Sejak ribuan tahun lalu, dunia telah diatur oleh sang Dewi Takdir. Namun sang Dewi harus mengorbankan kehidupannya yang pada saat itu tengah terjadi perang di alam dewa, antara kubu dewa dewi dengan kubu iblis.
Namun, pengorbanannya itu tidak bertahan lama, sang Dewi harus melakukan reinkarnasi untuk kembali menyeimbangkan dunia.
Akankah sang Dewi Takdir mampu kembali menyatukan takdir yang telah dijaganya beribu tahun yang lalu?
ikuti kisahnya dalam bab berikut ini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ShinZa_17, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
Mereka semua terlihat terkejut karena ada Iblis Batu Api di Gunung Yanhuo. Mereka awalnya berpikir mungkin ada hewan yang hidup di dalam tanah yang gersang.
GRRRR!
Makhluk itu berkilat marah karena ada yang masuk ke wilayahnya.
Paman Yun berkata, "Hati-hati semua."
BUGGHHH!
Iblis itu memukul tanah yang gersang membuat debu berhamburan. Mereka pun langsung menutup mata dengan tangan mereka.
Beberapa saat, mereka pun membuka matanya kembali, dan saling melirik satu sama lain.
"Kita tidak bisa membuat keributan besar. Karena ini baru awal perjalanan kita."
Mereka pun mengangguk.
Iblis Batu mengaum lebih keras. Dan kembali memukul tanah dengan lebih kuat. Tapi, mereka telah bersiap, dan mereka pun langsung menyingkir.
Sedangkan Lian, ia menghilang sekejap dan bayangannya menyatu dengan angin.
Dalam satu tarikan napas, ia sudah berada di belakang Iblis Batu Api itu dengan sebuah pedangnya.
CLANG!
Pedang itu hanya membuat goresan di permukaannya.
"Pertahanannya keras," ujar Lian cepat.
Bai Hu, Lian dan Paman Yun langsung berdiri di hadapan makhluk itu.
"Bai Hu," ucap Ling Xi pelan. "Sekarang!"
Bai Hu menggeram rendah. Perlahan ia membentuk wujud aslinya, rubah ekor sembilan.
Aura putih keemasannya menyelimuti tubuhnya, cahaya keemasannya membentuk garis di setiap bulunya.
Ia meloncat tinggi, cakarnya menghantam dada Iblis Batu Api. Dentuman keras menggema di udara, memaksa Iblis Batu Api dan Bai Hu mundur beberapa langkah.
Tapi, lava ditubuh Iblis Batu Api bukannya padam justru semakin menyala terang.
Sedangkan Bai Hu ia langsung kembali ke wujud manusianya. "Sekujur tubuhnya terbuat dari batu, jadi sulit untuk membunuhnya."
"Xi'er, jangan berpikir terlalu lama!" seru Paman Yun. Ia pun segera menancapkan tongkatnya ke tanah untuk membuat formasi array penahan panas di sekeliling lembah agar tidak runtuh.
Setelah berpikir agak lama, akhirnya Ling Xi pun membuat keputusan.
Ia segera mengangkat tangannya. Di telapak tangannya perlahan muncul cahaya keemasan bercampur merah, bukan api - melainkan takdir yang meniru unsur panas sekitarnya.
Perlahan menutup matanya, benang-benang takdir muncul di depannya. "Jika makhluk ini terikat pada unsur api," ucapnya tenang. "Kalau begitu..."
Ranah Ilahi Takdir berdenyut. Dalam sekejap, aliran panas yang berada di sekitar lembah terhenti. Api yang menyala ditubuh Iblis Batu Api bergetar, seolah kehilangan kendali.
"Takdir... diputuskan," bisik Ling Xi.
Dengan satu gerakan pedang ditangannya, cahaya emas menembus tubuh makhluk itu.
Retakan pun mulai menyebar dari dadanya, dan -
KRAAKKK!
Iblis Batu Api itu runtuh menjadi pecahan Batu hitam yang masih mengepulkan asap.
Keheningan mulai menyelimuti lembah, udara panas di sekitar kembali mengalir.
Ling Xi menghela napas perlahan. "Ini baru penjaga luar... Gunung Yanhuo pasti lebih berbahaya dari yang kita kira."
Bai Hu mendekat, matanya bersinar tajam. "Tapi aku bisa merasakannya. Aura Phoenix Api... terasa sangat kuat. Ia benar-benar ada di gunung ini."
Lian menatap ke arah barat, tempat matahari hampir tenggelam. Siluet samar gunung berwarna merah gelap mulai terlihat dari kejauhan, puncak gunung itu diselimuti kabut asap tipis seperti bara api yang tak pernah padam.
"Besok kita akan sampai di kaki gunung," kata Lian. "Dan sejak saat itu... tidak ada lagi kata untuk mundur."
Ling Xi menatap Gunung Yanhuo dengan lama, dadanya berdetak cepat antara harapan dan kecemasan.
"Phoenix Api," bisiknya. "Aku datang bukan untuk menantangmu... melainkan memohon agar membantuku untuk menyelematkan dunia."
"Xi'er, ayo istirahat dulu," ucap Paman Yun.
"Baik, paman."
Mereka pun bermalam di lembah Gunung Yanhuo, dengan mendirikan tenda di hampar luas yang ditumbuhi pepohonan kering dan kaktus.
Namun, mereka tidak bisa tidur karena panasnya udara di lembah Gunung Yanhuo ini. Akhirnya mereka semua pun begadang dengan melakukan kultivasi untuk meredam energi yang bergejolak akibat pertempuran dengan Iblis Batu Api.
...****************...
Matahari pagi mulai terbit dari ufuk timur, dengan warna merah ke jingganya yang seolah siap untuk memulai hari baru.
Panas semakin kuat ketika mereka mulai mendekati kaki Gunung Yanhuo. Setiap langkah yang mereka ambil membuat napas terasa lebih berat, tanah disekitar mulai retak dan batu-batu berubah warna menjadi merah gelap.
Akhirnya, mereka pun tiba di kaki Gunung Yanhuo.
Gunung itu menjulang tinggi, seperti pilar yang menancap di bumi.
Asap tipis terlihat mengepul di balik bebatuan. Suara gemuruh samar kian terdengar dari dalam perut gunung.
"Ini dia..." gumam Bai Hu. Bulu telinganya sedikit mengembang, namun naluri hewan sucinya mulai merasakan tekanan besar dari makhluk yang bersemayam di gunung ini.
"Dari yang paman dengar, di Gunung Yanhuo ini ada 2 penjaga. Kalau begitu berarti di kaki gunung ini ada penjaga kedua. Tapi, paman tidak tahu yang menjaga Gunung Yanhuo di kaki gunung ini," jelas Paman Yun.
Mereka yang mendengar pun langsung bersiap dengan apapun yang terjadi.
Ketika mereka fokus, tiba-tiba tanah di depan mereka menggembung seperti air mendidih. Batu dan pasir pun terlempar ke udara, lalu -
BLUARRR!
Sesosok makhluk muncul dari dalam tanah.
Tubuhnya panjang, memiliki paruh seperti bebek, enam kaki, terdapat duri di punggungnya dan memiliki ekor yang lebar, menghantam tanah dengan suara berat.
Makhluk itu mengeluarkan suara rendah, setengah dengusan dan setengah gemuruh.
"... Kenapa mirip dengan...?"
...... to be continued ......