Willie, seorang pengusaha muda yang sukses, hidupnya hancur seketika ketika sang istri, Vira meninggal secara tragis setelah berusaha membuka kasus pemerkosaan yang melibatkan anak didiknya sendiri.
Kematian Vira bukan kecelakaan biasa. Willie bersumpah akan menuntut balas kepada mereka yang telah merenggut keadilan dan istrinya.
Namun di balik amarah dan tekadnya, ada sosok kecil yang menahannya untuk tidak tenggelam sepenuhnya, putri semata wayangnya, Alia.
Alia berubah menjadi anak yang pendiam dan lemah sejak kepergian ibunya. Tidak ada satu pun yang mampu menenangkannya. Hanya seorang guru TK bernama Tisha, wanita lembut yang tanpa sengaja berhasil mengembalikan tawa Alia.
Merasa berhutang sekaligus membutuhkan kestabilan bagi putrinya, Willie mengambil keputusan untuk melakukan pernikahan kontrak dengan Tisha.
Willie harus memilih tetap melanjutkan dendamnya atau mengobati kehilangan dengan cinta yang tumbuh perlahan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cerita Tina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bukti
Setelah pesawat mendarat dan pejabat itu keluar dari bandara dengan wanita simpanannya, Willie langsung mengikuti dari jauh. Ia menjaga jarak, seolah hanya orang berpergian biasa.
Ketika pejabat itu masuk ke sebuah hotel mewah, Willie berdiri di lobi, pura-pura memeriksa ponselnya. Ia mengintip resepsionis yang sedang memberikan kartu kamar pada pasangan itu.
Beberapa menit kemudian, Willie menghampiri resepsionis yang sama.
“Saya ingin kamar, lantai yang sama seperti kamar 1807 kalau bisa.”
Ia berkata santai, seolah itu hal wajar. Resepsionis menatapnya sebentar sebelum mengetik cepat dan mengangguk.
“Baik, kami masih ada 1811. Satu lorong yang sama.”
Willie menerima kartu kamar itu sambil mengucap terima kasih.
Seolah keberuntungan sedang berpihak padanya. Balkon kamar Willie kebetulan menghadap ke arah balkon 1807. Willie melihat gerakan di balkon sebelah, wanita itu memeluk pejabat itu dari belakang sambil tertawa.
Willie mengangkat ponselnya, satu tangan di saku, tubuhnya tampak santai. Lengannya bergerak sedikit seolah mengambil foto keindahan di luar hotel. Padahal kamera mengarah tepat pada pasangan itu.
Rekaman video berjalan 40 detik, serta ada beberapa foto mereka. Willie menghela napas panjang. Semua bukti sudah di tangan. Cukup untuk menghancurkan karier pria itu.
Sambil memasukkan ponselnya ke saku, Willie tersenyum miring, "Ini untuk Vira dan Lestari." gumamnya.
Willie kembali ke kamarnya. Ia segera membuka jadwal tiket di ponselnya, memesan penerbangan besok ke Indonesia. Ia tidak ingin satu detik pun terbuang untuk orang seperti pejabat itu.
Ada rasa resah juga mengganggu dadanya. Ia tidak ingin meninggalkan Tisha dan Alia terlalu lama.
***
Paginya, saat sarapan. Tisha menuang susu ke gelas Alia. Ia sesekali melirik ke tempat Willie biasanya duduk. Namun sudah berapa lama pria itu tak kunjung muncul.
“Bi, Pak Willie belum turun?” tanya Tisha. Ia pikir Willie hanya terlambat bangun.
Ratih menoleh. “Pak Willie semalam berangkat ke luar negeri, Bu.”
Tisha tertegun. “Apa?”
Tisha kaget, ia benar-benar tak tahu tentang kepergian pria itu.
“Beliau pergi mendadak sekali,” lanjut Ratih. “Saya kira Bu Tisha tahu. Soalnya, Pak Willie sempat keluar dari kamar Alia sebelum pergi.”
Tisha terdiam, 'Berarti dia melihatku tidur dengan Alia dan aku tak sadar sama sekali. Kenapa dia tidak bilang apa-apa?'
Tisha mencoba bersikap biasa saja, “Oh begitu.” jawabnya datar.
'Dia benar-benar seenaknya sendiri.' batin Tisha.
***
Willie sudah tiba di bandara. Begitu keluar dari pintu kedatangan, ia segera menelepon ke rumah. Kebetulan yang mengangkat adalah Bi Ratih.
“Bi, bagaimana di rumah? Aman semuanya?”
“Aman, Tuan. Alia tadi ikut Bu Tisha ke rumah orangtuanya, karena Bu Tisha ada jadwal ke kampus.”
“Baik.” jawab Willie singkat.
Begitu telepon tertutup, ia langsung menekan nomor Tisha. Lalu suara lembut terdengar dari seberang.
“Assalamu’alaikum, Pak.”
“Wa'alaikumsalam. Kau di mana?” tanya Willie tanpa basa-basi.
“Saya di kampus.”
“Kenapa tidak memberitahuku? Kapan pulang?”
“Sebentar lagi,” jawab Tisha singkat.
