Aku hanya ingin memiliki keluarga. Namun, takdir justru menyeretku ke dalam cinta yang mustahil. Terjebak di antara pria yang kucintai dan kakak angkat yang diam-diam menginginkanku, aku dipaksa menghadapi rahasia kelam yang selama bertahun-tahun disembunyikan. Saat kebenaran terungkap, bukan hanya hatiku yang hancur, tetapi seluruh hidupku ikut berubah. Akankah cinta menjadi penyelamat... atau justru awal dari kehancuranku?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andinirhein, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Saat Nyawa Di Pertaruhkan.
Sesaat kemudian, Hwi Sol Oppa bersama beberapa polisi tiba di lokasi. Tanpa membuang waktu, ia segera melepaskan ikatan yang membelenggu kedua tangan dan kakiku.
Begitu tubuhku bebas, aku langsung berlari ke arah pria yang paling kucintai.
Namun langkahku terhenti saat melihat Eun Dam terkapar di lantai.
Darah terus mengalir dari luka di perutnya, membasahi pakaian dan lantai di sekitarnya. Sementara itu, para polisi berhasil meringkus Tuan Seok beserta anak buahnya yang berusaha melawan.
"E-Eun Dam..." lirihku.
Air mata yang sejak tadi kutahan akhirnya jatuh membasahi kedua pipiku.
Dengan tangan gemetar, aku mengangkat perlahan kepalanya dan meletakkannya di atas pangkuanku. Eun Dam yang masih setengah sadar berusaha membuka matanya. Napasnya terdengar berat dan tidak teratur.
"M-maaf... maafkan a-aku..." ucapnya terbata-bata.
Mendengar itu, dadaku terasa sesak.
Perasaan kecewa, sedih, marah, dan takut kehilangan bercampur menjadi satu. Aku kecewa atas semua perbuatan yang dilakukan kedua orang tua angkatku. Namun di saat yang sama, ketakutan terbesar juga sedang menghantuiku—kehilangan Eun Dam.
"Tolong jangan bicara..." bisikku di sela isak tangis. "Kamu harus bertahan."
Beruntung, ambulans datang tidak lama setelah Hwi Sol Oppa menghubungi layanan darurat. Petugas medis segera memberikan pertolongan pertama sebelum membawa Eun Dam ke rumah sakit.
Sepanjang perjalanan, aku tidak pernah melepaskan genggaman tangannya.
Jemariku menggenggam tangannya erat seolah takut ia akan menghilang kapan saja dari sisiku.
Air mataku terus jatuh tanpa henti, sementara bibirku berulang kali memanjatkan doa agar Eun Dam selamat.
Di sisi lain, Hwi Sol Oppa mengikuti ambulans dari belakang dengan mobilnya.
Malam itu terasa begitu panjang.
Di antara suara sirene yang memekakkan telinga dan derasnya hujan yang mulai turun, aku hanya memiliki satu harapan.
Semoga Eun Dam bisa bertahan.
Sesampainya di rumah sakit, Eun Dam langsung dilarikan ke ruang operasi. Sementara itu, aku dan Hwi Sol Oppa hanya bisa menunggu di luar ruangan dengan penuh harap.
Air mataku tak kunjung berhenti mengalir.
Dadaku terasa sesak setiap kali mengingat tubuh Eun Dam yang berlumuran darah saat melindungiku.
"Seolhwa... Eun Dam pasti akan baik-baik saja. Serahkan semuanya kepada Tuhan, ya, Sayang..." ucap Hwi Sol Oppa lembut sambil memeluk tubuhku dan mengusap puncak kepalaku.
Aku menggigit bibir, berusaha menahan isak tangis yang terus pecah.
"Aku takut, Oppa..." lirihku dengan suara bergetar. "Aku takut kehilangannya. Aku mencintai Eun Dam..."
Hwi Sol Oppa terdiam.
Aku tidak mengetahui apa yang sedang dipikirkannya saat itu. Yang kutahu, pikiranku hanya dipenuhi oleh ketakutan akan kehilangan pria yang kucintai.
Waktu terus berjalan.
Setiap menit terasa seperti berjam-jam.
Setelah menunggu selama berjam-jam yang terasa seperti seumur hidup, pintu ruang operasi akhirnya terbuka.
