NovelToon NovelToon
Dear My'Adam

Dear My'Adam

Status: tamat
Genre:Miliarder Timur Tengah / Cintapertama / Cinta Murni / Tamat
Popularitas:391.2k
Nilai: 5
Nama Author: sinta amalia

Hijrahnya Ernest adalah titik awal perjalanannya untuk menjadi seorang hamba yang bertaqwa sekaligus perjuangannya untuk meraih bahagia bersama Aisya.
Pendidikan yang berjauhan menjadi ujian Aisya dan Ernest berikutnya, bersama kesibukan masing-masing yang semakin membuat hubungan keduanya berjarak, hingga seiring waktu keduanya hanya saling menitipkan pada Yang Maha Kuasa.

Setelah perpisahan lama, Ernest memutuskan untuk pulang dan berencana meminang Aisya, lalu ujian hubungan seperti apa yang Tuhan berikan untuk keduanya demi meningkatkan keimanan dan ketaqwaan? Bagaimana usaha mereka untuk meraih kebahagiaan yang diridhoi Sang Pencipta?

"Dear My'Adam...
jika memang kamulah Adamku, aku yakin Rabb akan menjaga raga, telinga, mata, dan hatimu hingga kamu kembali..."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sinta amalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DM'A_part 21

Mata Aisya sesekali menyipit, penuh sorot bahagia dan bersyukur.

Di scrollnya layar ponsel beberapa kali menatap potret dirinya dan Ernest sewaktu di Mekkah sebelumnya.

🌟 Flashback on

Selesai melakukan thawaf yang ketiga kalinya, rombongan jemaah dari mukadimah tour bergegas mengunjungi jabal Tsur.

Ernest sedang menyesuaikan pengaturan kameranya sementara Aisya tak lepas memandang jalanan menuju bukit yang berada di ketinggian 1405 meter mengungguli Jabal Nur.

Cuaca disini cukup terik membuat Aisya melengkapi dirinya dengan topi dan kacamata hitam.

"Mau pake suncream engga, by? Sini aku pakein aja, nanti kulit kamu gosong!"

Kang Tio masih woro-woro menggunakan pengeras suara yang ia sampirkan di pundak kanannya, seraya membimbing jamaah dan menjelaskan keistimewaan Jabal Tsur.

Ernest tersenyum ketika sang istri dengan telatennya mengolesi lengan dan wajahnya dengan suncream, ia juga tak segan menyeka keringatnya yang mengucur sepanjang garis wajahnya.

"Disinilah awal hijrahnya rasulullah bersama Abu Bakar menuju Madinah..." lirih Ernest tak lepas menatap Aisya lekat, wajah yang terbingkai jilbab syar'i dengan ditutup topi milik Ernest itu membuka kacamatanya, "dan disinila pulalah awal perjalanan kita berumah tangga...bersama aku dan kamu..." timpal Aisya dikekehi Ernest.

"Kamu mau pake topinya? Aku ngga papa pake jilbab kok, by?" Ernest menggeleng, "kamu aja. Aku ngga mau kepala kamu ikutan botak kaya aku nanti gara-gara kena sengatan sinar matahari..." jawab Ernest.

"Mana ada!" Aisya mendorong kecil nan manja lalu kemudian melingkarkan tangannya di lengan Ernest, "dulu rasul gandengan gini ngga ya sama Abu Bakar?" tanya Aisya berjalan bersama Ernest menyusul yang lain dimana mereka sudah menapaki jalur pendakian bukit Tsur berupa tapak batu besar.

Ernest menggeleng, "mereka saling gendong! Mau aku contohin?!" alisnya naik turun. Tau akan tingkat keusilan Ernest, Aisya mencebik, "ngarang aja! Kalo digendong unta iya..."

"Aku ngga bilang rasul digendong Abu Bakar atau sebaliknya loh! Maksud aku ya digendong unta..." kilahnya mulai datang lagi mode usilnya, Aisya mendorong sayang kepala Ernest, "bokis banget! Aku tau otak jahil kamu!" jawab Aisya, membuat perjalanan ini menjadi penuh senda gurau, sesekali Ernest atau Aisya saling menyeka keringat masing-masing.

Nafas yang mulai memburu cukup kontras dengan tekad mereka untuk sampai ke atas.

Suara empuk nan renyah kang Tio sedikit terdistrack oleh angin dan obrolan para pengunjung.

"Gua Tsur! Gua Tsur ini adalah gua----"

Aisya sama sekali tak mendengarkan suara kang Tio, ia lebih tertarik dengan penjelasan dari Ernest.

"Rasul selamat di gua ini, dari kejaran kaum Quraisy dengan pertolongan Allah lewat perantara hewan-hewan yang ada di dalamnya. Allah mengutus laba-laba dan burung merpati..." ucap Ernest menyentuhkan tangannya merasakan vibes ketika ada di jaman dimana rasul-Nya tengah bersembunyi, "masya Allah..."

"Coba kamu disitu, aku fotoin." Pintanya pada Aisya.

