Andreas, sosok mafia berdarah dingin yang bergelar duda tampan dan kaya raya. Dia sudah bercerai sebanyak tiga kali karena ulah putra semata wayangnya. Hingga suatu hari, dia bertemu dengan seorang penari striptis di sebuah club malam. Andreas pun memutuskan untuk menikahinya secara kontrak.
Di satu sisi, Sophia juga sosok single mom yang pekerja keras. Sophia bekerja sebagai penari striptis di sebuah club malam. Pertemuannya dengan Andreas mendatangkan masalah baginya, hingga Sophia memilih menerima segala skenario yang dijalankan oleh Andreas dengan menjadi istri kontraknya.
Lantas apa yang membuat Andreas ingin menikah kontrak dengan Sophia, sosok penari striptis!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alif Irma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
"Mommy, kenapa lama sekali, apa yang dokter lakukan kepada Daddy?" tanya Kenzo yang sudah tak sabaran ingin melihat ayahnya.
"Dokter Nicky sedang memeriksa kondisi Daddy, makanya lama sayang." ucap Sophia lemah lembut dan harap-harap cemas dengan kondisi Andreas.
"Oh begitu ya mom, padahal selama ini Daddy jarang sakit, bahkan tidak pernah sakit. Kenapa ya Daddy tiba-tiba sakit dan tak bangun-bangun." ucap Kenzo sambil menangkup wajahnya dengan kedua tangannya, bahkan raut wajahnya tampak murung.
"Semua orang pernah mengalami sakit, nak, termasuk Daddy mu. Sekuat dan sehebat apapun manusia pasti imun tubuhnya lambat laun akan menurun hingga virus maupun bakteri dengan mudahnya mampu menyerang tubuh manusia hingga membuatnya jatuh sakit. Makanya sejak dini kita harus selalu jaga kesehatan, karena kesehatan jauh lebih penting dari segalanya dan sehat itu mahal." jelas Sophia panjang lebar.
Daniel dan Mr Ben hanya mampu menjadi pendengar yang baik dengan pikiran was-was, bahkan raut wajah keduanya tampak datar yang sedang menunggu pintu kamar tamu terbuka.
Tak berselang lama kemudian, pintu kamar tamu terbuka lebar dan muncullah dua perawat wanita bersama dokter Nicky dengan wajah tegang yang baru saja memeriksa kondisi Andreas.
"Dokter, bagaimana keadaan tuan Andreas?" tanya Daniel tampak cemas.
Dokter Nicky hanya mampu menghembuskan nafas kasar sebelum buka suara.
"Tuan Andreas.....dia sudah siuman, namun untuk sekarang dia tidak ingin bertemu dengan siapapun." jelas dokter Nicky sambil memijit pelipisnya.
"Apa! tuan Andreas sudah siuman. Ya Tuhan, syukurlah dok, kami sangat senang mendengarnya." ucap Sophia dengan mata berkaca-kaca dan mendadak merasakan perasaan haru plus campur aduk dan pastinya merasa lega setelah mengetahui suaminya sudah siuman.
"Berarti Daddy sudah bangun ya mom?" tanya Kenzo dengan antusiasnya.
"Iya sayang" ucap Sophia dengan anggukan kepala sambil menangkup wajah putra sambungnya. Sontak saja Kenzo langsung berhambur memeluknya.
"Kenapa tuan Andreas tidak mau menemui kami!" bisik Daniel ditelinga dokter Nicky.
"Aku juga tidak tahu, dia hanya ingin sendiri." balas Dokter Nicky dengan cara berbisik pula.
"Aneh, tapi aku akan tetap menemui tuan Andreas, walaupun tuan Andreas melarang." ucap Daniel akan keputusannya lalu bergegas masuk ke dalam kamar tamu.
"Astaga anak itu mau cari mati" gumam Dokter Nicky lalu bergegas menyusulnya. Bahkan dokter pribadi keluarga Paxton itu tak lupa mengunci pintu kamar tamu dari dalam.
Sementara itu, Daniel mendadak merasakan perasaan haru, sedih, bahagia bercampur menjadi satu. Sampai-sampai pria dewasa itu mengusap sudut matanya yang mendadak berair setelah melihat langsung tuannya sudah siuman.
"Siapa yang menyuruhmu....awww..." Terdengar suara berat sosok pria yang sangat dirindukan dan ditakutinya itu buka suara. Siapa lagi kalau bukan sang big bos mafia.
"Tuan Andreas!" ucap Daniel dengan mata berkaca-kaca.
"Saya sudah melarangnya masuk, tapi dia tetap ingin melihat anda." ucap Dokter Nicky memberitahu.
"Shiit, kalian sungguh tidak mendengar perintahku!" ucap Andreas kesal sambil memijit keningnya dan masih merasakan pusing setelah hampir dua Minggu koma.
"Tuan Andreas..." ucap Daniel dan Dokter Nicky bersamaan lalu keduanya mendekat kearah tuannya.
