Ji Fan, seorang pemuda dari clan ji yang memiliki mata misterius, namun akibat mata nya itu dia menjadi olok-olokan seluruh clan.
Didunia yang kejam ini, sejak kecil dia hidup sebatang kara tanpa kultivasi, melewati badai api sendirian. Sampai pada akhirnya dia tanpa sengaja menemukan sebuah buku tua yang usang. Buku itu adalah peninggalan ayahnya yang didapat dari seorang laki laki paruh baya dimasa lampau. Awalnya dia tidak mengerti buku apa itu, Tetapi setelah mempelajari bahasa dewa kuno, dia mulai mengerti, buku itu adalah buku Teknik Terlarang Kultivasi Naga Kegelapan. Dalam buku itu tertulis berbgai ilmu pengetahuan dan langkah-langkah jalan kultivasi, sejak saat itu Ji Fan berubah dari yang awalnya sampah menjadi kultivator puncak yang ditakuti di seluruh alam. Dan orang-orang memanggilnya dengan sebutan 'Orang Buta Dari Kegelapan Naga' .
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bingstars, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 21
Ji Fan menyeret kaki kanannya yang pincang kembali ke penginapan Sarang Tikus. Betis Ji Fan terasa kaku. Kain jubah yang Ji Fan ikat untuk menutupi luka sabetan pedang sudah basah oleh darah dan menempel lengket pada kulit. Tapi yang paling menyiksa adalah rusuk Ji Fan. Setiap kali Ji Fan menarik napas, dada kirinya terasa nyeri seolah ada tulang yang menusuk paru-paru.
Ji Fan masuk ke kamar sempit itu dan menjatuhkan diri ke lantai. Debu beterbangan saat punggung Ji Fan menghantam ubin dingin.
"Menyedihkan," ejek Naga Kecil di dalam kepala Ji Fan. "Pewaris Naga Kegelapan terbaring di lantai kotor. Dipukuli pelayan klan sendiri sampai babak belur. Kau benar benar tidak punya harga diri."
"Tutup mulutmu," balas Ji Fan dengan napas tersengal.
Ji Fan merogoh saku jubahnya. Kosong. Koin emas terakhir Ji Fan hilang saat perkelahian tadi. Sekarang Ji Fan miskin, terluka, dan diburu.
"Rusukmu retak, Bocah. Kalau kau tidak segera mengobatinya, kau tidak akan bisa mengumpulkan Qi. Kau akan mati sebelum ujian dimulai," ucap Naga Kecil datar.
Ji Fan tahu itu benar. Ji Fan butuh obat. Ji Fan butuh uang.
Tangan Ji Fan meraba sabuk di pinggangnya. Di sana ada saku tersembunyi berisi lima butir Batu Roh Tingkat Rendah. Itu harta terakhir dari ayahnya. Ji Fan menyimpannya selama ini sebagai kenang-kenangan.
Ji Fan mengeluarkan batu-batu itu. Cahayanya redup di ruangan yang gelap.
"Jual" perintah Naga Kecil.
"Ini punya Ayah" tolak Ji Fan pelan.
"Ayahmu sudah mati. Kau masih hidup. Jual batu itu atau kau menyusul ayahmu malam ini," cecar Naga Kecil tanpa ampun. "Kau butuh modal untuk bangkit."
Ji Fan meremas batu itu kuat kuat. Hati Ji Fan sakit, tapi logika Ji Fan membenarkan ucapan naga itu. Ji Fan tidak punya pilihan lain.
"Baiklah," gumam Ji Fan.
Ji Fan bangkit berdiri sambil memegangi rusuknya yang nyeri, lalu keluar lagi menembus malam.
Ji Fan berjalan menunduk menyusuri gang-gang sempit di Distrik Selatan. Ji Fan mencari tempat gadai yang tidak banyak bertanya. Akhirnya, Ji Fan berhenti di depan sebuah toko tua dengan plang miring bertuliskan "Vulture".
Di dalam, seorang pria tua berkacamata tebal duduk di balik teralis besi. Toko itu bau apek dan kertas tua.
Ji Fan meletakkan lima Batu Roh di meja kayu.
"Berapa?" tanya Ji Fan singkat.