Satu jepretan manis tersimpan di memory kamera miliknya.

Rombongan sudah seperti anak itik yang mengikuti induknya ketika mengekori kang Tio.

Sesekali mereka tersusul dan terlewati oleh rekannya satu sama lain karena berhenti untuk beristirahat.

Setelah puas diri menikmati pemandangan kota Mekkah dari puncak bukit Tsur, Aisya dan Ernest melanjutkan perjalanan ke tempat tujuan berikutnya.

Jabal Rahmah, Aisya terdiam sejenak di jalanan berbatu depan sebuah bukit, dimana kini puluhan manusia sudah seperti semut berjalan menggeraya ngi diatasnya. Dengan sebuah monumen yang terbuat dari beton persegi empat dengan lebar kurang lebih 1,8 meter dan tinggi 8 meter.

"Jabal Rahmah, Sya...." Aisya bergumam lirih, penantian 6 tahun atas impian kedua remaja SMA di suatu siang kini di depan mata.

"Janji kamu ke aku," gumam Aisya mengerjap menjernihkan netranya dari lelehan bening yang memanas.

"Disana Adam dan Hawa bertemu, setelah ratusan tahun berpisah..."

Aisya melirik Ernest dengan isakan dan hidung yang memerah, "setelah sekian lama..." angguknya membenarkan dengan apa yang terjadi padanya dan Ernest juga.

"Tempat paling romantis di dunia yang ingin kamu datangi." Ernest mengusap ujung mata Aisya, "jangan nangis atuh, masa do'anya diijabah malah nangis..."

Aisya mendengus terharu dan refleks memeluk Ernest, ia menangis disana, teredam dadha Ernest.

"Makasih kamu udah bawa aku kesini," jawab Aisya.

Sikap keduanya cukup memancing reaksi sebagian orang, ada yang melihat geli, ada pula yang terbengong-bengong tak mengerti kenapa mereka bisa bikin adegan teletubbies disini.

"Mau do'a di atas sana ngga? Kalo aku sih banyak do'a yang harus dipanjatkan sama Rabb-ku..." ucap Ernest.

Masih di dalam dekapan Ernest, Aisya mengangguk cepat, ia mengurai pelukannya, "mau."

"Apa keinginan dan harapan kamu setelah ini?" tanya Ernest.

"Aku pengen punya anak..." jawab Aisya mantap, Ernest mengangguk, "insyaAllah..."

Dengan saling menggenggam tangan Aisya meniti jalan menanjak meski tak sejauh yang tadi, ketinggian Jabal Rahmah hanya 70 meter saja.

Bersama dengan ratusan pengunjung lain Aisya menyentuh monumen yang sayangnya sudah tak sebersih dulu, banyak tangan-tangan usil yang mencoret-coret nama dan harapannya disana.

Bersama angin yang berhembus mesra, sepasang pengantin baru ini memanjatkan do'a dan harapannya pada sang pemilik hari.

Sebagai butiran debu, mereka tak berdaya jika tanpa campur tangan Tuhan.

Ernest menatap khusyuk Aisya yang masih khidmat memejamkan matanya, seolah istrinya itu begitu dalam nan penuh kekhidmatan menyampaikan do'anya pada Rabb.

"Do'anya kenceng banget! Pasti di denger Allah tuh," kekeh Ernest, Aisya melihat ke arah suaminya, "insyaAllah. Harus dong, harus kenceng...tak ada lagi tempat memohon dan meminta selain Allah."

"Minta apa?"

Aisya melebarkan senyuman, "rahasia!"

"Ck, nakal!" colek Ernest di hidungnya.

🌟 Flashback off

Ernest baru saja keluar dari kamar mandi, menatap istrinya yang sedang mesam-mesem sendiri melihat layar ponsel.

"Liatin film biruu ya?" tuduhnya sontak membuat Aisya melirik horor padanya, "fitnah!" ia mendesis. Aroma sabun yang dipakai mencuri fokus indra penciuman Aisya, begitu memabukan.

Ia duduk di samping Aisya, melongokan kepala ke arah layar, dimana potret Aisya dan dirinya tengah berada di Jabal Rahmah. Ernesy teringat akan sesuatu yang membuatnya penasaran.

"Hm, aku baru inget. Tadi disana, apa do'a kamu?" tanya nya.

"Aku minta biar rumah tangga kita sakinah, mawadah, warahmah...dijauhkan dari segala prahara berat, senantiasa jujur satu sama lain...." jawab Aisya.

DEG!

Wajah Ernest mendadak berubah.

"Iya."

"Do'a kamu apa, by?" tanya Aisya balik, seketika Ernest merasa jika rambutnya kembali basah kuyup karena keringat gugupnya. Apakah ia harus jujur saja pada Aisya sekarang?

"Do'a yang sama dengan do'amu." Aisya menyunggingkan senyumannya manis.

Ernest menghela nafasnya panjang, "Sya..."

"Kenapa, by?"

