“Mereka menikah bukan karena cinta, tapi karena hitungan. Namun, siapa sangka... justru hitungan Jawa itulah yang akhirnya menulis takdir mereka.
Radya Cokrodinoto, pewaris tunggal keluarga bangsawan modern yang masih memegang teguh adat Jawa, dipaksa menikah dengan Raras Inten, seorang penjual jamu pegel keliling yang sederhana, hanya karena hitungan weton.
Eyangnya percaya, hanya perempuan dengan weton seperti Raras yang bisa menetralkan nasib sial dan “tolak bala” besar yang akan menimpa Radya.
Bagaimana nasib Raras di pernikahan paksa ini? sementara Radya sudah punya kekasih yang teramat ia cintai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Realrf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tuduhan yang menyakitkan
Suara kunci yang diputar dari luar itu terdengar begitu nyaring, begitu dingin, menggemakan sesuatu tak terlihat di dalam kamar yang pengap. Raras membeku, serbuk hitam di telapak tangannya terasa seperti bara es yang membakar kulit.
Jantungnya yang tadi berdebar karena penemuan mengerikan itu kini seakan berhenti berdetak, digantikan oleh keheningan yang memekakkan telinga. Ia terperangkap.
Seseorang telah menguncinya. Seseorang yang tahu ia ada di sini. Bayu. Pasti Bayu. Pria itu mengikutinya, menunggunya menemukan sesuatu, lalu menjebaknya bersama barang bukti yang bisa diputarbalikkan. Skenario terburuk melintas di benaknya: Bayu akan kembali dengan Radya, menunjuknya sebagai penyihir yang mencoba mengguna-gunai suaminya sendiri. Tamat sudah riwayatnya.
Panik mulai merayap di tenggorokannya, dingin dan mencekik. Ia berlari ke pintu, memutar kenopnya dengan kasar. Terkunci. Tentu saja. Ia menggedornya sekali, pelan, sebelum sadar betapa bodohnya tindakan itu. Ia tidak boleh menimbulkan suara.
Raras melangkah mundur, napasnya memburu. Ia memindai ruangan dengan putus asa. Jendela besar itu menghadap ke taman belakang, terlalu tinggi untuk dilompati. Tidak ada jalan keluar.
Tunggu. Ini adalah sayap bangunan lama. Kamar tidur utama seorang pewaris di masa lalu tidak mungkin hanya memiliki satu pintu. Pasti ada akses lain. Matanya tertuju pada sebuah pintu yang lebih kecil di dinding samping, tersembunyi di balik lemari pakaian jati yang besar. Pintu menuju ruang ganti.
Dengan langkah sepelan mungkin, ia mendorong lemari berat itu. Engselnya berderit protes, karena terlalu lama tidak digunakan. Setiap inci pergeseran terasa seperti satu jam. Akhirnya, celah yang cukup terbuka. Ia menyelinap masuk, menemukan pintu kecil di baliknya. Kenopnya berdebu, jelas sudah lama tidak disentuh. Dengan doa yang terucap dalam hati, ia memutarnya.
Ceklek.
Tidak terkunci.
Pintu itu membawanya ke sebuah ruang ganti yang sempit dan panjang, yang di ujung lainnya terdapat pintu lain menuju koridor utama. Ia bebas. Jantungnya berdegup kencang karena kelegaan. Siapa pun yang menguncinya tadi tidak tahu seluk-beluk arsitektur rumah ini. Sebuah kesalahan kecil yang menyelamatkan hidupnya.
Sambil menggenggam erat serbuk terkutuk itu di dalam saputangannya, Raras tidak kembali ke paviliunnya. Ia berjalan lurus menuju satu-satunya tempat yang bisa memberinya jawaban, gudang buku Eyang.
***
Aroma kertas tua dan tinta yang mengering menyambutnya seperti pelukan seorang kawan lama. Di bawah cahaya lampu kuning yang remang, ribuan buku dan lontar kuno berjejer rapi, bisu menyimpan kebijaksanaan dan kegelapan zaman. Rasa mual akibat energi kotor dari serbuk itu masih terasa, membuat kepalanya pening, tetapi Raras mengabaikannya.
Ia menuju bagian paling belakang, rak yang diberi label ‘Panglemunan lan Panyumpena’—Ilmu Gaib dan Tafsir Mimpi. Tangannya yang masih sedikit gemetar menelusuri punggung-punggung buku bersampul kulit yang rapuh. Matanya memindai judul-judul yang ditulis dalam aksara Jawa kuno.
Setelah hampir setengah jam mencari, ia menemukannya. Sebuah kitab tipis yang terjepit di antara dua buku tebal, sampulnya dari kulit kambing yang sudah menghitam, tanpa judul. Tangan lentik Raras membuka dengan hati-hati. Halaman-halamannya rapuh, tulisannya adalah tulisan tangan yang elok namun tegas. Ini bukan buku cetakan, melainkan catatan pribadi seorang ahli.
Gadis itu membolak-balik halaman, mencari deskripsi yang cocok dengan serbuk di tangannya. Aroma anyir yang manis dan memuakkan. Warna hitam kecokelatan. Efek membangkitkan benci pada satu orang dan obsesi pada orang lain.
Dan kemudian, ia menemukannya.
Sebuah gambar sketsa tangan yang detail, menunjukkan gumpalan serbuk dengan deskripsi yang membuat darahnya membeku.
“Susuk Jangga Kembang, ugi sinebat Pelet Balung Randha. Dipundamel saking balung jangga prawan ingkang pejah ngenes, dipun campur lisah dagu mayit lan kembang setaman saking pakuburan. Dayanioun mboten namung damel tresna, ananging ngunci jiwa. Ingkang dipun tuju badhe sengit kaliyan sinten kemawon ingkang ngalangi kekarepanipun ingkang ngirim. Korban bakal kelangan akal sehat, gampil dipun suget, lan raganipun dados sarana dendam.”