Pria tua itu mengambil satu batu, melihatnya sekilas di bawah cahaya lilin, lalu melemparnya kembali ke meja.
"Lima puluh koin emas untuk semuanya."
"Apa?" sentak Ji Fan. Emosi Ji Fan naik. "Harga pasar seratus koin per butir! Ini lima butir! Harusnya lima ratus!"
Pria tua itu terkekeh sinis. Matanya menatap bercak darah di baju Ji Fan.
"Kau berdarah, Nak. Kau buronan atau baru saja berkelahi. Kau butuh uang cepat dan tidak bisa pergi ke toko resmi," ucap pria tua itu santai. "Lima puluh koin. Ambil atau pergi. Tapi kalau kau keluar dari pintu itu, aku akan teriak panggil penjaga kota."
Tangan Ji Fan terkepal. Ji Fan ingin sekali memukul wajah licik itu. Qi Kegelapan di perut Ji Fan bergejolak merespons amarah Ji Fan.
"Tahan," cegah Naga Kecil. "Kau sedang sekarat. Jangan cari masalah baru."
Ji Fan menghembuskan napas kasar. Ji Fan kalah posisi.
"Berikan uangnya," geram Ji Fan.
Pria tua itu melempar kantong koin kecil. Ji Fan menyambarnya dan langsung keluar. Hati Ji Fan terasa berat. Ji Fan baru saja menukar warisan ayahnya dengan harga sampah.
Dengan lima puluh koin di tangan, Ji Fan pergi ke penjual obat jalanan. Ji Fan tidak mampu membeli obat bagus di toko besar.
Ji Fan membeli satu toples Salep Tulang murahan yang baunya menyengat dan tiga butir Pil Ransum keras untuk pengganjal perut. Total belanja empat puluh koin.
Sisa uang Ji Fan tinggal sepuluh koin emas. Pas untuk biaya pendaftaran ujian besok.
Ji Fan kembali ke penginapan. Ji Fan membuka baju dan mengoleskan salep itu ke rusuk serta betisnya. Rasanya perih dan panas, membuat kulit Ji Fan memerah.
"Argh!" erang Ji Fan menahan sakit.
"Tahan sakitnya. Jadikan pelajaran," ucap Naga Kecil dingin. "Ingat betapa lemahnya kau hari ini."
Ji Fan diam saja. Ji Fan mencoba tidur dalam posisi duduk agar rusuknya tidak tertekan. Malam itu terasa sangat panjang.
Pagi harinya, Ji Fan berjalan menuju alun-alun Akademi Seribu Aliran.
Ribuan orang sudah berkumpul di sana. Suasananya sangat kontras. Di satu sisi, ada kereta kuda mewah milik tuan muda dari klan kaya. Mereka turun dengan pakaian bersih dan dikelilingi pelayan.
Di sisi lain, ada orang-orang seperti Ji Fan. Pakaian lusuh, wajah lelah, dan tatapan liar.
Ji Fan berdiri di barisan paling belakang. Ji Fan berjalan sedikit pincang. Bekas darah di bajunya sudah mengering menjadi noda cokelat gelap.
"Lihat itu," bisik seorang pemuda di samping Ji Fan sambil menunjuk ke depan. "Itu Tuan Muda Chen. Katanya dia sudah Tingkat 5. Pasti lolos."
Ji Fan tidak peduli. Ji Fan hanya fokus mengatur napas agar dadanya tidak nyeri.
Ji Fan maju ke meja pendaftaran saat gilirannya tiba.
"Nama?" tanya petugas tanpa melihat wajah Ji Fan.
"Ji Fan."
"Sepuluh koin emas."
Ji Fan meletakkan sepuluh koin terakhirnya di meja. Sekarang Ji Fan benar-benar bangkrut. Jika gagal hari ini, Ji Fan tamat.
"Masuk," perintah petugas itu sambil memberikan tiket kertas.
Ji Fan masuk ke lapangan luas yang dikelilingi tembok tinggi. Ribuan peserta berdiri berdesakan di sana. Matahari mulai tinggi dan panasnya menyengat.
Tiba-tiba, suara gong berbunyi keras.
Semua orang mendongak. Di atas balkon tinggi, berdiri seorang pria tua berjubah putih. Itu Tetua Zhen. Wajahnya keras dan tatapannya tajam.
