NovelToon NovelToon
Menikah Karena Jebakan

Menikah Karena Jebakan

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa pedesaan / Nikahmuda / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:13k
Nilai: 5
Nama Author: Moms TZ

Kegiatan kemping Pramuka yang seharusnya menyenangkan berubah menjadi petaka, kala seseorang dengan sengaja mengubah arah tanda panah penunjuk jalan. Daniel dan Zeya tersesat hingga terpaksa bermalam di sebuah pondok tua. Demi bertahan dari dinginnya malam yang bisa menyebabkan hipotermia, mereka pun saling menghangatkan tubuh.

Pagi harinya, warga desa menemukan mereka dalam keadaan berpelukan. Tanpa mau mendengar penjelasan, keduanya langsung dibawa ke Balai Desa dan dipaksa menikah sesuai hukum adat yang berlaku.

Daniel dan Zeya mengira semuanya akan selesai setelah pernikahan itu. Namun, mereka kembali dikejutkan oleh aturan adat yang melarang pasangan pengantin meninggalkan desa sampai waktu yang ditentukan.

Terjebak dalam pernikahan yang tak terduga, Daniel dan Zeya harus menjalani hari-hari bersama di desa, apakah Daniel dan Zeya akan terpuruk atau justru bangkit memulai hidup baru mereka di sana?

Ikuti kisah mereka hanya di sini;
"Menikah Karena Jebakan"
karya Moms TZ, buka

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moms TZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

14.

Kepergian mobil polisi yang membawa Maura menyisakan keheningan panjang. Tak ada lagi yang perlu diperdebatkan. Semua telah selesai dan hukum akan menjalankan tugasnya.

Setelah berpamitan kepada Dr. Rangga dan Bu Safira, Ayah Bastian serta Mami Mia mengantar Daniel dan Zeya menuju stasiun KRL.

Ayah Bastian mengendarai mobilnya sendiri bersama Mami Mia, Daniel, dan Zeya. Sementara dua utusan Pak Kades mengikuti dari belakang menggunakan mobil yang dikemudikan Pak Makmur.

Sepanjang perjalanan, tak banyak percakapan yang terjadi. Masing-masing larut dalam pikirannya sendiri. Mami Mia memanfaatkan keheningan itu dengan memeluk Zeya yang duduk di sampingnya, menyalurkan kasih sayangnya kepada sang menantu sebelum kembali berpisah.

Tak lama kemudian, mobil memasuki area parkir stasiun. Mereka turun hampir bersamaan. Suasana stasiun sore itu ramai oleh lalu-lalang penumpang yang ingin pergi maupun pulang ke tujuan masing-masing.

Mami Mia kembali memeluk erat Zeya dan Daniel. Bukan sekali, melainkan berkali-kali, seolah enggan melepaskan anak serta menantunya tersebut.

"Benar kalian mau balik ke desa itu lagi?" tanyanya pelan berusaha mempengaruhi pikiran mereka. "Nggak berubah pikiran? Mumpung masih di sini, loh."

Zeya tersenyum tipis. "Benar, Mi. Kami masih dalam masa pengawasan. Tapi, setelah dipikir baik-baik, mungkin tempat kami memang di desa. Di sana lebih nyaman dan damai, jauh dari hiruk pikuk kota yang sangat bising."

Mami Mia mengembuskan napas panjang. "Nanti kalau mami kangen, gimana?" tanyanya lagi, sengaja dibuat manja serta netranya mulai berkaca-kaca.

Zeya terkekeh pelan. "Mami bisa datang ke desa kapan saja."

"Mami jangan lebay, deh," timpal Daniel sambil menggelengkan kepala melihat tingkah ibunya. "Kan, bisa telepon atau video call setiap hari."

Mami Mia langsung menggeleng. "No...video call itu beda. Mami maunya peluk kalian langsung."

Daniel tersenyum kecil mendengar ucapan ibunya. Dia menarik napas lalu mengembuskannya perlahan.

"Ya sudah, nanti kalau Mami kangen, tinggal ajak Papi atau minta Pak Makmur antar ke desa. Perjalanan juga cuma beberapa jam, nggak sampai seharian."

Pak Makmur yang mendengar namanya disebut langsung tersenyum. "Saya siap antar kapan saja, Bu."

Ayah Bastian yang mendengar obrolan mereka bertiga, tak mampu menyembunyikan rasa haru yang memenuhi rongga dadanya.

Pria kharismatik itu melangkah mendekati menantunya. "Daniel," panggilnya tegas.

"Iya, Yah," jawab Daniel serius.

