Deskripsi Novel: Pantaskah Aku Bahagia
"Dunia melihatku sebagai badai, tanpa pernah mau tahu betapa hancurnya aku di dalam."
Lahir sebagai saudara kembar seharusnya menjadi anugerah, namun bagi Alsya Ayunda Anantara, itu adalah kutukan yang tak kasat mata. Di mata orang tuanya, dunia hanya berputar pada Eliza Amanda Anantara—si anak emas yang sempurna, cantik, dan selalu bisa dibanggakan. Sementara Alsya? Ia hanyalah bayang-bayang yang dipandang sebelah mata, dicap sebagai gadis pemberontak, jahat, dan tukang bully.
Di balik tawa cerianya yang dianggap palsu, Alsya menyimpan luka yang menganga. Ia hanya ingin dicintai. Ia hanya ingin diperhatikan. Itulah alasan mengapa ia begitu terobsesi mengejar Revaldi Putra Raharja. Baginya, memiliki Revaldi adalah cara untuk membuktikan bahwa ia jadi berharga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yunie Afifa ayu anggareni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10: JEBAKAN DAN PILIHAN
Revaldi tidak pernah terbiasa kalah, apalagi dipermalukan di depan banyak orang. Baginya, Samudera adalah parasit yang harus segera dibersihkan dari SMA Merdeka. Di ruang ganti cowok setelah latihan basket, Revaldi terlihat sedang membisikkan sesuatu kepada dua teman setianya, Dimas dan Bayu.
"Gue nggak mau tahu, pokoknya barang itu harus ada di tas dia sebelum jam istirahat kedua selesai," ucap Revaldi dengan nada rendah yang penuh kebencian.
"Beres, Val. Tapi kalau Samudera tahu gimana? Dia kelihatan bukan tipe cowok yang bisa diajak bercanda," tanya Dimas agak ragu.
"Dia nggak bakal tahu kalau loe berdua kerjanya bener. Habis itu, gue tinggal lapor ke guru kesiswaan kalau ada anak baru yang bawa barang terlarang ke sekolah. Beres, kan?" Revaldi tersenyum licik.
Sementara itu, di kelas, Alsya merasa gelisah. Sejak tadi pagi, dia merasa ada yang tidak beres dengan tatapan Revaldi. Dia mencoba mencari Samudera, tapi cowok itu sedang ada tugas di perpustakaan.
Saat jam istirahat kedua, Alsya tidak sengaja melewati lorong dekat loker cowok. Dia melihat Dimas dan Bayu keluar dari sana dengan terburu-buru sambil celingukan. Kecurigaan Alsya memuncak. Dia segera masuk ke ruang loker dan memeriksa loker nomor 14—loker milik Samudera yang kuncinya memang agak longgar.
Mata Alsya membelalak. Di dalam tas Samudera, ada sebuah bungkusan kecil berisi obat-obatan terlarang yang sengaja ditaruh di sana.
"Gila... ini pasti kerjaan Revaldi!" bisik Alsya panik.
Baru saja Alsya hendak mengambil barang itu untuk membuangnya, suara langkah kaki berat terdengar mendekat. Bukan hanya satu orang, tapi beberapa orang.
"Nah, Pak. Saya dapet laporan kalau ada siswa yang bawa barang mencurigakan di loker ini," suara Revaldi terdengar dari balik pintu, bersama dengan Pak Bagas, guru kesiswaan yang paling galak.
Alsya membeku. Kalau dia tertangkap memegang barang itu, dia yang akan kena masalah. Tapi kalau dia membiarkannya, Samudera yang akan dikeluarkan. Tanpa pikir panjang, Alsya memasukkan bungkusan itu ke dalam saku jaket hoodie-nya tepat saat pintu terbuka.
"Alsya? Sedang apa kamu di ruang loker laki-laki?" tanya Pak Bagas dengan nada curiga.
Revaldi yang berdiri di belakang Pak Bagas tampak kaget melihat Alsya, bukan Samudera. "Sya? Loe ngapain di sini? Samudera mana?"
Alsya mencoba bersikap setenang mungkin, meskipun tangannya di dalam saku sudah gemetar hebat. "Gue... gue cuma mau balikin buku Samudera yang kebawa gue tadi pagi. Emang kenapa, Pak?"
Pak Bagas langsung memeriksa loker Samudera. Kosong. Tidak ada apa-apa selain buku dan perlengkapan sekolah. Revaldi melongo, dia yakin banget Dimas sudah menaruhnya di sana.
"Mana laporannya, Revaldi? Loker ini bersih," ucap Pak Bagas tegas.
"Tapi Pak, saya yakin tadi ada—"
"Sudah, jangan main-main! Kembali ke kelas kalian masing-masing!" bentak Pak Bagas sebelum berlalu pergi.
Setelah Pak Bagas pergi, Revaldi mendekati Alsya dengan tatapan mengancam. "Loe ambil kan barangnya, Sya? Mana?! Loe belain dia sampai segitunya?"
Alsya menatap Revaldi dengan jijik. "Loe bener-bener rendah, Val. Gue nggak nyangka loe bakal sepicik ini cuma gara-gara ego loe terluka."
Alsya segera lari menuju atap sekolah, tempat biasanya Samudera berada. Begitu sampai di sana, dia menemukan Samudera sedang merokok tipis-tipis di pojokan. Alsya langsung menarik tangan Samudera dan menunjukkan bungkusan itu.
"Sam! Loe hampir aja dikeluarkan! Revaldi naruh ini di tas loe!" seru Alsya dengan napas terengah-engah.
Samudera menatap bungkusan itu, lalu menatap Alsya. Tidak ada raut takut di wajahnya, justru tatapannya melembut melihat kekhawatiran Alsya.
"Terus kenapa loe yang ambil? Kalau loe ketahuan tadi, loe yang bakal dikeluarin, Sya," ucap Samudera pelan.
"Gue nggak peduli! Gue udah biasa dibilang bermasalah, tapi loe... loe baru mulai hidup baru di sini, Sam. Gue nggak mau loe hancur gara-gara gue," jawab Alsya, air matanya mulai menetes karena takut sekaligus marah.
Samudera mengambil bungkusan itu dari tangan Alsya, lalu meremasnya dan membuangnya jauh ke bawah jembatan layang sekolah. Dia maju selangkah, menghapus air mata di pipi Alsya dengan ibu jarinya.
"Bego," bisik Samudera, tapi nada suaranya sangat hangat. "Tapi makasih. Mulai sekarang, gue nggak akan biarin si Revaldi itu nyentuh loe ataupun gue lagi."
Di bawah langit mendung sekolah, Alsya menyadari sesuatu. Dia rela hancur demi Samudera, dan dia tahu, Samudera juga akan melakukan hal yang sama untuknya.
bersambung ....