Dokter yang menangani Eun Dam keluar dengan langkah pelan.
Seketika aku bangkit dari kursi.
Jantungku berdegup begitu kencang hingga rasanya hampir keluar dari dada.
"Dok..." panggilku dengan suara bergetar. "Bagaimana keadaan Eun Dam?"
Aku menahan napas, berusaha menguatkan diri untuk mendengar apa pun yang akan dokter katakan.
"Dok, bagaimana keadaannya?" tanyaku lagi penuh harap.
Mataku memohon jawaban yang mampu menenangkan ketakutan yang sejak tadi menghantuiku.
Di sampingku, Hwi Sol Oppa ikut berdiri. Wajahnya tampak tegang menunggu penjelasan dokter.
Dokter melepaskan masker medisnya sebelum menatap kami dengan ekspresi tenang.
"Kami berhasil menangani luka di bagian perutnya. Pendarahannya sudah berhasil dihentikan, dan syukurlah tidak ada kerusakan permanen pada organ-organ vitalnya."
Aku langsung menahan napas.
"Saat ini pasien sudah dipindahkan ke ruang pemulihan," lanjut dokter.
Air mata yang sedari tadi kutahan akhirnya jatuh.
Setidaknya, Eun Dam berhasil melewati operasi itu.
"Namun, dua puluh empat jam ke depan masih menjadi masa yang cukup kritis. Kami akan terus memantau tekanan darah, pernapasan, dan tingkat kesadarannya secara berkala."
Jantungku kembali berdebar mendengar penjelasan tersebut.
"Meski begitu, sejauh ini kondisi dan tanda-tanda vitalnya cukup baik. Jadi, tetaplah berpikir positif."
Dokter memberikan senyum tipis sebelum berpamitan dan melangkah pergi meninggalkan kami.
Aku memejamkan mata sejenak.
Untuk pertama kalinya sejak malam mengerikan itu terjadi, ada sedikit rasa lega yang menghangatkan dadaku.
Eun Dam masih bertahan.
Aku mengembuskan napas panjang.
Sedikit demi sedikit rasa lega mulai mengisi dadaku.
Namun, ada satu hal yang tiba-tiba terlintas di benakku.
Orang tua Eun Dam.
Bukankah mereka harus mengetahui keadaan putra mereka saat ini?
Aku segera mengambil ponsel Eun Dam yang sejak tadi berada di tanganku.
Dengan jemari yang masih sedikit gemetar, aku membuka daftar kontak dan mencari nomor kedua orang tuanya.
Setelah menemukannya, aku memberanikan diri menelepon.
Panggilan itu terhubung hanya dalam beberapa detik.
Suara di seberang sana terdengar bingung pada awalnya. Namun begitu aku menjelaskan apa yang terjadi pada Eun Dam, kepanikan dan kekhawatiran langsung terdengar jelas dalam nada bicara mereka.
Aku dapat merasakan betapa terkejut dan hancurnya hati mereka mendengar kabar tersebut.
Meski begitu, aku berusaha menenangkan keduanya.
Aku menjelaskan bahwa operasi Eun Dam telah berhasil dilakukan dan kondisinya saat ini stabil meskipun masih harus melewati masa kritis.
Mendengar penjelasanku, mereka sedikit lebih tenang.
"Kami akan segera ke sana," ujar ayah Eun Dam dengan suara bergetar.
Panggilan itu pun berakhir.
Tak lama kemudian, kedua orang tua Eun Dam langsung berangkat dari Daegu menuju Seoul.
Mereka tidak ingin membuang waktu sedetik pun untuk menemui putra semata wayang mereka yang sedang berjuang di antara hidup dan mati.
Setelah menempuh perjalanan sekitar tiga hingga empat jam dari Daegu menuju Seoul, orang tua Eun Dam akhirnya tiba di rumah sakit.
Begitu turun dari mobil, mereka bergegas memasuki gedung rumah sakit dengan wajah penuh kecemasan. Langkah mereka terburu-buru, seolah tak sabar untuk memastikan keadaan putra mereka dengan mata kepala sendiri.
Aku dan Hwi Sol oppa yang masih menunggu di depan ruang perawatan segera berdiri saat melihat kedatangan mereka.
