Tujuh tahun lalu, Kirana Ayu Pradipta ditinggalkan tanpa penjelasan oleh kekasihnya, Raditya Alamsyah Wibowo. Kirana pergi tanpa tahu kebenaran, membangun hidup dan kariernya dari nol, tumbuh jadi perempuan tegar yang tak lagi percaya cinta. Tujuh tahun kemudian, mereka bertemu kembali. Bukan sebagai sepasang kekasih, tapi sebagai rival bisnis dalam tender proyek properti terbesar di Jakarta. Radit yang dingin berusaha merebut kembali hati Kirana, sementara Kirana harus memilih antara membalas dendam, melindungi perusahaannya, atau membuka hatinya lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cilia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
XIII - Arsip Lama
Seminggu berlalu sejak rapat tim gabungan itu.
KRIEEET…
Pintu besi gudang arsip berderit panjang saat Kirana mendorongnya, menyingkap ruangan gelap yang berbau antara campuran debu dan kertas lapuk. Gudang arsip lama Cipta Prada Land yang berada di lantai paling bawah gedung, ruangan sempit yang jarang dikunjungi siapa pun kecuali ada kebutuhan mendesak untuk melacak dokumen dari masa-masa awal pendirian perusahaan, masa ketika Kirana masih membangun semuanya sendirian dari sisa reruntuhan bisnis ayahnya.
Sabtu sore itu, Kirana turun ke sana bukan karena kebutuhan bisnis, tapi karena butuh sesuatu untuk mengalihkan pikiran dari kekacauan yang menumpuk di hidupnya — dari Valerie yang terus menempel di lengan Radit, dari Dimas yang menyatakan perasaannya, dan dari pesan-pesan Radit yang menumpuk di kotak masuk ponselnya.
Kantor sudah sepi. Kirana sendiri tidak ingin pulang ke apartemennya yang kosong, tempat pikirannya cuma akan berputar tanpa tujuan yang jelas. Setidaknya di sini, di antara kotak-kotak berdebu, ia bisa merasa produktif sambil membiarkan pikirannya istirahat sejenak.
Ia mulai merapikan kotak-kotak arsip lama yang sudah lama tidak tersentuh, sebagian besar berisi dokumen dari masa peralihan ketika ia mengambil alih bisnis ayahnya dan membangunnya kembali dari nol. Kontrak-kontrak kedaluwarsa, korespondensi yang sudah tidak ada artinya lagi sekarang.
Tapi di bagian paling bawah salah satu lemari arsip yang jarang dibuka, ia menemukan map cokelat tua yang tidak ia kenali, labelnya sudah pudar, hampir tidak terbaca.
*Pradipta Development** — Dokumen Kepailitan, Juni 2019.*
Jantung Kirana berdegup lebih cepat melihat bulan dan tahun yang tertera pada dokumen itu. Masa di mana bisnis ayahnya runtuh dalam hitungan minggu, dan di tahun itu… Bambang Pradipta meninggal karena serangan jantung yang, menurut dokter, dipicu oleh stres berlebih.
Ia masih ingat malam di mana ayahnya pertama kali menyebut soal masalah keuangan di meja makan, suaranya berusaha tenang. Waktu itu Kirana masih terlalu sibuk dengan skripsinya untuk benar-benar mendengarkan, terlalu muda untuk mengerti bahwa dunia ayahnya sedang runtuh pelan-pelan di depan matanya sendiri.
Ia duduk di lantai, membuka map itu dengan tangan sedikit gemetar.
Sebagian besar isinya salinan laporan keuangan lama, surat resmi dari pengadilan niaga, korespondensi dengan bank kreditur yang menagih utang perusahaan ayahnya yang tiba-tiba membengkak. Kirana ingat samar masa itu. Ia masih berusia dua puluh dua tahun, masih sibuk dengan tugas akhirnya, dan tidak paham detail kehancuran finansial yang menghantam keluarganya.
Ia membalik halaman demi halaman, sampai matanya berhenti pada satu dokumen yang membuat napasnya tercekat.
Salinan perjanjian kerja sama investasi, tertanggal tidak jauh sebelum kepailitan resmi diumumkan, antara Pradipta Development dan sebuah perusahaan bernama PT Cahaya Nusantara Investama — nama perusahaan yang belum pernah ia dengar, tidak pernah muncul dalam catatan yang selama ini ia baca di riwayat perusahaan ayahnya.