Panggilan terputus begitu saja. Willie merasa sedikit kesal karena tidak diberi kabar.
Di kampus, Tisha memasukkan ponselnya lagi kedalam tas. “Apa-apaan itu,” dengusnya.
“Ia memintaku melaporkan setiap langkah, sedangkan dia sendiri pergi ke luar negeri tidak memberitahuku Sepatah katapun." batinnya.
Tisha menghela napas panjang, karena pada akhirnya ia memang sudah terbiasa menghadapi Willie yang sulit ditebak.
Willie berjalan cepat menuju parkiran bandara. Ia merasa khawatir. Sebentar lagi malam, dan Tisha masih di luar.
Tanpa berpikir panjang, Willie melajukan mobilnya. Ia tidak memberi kabar akan menjemput gadis itu. Ia bahkan sudah lebih dulu menghubungi sopir, memintanya jangan menjemput Tisha.
Di sisi lain, Tisha baru keluar dari gerbang kampus. Ia tertawa kecil bersama teman-temannya sambil membicarakan tugas kuliah yang barusan selesai.
Ekspresinya lepas, berbeda jauh dari wajah datarnya saat bersama Willie. Dari kejauhan, Willie melihat itu semua. Ada sesuatu yang terasa tidak nyaman di dadanya.
“Ternyata dia bisa sebahagia itu di luar,” batinnya.
Mobilnya perlahan mendekat, lalu berhenti tepat di belakang Tisha. Salah satu temannya berbisik, “Sha, itu suamimu sudah datang.”
Tisha terkekeh. “Jangan bercanda, dia lagi di luar ne—”
Bip. Klakson berbunyi pendek membuatnya tersentak.Tisha menoleh, matanya membulat melihat mobil yang familiar. 'Astaga, itu beneran Willie.'
Willie menurunkan kaca mobil, bibirnya terangkat sedikit.
“Kejutan,” ucapnya santai.
Teman-temannya langsung bersorak, “Cieeee!”
Tisha buru-buru menutup wajah saking malunya, lalu cepat-cepat pamit. Ia berlari kecil ke arah mobil, takut Willie melakukan hal memalukan lagi seperti sebelumnya.
Ia melambaikan tangan ke teman-temannya sebelum menutup pintu mobil.
Begitu duduk, ia langsung berkata,
“Pak, kenapa tiba-tiba menjemput?"
Willie mengangkat alis. “Apa begitu caramu menyambut suamimu pulang dari jauh?”
Tisha menyilangkan tangan di dada. “Itu tidak lucu.”
Willie mendecak pelan. “Ya, aku memang kurang lucu dibanding teman-temanmu. Dengan mereka kau bisa tertawa lepas tapi denganku? Kau seperti sedang duduk di ruang sidang.”
Tisha menoleh sekilas, “Itu karena anda sendiri.”
“Mengapa aku?” tanya Willie lirih.
“Ya, Anda bertingkah sesuka hati anda saja. Anda datang dan pergi tanpa berkabar, sedangkan saya harus melaporkan semua gerak saya. Itu memberatkan sepihak.” gerutu Tisha.
Willie terdiam. Tidak berusaha membantah. Beberapa detik berlalu sebelum akhirnya bibirnya terangkat tipis seperti menahan sesuatu antara rasa bersalah dan gengsi.
Ia mengangkat tangannya dan mengusap kepala Tisha perlahan.
“Maaf.” suaranya rendah. “Aku membuatmu tak nyaman.”
Tisha memegang pergelangan tangan Willie untuk menghentikan gerakan itu.
“Jangan seperti ini.”
Willie menoleh, bingung tapi tetap dengan sisi egonya yang tak mau luluh begitu saja.
“Hmm? Apa maksudmu?”
Tisha menghela napas.“Perhatian Anda itu selalu datang tiba-tiba. Saya selalu bingung harus bagaimana.”
“Kenapa kau tidak suka aku menunjukkan perhatianku padamu?”
Tidak ada respons. Tisha terdiam lama.
“Tisha,” panggil Willie lebih lembut.
Namun gadis itu tetap menunduk seakan-akan ada sesuatu yang berat menahan suaranya untuk keluar.
Willie akhirnya menepikan mobil. Tisha tersentak. “Kenapa berhenti di sini?” tanyanya bingung.
“Jawab aku, Tisha,” ucap Willie, menoleh padanya. “Kenapa aku tidak boleh memberi perhatian padamu?”
“Karena kita bukan pasangan sesungguhnya,” jawabnya lirih.
Willie menarik napas panjang, kedua tangannya masih menggenggam setir. “Justru karena itu aku tidak mau orang curiga.”
“Saya tidak mau begitu,” sahut Tisha cepat.
Willie memiringkan kepala, sorot matanya mencari penjelasan. “Boleh aku tahu alasannya?”
Tisha menelan ludahnya, “Saat kita selesai nanti, orang akan menebak-nebak. Mengapa kita berpisah. Sedangkan Bapak selalu bersikap baik pada saya, tentu saya yang terpojok”
Deg. Hati Willie mencelos. Ia tak menyangka gadis itu berpikir sampai sejauh itu.