Ayah Bastian merangkul pundak remaja pemilik tinggi badan seratus delapan puluh sentimeter itu dengan erat dan hangat. "Jaga putri ayah baik-baik."

Daniel mengangguk penuh hormat. "In sya Allah, Yah."

"Jangan pernah kamu lukai hatinya," lanjut Ayah Bastian dengan suara berat. "Dia sudah terlalu banyak menderita."

Tatapan Daniel berubah sendu. Dia lantas menoleh sekilas ke arah Zeya, lalu kembali menatap Ayah Bastian.

"Aku mengerti, Yah." Suaranya terdengar mantap.

"Aku akan berusaha menghapus semua luka yang pernah Zeya rasakan. Dan aku janji akan menghabiskan sisa hidupku untuk memastikan nggak ada lagi airmata yang jatuh kecuali airmata bahagia."

Kalimat itu membuat Ayah Bastian terdiam beberapa saat. Perlahan menganggukkan kepala, lalu melepaskan rangkulannya -- menepuk bahu Daniel dengan bangga.

"Ayah titip dia dan tepati janjimu."

Daniel membalas tepukan itu dengan senyum tipis. "Terima kasih sudah mempercayakan Zeya kepadaku, Yah."

Zeya tersenyum haru melihat keakraban ayahnya dan Daniel. Ia mendekat lalu memeluk sang ayah. "Terima kasih... karena Ayah selalu memperjuangkan Ze."

Ayah Bastian mengusap kepala putrinya penuh kasih. "Ze nggak perlu berterima kasih."

Suara pria itu mulai bergetar. "Seorang ayah akan melakukan apapun untuk melindungi putrinya."

Kalimat sederhana itu membuat airmata Zeya akhirnya jatuh. Ia memeluk ayahnya semakin erat. "Maaf... kalau selama ini Ze sering membuat Ayah khawatir dan kecewa."

Ayah Bastian tersenyum sambil menggeleng pelan. "Ze nggak pernah membuat ayah kecewa. Sebaliknya ayah bangga pada putri ayah yang cantik ini. Daniel adalah pemuda beruntung yang berhasil mendapatkan hatimu."

"Ayah akan selalu mendoakan yang terbaik untuk kalian. Selama kamu bahagia, semua kekhawatiran ayah sudah terbayar."

Mami Mia yang mendengarkan pembicaraan ayah dan anak itu, akhirnya menyerah tak kuasa menahan tangisnya. Ia lantas menarik Zeya membawanya masuk dalam pelukannya.

"Pokoknya kalian harus selalu bersama dan hidup bahagia. Jangan lupa sering-seringlah menelpon kami," pesannya lagi.

"Kalau Kakak nakal, segera telepon Mami," lanjutnya berkelakar sambil melirik Daniel.

Zeya tersenyum lalu mengangguk cepat. Perasaannya membuncah mendapatkan perhatian yang begitu besar dari ibu mertuanya.

Daniel yang mendengarnya spontan mengajukan protes. "Lah...kok, kakak ?Sebenarnya kakak ini anak apa menantu, sih?

Mami Mia mendengus pelan. "Namanya juga pesan seorang ibu, anak maupun menantu sama aja."

Semua tertawa kecil. Di saat yang bersamaan, suara pengumuman dari pengeras suara stasiun terdengar menggema. Kereta yang akan membawa mereka menuju kota transit sebentar lagi akan memasuki peron.

"Itu keretanya," ujar salah seorang utusan Pak Kades sambil menunjuk kereta datang.

Daniel meraih tasnya, lalu dicangklong pada kedua bahunya. Sebelum melangkah menuju peron, mereka menyalimi Ayah Bastian dan Mami Mia. "Kami pamit Ayah... Mami."

"Hati-hati kalian," jawab Ayah Bastian.

"Semoga selamat sampai tujuan." Mami Mia berusaha menahan airmata yang mulai menggenang di pelupuk mata.

Dengan langkah perlahan, Daniel dan Zeya berjalan menuju peron sambil bergandengan tangan. Sesekali mereka menoleh ke belakang dan melambaikan tangan.

Ayah Bastian dan Mami Mia membalas lambaian itu hingga kedua anak mereka menghilang di balik kerumunan penumpang.

Tak lama kemudian, suara gemuruh kereta terdengar mendekat. Rangkaian KRL memasuki stasiun dan berhenti dengan lembut di depan peron.

Daniel membantu Zeya menaiki gerbong terlebih dahulu, lalu membawa tasnya masuk ke dalam dibantu salah seorang utusan Pak Kades.

Sesaat sebelum kereta berangkat, Zeya kembali melambaikan tangan dari balik jendela. Mami Mia membalas dengan senyum meski netranya dipenuhi airmata, sedangkan Ayah Bastian hanya mengangkat tangan pelan sambil terus menggumamkan doa dalam hati.