"Selamat datang di Akademi Seribu Aliran," seru Tetua Zhen dengan suara lantang yang diperkuat Qi. "Kalian pikir kalian ke sini untuk tes bakat? Tes pegang bola kristal?"
Tetua Zhen tertawa meremehkan. "Mimpi."
Para peserta mulai kasak-kusuk gelisah.
"Kami mencari petarung, bukan anak manja. Ujian pertama adalah bertahan hidup," lanjut Tetua Zhen.
Tetua Zhen menjentikkan jari.
KRAK!
Gerbang besi di sekeliling lapangan tertutup rapat. Suara gemuruh terdengar dari bawah tanah.
"Ujian Tahap Satu Seleksi Alam."
Lantai di tengah lapangan terbuka. Sebuah lubang besar menganga. Dari dalam lubang itu, terdengar suara dengungan yang makin lama makin keras.
Baunya amis.
"Itu Lebah Jarum Besi" jelas Tetua Zhen santai. "Mereka belum makan seminggu. Tugas kalian cuma satu: Jangan keluar dari lapangan ini selama satu jam."
"Oh ya, sengatannya sedikit beracun. Rasanya seperti dibakar api. Selamat menikmati," tambah Tetua Zhen sambil tersenyum tipis.
WUUUSHH!
Ribuan lebah hitam seukuran kepalan tangan terbang keluar dari lubang. Pantat mereka memiliki sengat logam yang tajam.
Kepanikan langsung terjadi. Orang-orang berteriak dan berlarian.
"Aaaargh!" teriak seorang peserta di dekat Ji Fan saat lebah menyengat lehernya. Orang itu jatuh dan kejang-kejang.
Ji Fan mundur selangkah. Keringat dingin mengalir di punggung Ji Fan. Lebah-lebah itu bergerak sangat cepat.
"Jangan panik, Bodoh," ucap Naga Kecil cepat. "Lebah itu buta. Mereka menyerang target yang bergerak cepat dan mengeluarkan banyak Qi. Diam di tempat."
Ji Fan menarik napas pelan, menahan nyeri di rusuknya. Ji Fan melihat orang lain mengeluarkan pedang dan api. Hal itu justru membuat lebah-lebah makin agresif menyerang mereka.
Ji Fan memutuskan untuk diam. Ji Fan mematung.
"Tekan Qi sampai habis. Jadi batu," perintah Ji Fan pada dirinya sendiri.
Ji Fan menggunakan teknik penyembunyian diri yang biasa Ji Fan pakai saat berburu di hutan. Ji Fan berdiri kaku di tengah kekacauan orang-orang yang berlarian.
Seekor lebah terbang mendekat. Suara dengungannya terdengar jelas di telinga Ji Fan. Sengat besinya berkilau.
Jantung Ji Fan berpacu cepat. Refleks tubuh Ji Fan ingin memukul lebah itu.
"Jangan bergerak," batin Ji Fan keras.
Lebah itu berputar di depan wajah Ji Fan. Angin dari sayapnya terasa di pipi. Detik terasa seperti jam.
Kemudian, lebah itu terbang menjauh, mengejar orang lain yang berteriak-teriak sambil lari.
Ji Fan menghembuskan napas pelan. Ji Fan selamat.
Di atas balkon, Tetua Zhen tidak melihat ke arah kerumunan yang histeris. Mata tua Tetua Zhen terkunci pada satu sosok pemuda berbaju lusuh yang berdiri diam di tengah badai serangan lebah.
"Menarik," gumam Tetua Zhen.
Entah itu naga hitam di TOS Fang Xie Yue atau yang di Soul Land, yang duo itu, I weak for black dragons heheh..
Tapi overall, pacing kultivasinya terasa too fast. Biasanya kultivasi bisa sampai ratusan chapter, sedangkan di sini naiknya brak–brak banget. Jadi ada bagian sepele yang malah kepanjangan, sementara bagian yang harusnya epic justru terasa singkat.
Even so, dari cara nulis, penyampaian cerita, humor, sampai flow-nya. it works. Tulisan kakak rapi banget dan tetap enjoyable to read.
Respect, kak. ⭐⭐⭐⭐⭐ well deserved!
1-1-26
16.22 wib
1-¹-20²⁶
01-01-2026