"Ada yang mau kubilang sama kamu, tapi janji jangan minta aku buat mengakhiri perjalanan kita setelah ini....."pinta Ernest.

Dan demi apapun, alis Aisya yang mengernyit membuat Ernest semakin dilanda kegugupan. Pasalnya ini mungkin akan menjadi kesalahan pertamanya semenjak menjadi suami Aisya.

"Bilang apa?" lirih Aisya bertanya.

"Tadi Ersa ada kasih kabar."

Dan anggukan sekali Aisya menandakan jika sampai situ ia mengerti bahwa adik perempuan Ernest itu menelfon sang kakak.

"Kabar baik? Kabar buruk?"

"Kabar buruk," singkatnya.

"Innalillahi..." ucapnya fasih.

"Erja..."

"Erja kenapa?" tanya Aisya.

"Erja hamilin anak gadis orang..." jelas Ernest, "Ya Allah!" Aisya menutup mulutnya yang sontak menganga karena terkejut.

"Dan lebih buruknya lagi, Erja ngga mau bertanggung jawab, justru ingin menggugurkan kandungan gadis itu..."

"Naudzubillah himindzalik, by! Jangan sampe! Tindakan mereka aja udah dilak nat Allah by, apalagi sampe membunuh yang di dalem sana. Belum lagi resiko taruhan nyawa saat abo rsi, kalo selamat! Kalo engga? Otomatis Erja udah bunuh 2 orang sekaligus!"

"Hubby harus bertindak, by! Secepatnya, jangan sampe itu terjadi..." sorot mata Aisya khawatir akan hal itu.

"Pasti." diraihnya tangan Aisya dalam genggaman, "maafin aku, yang udah bohong tadi, bukan nemuin bu Dini, tapi abis nelfon Erja."

Aisya menatap Ernest sejenak namun dalam lalu ia tersenyum dan menggeleng, "ngga apa-apa. Jangam disimpan sendiri, bagi masalahmu denganku...my'Adam."

Kekehan Ernest yang pelan hampir tak bersuara menandakan jika ia tak bisa tertawa lepas namun sedikit lega.

"Aku takut acara kita terganggu dengan adanya kabar ini, kamu minta pulang di tengah-tengah ibadah bersama kita."

"Kamu ngga usah khawatir, masalah Erja udah aku pikirin baik-baik..."

"Caranya? Gimanapun mereka harus nikah by, mempertanggung jawabkan apa yang sudah dilakukan. Menyelamatkan marwah cewek dan keluarganya," balas Aisya lagi.

"Iya. Pasti..." angguk Ernest mengambil anak rambut Aisya dan membawanya ke belakang telinganya, istrinya sungguh cantik....membuatnya mabuk kepayang, Ernest mengusir semua pikiran buruk yang mulai bersarang.

"Lo tau keyakinan gue darimana?! Lo sendiri ngga ada di dalamnya, ngga usah so tau!" Ernest kembali menghubungi Erja di sela-sela ibadahnya.

Aisya dapat melihat gestur badan Ernest yang meluapkan kekesalannya dengan berjalan mondar-mandir seraya menelfon dan berbicara dengan nada bicara yang menggebu-gebu.

Gue sering liat, gue sering nyaksiin banyak ustad yang istrinya lebih dari satu! Udahlah bang, lo lebih dari sekedar mampu buat punya istri 2....

"Lo gila! Sampai kapan pun gue ngga akan ngelakuin hal gila itu! Makanya belajar tuh jangan setengah-setengah, ngga usah asal mangap sebelum lo bener-bener ngerti apa yang lo liat!"

"Gue kasih lo waktu sampai gue balik dari umroh. Kalo sampai itu, belum gue denger lo lamar Husna dan minta maaf sama keluarganya, maka....."

Aisya mengerjap dan sedikit memanjangkan lehernya demi mendengarkan obrolan Ernest dan Erja.

.

.

.

.

.

1
Sopi Yani
bagus
Anonymous
/Good//Good//Good//Good//Good//Good//Good/
Vie ardila
Luar biasa
siti rokayah
ko belum tamat kak ,korain teh udah tamat ,,
penasaran ending nya
Salim S
banyak pelajaran dari kisahnya ini
Salim S
teh kenapa gantung....tambah penasaran deh
Salim S
muridnya rama nggak tuh...
Maria Kibtiyah
yang ini gantung teh penasaran ma endingnya
Hazelnutlatteice🪷
La kirain da tamat kak thor, masih ngegantung rupannya
Nunggu notif ernest dan Ai
Semoga ide” y bermunculan kak thor Sin
Danny Muliawati
Luar biasa
Danny Muliawati
knp hrs booong kan sdh halal
ervina
Kecewa
ervina
Buruk
Hasdiana
Luar biasa
Hasdiana
Lumayan
My Name
kapan upp nya
Lia Bagus
udah halal ja..sirik aja loe
Lia Bagus
pasti dihajar papa edo tuh s erja
Lia Bagus
astaghfirullah erja
Lia Bagus
aamiin
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!