(Susuk Leher Kembang, juga disebut Pelet Tulang Janda. Dibuat dari tulang leher perawan yang mati tidak wajar, dicampur minyak dagu mayat dan kembang setaman dari pemakaman. Kekuatannya bukan hanya membuat cinta, tetapi mengunci jiwa. Yang dituju akan benci dengan siapa pun yang menghalangi kehendak si pengirim. Korban akan kehilangan akal sehat, mudah dihasut, dan raganya menjadi sarana dendam.)
Raras menutup buku itu dengan sentakan. Napasnya tercekat. Jadi ini bukan pelet pemikat tingkat rendah seperti yang Eyang duga. Ini adalah ilmu hitam tingkat tinggi. Kejam dan merusak. Tujuannya bukan sekadar membuat Radya kembali pada Ayunda, tapi mengubah Radya menjadi boneka, senjata hidup yang bisa diarahkan untuk menghancurkan siapa pun terutama dirinya.
Kepanikan yang sesungguhnya kini melandanya, lebih hebat daripada saat ia terkunci di kamar tadi. Ini bukan lagi tentang pernikahan kontrak yang gagal atau harga diri yang terinjak-injak. Ini tentang nyawa dan kewarasan seorang pria yang, suka atau tidak, adalah suaminya.
Radya tidak bertindak atas kemauannya sendiri. Setiap hinaan, setiap bentakan, setiap tatapan jijik… itu bukan Radya. Itu adalah bisikan mayat dan dendam perawan mati yang berbicara melalui bibirnya.
Ayunda jauh lebih berbahaya, lebih gila dari yang pernah ia bayangkan. Wanita itu tidak hanya ingin merebut Radya, ia ingin memiliki jiwanya.
Tekad Raras yang tadinya hanya untuk bertahan dan membuktikan diri kini menguap, digantikan oleh sesuatu yang lebih purba dan kuat: dorongan untuk melindungi. Untuk menyelamatkan. Ia harus mengeluarkan Radya dari sangkar gaib itu, apa pun risikonya.
Tiba-tiba, suara deru mobil yang familier terdengar dari halaman depan, memecah keheningan malam. Raras tersentak. Itu suara mobil Radya. Kenapa dia pulang ke rumah ini? Bukankah seharusnya ia di apartemen?
Jantungnya berdebar tak karuan. Ia harus menyembunyikan buku ini. Ia harus menyingkirkan serbuk ini. Tapi terlambat. Suara langkah kaki yang berat dan tergesa-gesa sudah terdengar di koridor, mendekat ke arah gudang.
Pintu gudang didorong terbuka dengan kasar, menimbulkan bunyi berderit yang keras.
Radya berdiri di ambang pintu. Wajahnya pucat dan kuyu, rambutnya sedikit berantakan, dan ada lingkaran hitam di bawah matanya yang menatap tajam. Ia terlihat seperti orang yang tersesat, kelelahan, dan marah pada saat yang bersamaan.
Pandangannya menyapu seisi ruangan, lalu berhenti tepat pada Raras yang berdiri kaku di antara rak-rak buku kuno. Matanya lalu turun ke kitab bersampul kulit hitam di tangan Raras, dan saputangan yang tergenggam erat di tangannya yang lain.
Keheningan yang tegang menyelimuti mereka selama beberapa detik.
“Apa yang kamu lakukan di sini?” tanya Radya, suaranya serak dan penuh kecurigaan.
“Mas… aku…” Raras mencoba mencari kata-kata, tetapi otaknya kosong. Bagaimana ia bisa menjelaskan semua ini?
Radya melangkah masuk, matanya tidak pernah lepas dari benda-benda di tangan Raras. Ia melihat sisa-sisa serbuk hitam yang menempel di ujung jemari Raras, berkilauan samar di bawah cahaya lampu. Ekspresi kelelahan di wajahnya perlahan berubah menjadi pemahaman yang salah dan mengerikan.
“Jadi ini kelakuanmu di belakangku?” desisnya, nadanya rendah dan penuh amarah.
“Saat aku merasa hampir gila, saat semua bisnisku berantakan, kamu malah sibuk di sini… bermain dukun?”
“Bukan begitu, Mas! Aku bisa jelaskan!” bantah Raras cepat, suaranya bergetar.
“Jelaskan apa?” potong Radya tajam. Ia kini berdiri di hadapan Raras, menjulang tinggi.
“Jelaskan kalau semua kesialan ini memang berasal darimu? Bahwa kamu memang sengaja melakukannya agar aku bergantung pada Eyang dan takhayulnya?”
Radya mengulurkan tangan dan merebut saputangan dari genggaman Raras. Saat ia membukanya dan melihat gumpalan serbuk hitam beraroma aneh itu, wajahnya mengeras menjadi topeng kebencian begitu pekat. Matanya berkilat dengan amarah yang sama seperti saat ia membanting cangkir teh jahe, tetapi kali ini seratus kali lebih pekat.
“Benda apa ini? Racun? Guna-guna?” bentaknya, suaranya menggema di ruangan penuh buku itu.
“Mas, itu bukti! Seseorang mencoba…”
Radya tidak mendengarkan. Ia mencengkeram pergelangan tangan Raras dengan keras, memaksa wanita itu menatap matanya. Rasa sakit menjalari lengan Raras, tetapi tatapan mata Radya yang penuh tuduhan jauh lebih menyakitkan.
“Aku sudah muak dengan semua permainanmu, Raras,” geramnya, napasnya memburu. Matanya melirik judul kitab yang masih dipegang Raras.
“Kamu… kamu yang meracuniku dengan ilmu kotormu ini, kan?”