Ia membaca dokumen itu. Sebuah investasi besar yang, menurut dokumen itu, seharusnya menyelamatkan arus kas perusahaan di masa kritis. Tapi alih-alih menyelamatkan, klausul-klausulnya begitu merugikan pihak Pradipta Development hingga terasa seperti dirancang untuk membuat mereka gagal.
Tangannya makin gemetar saat ia mencari nama penanggung jawab transaksi di bagian bawah dokumen, tempat biasanya tanda tangan dan nama jelas tercantum.
Bagian itu robek.
Bukan karena usia dokumen. Robekan itu terlalu rapi, seolah seseorang, entah kapan, sengaja menyobek bagian itu untuk menghilangkan jejak.
Kirana menatap robekan itu lama, membalik halaman lain di map itu, mencari petunjuk, nama lain, apa pun yang bisa menjelaskan siapa sebenarnya di balik PT Cahaya Nusantara Investama.
TING!!!
Layar ponselnya menyala di sela pencariannya. Membuyarkan konsentrasinya.
Lu di kantor? Gua liat lampu gudang bawah nyala dari CCTV lobi.
Iya, lagi beres-beres.
Kirana membalas singkat, tidak ingin menjelaskan lebih jauh sebelum ia sendiri yakin apa yang sedang ia temukan.
Butuh ditemenin?
Nggak usah. Bentar lagi juga selesai.
Ia mengunci ponselnya, kembali fokus pada tumpukan kertas di pangkuannya. Di halaman berikutnya, ada surat singkat, tampaknya catatan pribadi milik ayahnya, tulisan tangan yang ia kenali meski sudah bertahun-tahun tidak ia lihat.
Sudah kucoba hubungi kembali pihak investor, tapi tidak ada respons sejak minggu lalu. Ada yang tidak beres dengan seluruh perjanjian ini. Aku mulai curiga ini bukan sekadar kegagalan bisnis biasa —
Catatan itu terputus, ayahnya tidak sempat menyelesaikan pikirannya, atau sengaja tidak menyelesaikannya karena takut pada kesimpulan yang mungkin beliau temukan.
Kirana duduk diam, dokumen berserakan di sekelilingnya. Kata-kata ayahnya terus berputar di kepalanya, membuka kembali pertanyaan yang selama tujuh tahun ini selalu ia coba abaikan.
Mungkin, kehancuran keluarganya bukan sekadar nasib buruk, melainkan sesuatu yang direncanakan.
Ia mencari nama PT Cahaya Nusantara Investama lewat ponselnya. Hasilnya begitu terbatas. Perusahaan itu, menurut catatan publik, sudah lama dibubarkan, tidak meninggalkan jejak digital selain nama dan tanggal pendiriannya yang cuma terpaut beberapa bulan sebelum perjanjian investasi dengan Pradipta Development ditandatangani.
Perusahaan cangkang, Kirana menyadari hal itu, dingin merayap di sekujur tubuhnya. Didirikan untuk satu tujuan, lalu dibubarkan setelah tujuan itu tercapai.
Ia mencari-cari hal lain di dalam map, berharap ada halaman lain yang terlewat. Di balik salinan terakhir laporan keuangan, terselip secarik kertas kecil yang nyaris jatuh saat ia mengangkat map itu. Kartu nama lama, kertasnya menguning, tulisannya sudah mulai pudar. Nama perusahaan di kartu itu sama dengan alamat kantor yang sudah berubah jadi minimarket sejak bertahun-tahun lalu. Tidak ada nama orang di kartu itu. Cuma nomor telepon yang, ketika ia coba hubungi, terdengar nada bahwa nomor itu sudah tidak terdaftar.
TUUT... TUUT... TUUT...
Ia menjauhkan ponsel dari telinganya, menatap layar yang menampilkan durasi panggilan nol detik. Jalan buntu lain, tapi setidaknya ia sudah mencoba.
Ia menyandarkan punggungnya ke rak, menatap langit-langit gudang yang berdebu. Ayahnya dulu selalu bilang, kalau mau tahu siapa yang bermain curang dalam bisnis, lihat siapa yang paling diuntungkan ketika semua orang lain rugi. Kirana tidak pernah mengerti maksud kalimat itu sampai sekarang, sampai ia membaca tumpukan kertas milik perusahaan yang pernah menghancurkan keluarganya.
