk do'a nya, dan ibu juga harus inget, obat yang di kasih dokter, harus rutin ibu minum, biar ibu cepet sehat, terus bisa liat Viona main ke luar negeri" ucap Viona dengan suara menahan tangis
"iya, ibu jani setelah pulang dari rumah sakit ini, ibu bakal lebih rutin lagi minum obat nya" jawab sang ibu yang membuat hati Viona terasa sangat nyeri
"ya udah, ayok sekarang kita pulang buk, sebentar lagi mau jam 1, tadi aku udah janji sama Baskara kalo mau pulang sebelum jam 1" ajak Viona
"kok manggil nya Baskara? nanti kalo dia denger gimana coba? biasa nya juga kamu manggil nya tuan muda" ucap sang ibu mengingat kan
"orang dia sendiri kok buk yang pengen di panggil nama, kalo aku sih udah bolak balik manggil tuan muda, tapi dia nya tetep kekeh mau di panggil Baskara, ya udah mau gimana lagi coba?"
Viona mengangkat kedua bahu nya yang membuat sang ibu geleng-geleng kepala, ibu Viona yang bernama Ratih itu sangat bingung dengan sikap Baskara yang sering berubah-ubah setiap waktu, kadang ia bersikap sangat baik, kadang juga bersikap acuh dan tidak mau tau urusan orang lain
"ya udah kalo gitu, tapi inget? kalo di depan kedua orang tua nya Baskara kamu tetep manggil dia dengan sebutan tuan loh" pesan Ratih yang langsung di angguki oleh Viona
"siap buk! pesan ibu pasti bakal Viona laksanakan!" ucap gadis itu sembari mengangkat tangan kanan nya seperti orang yang sedang upacara
"kamu ini, malu-malu in ibu aja, tuh banyak orang yang liatin kita, udah turunin tangan nya, kayak orang lagi laporan sama pemimpin upacara aja, pake hormat-hormat segala" titah Ratih dengan wajah merah menahan malu
Viona menurun kan tangan nya dan menggenggam tangan sang ibu dengan lembut, ia berjanji sebisa mungkin akan membuat ibu nya selalu bahagia, apapun akan gadis itu lakukan asalkan ibu nya bisa sehat kembali
"nanti coba aku pinjem uang sama Nyonya aja, siapa tau dia mau minjemin" batin Viona dengan yakin
Ratih yang melihat kasih sayang Viona yang begitu tulus membuat nya menjadi serba salah, awal nya ia ingin memberitahu sebuah rahasia besar yang selama ini ia sembunyikan dari gadis itu, tetapi melihat putri nya yang seperti itu, hati nya kini merasa ragu untuk menceritakan masa lalu nya
ia takut Viona akan berubah, maka dari itu ia memilih menyembunyikan rahasia itu dan menunggu waktu yang tepat untuk memberitahu semua nya
"ibu mau makan apa?" tanya Viona sembari menoleh ke arah ibu nya
"emang nya kamu punya uang?" bukan nya menjawab, Ratih malah balik bertanya, hal iu membuat Viona tersenyum simpul
"kalo gak ada uang, gak mungkin Viona nawarin ibu makanan, yang ada kita nanti malah di suruh cuci piring gara-gara makan gak bayar" ucap Viona dengan wajah di buat kesal
Sang ibu tertawa lepas mendengar celoteh Viona dengan mimik wajah yang terlihat sangat menggemaskan, tangan Ratih pun terulur untuk mencubit pipi putri nya yang sedikit chubby itu
"kamu itu ada-ada aja, ya siapa tau aja uang kamu cuma cukup buat jajan di sekolah, maka nya itu ibu mastiin ada uang nya apa enggak?"
Viona mengambil tangan sang ibu dan mencium nya dengan lembut, tak lupa ia juga mengelus pelan tangan yang mulai terlihat sangat pucat dan dingin
"kalo uang jajan gak usah di pikirin buk, yang penting ibu sehat dan gak kelaparan itu aja udah cukup buat Viona seneng" ucap nya dengan tulus
tak terasa air mata Ratih kini mulai menetes mendengar ucapan putri nya itu, hal itu membuat Viona ikut menetes kan air mata nya, ia tak sanggup jika harus kehilangan Ratih untuk selama-lama nya, karena selama ini alasan Viona bertahan hidup hingga kini adalah sang ibu
jujur saja diri nya sudah sangat lelah, dan ingin menghilang dari dunia yang penuh dengan sandiwara ini, tetapi ia memikirkan bagaimana nasib sang ibu ketika diri nya pergi nanti? adakah orang yang akan menyanyangi ibu nya? sampai detik ini fikiran itu lah yang membuat Viona masih ingin bertahan
"kok kamu ikut nangis?" tanya sang ibu sembari mengusap air mata putri nya
"aku gak bisa liat ibu nangis, maka nya aku ikut nangis" jawab Viona yang membuat Ratih tersenyum hangat
wanita paruh baya itu dengn cepat mengusap air mata nya, ia memperlihatkan senyum bahagia nya agar putri nya berhenti menangis
"nihh, ibu udah senyum kann?" ucap sang ibu
Viona pun ikut tersenyum dan mengusap air mata nya, gadis itu mulai menggenggam tangan sang ibu dan membawa nya ke warung terdekat untuk segera makan siang, ia takut jika nanti penyakit sang ibu kambuh jika perut nya telat di isi oleh makanan