"Hei, apa yang kalian lakukan." ucap Andreas dengan kesalnya saat keduanya berhambur memeluknya.
"Kami takut kehilangan tuan!" ucap Dokter Nicky cemberut dengan suara pelan.
"Dasar bodoh, menjauh kalian!" kesal Andreas sambil memukul kepala keduanya secara bergantian karena memeluknya tanpa permisi.
"Aku tidak suka ditangisi apalagi dikasihani oleh kalian. Aku sangat benci menjadi lemah." ucap Andreas sambil menghela nafas panjang.
"Jangan marah-marah melulu, tuan baru saja siuman, takutnya darah tinggi ikut naik." ucap Dokter Nicky diselingi canda tawa.
"Awas kamu!. Aku tidak segan-segan untuk membunuhmu." ucap Andreas dengan ancamannya. Walaupun masih terbaring sakit, dia tetap hobi mengancam siapapun.
"Ampun tuan, saya hanya bercanda, jangan diambil hati hehehe." ucap Dokter Nicky sambil cengengesan. Sedang Daniel hanya mampu tersenyum dan lebih bersemangat melihat tuannya kembali siuman.
Ketiga pria itu mulai mengobrol bersama. Hingga tanpa mereka sadari Kenzo dan Sophia sudah masuk ke dalam kamar tamu, itu semua berkat Kenzo yang mampu membuka pintu kamar tamu yang terkunci dari dalam menggunakan jepit rambut hitam miliknya.
"Daddy" ucap Kenzo berteriak.
Andreas langsung mengalihkan pandangannya pada sang empunya. Hingga tatapannya terhenti pada dua sosok yang dirindukannya, lebih tepatnya hanya sosok putranya yang sangat dia rindukan, selebihnya hatinya belum bisa goyah untuk orang baru masuk ke dalam kehidupannya.
"Tuan muda Kenzo, bagaimana cara anda bisa masuk ke dalam...."
"Rahasia, yang jelas nya kenzo mau melihat Daddy." ucap Kenzo lalu berlari kecil menghampiri ayahnya dan tanpa aba-aba, anak laki-laki itu langsung berhambur memeluk ayahnya.
"Kenzo sayang Daddy." ucap Kenzo sambil memeluk erat tubuh ayahnya dan begitu takut kehilangan ayahnya.
"Daddy juga sangat sayang kamu, nak" ucap Andreas sambil mengelus punggung mungil putranya dengan perasaan haru.
"Mommy, sini peluk Daddy." ucap Kenzo sambil mengalihkan pandangannya kearah ibu sambungnya yang hanya bengong berdiri di tengah-tengah kamar tersebut.
Sophia tidak berani mendekat, apalagi dia tidak sengaja bertemu pandang dengan Andreas. Melihat tatapannya saja sama sekali tidak bersahabat. Jujur pria itu lebih menyeramkan saat membuka mata dibandingkan saat sedang koma.
"Awwww"
Andreas meringis kesakitan sambil memegangi kepalanya yang tiba-tiba berdenyut nyeri. Membuat Daniel dan Dokter Nicky tampak panik melihatnya termasuk Sophia.
Wanita pekerja keras itu segera mendekat kearah tempat tidur. Dia pun duduk di samping Kenzo, anak sambungnya sambil memperhatikan wajah Andreas.
"Tuan, apa anda baik-baik saja?" tanya Sophia ragu-ragu. Jujur dia sangat bingung mau bertanya apa kepada suaminya.
Andreas kembali meringis kesakitan saat tak sengaja menggerakkan lengannya hingga jarum infus yang tertancap di punggung tangannya langsung bereaksi bergesekan dengan permukaan kulitnya.
"Mana yang sakit Daddy?" tanya Kenzo dengan perhatiannya menyentuh tangan ayahnya.
"Tidak apa-apa, nak, tubuh Daddy hanya kaku saja." jawab Andreas tersenyum tipis. Namun lagi-lagi dia merasakan pusing dengan kepala berdenyut nyeri. Dia tidak ingin terlihat lemah di depan istrinya.
"Sebaiknya anda beristirahat dan tolong jangan terlalu banyak gerak, karena anda baru saja siuman." ucap Sophia dengan bijak nya mengingatkan akan kondisi Andreas.
"Betul yang dikatakan mommy" ucap Kenzo setuju dengan ucapan ibu sambungnya..
"Hemm." hanya deheman yang keluar dari mulut Andreas dan begitu gengsi membenarkan ucapan Sophia.
"Daddy, apa Daddy tahu kalau selama ini Mommy lah yang setiap hari merawat Daddy." ucap Kenzo dengan antusiasnya memberitahu ayahnya setelah sempat diberi tahu oleh Mr Ben.
Benarkah dia yang merawat ku selama aku sedang koma. Apa mungkin dia juga yang selalu datang dalam mimpiku sejak aku berusaha keras untuk bangun dari tidur panjang ku selama ini. Batin Andreas dan diam-diam mencuri-curi pandang kearah Sophia.