NovelToon NovelToon
KERIKIL BERDURI - Sucinya Hati Dan Berdarahnya Janji

KERIKIL BERDURI - Sucinya Hati Dan Berdarahnya Janji

Status: sedang berlangsung
Genre:Gangster / Identitas Tersembunyi / Epik Petualangan / Barat / Persaingan Mafia
Popularitas:199
Nilai: 5
Nama Author: Ardin Ardianto

rapuhnya sebuah jalan bersih yang dipilih, membawanya ke arah yang berlawanan. Setiap langkahnya seperti berjalan di atas kerikil yang berduri tajam—menyakitkan berbahaya, dan tak mudah untuk kembali pada jalan yang bersih, Di tengah kekacauan, hanya satu yang tetap suci: hati dan janji. Namun janji yang dipilih untuk di ucapkan kini tersayat oleh darah dan pengkhianatan karna arus sebuah jalan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ardin Ardianto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hampir Gila

Jumat pagi, pukul 08:15.

Kantor kecil Farhank di pinggir pelabuhan Tanjung Priok terasa seperti sarang binatang yang terpojok. Bau kopi hitam basi dan asap cerutu murahan menggantung tebal di udara. Meja kayu reyot penuh kertas log kapal, foto kontainer, dan cangkir kopi yang sudah dingin. Lampu neon di plafon berkedip pelan, seperti detak jantung yang lemah.

Farhank duduk di kursi lipat, tangan mengepal di meja, mata merah karena kurang tidur dan marah yang menumpuk. Rambutnya acak-acakan, kemeja hitamnya kusut, kerah terbuka satu kancing. Di depannya, tablet menampilkan log terbaru: kontainer kuning BBC Phantom hilang lagi di Busan. Keempat kalinya pengiriman gagal. Keempat kalinya senjata lenyap tanpa jejak.

Baron berdiri di sudut ruangan, pistol emas di pinggang, tangan disilang. Dua anak buah lain duduk di kursi plastik, mata menunduk, tak berani bicara.

Farhank tiba-tiba berdiri, menendang kursi hingga terbalik. **KRAK!** Suara kayu pecah menggema.

“Gila! Gila semua! Kontainer hilang lagi! Keempat kalinya! Senjata kita lenyap! Uang Agung lenyap! Dan gue yang disalahin!”

Baron maju pelan. “Boss… kita sudah cek semuanya. Log kapal bersih sampai Busan. Orang dalam di Panama bilang kontainer utuh. Di Singapore hilang. Ini bukan kesalahan kita.”

Farhank tatap Baron dengan mata liar. “Bukan kesalahan kita? Lalu siapa? Hantu? Setan? Ada pengkhianat di dalam! Ada yang bocorin ke musuh!”

Ia ambil botol air mineral di meja, lempar ke dinding. **PEC!** Pecahan plastik beterbangan.

“Harman dan Taplo nggak bersalah! Interogasi kemarin buang waktu! Mereka diplomat, nggak pegang operasi! Jadi siapa?!”

Shadiq masuk pelan dari pintu belakang. Ia dengar teriakan dari luar. Wajahnya tenang, tapi mata waspada. “Boss… gue datang.”

Farhank langsung berbalik, jari menunjuk Shadiq. “Lo! Lo telat lagi! Lo di mana kemarin malam? Lo tahu apa soal kontainer kuning?!”

Shadiq angkat tangan pelan. “Boss… gue nggak tahu. Gue cuma ikut tim lo. Gue nggak ambil kontainer. Gue nggak punya tim sendiri.”

Farhank maju, dada naik turun. “Lo selalu ada alasan! Lo sakit pas interogasi. Lo telat pas rapat. Lo tahu apa yang gue pikir? Lo pengkhianat!”

Shadiq tatap mata Farhank, suara rendah tapi tegas. “Boss… kalau gue pengkhianat, gue nggak akan di sini sekarang. Gue bisa kabur kemarin. Tapi gue di sini. Gue mau bantu lo cari dalangnya. Gue nggak bohong.”

Farhank diam lama. Napasnya masih berat. Lalu ia duduk kembali, tangan menutup wajah. Suara pelan, hampir putus asa. “Gue hampir gila. Pengiriman gagal terus. Agung marah besar. Kalau pengiriman ke-3 gagal lagi… gue mati. Kita semua mati.”

Baron maju. “Boss… kita harus cari pengkhianatnya. Lo curiga siapa?”

Farhank angkat kepala. Matanya menyipit ke Shadiq. “Lo. Gue curiga lo.”

Shadiq tidak mundur. “Curiga gue? Silakan bunuh gue sekarang kalau lo yakin. Tapi lo tahu gue nggak bisa ambil kontainer sendirian. Itu operasi besar. Bukan gue.”

Farhank tatap Shadiq lama. Lalu geleng pelan. “Lo benar. Lo nggak mampu sendiri. Tapi ada orang dalam. Gue akan cari tahu. Besok malam lo ketemu gue lagi di gudang. Gue tahu ada pengkhianat. Dan kalau lo terlibat, lo mati duluan.”

Shadiq angguk pelan. “Gue tahu.”

Farhank berdiri lagi. “Pergi. Gue mau sendiri.”

Shadiq keluar gudang. Motor butut dinyalakan. Angin pagi panas membakar kulit. Di kepala:

*Farhank hampir gila. Pengiriman gagal terus. Dia curiga gue. Tapi gue punya bukti Kelinci Perak yang ambil. Gue bisa alihkan tuduhan.*

Ia pulang ke kontrakan. Duduk di sofa. Ponsel Kelinci Perak bergetar. Pesan dari “KP1”:

“Farhank curiga lo. Lo harus bunuh dia sebelum dia bunuh lo. Besok malam ketemuan di gudang. Bawa AK.”

Shadiq tatap pesan itu.

*Gue nggak mau bunuh. Tapi kalau nggak… Arva & Irva dalam bahaya.*

Ia taruh ponsel.

*Gue harus keluar dari ini. Tapi gimana?*

Pagi Jumat itu, Shadiq sendirian.

Tapi di dalam kepala, rencana mulai terbentuk.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!