"Bagaimana keadaan anak kami?" tanya mereka dengan suara bergetar.
"Eun Dam sudah selesai menjalani operasi. Kondisinya stabil, dan sekarang kalian bisa masuk untuk menemuinya," jawabku sambil mempersilakan mereka memasuki ruang perawatan.
Keduanya langsung masuk tanpa membuang waktu sedetik pun.
Aku hanya memandangi punggung mereka yang perlahan menghilang di balik pintu.
Ya, aku memang sengaja belum masuk menemui Eun Dam. Aku memilih menunggu kedatangan orang tuanya terlebih dahulu. Bagaimanapun juga, merekalah yang paling berhak berada di sisi Eun Dam saat ia membuka mata setelah melewati operasi yang begitu berat.
Sementara aku, cukup berdiri di luar ruangan ini dan memastikan bahwa ia masih baik-baik saja.
"Anakku..." lirih Eomma Eun Dam dengan suara bergetar.
Wanita itu segera memeluk putranya yang masih terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit. Air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya jatuh tanpa bisa dicegah.
"E-Eomma?" Eun Dam menatap ibunya dengan terkejut. "Bagaimana Eomma bisa sampai di sini?"
"Eomma ditelepon oleh gadis cantik yang berada di luar ruangan itu, Nak."
Mata Eun Dam langsung membesar.
"Seolhwa?" tanyanya.
Eomma mengangguk pelan.
"Iya, Nak. Bagaimana keadaanmu sekarang? Apa yang kamu rasakan?"
Sesaat, Eun Dam terdiam.
Ia memilih berbohong.
Tidak mungkin ia mengatakan yang sebenarnya kepada kedua orang tuanya. Ia tidak mungkin mengaku bahwa dirinya adalah dalang di balik upaya pembunuhan Seolhwa yang berakhir menjadi bumerang bagi dirinya sendiri.
"Aku baik-baik saja, Eomma," jawabnya pelan. "Operasinya berjalan lancar."
Ia menarik napas panjang sebelum melanjutkan.
"Tapi kaki kiriku patah. Dokter bilang kemungkinan besar aku tidak bisa menjadi atlet lagi."
Suara Eun Dam mulai bergetar.
"Maafkan aku, Eomma... Appa...."
Kepalanya tertunduk dalam-dalam.
Mendengar itu, sang ibu langsung menggenggam tangan putranya erat-erat.
"Nak, itu bukan hal yang paling penting sekarang," ucapnya lembut. "Yang terpenting adalah kamu masih hidup dan bisa kembali berkumpul bersama kami."
Air mata kembali mengalir di pipinya.
"Sejak kecil kamu sudah bekerja keras untuk membantu melunasi utang-utang keluarga kita. Justru kami yang seharusnya meminta maaf kepadamu."
Eun Dam terdiam. Dadanya terasa sesak mendengar kata-kata ibunya.
Ayahnya yang sejak tadi berdiri di samping ranjang ikut berbicara.
"Kamu juga tidak perlu mengkhawatirkan masalah uang lagi, Nak."
Pria itu menepuk pelan bahu putranya.
"Sebagian besar uang yang selama ini kamu kirimkan kepada kami tidak kami habiskan. Kami menabungnya dan menggunakan sebagian lainnya untuk membangun usaha perkebunan."
Mata Eun Dam perlahan memerah.
Untuk pertama kalinya sejak terbangun dari operasi, ia merasa lebih sakit karena rasa bersalah dibandingkan luka yang menganga di tubuhnya.
"Eomma..." panggil Eun Dam lirih.
"Iya, Sayang?" sahut ibunya lembut.
"Bolehkah aku meminta satu hal?"
"Tentu. Apa itu?"
Eun Dam menelan ludah sebelum menjawab.
"Bisakah aku berbicara berdua dengan Seolhwa?"
Kedua orang tuanya saling berpandangan sesaat sebelum mengangguk.
"Baiklah. Kami akan memanggilkannya untukmu."
Mereka pun keluar dari ruang perawatan.
"Seolhwa," panggil Eomma Eun Dam saat melihatku masih duduk di kursi ruang tunggu. "Eun Dam ingin berbicara denganmu."
Aku mengangguk pelan lalu berdiri.
