Kisah cinta dan peliknya kehidupan Nadia Mark Wijaya. Menjadi anak 'brokend home' bukanlah bagian mimpinya.
Saat suami menghianati istrinya..
Papa yang melukai anaknya..
Dan, kekasih yang mematahkan kepercayaan atas cinta!
Hidup Nadia benar-benar berantakan, mulai dari perceraian kedua orang tuanya karena perselingkuhan papanya. Ditambah kenyataan sang kekasih bermain api dengan kakak tirinya.
Berbagai pengkhianatan dari orang-orang terdekatnya membuat Nadia tidak lagi mempercayai cinta. Hanya kebencian yang kini menyelimuti hati wanita itu.
"Aku adalah pemeran utama dalam sandiwara kecil berjudul KITA, namun kau bawa dia dan mengubah alur cerita."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiya Corlyningrum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nadia VS Pevita
Sudah dua hari, nampaknya Pevita belum juga menunjukkan dirinya lagi di Sekolah. Ada perasaan ingin tahu dalam diri Nadia mengapa saudara tirinya tidak masuk sekolah selama tiga hari. Apakah gadis itu sakit? Atau mungkin dia memutuskan pindah ke Sekolah lain?
Nadia menatap bangku kosong Pevita dengan nanar. Sebenarnya Nadia tidak ingin memperlakukan orang dengan buruk. Nadia sangat antipasti dengan Pevita, sebisa mungkin menghindari saudara tirinya itu sebisa mungkin.
Bahkan jika mereka berada dalam satu kelompok belajar, Nadia seperti menganggap Pevita tidak ada disana.
“Woe Nad, lihatin apa?” ucap Olivia saat wanita itu baru saja masuk ke dalam kelas, mendapati Nadia melihat ke belakang.
“Itu, si Pevita kenapa nggak masuk?” Tanya Nadia penasaran.
“Loh kamu nggak tahu, Pevita kan masuk rumah sakit,"jelas Olivia.
“Sakit apa?” tanya Nadia penasaran.
“Kayaknya demam berdarah deh Nad, nanti satu kelas mau jengukin Pevita, kamu ikut kan?” Tanya Olivia menatap Nadia meminta jawaban.
Nadia terdiam, haruskah dia menjenguk saudara tirinya? Bagaimana nanti jika dia bertemu papanya disana? Dan lebih parahnya lagi, bagaimana jika mereka tahu bahwa Pevita adalah saudara tirinya Nadia?
“Nad! Kamu ngalamun?” Olivia melambaikan tangannya ke depan wajah Nadia.
Nadia mengerjapkan matanya. “Hah? Enggak kok."
“Nanti kita naik bus sekolah kok, santai aja masalah kendaraan,“ ucap Olivia yang tahu jika Nadia hari ini diantar mamanya.
“Kayaknya aku nggak ikut deh Liv,“ ucap Nadia membuat Olivia mengerutkan keningnya.
“Tunggu deh, aku ngerasa kamu ngejauhin Pevita. Kalian kayak musuh aja gitu, bukan kayak kamu banget,“ jelas Olivia yang penasaran akan Nadia dan Pevita.
Nadia menghela napas, Olivia hanya tidak tahu saja bagaimana status dirinya dan Pevita. Jika Olivia tahu mungkin wanita itu takkan beragumen seperti itu.
“Anak-anak membicarakan hubungan buruk kamu dan Pevita, kalian ada masalah apa?” tanya Olivia mencecar Nadia dengan pertanyaan.
Bukan rahasia lagi, seluruh Sekolah tahu jika hubungan Nadia dan Pevita tidak baik. Anehnya, kedua wanita itu tidak ada yang mengaku ataupun mengelak. Mereka menutup rapat alasan mereka seperti itu.
Nadia berdiri dari bangku. “Nadddd, kamu mau ke mana?” panggil Olivia ketika Nadia beranjak keluar kelas.
Huhhh, helaan napas keluar dari mulut Olivia. Rasanya Olivia menyesal sudah melemparkan pertanyaan yang sifatnya privasi kepada Nadia. Wanita itu sangat tertutup akan masalahnya sendiri, bahkan sampai saat ini Olivia tidak pernah mendengar Nadia membicarakan tentang papanya.