Ia menatap robekan di dokumen itu sekali lagi, mencoba membayangkan nama siapa yang mungkin pernah tertulis di sana. Pikirannya melompat ke satu nama yang selama beberapa minggu terakhir menghantui hidupnya, nama yang disebut Radit sebagai sesuatu yang "tidak sederhana".
Hartono Wibowo.
Kirana menggelengkan kepala cepat, mencoba menepis pikiran itu. Ini terlalu spekulatif. Tapi di bagian terdalam lubuk hatinya, ia tidak bisa lagi mengabaikan kemungkinan buruk yang begitu jelas terpampang di depan matanya.
Ia memfoto setiap halaman dokumen itu dengan ponselnya, memastikan ada salinan digital sebelum menyimpan kembali map itu di tempat semula.
...****************...
Sepanjang perjalanan pulang, Kirana memikirkan langkah apa yang harus ia ambil. Ia bisa saja langsung bertanya pada Radit, tapi sesuatu di dalam dirinya mengingatkan bahwa tuduhan tanpa bukti kuat cuma akan membuatnya terlihat seperti sedang mencari-cari alasan untuk membenci keluarga Wibowo.
Yang ia butuhkan adalah bukti lebih kuat. Nama yang hilang di balik robekan itu. Koneksi yang jelas antara PT Cahaya Nusantara Investama dan keluarga Wibowo.
Sesampainya di apartemen, ia duduk di sofa dengan laptop di pangkuannya, membuka kembali foto-foto dokumen yang baru saja ia ambil, menyusunnya satu per satu dalam folder tersembunyi yang ia beri nama tanggal, jaga-jaga kalau laptopnya jatuh ke tangan orang lain.
Ia menatap layar itu lama, membandingkan tanggal pendirian PT Cahaya Nusantara Investama dengan garis waktu yang selama ini ia susun sendiri di kepala.
Tujuh tahun lalu, bulan Juni, bulan yang sama ketika Radit menghilang tanpa penjelasan, bulan yang sama ketika ayahnya mulai menerima telepon-telepon aneh di malam hari yang tidak pernah ia jelaskan pada siapa pun di rumah.
Batinnya mencoba meyakinkan diri sendiri untuk tidak berprasangka buruk. Tapi bagian lain dari dirinya, bagian yang sudah lelah berpura-pura, tahu bahwa terlalu banyak kebetulan yang janggal.
TOK TOK TOK.
Ketukan di pintu apartemennya membuatnya nyaris menjatuhkan laptop dari pangkuannya. Ia mengintip lewat lubang pintu — Nadia, masih mengenakan pakaian kerja, membawa dua bungkus makanan.
"Gua khawatir lu belum makan," Nadia berkata begitu pintu terbuka, tanpa menunggu diundang masuk. Matanya langsung tertuju pada laptop yang masih terbuka di meja. "Lu ngapain? Kayaknya serius banget."
Kirana menimbang sejenak, lalu memutuskan untuk memberi tahu sahabatnya. Nadia berhak untuk tahu. Ia menggeser laptopnya, memperlihatkan foto-foto dokumen yang baru saja ia kumpulkan.
Nadia membaca sebentar, alisnya berkerut makin dalam di setiap baris. "Kir, ini... ini bisa jadi hal yang besar banget kalau benar."
"Gua tau." Kirana menutup laptopnya pelan. "Makanya gua belum mau bilang siapa-siapa dulu, termasuk Radit. Sebelum gua yakin."
Nadia duduk di sampingnya, menggenggam tangannya erat. "Apa pun yang lu temuin nanti, lu nggak sendirian ngadepin ini."
"Makasih, Nad." Kirana menyandarkan kepala ke bahu sahabatnya, merasakan sedikit beban terangkat meski pertanyaan besar itu masih menggantung tanpa jawaban. "Gua cuma butuh waktu buat mikirin langkah selanjutnya."
Mereka duduk diam beberapa saat, makanan yang dibawa Nadia terlupakan begitu saja di meja, sementara di luar jendela, Jakarta terus berdenyut seolah tidak tahu apa-apa tentang rahasia yang baru saja mulai terkuak.
tapi orang yang pernah memberi luka justru masih selalu memenangkan ruang di hati.
para musuh 💪💪