Perlahan, pintu kereta tertutup. Beberapa detik kemudian, KRL mulai bergerak meninggalkan stasiun.

....

Di sisi lain, mobil polisi berhenti di halaman kantor. Pintu terbuka, Maura dituntun turun. Kakinya lemas, nyaris tersandung saat melangkah keluar. Wajahnya pucat, matanya sembab dan tak berani menatap siapa pun.

Maura dibawa masuk ke ruang pemeriksaan. Seorang petugas wanita tampak duduk sambil memeriksa berkas di tangannya. Ia menoleh sesaat lalu meminta gadis itu duduk di kursi besi yang terasa dingin.

"Sebutkan nama lengkap daj usia!" perintah petugas sambil menatap Maura.

"Maura Adriana Wijaya, usia tujuh belas tahun," jawabnya lirih, suaranya nyaris tak terdengar. Tangan mengepal erat di atas paha berusaha mengatasi perasaan gugup dan takut.

"Sekarang ceritakan," ujar petugas lain yang duduk di seberangnya, nada bicara tenang, tetapi terdengar tegas. "Tentang penyebaran berita bohong dan fitnah, serta segala rencanamu yang merugikan Zeya dan Daniel."

Maura menunduk makin dalam. "Aku... aku cuma..."

1
Enz99
bagus banget
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨: makasih bintang 5 nya akak 🫰🫶😍
total 1 replies
Nar Sih
org seperti juragan bahar yg rentenir juga jht pelu di laporin polisi biar gk se enak nya sendiri
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨: 👍👍👍👍👍
total 1 replies
Nar Sih
alhamdulilah untung nya zheya dtg tepat waktu
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨: huummm
total 1 replies
Aditya hp/ bunda Lia
rapat dadakan 😁
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨: mungkin🤭
total 1 replies
Nar Sih
jgn kepede an dulu juragan ,jgn anggap remeh daniel dan zheya yg ada kmu yg kalah🤣
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨: betul betul betul
total 1 replies
Patrick Khan
kyk nya mw rundingan😁😁
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨: mungkin🤭
total 1 replies
Aditya hp/ bunda Lia
perasaan cuuinttaaaaa ..... itu namanya Zeyaaa kasih tau Moms
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨: 🤣🤣🤣🤣🤣,
total 1 replies
Aditya hp/ bunda Lia
ini mama Mia yang di sebelah yah ... Mak Mia 🤭🤭
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨: huummm
total 9 replies
Patrick Khan
serbuuuuuuu🔨🔨🔨🔨🔨ini q bawah senjata😁
Aditya hp/ bunda Lia: siap perang kita 😂😂😂
total 5 replies
Aditya hp/ bunda Lia
kebalik paaaakkk kamu yang siap2 belum tau ajah kau itu siapa Daniel dan zeya ... kamu salah pilih lawan ...
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨: huummm
total 1 replies
Esther
Bu Yuni kompor meleduk....kalau iri bilang bu😂🤭
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨: kak, Es, pernah lihat sinetton tukang ojek pengkolan gak? nah seperti itulah karakter bu yuni dlm bayangan ibu🤭🤣
total 1 replies
Aditya hp/ bunda Lia
akhirnya maraton 😁
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨: 👍👍👍👍👍
total 3 replies
Nar Sih
lega kan hti mu maura klau sdh minta maaf dan di terima ,tinggal perbaiki diri dan hti mu biar jauh dri sifat yg gk trrpuji lgi
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨: aamiin
total 1 replies
Patrick Khan
ahh muara tobat ni ye🤣🤣🤣
Patrick Khan: 😁😁😁😁😁😁😁😁😁
total 2 replies
Patrick Khan
terkejut kan zeya
.emaknya datang😁
Esther
kalau akur gini kan enak,gak ada rasa iri.
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨: huummm
total 1 replies
Nar Sih
kejutan untuk mu ya zhe
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨: 👏👏👏👏👏
total 1 replies
Nar Sih
semoga dgn ada nya zheya dan daniel di desa tersebut bisa membwa perubahan yg lbh maju
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨: aamiin
total 1 replies
Nar Sih
👍👍maura kmu sdh berani bersikap legowo minta maaf semoga dgn saling memaaf kan bisa membawa hidup lebih damai biar bagai mana pun kmu dan zeya saudara
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨: aamiin
total 1 replies
Aditya hp/ bunda Lia
tium atuh Niel udah sah ini tium kening ajah ... 🤭
Aditya hp/ bunda Lia: wkwkwkk ... iya juga yah
total 4 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!