.
Nadia mengambil satu buku, dia memilih duduk di pojok paling belakang. Jam pelajaran membuat perpustakaan itu sangat sepi, hanya ada dirinya dan penjaga perpustaan yang berjaga didepan sana. Nadia menundukkan kepalanya, tidak terasa cairan bening meluruh begitu saja membasahi wajahnya.
Jika seharusnya dia mengikuti pelajaran olahraga di lapangan, Nadia justru memilih duduk di tempat hening meratapi apa yang telah terjadi.
Nadia menggigit bibirnya, berusaha menahan isakan yang keluar dari mulutnya.
Di sisi lain, Fernand yang baru saja selesai mengerjakan try outnya mencari Nadia keseluruh lapangan. Namun wanita itu nampaknya tidak ada disana,
“Ke mana dia?” tanya Fernand bergumam kepada dirinya sendiri.
Olivia menepuk pelan punggung Fernand. Lelaki itu langsung saja menoleh ke belakang.
“Liv, Nadia ke mana?” tanya Fernand yang sampai saat ini belum menemukan sosok yang sejak tadi dia cari.
“Tadi dia keluar kelas buru-buru,“ jelas Olivia khawatir.
“Memangnya kenapa?” Tanya Fernand penasaran.
“Aduh aku bingung jelasinnya, tolong cari Nadia ya Kak, Pak Arika udah ada tuh,“ pinta Olivia yang tidak bisa ikut bersama Fernand untuk mencari Nadia.
Fernand mengangguk, lelaki itu mencari ke semua sudut sekolah.
“Ayolah Nad, angkat teleponnya,“ gumam Fernand menggenggam ponselnya, mencoba menghubungi Nadia yang tidak tahu pergi entah kemana.
“Ya hallo?” suara serak Nadia terdengar di indera pendengaran Fernando.
“Kamu di mana?” tanya Fernando khawatir.
“Aku di perpustakaan,“ jawab Nadia.
“Tunggu aku, jangan kemanapun juga,“ ucap Fernand memberikan titahnya kepada Nadia.
Tanpa membuang waktu lebih lama, Fernand segera berlari menuju perpustakaan. Fernand masuk ke sana.
“Absen Buk,“ ucap Fernand mengisi lembar absen dalam computer perpustakaan.
Setelah itu, Fernand langsung mencari Nadia ke semua sudut ruangan.
“Nad,“ Panggil Fernand lega,ketika melihat Nadia berada meja paling pojok, matanya sembab terlihat seperti wanita itu baru saja selesai menangis.
“Apa yang terjadi denganmu?” tanya Fernand duduk di samping Nadia, lelaki itu menghapus bekas air mata dari pipi Nadia.
Nadia menggeleng, Nadia menghirup napasnya dalam-dalam.
“Tidak apa-apa.“
“Tidak apa-apa apanya, kamu menangis mana mungkin tidak apa-apa,“ keluh Fernand meragukan ucapan Nadia.
“Bukannya kamu sudah selesai try out? Kenapa masih di sini?” tanya Nadia.
“Aku pulang nanti saja, sekalian mengantar kamu pulang.“
Itulah Fernand, lelaki itu sangat bertanggung jawab dan sangat menjaga apapun yang dia miliki.
“Aku tidak langsung pulang, anak-anak mau menjenguk Pevita di Rumah Sakit.“
Fernand mencari jawaban dari mata wanita itu, apakah wanita itu menangis karena Pevita? Hubungan buruk kedua sampai di telinga Fernand dan teman-temannya. Tapi kenapa Nadia menangis karena Pevita?
Apa masalah mereka sebenarnya ?
“Kamu baik-baik saja?” tanya Fernand memastikan, meskipun dia tidak tahu apa masalah kedua wanita itu namun Fernand tetap mengkhawatirkan Nadia.
Hanya pertanyaan itu yang bisa Fernand tanyakan, ungkapan perhatiannya kepada Nadia tanpa mengusik privasi wanitanya.