NovelToon NovelToon
Rumus Gitar Cinta

Rumus Gitar Cinta

Status: tamat
Genre:Ketos / Bad Boy / Diam-Diam Cinta / Cintapertama / Enemy to Lovers / Idola sekolah / Tamat
Popularitas:123
Nilai: 5
Nama Author: tanty rahayu bahari

Sekolah SMA Pelita Bangsa terancam tidak bisa mengadakan Pensi tahunan karena masalah dana. Kepala Sekolah memberikan syarat: Pensi boleh jalan kalau rata-rata nilai ujian satu angkatan naik. Julian (Ketua OSIS) terpaksa menjadi tutor privat bagi siswa dengan nilai terendah di angkatan, yang ternyata adalah Alea. Di antara rumus fisika dan lirik lagu rock, mereka menemukan bahwa mereka memiliki luka yang sama tentang ekspektasi orang tua.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21: Titik Terendah

​Rumah keluarga Pradana tidak pernah terasa sepi ini. Biasanya, kesunyian di rumah ini adalah kesunyian yang teratur dan damai. Namun hari ini, kesunyian itu terasa seperti di dalam peti mati.

​Julian duduk di tepi tempat tidurnya. Jam dinding menunjukkan pukul 20.00.

​Tiga jam yang lalu, sidang istimewa telah dilaksanakan di ruang kerja ayahnya. Tidak ada teriakan. Tidak ada barang pecah. Ayahnya, Dokter Prasetyo, terlalu beradab untuk marah-marah seperti orang pasar. Beliau menghukum dengan ketenangan yang membekukan darah.

​"Semua fasilitas dicabut," kata ayahnya tadi, suaranya datar sambil menatap Julian seolah menatap tumor yang harus diangkat. "HP disita. Laptop hanya boleh dipakai untuk mengerjakan tugas sekolah di bawah pengawasan Papa. Tidak ada uang jajan. Tidak ada keluar rumah selain ke sekolah dan bimbel."

​Dan kalimat terakhir yang menjadi paku peti matinya:

"Papa sedang mengurus surat kepindahanmu ke asrama sekolah di Magelang. Semester depan, kamu pindah. Jakarta terlalu banyak racun buat kamu."

​Julian tidak membantah. Energinya sudah habis terkuras di sekolah tadi. Dia menyerahkan HP-nya, dompetnya, dan—yang paling menyakitkan—kunci kamarnya. Pintu kamarnya sekarang tidak boleh dikunci. Privasi adalah hal mewah yang sudah tidak dimilikinya lagi.

​Julian menatap langit-langit kamar yang putih bersih.

​Dia aman. Dia kembali ke jalur yang "benar". Dia tidak akan lagi berurusan dengan preman, tidak akan lagi keringatan di studio bau, tidak akan lagi dimaki-maki Rian.

​Tapi kenapa rasanya sesak sekali?

​Julian melirik tumpukan buku di meja belajarnya. Buku-buku Fisika, Kimia, Biologi. Teman-teman setianya selama ini. Dia mencoba mengambil satu buku latihan soal, membukanya.

​Halaman 45. Dinamika Rotasi.

Di pojok halaman itu, ada coretan kecil dengan tinta merah muda. Tulisan tangan cakar ayam yang sangat dia kenal.

​"Rumusnya muter-muter kayak komedi putar. Gue pusing, Jul. Istirahat yuk?"

​Itu tulisan Alea minggu lalu. Saat gadis itu bosan dan mencoret-coret buku Julian diam-diam.

​Julian menyentuh tulisan itu dengan ujung jarinya. Dadanya nyeri.

​"Harusnya gue nggak pernah dengerin lo! Harusnya gue nggak pernah masuk ke studio bau itu!"

​Kata-kata kasarnya sendiri terngiang-ngiang di telinga. Dia sudah menyakiti Alea. Dia menyalahkan gadis itu atas ketidakmampuannya sendiri mengambil risiko.

​"Pengecut," bisik Julian pada kegelapan kamarnya. "Lo beneran pengecut, Julian."

​Dia menutup buku itu kasar, melemparnya ke lantai. Brak!

​Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Julian tidak mengerjakan PR. Dia mematikan lampu, menarik selimut sampai menutupi kepala, dan berharap dia tidak perlu bangun besok pagi.

​Sementara itu, di kamar Alea.

​Suasananya kacau balau. Bukan berantakan biasa, tapi berantakan destruktif.

​Poster-poster band yang tertempel di dinding sudah dirobek setengah. Senar gitar putus tergeletak di lantai. Alea duduk memeluk lutut di pojok kamar, di antara tumpukan baju kotor yang belum sempat dia masukkan keranjang.

​Di luar kamar, dia bisa mendengar suara Mama yang sedang menelepon Tante Lisa.

​"Iya, Jeng. Aduh, pusing saya. Si Alea bikin ulah lagi di sekolah. Katanya band-nya didiskualifikasi gara-gara bawa pengaruh buruk. Syukur deh, biar dia kapok. Biar dia sadar kalau musik itu nggak ada gunanya. Coba kayak Tetehnya..."

​Alea membenamkan wajahnya ke lutut. Menutup telinga rapat-rapat.

​Pengaruh buruk.

​Kata itu terus berputar di kepalanya.

​Alea selalu tahu dia bukan anak baik-baik. Dia urakan, dia malas, dia kasar. Tapi dia tidak pernah berniat jahat. Dia mengajak Julian masuk ke band karena dia melihat Julian butuh pelepasan. Dia pikir dia sedang menyelamatkan Julian dari kehidupan robotnya.

​Ternyata dia salah. Dia justru menghancurkan Julian.

​Gara-gara dia, Julian kehilangan reputasinya. Gara-gara dia, Julian dimarahin ayahnya. Dan yang paling parah, Julian menyesal mengenalnya.

​"Gue nyesel kenal sama kita. Gue nyesel kenal lo."

​Air mata Alea sudah kering. Yang tersisa hanya rasa hampa.

​Dia menatap gitar elektrik merahnya yang bersandar di lemari. Gitar itu tampak seperti benda asing sekarang. Benda terkutuk.

​"Lo bener, Ma," gumam Alea serak. "Musik emang nggak ada gunanya. Cuma bikin sakit hati."

​Alea berdiri dengan kaki lemas. Dia mengambil gigbag (tas gitar) hitamnya. Dengan gerakan lambat, dia memasukkan gitar itu ke dalam tas. Menutup resletingnya perlahan. Ziiip.

​Suara resleting itu terdengar seperti suara penutupan peti mati mimpinya.

​Alea mendorong tas gitar itu ke kolong tempat tidur, ke bagian paling dalam, di antara debu dan kotak sepatu bekas.

​"Tidur yang tenang," bisik Alea. "Kita nggak bakal main lagi."

​HP-nya bergetar di kasur. Pesan dari Raka di grup The Rebels.

​Raka: Guys, besok kumpul di kantin ya. Kita bahas nasib band. Siapa tau masih bisa lobi Kepsek.

Dito: Mustahil, Ka. Keputusan udah final. Rian yang megang kendali sekarang.

Beni: Phantom gimana? Ada kabar?

​Alea membaca pesan itu dengan tatapan kosong. Dia tidak membalas. Dia menekan tombol Leave Group.

​Alea left the group.

​Dia melempar HP-nya ke kasur, lalu mematikan lampu kamar. Gelap. Sama seperti masa depannya.

​Hari Selasa. Sekolah terasa seperti neraka.

​Julian datang ke sekolah diantar supir sampai depan lobi. Dia berjalan menunduk, menghindari tatapan semua orang. Gosip tentang "Ketua OSIS munafik" masih hangat.

​Saat istirahat, Julian duduk sendirian di perpustakaan. Tidak ada yang berani mendekatinya, atau mungkin tidak ada yang mau. Dia sendirian lagi. Kembali ke titik nol. Bedanya, dulu dia sendirian dan dihormati. Sekarang dia sendirian dan dikasihani.

​Dia membuka tasnya untuk mengambil bekal makan siang (karena uang jajannya disita).

​Tangannya menyentuh sebuah map cokelat di bagian paling belakang tas.

​Map bukti korupsi Rian.

​Kemarin, saat diusir Pak Burhan, Julian lupa mengeluarkan map ini. Map ini selamat dari penyitaan ayahnya karena terselip di antara buku paket Biologi yang tebal.