Setelah menarik napas dalam-dalam, aku melangkah masuk ke ruang perawatan.
Begitu melihat sosok Eun Dam yang terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit dengan berbagai perban dan alat medis yang menempel di tubuhnya, dadaku kembali terasa sesak.
Pria itu adalah orang yang kucintai.
Namun, pria itu juga orang yang telah merenggut kedua orang tua angkatku.
Perasaan cinta, marah, sedih, dan kecewa bercampur menjadi satu hingga membuatku sulit bernapas.
"S-Seolhwa..." panggilnya lirih.
"Iya," jawabku datar.
Eun Dam menatapku dengan mata yang dipenuhi penyesalan.
"Maafkan aku, Seolhwa. Maafkan aku.... Aku tahu kesalahanku terlalu besar untuk dimaafkan. Aku telah melakukan dosa yang tidak seharusnya kulakukan. Aku—"
"Apa ini alasanmu menjauhiku selama ini?" potongku sebelum ia sempat melanjutkan.
Eun Dam menundukkan kepala.
"Iya," jawabnya pelan.
Aku tertawa kecil, tetapi tawa itu terdengar lebih menyakitkan daripada tangisan.
"Kamu tahu apa yang kurasakan saat melihatmu sekarang?"
Eun Dam mengangkat pandangannya.
"Rasanya seolah kebencian dan cinta bercampur menjadi satu."
Air mata mulai menggenang di pelupuk mataku.
"Tapi dibandingkan kebencian, kekecewaan adalah kata yang paling tepat untuk menggambarkan perasaanku padamu."
Suaraku mulai bergetar.
"Lalu kenapa?" tanyaku. "Kenapa kamu tidak membiarkan aku saja yang ditusuk waktu itu?"
Air mata yang kutahan akhirnya jatuh.
"Kenapa kamu harus menyelamatkan anak dari orang yang orang tuanya telah kamu bunuh, Eun Dam?"
Tangisku pecah.
Untuk pertama kalinya sejak masuk ke ruangan itu, aku tidak lagi mampu menahan semua luka yang selama ini kupendam.
Melihatku menangis seperti itu, hati Eun Dam terasa semakin hancur.
Ia rela menerima kebencian dariku.
Namun melihat wanita yang dicintainya menangis karena dirinya sendiri terasa jauh lebih menyakitkan daripada luka tusukan di tubuhnya.
"Nyawa harus dibayar dengan nyawa, Seolhwa," ucapnya lirih.
Tangannya yang lemah mengepal di atas selimut.
"Aku akan mempertaruhkan hidupku untuk melindungimu."
Setetes air mata mengalir dari sudut matanya.
"Jujur saja... saat pisau itu menembus tubuhku, aku berharap aku mati."
Dadaku terasa semakin sesak mendengar pengakuannya.
"Meskipun aku tahu kematianku tidak akan pernah cukup untuk membuatmu memaafkanku."
Ruangan kembali hening.
"Kalau saja aku tahu mereka adalah orang tuamu..." lanjutnya dengan suara bergetar. "Kalau saja kita bertemu lebih dulu, aku tidak akan pernah melakukan semua itu."
Ia menundukkan kepala semakin dalam.
"Dulu aku hanyalah remaja yang kehilangan arah. Aku hanya seorang anak yang setiap hari memikirkan bagaimana caranya melunasi utang orang tuaku."
Air mata terus mengalir di wajahnya.
"Aku juga merasa berutang budi kepada Tuan Seok karena telah membantu keluargaku."
Suaranya nyaris tak terdengar.
"Aku tahu itu bukan alasan yang bisa membenarkan perbuatanku."
Ia menatapku dengan mata merah dan penuh penyesalan.
"Tapi saat itu aku tidak punya pilihan. Tuan Seok mengancam akan membunuh kedua orang tuaku jika aku tidak menuruti perintahnya, Seolhwa."
Untuk pertama kalinya, aku melihat ketakutan yang selama ini disembunyikan Eun Dam di balik semua kebohongan dan jarak yang ia ciptakan.
Namun luka di hatiku tetap ada.
Dan aku tidak tahu apakah cinta yang masih tersisa di dalam diriku cukup kuat untuk mengalahkan luka itu.