​Julian menarik map itu sedikit. Mengintip isinya. Bukti-bukti ini masih valid. Masih sangat kuat.

​Buat apa? batin Julian pesimis. Gue udah diskors. Gue udah dibenci Alea. Pensi udah dipegang Rian. Percuma.

​Dia hendak memasukkan map itu lagi, ketika matanya menangkap sosok di balik rak buku seberang.

​Alea.

​Gadis itu sedang mengembalikan buku pinjaman. Penampilannya... berbeda.

Rambutnya yang biasanya digerai berantakan kini diikat satu ke belakang dengan rapi, meski terlihat lepek. Dia tidak memakai jaket denim atau aksesoris aneh-aneh. Seragamnya dimasukkan (tumben).

​Tapi yang paling mencolok adalah matanya. Mata cokelat yang biasanya menyala penuh api pemberontakan itu kini redup. Mati. Seperti mata ikan yang sudah lama di pasar.

​Alea meletakkan buku, lalu berbalik. Dia melihat Julian.

​Waktu seolah berhenti.

​Julian ingin bicara. Ingin bilang maaf. Ingin bilang kalau dia tersiksa.

​Tapi Alea hanya menatapnya sekilas, tanpa emosi, lalu memalingkan wajah dan berjalan pergi. Seolah-olah Julian adalah orang asing. Atau lebih parah: seolah-olah Julian tidak ada.

​Julian merasakan nyeri yang luar biasa di ulu hatinya. Diabaikan ternyata jauh lebih sakit daripada dimaki.

​"Sakit, kan?"

​Suara cempreng Rian terdengar.

​Julian menoleh. Rian berdiri di ujung rak buku sambil tersenyum mengejek. Dia memakai ban lengan Ketua Pelaksana Pensi—ban lengan yang dulu milik Julian.

​"Gimana rasanya jadi rakyat jelata, Jul?" tanya Rian puas. "Enak kan hidup tanpa beban? Lo harusnya makasih sama gue. Gue udah bebasin lo dari cewek pembawa sial itu."

​Tangan Julian terkepal di bawah meja. Ingin rasanya dia meninju wajah Rian sampai giginya rontok.

​"Minggir, Rian," kata Julian datar.

​"Ups, galak," Rian tertawa. "Tenang aja. Pensi bakal aman di tangan gue. Gue udah deal sama vendor baru. Cashback-nya lumayan buat modal liburan ke Bali."

​Mata Julian membelalak. Rian mengakuinya begitu saja?

​"Lo... lo ngaku korupsi?" desis Julian pelan.

​"Kenapa enggak? Nggak ada yang bisa buktiin kok," bisik Rian, mendekatkan wajahnya ke Julian. "Lo itu pinter, Jul. Tapi lo terlalu lurus. Di dunia nyata, yang licik yang menang. Nikmatin masa skorsing lo ya."

​Rian menepuk bahu Julian, lalu melenggang pergi sambil bersiul.

​Julian menatap punggung Rian. Kemarahannya yang tadi padam, kini mulai memercik lagi. Kecil, tapi panas.

​Yang licik yang menang?

​Julian meraba map cokelat di dalam tasnya lagi.

​Rian salah besar. Julian memang lurus. Tapi Julian yang sekarang sudah pernah belajar dari Alea. Dia sudah pernah menjadi Phantom. Dan Phantom tidak suka kalah.

​Julian belum kalah. Dia hanya sedang istirahat.

​"Liat aja nanti," gumam Julian.

​Dia mengambil secarik kertas kecil, menulis sesuatu di sana, lalu menyelipkannya ke dalam buku paket Fisika milik Alea yang baru saja dikembalikan gadis itu ke rak.

​Itu adalah pertaruhan terakhirnya. Jika Alea membaca pesan itu, mungkin masih ada harapan. Jika tidak... maka semuanya benar-benar berakhir.

​Pesan di kertas itu singkat:

f_{kita} \neq 0. Resonansi belum selesai. Cek loker lo jam 3.

...****************...

BERSAMBUNG.....

Terima kasih telah membaca 💞

Jangan lupa bantu like komen dan share

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!